
Plakkkk !
Satu tamparan dari wanita misterius mendarat di pipi Aira.
"Siapa kau? Berani sekali menampar istriku !" teriak Keno kepada wanita yang telah menampar Aira. Ia dan Aira sangatlah terkejut akan kedatangan wanita bercadar yang tiba- tiba memberikan tamparan.
"Kau telah menghancurkan kehidupan anakku !" ucap wanita itu menunjuk ke Aira. Keno geram melihatnya, ia hendak mengetahui siapakah wanita itu. Namun, saat ingin membuka cadar yang dipakainya, wanita itu langsung berlari meninggalkan mereka.
"Heyy berhenti !!!" Aira langsung mencekal tangan Keno saat ingin mengejar wanita itu.
"Ken, sudah jangan dikejar. Biarkan saja..." Aira mengusap dada Keno supaya amarahnya mereda. Dan benar saja, tatkala melihat wajah istrinya, amarahnya mulai menghilang.
"Aku harus memberinya pelajaran, berani- beraninya telah menampar istriku. Apa kau mengenali wanita bercadar tadi?"
Aira menggeleng, "Entahlah, aku tak mengenalinya. Mungkin dia salah orang. Lagi pula aku juga tak ada musuh, jangan dipikirkan lagi."
"Apa pipimu sakit? Itu merah sekali." Aira menggelengkan kepalanya, sebenarnya perih masih menjalar di pipi kirinya.
Cup cup cup cup cup
"Emmhhhh, Ken. Apa- apaan kau ini. Kenapa menciumku di tempat umum seperti ini." Aira langsung mendorong tubuh Keno yang tiba- tiba menciuminya.
"Aku mengobati pipimu dan aku juga menghilangkan jejak tangan wanita biadap itu," jawab Keno dan ia kembali menghujani wajah istrinya dengan ciuman.
"Yang ditampar cuma pipi, kenapa semua bagian tak luput dari ciuman? Dasar modus !" Aira berlalu meninggalkan Keno yang tengah tertawa sendiri.
***
Keno segera melajukan mobilnya untuk kembali pulang. Di dalam mobil, Aira terus saja memikirkan wanita tadi. Ia juga memikirkan kenapa wanita itu berkata kalau ia menghancurkan kehidupan anaknya.
"Apa mungkin itu ibu tukang bakso yang beberapa hari lalu aku datangi bersama Kak Sandi dan Kak Mega?" batin Aira menerka- nerka.
Beberapa hari yang lalu, ia dan kedua sahabatnya makan siang di warung bakso dekat Jalan Gatot Subroto. Karena ada pekerjaan mendesak dan menjadikan mereka harus kembali ke kantor secepat mungkin, mereka sampai lupa untuk membayar tiga mangkok bakso dan tiga gelas es teh.
"Apa gara- gara kehilangan tiga mangkok bakso dan tiga es teh, abang tukang bakso itu rugi besar dan kehidupannya jadi hancur? Dan karena itu, ibunya jadi marah- marah denganku? Ah, besok aku akan mengajak Kak Mega untuk membayarnya saja."
"Masih mikirin wanita tadi?" seru Keno membuyarkan lamunan Aira.
"Ah iya?"
"Jangan khawatir, aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Akan ku pastikan itu kejadian pertama dan yang terakhir," ucap Keno seraya membelai kepala Aira dengan tangan kirinya.
Aira mengangguk kecil, "Tapi kau harus berjanji tidak akan macam- macam dengannya, hanya mengetahui siapa dia saja ya, okay?"
"Tergantung nantinya gimana. Aku tidak akan membiarkan orang yang telah mengusik keluargaku hidupnya tenang."
"Sudahlah, ayo turun," ajak Keno.
"Loh kok udah sampai aja sih. Perasaan masih di taman."
"Keasyikan melamun sampai tak sadar kalau sudah sampai rumah," ucap Keno terkekeh. Lalu ia meraih tangan Aira mengajaknya masuk ke dalam. Aira terbelalak tatkala melihat foto pernikahannya terpajang di ruang tengah dengan ukuran yang sangatlah besar.
"Waaahh, besar sekali..."
"Sengaja, biar semua orang tahu kalau kau itu milikku dan biar yak ada yang merebutmu dariku," ucap Keno.
"Hufftt kau ini. Siapa yang akan merebutku darimu, Tuan Keno? Perlu diingat, Aira Madali itu hanya milik Keno Arka Sanjaya seorang saja," ucap Aira seraya meletakkan kepalanya di dada Keno.
"Baiklah- baiklah, Nyonya Keno Arka Sanjaya." Satu kecupan mendarat di puncak kepala Aira.
__ADS_1
"Ehemm...ehem...Pengantin baru mesra- mesraan terus nih ye..." goda Bi Ijah dan Mang Dadang.
"Bi Ijah, Mang Dadang, Apa kabar? Aira kangen banget sama kalian," sapa Aira dan langsung memeluk Bi Ijah.
"Kabar baik, Bibi juga kangen sama Nyonya Keno," ucap Bi Ijah.
"Bibi...Panggil Aira saja. Aku tetap Aira yang dulu. Jadi, jangan berpikiran kalau aku akan berubah setelah menikah dengan Keno, ya..." ujar Aira.
"Ah, sepertinya hanya Bi Ijah saja yang mendapatkan sambutan. Mang Dadang enggak nih?" seru Mang Dadang.
Aira tersenyum dan menghampirinya hendak memberikan peluk hangat. Namun, tiba- tiba saja Keno berdiri di depan Mang Dadang.
"Hanya Bi Ijah saja yang boleh dipeluk Aira, Mang Dadang kalau mau dipeluk sini..." Keno merentangkan tangannya supaya dipeluk Mang Dadang.
"Mending meluk istri saya," celetuk Mang Dadang dan langsung memeluk Bi Ijah.
"Aku juga sudah punya istri." Keno tak mau kalah, ia juga memeluk Aira memamerkannya kepada dua asisten rumah tangganya itu.
***
Usai makan malam, Keno dan Aira langsung merebahkan tubuh mereka di ranjang.
"Ehm, mau tidur tapi enggak ngantuk," celetuk Aira.
"Bagaimana mau ngantuk, kau saja baru bangun tidur," jawab Keno.
Keno dan Aira sama- sama menatap langit kamar. Mereka benar- benar bosan, ingin tidur tapi tidak mengantuk.
"Jangan menindih kakiku !" seru Aira.
"Kau yang memulainya !"
"Awwww..." pekik Keno saat perutnya dicubit Aira.
"Rasakan, haha."
"Awas ya..." Keno lalu mendekap tubuh istrinya dan mulai memainkan jarinya menggelitik perut Aira, membuat wanita itu tertawa lepas.
"Hentikan ku mohon !" Aira berteriak dan akhirnya Keno pun menghentikannya.
Mereka kembali berbaring dan menatap langit- langit kamar dan sesekali menoleh. Mereka bingung hendak melakukan apa.
"Bagaimana kalau kita bermain game saja?" tawar Keno.
"Boleh, mau main game apa?"
Keno segera mengambil ponselnya dan ponsel milik Aira. Ia segera membuka game Hag*.
"Nanti jika kau menang aku akan menciummu, tapi kalau aku yang menang kau harus menciumku, okay?" tanya Keno. Aira mengernyitkan dahinya sebelum mengangguk dan menyetujui peraturan main Keno.
"Okay, siapa takut."
***
Aira memasang wajah cemberutnya, "Ishh, kenapa dia pandai sekali bermain game. Dari tadi aku kalah terus huhhh !"
"Yeyyyy menang lagi !" teriak Keno seraya melompat di atas ranjang.
"Ahhh ponselku pasti rusak. Kenapa dari tadi aku tidak menang juga sih," gerutu Aira. Ia dan Keno sudah lima kali bertanding, namun Aira kalah terus.
__ADS_1
"Sudah, ayo main lagi. Hadiahnya nanti saja," ucap Keno.
"Biar aku yang pakai ponselmu, sepertinya ponselku benar- benar rusak."
"Dihh, kau saja yang tidak bisa bermain. Karena aku baik, kau bisa memakai ponselku, nih..." ucap Keno menyodorkan ponselnya, mereka kembali bermain game setelah bertukar ponsel.
Sudah sepuluh kali ini mereka bertanding, gelak tawa Keno semakin pecah tatkala Aira kesal karena tak menang sekalipun.
"Sudah ! Aku sudah mengantuk, aku akan tidur sekarang." Aira merebahkan tubuhnya setelah melempar ponselnya ke ujung ranjang.
"Heyy ayo bangun, kau belum memberi hadiah pada suamimu ini," ucap Keno seraya menarik tubuh Aira supaya bangun.
"Ayo cium sekarang. Sini...sini...sini...sini..." Keno menunjukkan bagian wajah untuk dicium Aira.
"Kenapa banyak sekali? Aku tidak mau menciummu."
"Mau cium sekarang atau akan ku tambah hukumanmu?" goda Keno mengerlingkan matanya.
Dengan malas, Aira pun mulai mencium wajah Keno. Mulai dari pipi, kening, hidung, mata, dan lainnya.
Cup cup cup. Semua bagian wajah Keno tak luput dari ciumannya.
"Kenapa tambah banyak? Bahkan sudah lebih dari sepuluh kali," gerutu Aira.
Keno terkekeh, "Jangan cemberut dong. Baiklah, karena aku baik, aku tetap akan memberimu hadiah walaupun kau kalah."
Keno memegang kepala Aira dan mulai menghujaninya dengan ciuman.
"Emmhhh hentikan !!!" Aira terus memberontak tapi Keno malah semakin menggila.
"Bukankah kau menyukainya?"
"Tidak !"
Usai permainan di atas ranjang yang cukup membuat mereka lelah, Keno dan Aira pun kembali berbaring. Bertatapan dan saling mendekap.
"Selamat malam istriku, semoga mimpi indah," ucap Keno seraya mendaratkan kecupan di kening Aira.
"Selamat malam juga suamiku," Aira juga memberikan kecupan untuk Keno.
"Kenapa singkat sekali? Cium yang lama !" pinta Keno.
.
.
.
.
.
.
Hayooo siapa yang tadi mikir aneh² gara- gara baca judul chapter ini?🤣🤣🤣
Wkwk, jangan lupa likenya ya🤭🤗
__ADS_1