Hello Presdir

Hello Presdir
Sudah Pulang


__ADS_3

Keno sangat serius mengurus pekerjaannya, ia ingin segera menyelesaikannya secepat mungkin supaya bisa segera pulang menemui istrinya.


"Aku sudah memesankan makanan untukmu, makanlah dulu dari tadi pagi kau hanya meminum susu bukan?" seru Frido.


"Nanti saja jika sudah selesai, sepertinya kita bisa pulang nanti malam. Segeralah pesan tiket untuk kita."


"Tidak menunggu besok pagi saja?"


"Untuk apa menunggu sampai besok? Membuang waktu saja, aku ingin segera kembali ke rumah !" ucap Keno dengan nada sedikit membentak.


"Baiklah, tapi kalau bicara itu biasa saja jangan ngegas."


Tukkk !


Keno melempar bolpoin dan tepat mengenai kening Frido.


"Jangan banyak bicara, bantu aku menyelesaikan ini. Apa kau juga tak ingin segera pulang? Kau tidak ingin bertemu dengan anak dan istrimu?"


Frido mendengus kesal, ia pun segera melanjutkan pekerjaannya supaya Presdir itu tidak semakin menjadi- jadi.


"Tuhan, kenapa kau mempertemukanku dengan orang menyebalkan seperti dia." Frido bergumam lirih, namun telinga Keno mampu mendengarnya.


"Jangan berbicara di belakangku, atau aku tidak jadi memberimu mobil baru." Keno berbicara tanpa menoleh ke arah Frido.


"Apa? Jadi kau akan membelikanku mobil baru?" tanya Frido, ia sangatlah senang jika itu memang benar.


"Iya, diam saja kau ini dan jangan membantah apapun yang aku katakan. Kalau kau nakal ya aku tidak jadi membelikan mobil."


"Baiklah- baiklah, memangnya kau membelikan aku mobil jenis apa? Warnanya apa? Dan berapa harganya? Apa lebih dari satu Milyar?" Frido sangatlah antusias, ia memang mendambakan sebuah mobil baru karena ia sudah bosan dengan mobil lamanya.


"Aku membelikan mobil remote untukmu, warnanya merah, dan keluaran terbaru. Nanti, kau bisa memberikannya kepada anakmu. Pasti dia akan senang," jawab Keno dengan santainya.


"Sialan ! Mati saja kau ! Kau itu benar- benar sudah mirip dengan Aira, sama- sama menyebalkan !"


Raut wajah Frido langsung berubah seketika, rasanya ingin sekali ia menghajar anak itu yang terus saja membuat dirinya kesal. Ia sangat berharap lebih, tapi Keno malah bercanda dengannya.


Sedangkan Keno, ia tertawa terpingkal- pingkal melihat wajah Frido yang merah karena amarah yang memuncak.


"Kau kenapa jadi marah seperti itu, bukankah tadi kau sangat senang. Baiklah, sepertinya kau sudah tak sabar untuk menerima hadiah dariku, aku akan menelponkan seseorang supaya mengirimkan mobilnya sekarang juga." Keno terus saja tertawa seraya memegangi perutnya.


***


Infus masih terpasang di tangan kirinya, wanita itu masih menikmati tetesan- tetesan air menuju ke pembuluh darahnya. Cairan infus sudah hampir sampai di dasar botol.


Pintu terbuka membuyarkan lamunan wanita itu. Dilihatlah dokter paruh baya namun masih terlihat cantik dan dua perawat di sampingnya yang terus saja melontarkan senyum kepada Aira.

__ADS_1


"Selamat pagi, Nyonya Keno. Bagaimana perasaan Anda pagi ini?" tanya Dokter Salsa lembut.


"Jauh lebih baik, Dokter."


Dokter menempelkan benda dingin ke dada Aira, yang tak lain adalah stetoskop. Ia mulai memeriksa kondisi tubuh Aira.


"Tekanan darah Anda sudah normal, tubuh Anda juga sudah mulai pulih. Tapi, untuk memastikannya lagi, saya akan kembali mengecek tubuh Anda siang nanti," jelas Dokter Salsa.


"Suster, infusnya sudah hampir habis, tolong diganti ya." Dokter Salsa memerintahkan kedua perawat yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Ehm, Dokter...Aku ingin pulang sekarang saja, tidak perlu diganti infusnya," tolak Aira lembut.


"Boleh ya..." Aira mengatupkan kedua tangannya dan sangat berharap supaya dokter mengabulkan permintaannya.


"Baiklah Nyonya, tapi Anda harus berjanji untuk meminum vitamin yang sudah saya berikan. Anda juga tidak boleh sampai telat untuk makan."


Aira mengangguk, ia segera meminta tolong kepada suster menyiapkan pakaian ganti untuknya. Ia juga tak lupa menghubungi kedua Mamanya.


Aira merasa sangat lega ketika bisa menghirup udara segar. Di depan loby rumah sakit, Mang Dadang dan Bi Ijah sudah siap menjemput Nyonya mudanya.


"Nak Aira selamat ya, akhirnya ada Baby Keno juga di sini." Bi Ijah terlihat senang saat mengusap perut Aira.


"Mang Dadang tidak menyangka kalau Tuan Keno sehebat itu, baru satu bulan menikah tapi sidah itu..."


"Mang Dadang bisa aja. Ehm, Oh ya, apa Keno sudah pulang?"


***


Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada Maria, Mira, dan Ratih di sana. Mereka juga menyiapkan makanan untuk dirinya.


"Duduklah sayang, nanti kau bisa lelah jika berdiri terus." Ratih menarik sebuah kursi untuk Aira. Sedangkan Maria dan Mira, mereka sibuk mengambilkan makanan ke piring Aira. Jumlahnya sangat banyak membuat Aira bergidik ngeri, makanan yang diambilkan mereka bisa ia makan untuk tiga kali.


"Mamah, kenapa banyak sekali? Perut Aira tidak akan muat jika sebanyak itu..." keluh Aira.


"Sayang, kau harus makan banyak. Ingat loh, di perutmu ada baby." Mira menyuapi Aira membuat wanita itu terpaksa mengunyah dan menelannya.


"Tapi, Mah..."


"Mulut penuh tidak boleh bicara, nanti bisa tersedak. Ayo makan lagi," Mira terus saja menyuapi Aira dan tak membiarkan mulut Aira kosong sedetik pun.


"Mir, aku juga ingin menyuapi menantuku. Berikan piringnya," ucap Maria menarik paksa piring di tangan Mira.


"Sayang, apa ada yang kau inginkan? Makan sesuatu atau minum sesuatu?" tanya Mira lembut.


"Iya sayang, apa yang kau inginkan?" tanya Maria ikut penasaran.

__ADS_1


"Tidak ingin sesuatu, Mah. Hanya ingin minum jus jeruk seperti biasanya saja."


"Bi Ijah tolong buatkan jus jeruk untuk menantuku !" teriak Maria kepada asisten rumah tangga Keno.


***


Benar yang dikatakan Keno tadi pagi, ia bisa pulang di malam harinya. Ia dan Frido sudah berada di bandara untuk menanti jadwal keberangkatan mereka.


"Kenapa kau dari tadi diam saja? Apa kau masih marah denganku?" tanya Keno ketika menyadari tak ada sepatah kata yang terlontar dari mulut Frido.


"Tidak !" jawab Frido cepat dan membentak.


"Dasar anak kecil, begitu saja marah. Aku 'kan cuma bercanda."


Perjalanan memerlukan waktu tiga jam untuk sampai ke ibukota. Keno dan Frido tiba pukul dua pagi.


Sesampainya di rumah, Keno langsung memasuki kamarnya. Ia sudah tak sabar untuk mendekap tubuh sang istri.


Ia terkejut ketika mendapati ranjangnya terdapat Maria, Mira, dan Nenek Ratih dengan Aira berada di tengah- tengah mereka. Semuanya tertidur sangat nyenyak dan memeluk tubuh satu sama lain.


Keno menghela nafas kasarnya, ia begitu kesal. Yang seharusnya sudah mendekap tubuh sang istri dan tertidur di sampingnya, sekarang ia menjadi bingung. Masa iya dia ikut tidur bergabung dengan empat wanita itu, ya meskipun ranjangnya masih cukup untuk menambah satu orang lagi.


"Tunggu, tapi kenapa mereka tumben- tumbenan tidur di sini? Dan kenapa harus di kamarku bukan di kamar lain saja? Ah, mereka benar- benar menyebalkan !" gerutu Keno dalam hatinya.


Ia ingin sekali mengecup kening yang selebar lapangan sepak bola milik istrinya itu, tapi itu tidak bisa dilakukannya untuk saat ini. Keno pun mendesah frustasi.


"Tidur yang nyenyak istriku, cium jarak jauh ya, muaachhh..." Keno menatap nanar kepada istrinya, ia pun segera menuju ke kamar lain untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Keno mencoba menutup matanya dan mencoba untuk tertidur, namun sudah satu jam berlalu dirinya masih terjaga dan hanya memandangi langit- langit kamar.


Berguling ke sana kemari tapi ia tetap tidak bisa tertidur juga. Ia pun menuju ke kamar Aira. Membuka pintunya sedikit dan mengintip dari luar berharap istrinya itu sudah bangun. Tapi sepertinya mimpi Aira sangat indah, jadi wanita itu terus terpejam dan menikmati mimpinya.


"Hikss....Bagaimana kau bisa tertidur nyenyak, sayang. Cepatlah bangun, aku tidak bisa tidur..."


"Istriku, aku sudah pulang. Ayo bangunlah, peluk aku." Keno terus saja berbicara dengan dirinya sendiri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kapan nih Keno tahu kalau istrinya hamil? Trus gmna reaksinya nanti ya? Tunggu episode selanjutnya ya😂


__ADS_2