
Di dalam perjalanan, pandangan Aira masih saja kosong. Ia sangat sedih, karena Keno tak peduli dengan istri dan bayinya lagi. Ia berusaha mengerti posisi Keno yang menjabat sebagai Presdir, pasti sangatlah sibuk.
"Baiklah sayang, jangan sedih lagi ya. Bulan depan Papa pasti akan menemuimu. Hari ini kita bertemu sama Nenek dan Om Alfa dulu ya, Papa lagi sibuk hehe." Aira mengusap perutnya dan mengajak bayinya berceloteh.
Sesampainya di rumah, suasana hatinya sedikit lebih baik melihat mobil suaminya telah berada di halaman rumah. Suaminya sudah pulang, ia langsung masuk dan akan menceritakan bagaimana hasil pemeriksaannya hari ini.
Kala itu Keno sudah memakai pakaian santai dan sedang memainkan play station di ruang keluarga. Aira pun segera duduk di sampingnya.
"Sayang, kau sudah pulang ternyata. Oh ya, ini lihatlah baby. Ukurannya sudah sebesar buah jeruk, dan kata dokter baby sehat," ucap Aira dengan riangnya dan menunjukkan foto hasil USGnya tadi.
Keno hanya melihatnya sekilas, dalam hatinya sangat senang mendengar kalau bayinya baik- baik saja. Tapi ia masih saja tidak terima saat melihat Alfa menemani istrinya tadi.
"Ohh !" jawab Keno ketus membuat Aira sedikit terluka.
"Aku tadi menunggumu lama sekali tapi kau tidak datang juga, kau sangat sibuk ya sampai tidak bisa datang?" tanya Aira sendu.
"Memangnya kenapa? Bukankah kau juga lebih suka jika ditemani Alfa?" Keno berdiri dan berlalu meninggalkan Aira.
Aira tersentak mendengarnya. Suaminya tahu kalau Alfa menemaninya periksa tadi dan saat ini lelaki itu pasti cemburu dan marah dengannya.
***
Kala itu Aira ingin mengambil baju di ruang ganti. Keno juga membuka lemarinya dan hendak mengambil baju juga. Ia hanya menoleh sebentar ke arah Aira. Setelah mengambilnya, Keno membanting pintu lemarinya membuat Aira berjingkat karena kaget. Tapi Aira hanya diam dan tak berani menatap suaminya.
Aira terdiam dan berpikir sejenak, suaminya tengah marah besar. Tapi, kenapa Keno sampai semarah itu dengannya? Bukankah harusnya dia yang marah karena Keno tak datang tadi?
"Sayang..." Aira berusaha bersabar, ia masuk ke ruang kerja Keno dan menghampiri lelaki itu.
"Aku membawakan susu dan makan malam untukmu. Ayo makanlah dulu, tadi 'kan kau belum makan." Aira meletakkan piring di samping laptop Keno.
Keno langsung berdiri dan meninggalkan ruangan kerjanya. Lagi- lagi, Aira menarik nafasnya kasar. Ia menyemangati anak dan dirinya supaya tidak merasa stress.
"Sabar..." kata yang selalu ia tekankan pada dirinya sendiri.
Aira mengikuti langkah Keno yang ternyata menuju ke meja makan dan langsung mengambil makanan. Hatinya senang karena akhirnya Keno mau makan juga.
Tak mau berkepanjangan lagi, Aira memberanikan diri duduk di samping Keno dan berusaha mengajak suaminya itu berbicara.
Tapi, Keno langsung beranjak meninggalkannya. Padahal ia baru makan beberapa suap saja dan langsung pergi saat Aira mendekatinya.
Aira menghela nafas kasar, suaminya sangat menyebalkan saat terbakar api cemburu, pikirnya. Wanita itu terdiam mengusap bulir air matanya, tanpa sadar Keno melihat istrinya tapi ia tak memperdulikannya.
***
Saat hendak membuat susu untuknya, Aira melihat Keno juga sedang berada di dapur membuat kopi. Ia tak mau menganggu Keno lagi, ia segera mengambil gelas dan membuat susu.
"Mau aku bantu?" tanya Aira lembut. Ia melihat Keno sedang kebingungan menakar seberapa banyak kopi dan gula yang harus ia masukkan ke dalam cangkirnya, karena ia tak pernah membuat kopi sebelumnya.
"Tidak perlu, aku bisa membuatnya sendiri," tolak Keno ketus.
Aira sudah selesai, namun Keno belum juga selesai. Ia sedang mencicipi kopi buatannya dan tak kunjung mendapatkan rasa yang sesuai. Kemanisan dan kadang terlalu pahit, Keno hampir putus asa dibuatnya.
"Tak mau bantuan? Sepertinya kau kesulitan."
"Aku bilang tidak ya tidak !"
__ADS_1
"Kau mau sampai kapan seperti ini? Kau juga tak perlu semarah ini, dia 'kan hanya Kak Alfa bukan orang lain," ujar Aira sendu.
"Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya pergi periksa kandungan dengan lelaki lain, pegang- pegangan tangan juga !" bentak Keno.
"Dia Kak Alfa, aku sudah menganggapnya Kakakku sendiri. Lagipula dia hanya menemaniku saja, tidak lebih," tukas Aira.
"Dia orang lain, Aira ! Tidak seharusnya kau dekat dengan lelaki itu, kau tidak menganggapku suamimu? Iya?!"
"Lalu, bagaimana dengan Tiara? Dia juga bukan kakak kandungmu, tidak sedarah, dia wanita lain ! Tapi kau tidur dengannya. Harusnya aku lebih marah denganmu !" Aira menajamkan suaranya, ia menjadi emosi. Air matanya tak bisa dibendung lagi, menetes dengan derasnya.
"Kalau kau tidak mau kak Alfa yang menemaniku kenapa kau tidak datang tadi? Aku menunggumu begitu lama, berharap kau datang walaupun telat, tapi kau malah lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku dan bayi kita." Aira berkata dengan tersedu- sedu.
"Aku sudah berkali- kali mengirimkan pesan dan menelponmu, tapi tak ada jawaban sama sekali. Kau terlalu mementingkan pekerjaanmu, atau jangan- jangan tadi kau bermain dengan Tiara dan anak itu?" Aira berkata dengan menyunggingkan senyum sinis.
Tanpa disadari, Bi Ijah dan Mang Dadang mengintip mereka dan tak berani melerai. Mereka sangat sedih melihat pertengkaran Keno dan Aira. Selama ini selalu terlihat baik- baik saja, tapi kali ini mereka bertengkar besar.
"Aku sudah datang !!! Tapi aku segera pergi dari sana, karena hatiku sudah terlanjur sakit melihat kalian berdua terlihat bahagia di ruangan itu !"
"Tadi aku telat gara- gara aku mengantarnya ke bandara. Aku menyuruh Kak Tiara untuk mengurus anak perusahaan di Bali. Aku sudah berusaha supaya kak Tiara pergi dari kehidupan kita karena aku menyayangimu."
"Kenapa tidak langsung masuk saja kalau kau benar- benar datang waktu itu?! Di sana tak hanya ada Kak Alfa, tapi ada Mama Mira dan Mama Maria. Mungkin waktu itu kau hanya melihat Kak Alfa saja."
"Jangan membawa mereka !"
"Apa bayi yang ada di perutmu itu bukan anakku? Bayi itu milik Alfa, kan?!!!" Suara Keno terdengar semakin mengerikan, tubuh Aira bergetar hebat. Hatinya sangat sakit saat Keno mengatakan ini bukan anaknya.
"Sepertinya anak di kandunganmu itu benar- benar milik Alfa, soalnya tadi aku melihat dia sangat antusias dan bahagia menatap layar USG !"
"JAGA BICARAMU ! Ini milikmu, aku tidak pernah melakukannya dengan laki- laki lain. Kak Alfa itu masa lalu, dia adalah Kakakku. Aku tidak mungkin melakukan hal keji di belakangmu !"
"Arghhhh !" pekik Aira. Keno mencengkram kedua lengan Aira dengan kuat hingga susu panas yang ia pegang tumpah mengenai tangan dan kakinya, gelasnya pun terjatuh dan pecah.
Keno tersentak melihat tangan dan kaki Aira yang melepuh, ia begitu bodoh karena telah melukai istrinya sendiri.
"Terserah kau mau percaya denganku atau tidak. Tapi yang jelas bayi ini milik kita dan aku tidak pernah berkhianat di belakangmu."
"Di hatiku hanya tertera namamu, aku hanya mencintaimu. Ternyata aku salah, aku bodoh telah mencintaimu sedalam ini !" Aira mengusap air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya.
"Aira...maafkan aku..."
"Biar aku yang mengobati lukamu..." Keno merasa bersalah, ia menarik tangan istrinya tapi sang pemilik langsung menepisnya dan meninggalkan dirinya.
"Aira...jangan pergi, please..."
Aira langsung mengambil kunci mobil, yang ia inginkan kali ini adalah pergi dan tak mau menatap suaminya yang begitu jahat itu. Ia sudah terlanjur sakit, benar- benar sakit. Perbuatan Keno kali ini sangat kejam.
"Biar Mang Dadang yang membawa mobilnya, Nak," tawar Mang Dadang.
Aira pun mengiyakan, suasana hatinya sedang kacau tidak baik jika menyopir sendiri, dia harus memikirkan anaknya.
"Bibi ikut ya, Nak. Bibi takut Nak Aira kenapa- kenapa." Bi Ijah ikut menangis melihat kondisi Aira.
"Jangan menangis, Bibi. Aira tidak apa, aku akan ke rumah Mama. Baiklah kalau Bibi mau ikut..."
Aira tau kalau Mang Dadang dan Bi Ijah mendengarkan semua pertengkarannya dengan Keno tadi, mereka pasti juga takut jika menjadi sasaran kemarahan Keno.
__ADS_1
Di dalam mobil, Bi Ijah mengoleskan salep luka bakar di tangan dan kaki Aira yang melepuh. Air matanya terus mengalir deras, ia sangat menyayangi Aira. Melihat Aira yang seperti ini tentu saja hatinya ikut terluka.
"Dia selalu cemburu dengan lelaki yang berada di dekatku, Bi. Tapi aku tidak berhak untuk cemburu dengannya, dia tidak adil, hu...huu...huuu..." Isakan tangisnya terdengar semakin pilu di dekapan Bi Ijah.
"Kak Tiara juga bukan kakak kandungnya, seharusnya dia juga bisa menjaga jarak dengannya. Bahkan perlakuannya lebih menyakitkan dariku, aku selalu bisa memaafkannya, Bi..."
"Tapi dia jahat, huu...huu...hu..."
"Sabar, Nak. Bibi tahu kalau kalian saling mencintai. Tuan Keno memang begitu orangnya kalau sudah cemburu. Bibi yakin dia akan menyesal telah melakukan ini padamu, Nak."
"Nanti kalau sudah sampai di rumah Mama sama Papa, jangan bilang kalau aku dan Keno bertengkar ya, Bi..."
***
Sesampainya di sana, Mira dan Andi langsung menghujani banyak pertanyaan kepada anaknya. Mereka yakin telah terjadi sesuatu dengan Aira, tapi Aira sangatlah pandai. Ia bisa meyakinkan kedua orangtuanya kalau dirinya baik- baik saja.
"Kalau kau baik- baik saja, kenapa ke sini dengan Bi Ijah dan Mang Dadang? Dimana suamimu?" tanya Andi menajamkan suaranya.
"Dia di luar kota, jadi daripada aku di sana sendirian lebih baik aku ke sini, kan? Dan untuk Bi Ijah dan Mang Dadang itu karena Keno yang menyuruh untuk menjagaku," jelas Aira.
"Ta- tanganmu melepuh sayang, kau kenapa?" Mira sangat panik melihat tangan anaknya melepuh.
"Oh ini ketumpahan susu panas, tadi aku tidak hati- hati saat membawanya jadi tumpah deh."
"Sudah ya, Mah, Pah. Aira ngantuk mau tidur dulu. Oh ya, Bi Ijah dan Mang Dadang tidur di ruang tamu saja ya..." ucap Aira. Kemudian ia langsung naik menuju kamarnya.
Matanya tak bisa terpejam, pikirannya berkecamuk. Kali ini perbuatan Keno terlalu kejam dan sulit untuk dimaafkan.
Mira menghampiri anaknya dan ikut berbaring di sampingnya. Ia tahu kalau rumah tangga anaknya itu sedang tak baik- baik saja.
"Biarkan Mama tidur di sini menemanimu ya..." Aira mengangguk, ia langsung mendekap erat tubuh wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Tangisnya tak bisa dibendung lagi, ia kembali menangis di dekapan sang Mama.
"Mama tahu kau dan Keno pasti bertengkar, kan? Kau bisa berkata tidak, tapi Mama lebih tahu kau itu seperti apa. Ceritakan sama Mama, jangan dipendam sendiri."
"Tidak terjadi apa- apa. Aira menangis karena tangan dan kaki Aira masih sakit."
"Baiklah kalau tak mau bercerita, kau tidak boleh bersedih seperti ini. Pikirkan bayi di kandunganmu."
Aira terpejam di dekapan Mira. Hatinya sedikit lebih tenang. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan, ia harus memikirkan anaknya.
"Maafkan Papa sama Mama ya, Nak. Kamu baik- baik di sana. Mama sangat menyayangimu..."
.
.
.
.
.
Mari kita hujat si KenošDasar cowok sintingš„“siapin batu buat nimbuk tu cowok gila wkwk
Btw, enaknya Aira marahin Keno berapa bulan nih? wkwk
__ADS_1