Hello Presdir

Hello Presdir
Kehilangan Kesadaran


__ADS_3

"Euhhmm..." Keno tampak menggeliatkan tubuhnya, ia teringin untuk ke kamar mandi buang air kecil. Tapi, Aira terus saja memeluknya dan tak membiarkan dirinya bergerak sedikitpun.


"Jangan pergi..." lirih Aira dan semakin mengeratkan pelukannya. Ia terus saja menggesek- gesekkan hidungnya di dada Keno, dan menciumi aroma tubuh yang memabukkan bagi dirinya itu.


"Aku kebelet sayang, sebentar saja nanti aku akan kembali."


"Janji ke sini lagi."


Dan benar saja, setelah selesai buang air kecil Keno kembali berbaring di samping istrinya yang masih memejamkan mata.


"Sudah pagi, kau tidak mau bangun?" tanya Keno setelah mengecup lembut kening Aira. Wanita itu menyauti pertanyaan Keno dengan gelengan kepala.


"Ehm, nyaman sekali..." Aira kembali memeluk suaminya, mengusapkan wajahnya di dada Keno dan menciumi aroma tubuh laki- laki itu. Tak ada yang lebih nyaman dari pelukan suaminya.


Keno terkekeh geli ketika Aira semakin gencar mengusapkan wajahnya di dadanya. Sedikit heran dengan tingkah Aira, tapi ia juga senang melihat istrinya yang terkadang galak dan cuek itu menjadi manja seperti ini.


"Manja sekali kau ini, sini aku cium..."


Aira juga menciumi ketiak suaminya, membuat Keno menggelinjang karena geli.


"Sayang jangan dilanjutkan, geli..." Keno menggigit bibirnya menahan tawa.


"Oh ya sayang, masa iya menstruasiku sudah berhenti semalam." Aira bercerita seraya memainkan jarinya di dada Keno.


"Kenapa kau tidak bilang, tau gitu 'kan aku tidak akan berpuasa semalam," ucap Keno dengan nada sedikit kesal.


"Hufftttt, kau ini..."


***


Keno dan Aira masih saja berpelukan saat di dalam mobil menuju ke kantor masing- masing. Aira semakin manja saja dengan suaminya itu. Ia tak mau lepas dari pelukan Keno, membuat Mang Dadang yang menyopir mobil iri melihatnya.


"Jangan iri melihat kita, Mang," seru Keno membuat Mang Dadang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kaca spion menjadi terkejut.


"Tidak iri kok, Tuan. Nanti kalau sudah pulang 'kan bisa langsung praktekin," jawab Mang Dadang sekenanya.


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan loby kantor Aira. Wanita itu masih memeluk Keno sebelum keluar dari mobil.


"Sudah sampai, kenapa terus saja memelukku?"


"Hufftt, rasanya aku tidak mau bekerja. Aku ingin memelukmu terus."


"Aku juga, kalau begitu kau berhenti saja bekerja dan menemaniku ke kantor setiap hari. Jadi, kita bisa bermesraan terus deh."


"Aku masih ingin bekerja, lagi pula untuk mendapatkan pekerjaan ini sangatlah sulit. Aku tidak mau melepasnya begitu saja."


"Baiklah, tapi kau harus ingat ya ini hanya sementara. Kalau kita sudah mempunyai anak, kau akan fokus dengan keluarga dan berhenti bekerja, bukankah kau sudah berjanji begitu, istriku?" Keno tersenyum dan menyatukan hidungnya dengan hidung Aira.


"Iya suamiku, aku tidak akan pernah lupa dengan janji yang telah ku ucapkan itu."

__ADS_1


Keno lalu mencium bibir Aira, mereka berciuman dalam waktu yang cukup lama dan sampai lupa bahwa di dalam mobil masih ada makhluk luar angkasa, eh maksudnya Mang Dadang.


"Mang Dadang, jangan lihat kita..." seru Keno disela ciuman mereka. Ia menutupi wajahnya dan wajah Aira dengan tas kerja miliknya.


"Mataku mendadak rabun untuk hal- hal seperti itu, lanjutkan saja. Kalau mau sampai nanti sore juga tak apa," goda Mang Dadang.


"Bibirmu jadi merah semua terkena lipstikku," ucap Aira setelah melepas ciuman mereka. Ia terkekeh gemas melihat Keno belepotan lipstik miliknya. Entah mengapa itu bisa terjadi, padahal lipstik yang Aira pakai itu adalah matte lipstick.


Aira pun membersihkan mulut Keno dengan tissue, sebelum pamit.


"Sudah, aku turun ya. Papay sayangku cintaku kasihku..." Dua kecupan mendarat di pipi Keno sebelum Aira turun dari mobil.


"Kau tadi belum sarapan, nanti belilah makanan dan jangan sampai perutmu kosong," teriak Keno.


"Iya siap, sayang..." sahut Aira dengan berteriak juga.


Keno menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman, ia masih memandangi istrinya itu dan memastikan jika benar- benar telah memasuki kantornya.


"Aku suka kau yang seperti ini istriku, bermanjalah terus denganku..."


***


Hari ini pekerjaan Aira tidak terlalu banyak, sebelum membawakan berita siang nanti semua pekerjaannya telah ia selesaikan dengan baik.


Ia menjadi bingung harus melakukan apa untuk satu jam ke depan sebelum membawakan berita. Mega dan Sandi masih terlihat sibuk dengan pekerjaan masing- masing.


"Daripada lo ngelamun nggak jelas gitu, mending bantuin gue," celetuk Mega membuyarkan lamunan Aira.


"Eh, ada film baru loh. Nanti malam nonton yuk, Ra." Mega sangat antusias mengajak Aira.


"Boleh, tapi nanti aku izin Keno dulu ya."


Aira kembali menyangga kedua dagunya dengan tangan kiri, sedangkan tangan tangannya asyik memainkan ponsel walaupun tidak ada yang mengirimkan pesan untuknya.


"Kak..." seru Aira memanggil Mega dan Sandi.


"Hem..."


"Kak Mega, kak Sandi..." serunya lagi, kali ini Mega dan Sandi menoleh ke arahnya seraya menatap kesal. Sedangkan Aira, ia hanya meringis menyadari kesalahannya karena telah menganggu mereka.


"Bulan ini aku menstruasi cuma sehari doang, aneh 'kan."


"Sehari? Jangan- jangan itu bukan menstruasi, tapi pendarahan implantasi. Lo periksa dulu aja ke dokter, mungkin lo hamil, Ra."


"Seperti ucapannya dokter Ilham kemarin, semoga saja aku benar- benar hamil. Eh, tapi tidak boleh berharap lebih, nanti kalau tidak sesuai harapan 'kan sakit."


"Iya bisa jadi lo hamil. Tetangga gue dulu juga gitu pas awal kehamilan, dikiranya menstruasi biasa padahal pendarahan implantasi. Dia dulu makan nanas karena nggak tau kalau lagi hamil, alhasil ya bayinya nggak selamat." Sandi bercerita panjang lebar.


Aira menjadi kepikiran dengan cerita Sandi, bagaimana jika itu terjadi juga pada dirinya dan sampai kehilangan bayinya. Tapi, jika Aira tidak hamil bagaimana? Intinya ia harus memeriksakan dirinya setelah pulang bekerja nanti.

__ADS_1


Usai membawakan berita selama satu jam, kepala Aira merasa sangat pusing dan badannya juga lemas. Padahal, tadi dia naik- baik saja.


"Mungkin hanya kelelahan, aku harus ke toko untuk mengecek kondisi di sana terlebih dahulu. Setelah itu aku akan langsung pulang dan beristirahat." Aira menuju ke ruangannya dengan sempoyongan.


"Kok pucet sih, lo sakit, Ra?" tanya Mega khawatir dengan Aira.


"Enggak, Kak. Cuma pusing nanti juga hilang kok." Aira segera berpamitan kepada Mega dan Sandi. Baru beberapa langkah keluar, tiba- tiba Aira kehilangan kesadarannya, ia pingsan dengan wajah yang semakin terlihat pucat.


"Airaaaa !!!" Mega dan Sandi terkejut melihat Aira yang sudah terkapar di lantai kehilangan kesadarannya, mereka langsung membawa wanita itu ke rumah sakit.


Sandi terus mencoba menghubungi Keno, namun lelaki itu tak bisa dihubungi sama sekali. Kedua sahabat itu masih setia menunggu di depan pintu ruang pemeriksaan Aira.


***


Di sisi lain, Keno tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ada proyek baru yang harus ia selesaikan. Bahkan, ia juga harus ke luar kota untuk menangani dan memantau proyek itu.


"Kita akan berangkat jam satu nanti, aku sudah menyuruh Bi Ijah untuk menyiapkan keperluanmu," ujar Frido.


"Apa tidak bisa jika kau saja yang berangkat ke sana? Aku tidak mau meninggalkan Aira walaupun hanya dua atau tiga hari." Keno mengusap wajahnya kasar.


"Kau harus ikut ke sana, aku tidak bisa jika menanganinya sendiri. Proyek ini sangatlah besar dan akan sangat menguntungkan bagi Sanjaya Group."


Frido dan Keno pun segera menuju ke bandara. Di sana sudah terlihat Mang Dadang dengan koper yang berisikan keperluan Keno.


"Makasih ya, Mang. Nanti kalau ada apa- apa di rumah kabarin aku langsung..."


"Siap, Tuan. Hati- hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan," ucap Mang Dadang.


Sebelum memasuki pesawat, Keno mengecek ponselnya terlebih dahulu dan hendak mengabari Aira. Dilihatnya ia menerima notif panggilan masuk dari Sandi hingga puluhan kali, namun ia tak menggubrisnya.


"Halah ! Paling cuma iseng seperti kemarin," lirih Keno.


Keno mencoba menelfon istrinya, namun ponsel Aira tak bisa dihubungi. Jadi, Keno hanya mengirimkan pesan. Padahal, ia ingin sekali melihat istrinya itu sebentar. Ini adalah pertama kalinya Keno dan Aira akan pisah, walaupun untuk dua atau tiga hari saja. Dan yang pasti, mereka akan saling merindukan.


***


Mendengar kabar kalau Aira tiba- tiba pingsan di kantornya, sontak membuat Andi, Mira, Bram, dan Maria khawatir. Mereka langsung ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Aira? Kenapa dia bisa sampai pingsan?" tanya Mira, raut wajah khawatir terlihat jelas.


"Belum tau, Tante. Tadi Aira merasa pusing dan wajahnya pucat, saat ingin pulang dia malah pingsan," jelas Sandi.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Aira. Para keluarga pun langsung menghampirinya dan bersiap melontarkan pertanyaan untuk dokter itu.


"Apa anakku baik- baik saja? Kenapa dia bisa kehilangan kesadarannya?"


"Menantuku sakit apa?"


"Dia tidak sakit parah 'kan?"

__ADS_1


"Bagaimana sekarang? Apa kita boleh menemuinya?"


Mereka terus saja bertanya tanpa jeda dan tak memberikan waktu untuk dokter itu menjawabnya.


__ADS_2