
Di dalam ruangan Presdir...
Pyarrrr. Suara gelas pecah dilempar Keno.
Pyaarr pyaarr. Meja kaca di pukul Keno hingga retak.
"Apa benar kau yang sudah menggelapkan uang perusahaan sebesar 20 Milyar?"
"Bu- bukan saya, Tuan."
"Lalu ini apa !" teriak Keno melempar bukti korupsi perusahaan.
"Ma- maaf, saya khilaf, Tuan."
"Kenapa kau melakukannya. Apa kau mau menggantinya dengan nyawamu?" teriak Keno.
Keno mencekik leher Viko, hingga ia sulit bernafas.
"Tuan, tolong hentikan. Anda bisa membunuhnya nanti," seru Frido.
"Diam!"
Bugh. Bugh. Bugh. Keno memukul perut Viko.
"Ma- maafkan saya."
Bugh. Bugh. Bugh
"Kau harus mengganti semuanya."
Keno tidak memperdulikan rintihan Viko, ia terus memukulinya hingga kini wajahnya penuh lebam dan darah. Viko akhirnya lemas dan jatuh pingsan.
"Obati dia, setelah sembuh penjarakan koruptor brengsek ini," ucap Keno.
Frido segera membawa Viko ke rumah sakit. Saat keluar dari ruangan, ia melihat Aira sudah berdiri di depan pintu.
"Kenapa kau berdiri di situ, cepatlah masuk !" perintah Frido.
"A- aa- apa yang terjadi kenapa dia babak belur?" tanya Aira melihat Viko yang sudah babak belur.
"Banyak bicara, sudah masuk lah !"
"Apa tidak apa jika aku masuk?" tanya Aira ketakutan. Frido tidak menjawabnya, ia hanya melototi Aira.
"Aaa iya iya aku akan masuk."
Aira segera masuk, betapa terkejutnya dia melihat ruangan yang biasanya rapi kini hancur berantakan. Kertas- kertas bersebaran di mana- mana, pecahan gelas berserakan, meja kaca yang sudah retak, semua hancur berantakan.
Aira melangkahkan kakinya mendekati Keno yang sedang duduk menunduk dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
Keno nampak kacau, kemejanya berantakan, jasnya entah melayang kemana, dasi yang sudah tak beraturan lagi, dan kedua tangannya yang berdarah seperti habis memukuli sesuatu.
Aira berdiri di samping Keno, ia mengusap lembut pundak Keno memberikan ketenangan untuknya.
Keno tersentak, ia langsung mencium tangan Aira dan menarik tubuh Aira untuk dipeluk.
Aira membelai kepala Keno dengan lembut, sedangkan Keno memeluk pinggang Aira cukup lama. Ia merasa tenang ketika memeluk Aira.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa ruanganmu berantakan seperti ini?" tanya Aira lembut dan tetap membelai kepala Keno.
"Uang perusahaan bocor 20 Milyar." lirih Keno.
Apa? 20 M? Gilaaa !
"Papa pasti kecewa denganku, aku tidak bisa mengurus perusahaan dengan baik."
"Papamu pasti akan mengerti, toh ini bukan kesalahanmu semua. Jangan sedih lagi."
Hening. Keno tetap memeluk Aira dalam waktu yang lama.
Frido mengintip dari kaca luar ruangan Presdir ikut senang ketika Aira mampu menenangkan Keno. Hingga tak di sadari Papa Keno, Pak Bram berada di sampingnya.
"Siapa perempuan itu?"
__ADS_1
"Hiss diamlah, jangan merusak suasana. Lihat saja mereka. Berisik," seru Frido tetap melihat Keno tanpa menengok siapa yang berbicara dengannya.
Pak Bram kesal dengan Frido, ia pun menyentil telinganya.
"Aww..." rintih Frido.
"Tu- tuan besar," ucap Frido terbata ketika melihat di sampingnya ada Pak Bram.
"Hehe Tuan di sini rupanya," ringis Frido.
"Engga sopan kamu ya. Bagaimana, apa masalahnya sudah selesai?"
"Yang melakukan korupsi sudah ketahuan, Tuan. Tadi dia dihajar habis- habisan oleh Tuan Keno jadi saat ini dia masih dirawat di rumah sakit belum dipenjara."
"Huh, Anak itu selalu saja begitu."
"Siapa perempuan itu? Apa pacarnya Keno?" tanya Pak Bram menyunggingkan senyumnya.
"Sepertinya dia akan menjadi menantu Tuan, lihatlah tadi Tuan Keno mengamuk dan marah- marah tapi setelah dia datang Keno langsung tenang, amarahnya mereda, hehe."
"Aku akan segera punya menantu rupanya."
"Apa Tuan besar ingin menemui Tuan Keno?"
"Ya, tadinya aku ingin memarahi anak itu karena tidak becus hingga ada korupsi di perusahaan. Tapi setelah melihat dia berpelukan dengan calon menantuku, aku urungkan niatku," jelas Pak Bram.
"Aku akan pulang saja, kau selesaikan pekerjaanmu. Jangan mengintip orang yang sedang kasmaran terus," ucap Pak Bram.
"Baik Tuan, hati- hati di jalan."
"Sepertinya kau harus berterima kasih kepadaku, Tuan Keno, kau harus memberikan aku bonus lagi kali ini," seru Frido sembari menyunggingkan senyum devilnya.
***
"Ken."
"Hm, biarkan seperti ini dulu," ucap Keno semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak perlu."
"Nanti bisa infeksi kalau tidak segera di obati." Dan akhirnya Keno melepaskan pelukannya.
"Apa ada kotak obat di sini?"
"Di sana." Keno menunjukkan letak kotak p3k.
Aira segera mengambil kotak obat dan mengajak Keno duduk di sofa.
"Kenapa sampai seperti ini? Jari- jari mu luka semua."
"Aww sakit.."
"Maaf, tadi ada pecahan kaca di jari mu. Jadi aku harus mengambilnya." Aira mengobati jari- jari Keno dengan pelan dan membalut lukanya dengan perban.
"Sudah," ucap Aira tersenyum.
"Terima kasih," balas Keno tersenyum tapi wajahnya masih sendu.
"Jangan bersedih terus, semuanya sudah berlalu," ucap Aira dan membelai pipi Keno.
"Aku bantu bereskan ruangan ini dulu, ya."
"Jangan, kau panggil saja office boy saja. Biar mereka yang membereskan."
"Baiklah."
"Aku lapar."
Aira terkekeh. "Setelah mengamuk ya pasti lapar haha, aku pesankan makanan dulu ya."
"Jangan meledek," ketus Keno.
"Iya iya anak manis."
__ADS_1
Tak lama kemudian makanan yang Aira pesan sudah sampai, segera ia menyiapkannya.
"Ken, kemarilah aku sudah menyiapkannya. Kau lapar bukan?"
"Tunggu sebentar, aku harus menyelesaikan ini dulu," ucap Keno yang sedang berkutik dengan laptopnya.
"Hey, ayo makan."
"Apa kau tidak lihat tanganku sedang terluka." lirih Keno.
"Hanya luka kecil, bukan patah tanganmu itu."
"Nanti kalau aku banyak bergerak tidak lekas sembuh."
"Sudah jangan banyak bicara. Makanlah cepat. Kau bahkan tidak sarapan tadi pagi."
"Huh, aku akan makan kalau tangan ku sudah sembuh saja," rengek Keno.
"Kau mau mati? Luka mu mungkin akan mengering dua hari lagi."
"Biar saja mati."
"Ya sudah. Kalau begitu akan aku siapkan pemakamanmu sekarang, biar tidak mendadak nantinya." Aira berpura- pura menelfon seseorang.
"Airaaaaaaa," rengek Keno menarik lengan Aira dengan manjanya seperti anak kecil.
"Suapin." Keno memasang wajah imutnya, kalau sudah begini Aira tidak bisa menolaknya.
Aira pun menyuapi Keno hingga dia habis dua porsi. Mengamuk ternyata benar- benar menguras tenaganya.
"Apa mengamuk memang menguras banyak tenaga? Kau bahkan habis dua porsi haha," ledek Aira.
"Aww sakit.." pekik Aira ketika Keno mencubit hidungnya.
"Jangan meledekku."
"Apa kau yang memukuli lelaki tadi hingga dia pingsan?"
"Tentu saja."
"Hiss, apa kalau ada masalah harus diselesaikan dengan kekerasan? Tidak kan? Kau hampir saja membunuhnya."
"Lain kali bicarakan masalah dengan baik dan pikiran dingin jangan seperti tadi. Bisakan?"
"Tidak janji, tergantung nantinya."
"Dasar kau ini."
"Kau tidak bekerja?"
"Tidak ada jadwal hari ini, nanti aku mau ke toko setelah ini."
"Oke, aku antar."
"Hei bagaimana bisa, bukannya tanganmu sakit ya. Makan saja tidak bisa kok apalagi kalau menyetir," sindir Aira.
"Ya nanti pelan- pelan," jawab Keno gugup.
"Aww sakit," ringis Keno ketika tangannya di remas Aira.
"Maaf maaf, aku cuma ngetes aja kok haha."
Cup. Keno mencium kening Aira. Aira kaget ia membelalakkan matanya.
"Ayo aku antar," ucap Keno menarik tangan Aira.
Aira masih tidak bergeming, ia masih terpaku dengan perlakuan Keno tadi.
"Del, saya mau pergi sebentar. Tunda meetingnya selama satu jam, beritahu Frido juga," ucap Keno kepada sekertarisnya, Adel.
"Ba- baik, Pak." Adel terheran- heran ketika Keno memegang tangan Aira dengan mesranya.
"Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa Keno menggenggam tangannya. Kalau sampai dia merebut Keno dariku, akan aku pastikan hidupmu sengsara," gumam Adel yang terus menatap punggung keduanya hingga menghilang.
__ADS_1