Hello Presdir

Hello Presdir
Mungkin Hanya Kebetulan


__ADS_3

Wanita cantik berpostur bak gitar spanyol itu telah bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Bibirnya yang pucat telah ia poles dengan lipstik tipis. Memakai dress seperti biasanya dengan heels senada dengan dress yang ia pakai, serta tas bermerk di tangannya.


Kondisinya jauh lebih baik setelah ia kembali ke Indonesia apalagi saat kemarin telah bertemu dengan Keno, orang yang ia cintai. Namun, ia harus tetap menjaga tubuhnya agar tidak kelelahan. Semenjak sakit, keluarga Ellen lebih posesive dengannya. Jadi ia tidak diperbolehkan membawa mobil sendiri dan harus dengan sopirnya. Merasa sangat terkekang dan tak bebas itu pasti, tapi ini jauh lebih baik daripada tidak bisa keluar sama sekali.


"Kita ke sanjaya group ya, Pak." ujar Ellen kepada sopirnya.


"Baik, Non."


Menatap ke arah jendela menatap beberapa kendaraan yang berlalu lalang, jalanan begitu tenang karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi Sudah tidak ada kebut- kebutan dengan alasan takut telat ke tempat kerja.


Ellen mengamati tempat- tempat yang pernah ia dan Keno kunjungi. Mengingat hal apa saja yang mereka lakukan, walaupun hanya sebentar karena kesibukan masing- masing. Sembari menyalakan lagu favorit mereka dari ponselnya, ia terus membayangkan kebersamaannya dulu. Tersenyum lalu sedih jika teringat saat dia pergi meninggalkan Keno dengan cara yang tidak benar.


Sesampainya di Sanjaya group, ia langsung menuju lift ke ruangan Keno. Semua karyawan memang mengenal Ellen, dulu juga Ellen sering ke kantor. Dan Keno memberinya kebebasan untuk keluar masuk kantor begitu saja.


Ceklek. Pintu terbuka oleh Ellen. Senyumnya mengembang ketika orang yang ingin ia temui ada di sana. Duduk di kursi kehormatan seraya menatap laptop dan tak menyadari akan kehadiran seseorang. Ellen pun berjalan mendekatinya dan menutup mata Keno dengan tangannya, memberinya kejutan.


"Kamu kok engga bilang sih kalau mau ke sini, lagian ini jam berapa emang engga ada kerjaan ya?" tanya Keno.


Ia segera melepas tangan di matanya, dan melihat sang pemilik. Sedikit terkejut tentunya, ia pikir itu adalah Aira ternyata bukan.


"Ele?"


"Hai." ucap Ellen seraya melambaikan tangannya dan tersenyum.


"Untuk apa kau ke sini?"


"Hanya ingin menemui mu, aku juga merindukan tempat ini." Ellen duduk di sofa dan di ikuti oleh Keno.


"Hanya merindukan tempatnya? Bukan orangnya?" goda Keno.


Ellen terkekeh, "Aku memang merindukan tempat ini, tapi aku lebih merindukan pemiliknya." ucapnya memeluk lengan Keno dengan manja.


"Kenapa kau mengikuti ku duduk di sini? Apa tidak ada pekerjaan?"


"Aku tidak enak jika mengabaikan mu. Masa kau datang tidak ada yang menemani."


"Bukankah dulu juga begitu? Jika aku datang kau juga akan tetap mengerjakan tugas mu."


Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "iya ya itu dulu, sekarang beda."


"Sudah sana selesaikan pekerjaan mu, aku akan menunggu di sini."


Keno melanjutkan pekerjaannya namun ia tidak duduk di tempat biasanya, melainkan ia duduk di samping Ellen. Sesekali mereka mengobrol dan bercanda. Ellen terus menatap Keno tanpa mengalihkannya sedetik pun.


Dua jam berlalu, Keno pun tampak menghentikan pekerjaannya. Ia berencana mengajak Ellen makan siang.


"Kita makan siang dulu yuk, sudah saatnya makan siang nih." ajak Keno.


"Aku tidak bisa, aku akan makan siang dengan teman ku. Tadi aku sudah memiliki janji dengannya."


"Benarkah? Kalau begitu ayo aku antar ke tempat kau buat janji dengannya."


"Tidak perlu, aku akan bersama sopirku nanti."


"Aku antar saja. Aku tidak keberatan."


"Tuan, Perusahaan GC memajukan pertemuannya. Dan kita harus ke restoran X sekarang juga." seru Frido yang baru saja membuka pintu dan masuk ke ruangan Keno. Keno pun memandang Ellen dengan tatapan lesu.


"Pergilah, aku juga akan pergi sekarang." ucap Ellen.


"Huffttt baiklah, ingat kau harus berhati- hati. Kalau ada apa- apa katakan pada ku." ucap Keno seraya mencubit hidung Ellen.


"Iya pak Presdir." seru Ellen seraya memberikan hormat kepada Keno.


Mereka berpisah di depan kantor Keno. Keno akan menemui clientnya sedangkan Ellen akan pergi ke toko kue Aira.


***


"Jadi ini tokonya Aira, tempatnya bagus, menarik, dan menenangkan. Sepertinya aku akan sering ke sini nantinya." gumam Ellen saat mobilnya mulai memasuki parkiran toko. Ia segera turun dan berjalan masuk ke toko.


"Selamat datang di Ai Cake's mbak." sapa karyawan saat Ellen masuk ke toko.


"Iya terima kasih. Oh ya, dimana Aira?"


"Mbak Aira? Apa anda ini mbak Ellen temannya mbak Aira?"


"Iya, tepat sekali."


"Mbak Aira belum kemari mbak, tapi tadi sudah berpesan kepada saya kalau ada mbak Ellen dia disuruh ke ruangannya mbak Aira saja. Mbak Aira nya masih di kantor."


"Baiklah kalau begitu. Oh ya, tadi aku membelikan makan siang untuk karyawan di sini. Kalian bisa mengambilnya di mobil aku ya. Kalian belum makan kan?"


"Kebetulan sekali mbak, kami belum makan siang tadi. Terima kasih banyak ya mbak. Oh ya, mari saya antar ke ruangannya mbak Aira."


Karyawan itu pun mengantar Ellen ke ruangannya Aira. Mereka melayani Ellen dengan baik sesuai perintah Aira. Tanpa disuruh Aira sepertinya mereka juga akan melayani Ellen dengan baik, karena Ellen sudah memberikan mereka makan siang gratis.


Satu jam berlalu, Ellen masih setia menunggu Aira di ruangannya. Ia menikmati kue dan minuman yang diberikan karyawan tadi. Dan tak lama kemudian, Aira sampai di tokonya.


"Halo Ele, maaf ya kalau menunggu lama. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Aira menghampiri Ellen yang duduk di sofa ruangannya.


"Tidak apa, aku tidak menunggu lama kok. Aku juga tidak bosan, lihat ini karyawan mu memberikan makanan dan minuman sebanyak ini dan aku menyukainya rasanya enak sekali. Sepertinya aku akan sering kemari hehe."

__ADS_1


"Terima kasih Ele, kalau begitu aku akan senang sekali jika kau sering ke sini nantinya."


"Tentu saja teman baru ku."


"Oh ya Ele, kau kenapa membelikan makan siang untuk para karyawan ku. Ini terlalu berlebihan, lain kali tidak perlu seperti itu lagi ya."


"Tidak apa, jangan terlalu dipikirkan. Aku ikhlas kok."


Mereka pun melanjutkan obrolan, sesekali bercanda dan tertawa.


"Kemarin aku sudah mengatakannya kepada dia, dan kau tahu? Dia menangis saat aku menceritakannya. Dia mengkhawatirkan ku, sungguh aku sangat terharu saat melihatnya menangis. Seorang presdir menangisi aku haha." cerita Ellen.


"Sungguh? Wah itu kabar baik dong. Lalu apa dia menerima mu kembali?"


"Sepertinya begitu, kemarin setelah makan siang dia menemani ku berjalan- jalan dan mengantar aku pulang juga. Tadi pagi aku ke kantornya menemui dia, dan dia tidak seperti dulu. Kalau dulu dia akan mengacuhkan aku dan lebih memilih pekerjaannya, tapi tadi dia terus menemani dan bercerita kepada ku."


"Wahh senangnya, selamat ya semoga kalian seperti itu terus dan tidak akan terpisah lagi."


"Kalau untuk berpisah aku tidak tahu, sepertinya itu akan terjadi lagi. Hidup ku tidak lama lagi, Aira. Aku harus segera mendapat donor jantung jika ingin hidup lebih lama lagi, untuk donor jantung itu bukanlah hal yang mudah dan akan sulit untuk mendapatkannya."


Aira menangis mendengar penuturan dari Ellen, ia pun segera memeluk Ellen. Baru berteman namun Aira sudah begitu sayang dengannya karena Ellen adalah orang yang baik.


"Ele, jangan bicara seperti itu. Aku yakin kau akan segera mendapat donor jantung secepatnya. Dan kau akan hidup lebih lama lagi dengan orang yang kau cinta dan sayangi. Berbahagia dan menua bersama. Aku yakin itu." ucap Aira mengusap bahunya Ellen menguatkan wanita itu.


Ellen ikut menangis ketika Aira menangisi dirinya, "Terima kasih sudah menguatkan, aku hanya bisa berusaha dan berdoa saja. Yang lain sudah ku pasrahkan dengan takdir ku." ucap Ellen yang membuat Aira semakin menangis.


"Hey sudah- sudah, kenapa kita jadi mellow begini. Ayolah jangan menangis lagi." Ellen mengusap air mata yang masih membasahi wajah Aira.


"Bagaimana kau sekuat ini, kau tetap tegar menerimanya. Aku bangga padamu, Ele." batin Aira.


"Ehm, bagaimana dengan lelaki yang kau ceritakan pada ku waktu itu, Ra?"


"Beberapa hari yang lalu, ia menyatakan cinta pada ku. Aku juga kaget, ternyata dia memiliki perasaan yang sama dengan ku."


"Aku ikut seneng dengernya, selamat ya. Oh ya, pasti dia sangatlah romantis bukan mengungkapkannya?"


"Cihhh, tidak ada romantisnya sama sekali. Dia bicara seperti biasa saja, tidak ada yang istimewa. Haha, tapi tidak apa aku tetap menyukainya." Aira tertawa jika membayangkannya.


"Tuhan memang baik ya, Dia selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan."


"Iya."


Mereka terus saja bercerita tentang orang yang mereka cintai, tanpa mereka tahu kalau orang yang mereka maksud adalah orang yang sama.


"Ehm Aira, Sebenarnya aku ingin berbelanja dengan mu. Apa kau mau menemani ku berbelanja?"


Karena tidak enak jika menolak, Aira pun mengiyakan. Setidaknya ini membuat Ellen bahagia dan tidak terlalu berfikir akan penyakitnya lagi.


Sesampainya di mall, Ellen mengajak Aira ke toko langganannya. Toko yang terdapat barang- barang branded dengan harga yang fantastis. Aira sangat tau dengan toko itu, karena ia juga sering membeli barang- barang di sana. Tapi tidak sering, hanya beberapa kali saja. Bukannya tidak ada uang namun ia lebih tidak ingin menyia- nyiakannya. Menghamburkan uang hanya untuk tas, sepatu bermerk dengan harga fantastis itu bukanlah tipe Aira.


"Aku baru saja membeli tas di sini, Ele. Aku tidak akan membelinya lagi untuk saat ini. Lagi pula aku juga tidak mau kalau kau yang membayarnya, kau terlalu baik."


"Jadi kau tidak ingin jika aku membayarnya? Aku hanya ingin memberikan mu hadiah pertemanan untuk kita. Tapi kalau tidak mau ya sudah tidak apa." ucap Ellen tertunduk lesu.


Melihat Ellen yang sedih, Aira menjadi tidak tega. Ia pun mengiyakan permintaan Ellen. Aira segera memilih tas yang ada di deretan etalase itu. Setelah lama memilih mereka langsung menuju ke kasir untuk membayarnya, Aira terus menolak untuk dibayarkan tapi Ellen lebih kekeh darinya.


"Gila ya ni orang, beli tas puluhan juta kaya beli permen. Aku aja punya uang banyak masih mikir- mikir." batin Aira.


"Kita ke butik yuk, aku udah lama nih engga pergi ke butik langganan aku dulu." ajak Ellen.


"Oh di sini rupanya..." seru Aira saat sudah sampai di butik yang Ellen maksud.


"Iya, apa kau juga sering kemari?"


"Ehm tentu saja, ini cabang butik mama ku."


"Ternyata punya mama mu, aku sering ke sini karena designnya sangatlah bagus dan harganya juga tidak terlalu mahal."


Aira dan Ellen berkeliling memilih baju mana yang pantas untuk mereka. Karena semua baju bagus Ellen pun tampak kebingungan, ingin rasanya membeli semua yang ada di butik mamanya Aira. Aira hanya menggelengkan kepalanya saat tangan Ellen sudah penuh dengan baju yang ia inginkan.


"Ele, bagaimana dengan dress ini? Ini cantik, sangat cocok untuk mu." seru Aira menunjukkan dress berwarna maroon yang menurutnya cocok untuk Ellen.


"Ehm itu bagus sekali, aku akan beli juga. Aduhh kenapa buatan mama mu ini bagus- bagus sih, aku jadi ingin membawa pulang semua isi butik ini."


"Boleh- boleh saja, asal tidak hutang haha."


"Kau ini bisa saja, ayo ke kasir."


Mereka pun segera ke kasir. Namun saat di kasir, Ellen tiba- tiba merasa sakit di dadanya. Ia meremas kuat dadanya dan meringis karena kesakitan.


"Awwww sakit..." lirihnya memegang dada.


"Ele, kau kenapa? Ayo kita ke rumah sakit sekarang, aku takut kalau kau kenapa- kenapa." Aira panik melihatnya, wajah Ellen sangatlah pucat. Ia segera mendudukkan Ellen di kursi.


"Tidak apa, ini sudah biasa. Aku hanya kelelahan saja, nanti juga akan hilang." ucap Ellen dengan tersenyum.


Aira merasa sedih dengan kondisi Ellen, ia kasihan dengan wanita yang berusaha kuat dan tersenyum walaupun sedang merasakan sakit.


"Bagaimana kau bisa sekuat itu, aku tahu sakit jantung itu sangat menyakitkan. Tapi kau terlihat kuat, kau berusaha baik- baik saja di depan semuanya. Dan kau masih bisa tersenyum saat sakit menyerang mu. Aku akan selalu berdoa agar kau segera mendapat donor jantung supaya kau tidak merasakan sakit lagi." batin Aira terisak.


"Aira kenapa kau diam saja."

__ADS_1


"Ahh tidak.."


"Sepertinya aku harus pulang sekarang, aku ingin beristirahat. Apa kau tidak keberatan jika kita tidak melanjutkan berbelanja?"


"Tentu saja tidak, kau lebih penting. Ayo kita pulang dan segera beristirahatlah aku tidak mau kau sakit lagi."


Aira pun memapah Ellen keluar dari mall dan langsung mengantarnya pulang. Setelah mengantar Ellen dan memastikannya baik- baik saja, Aira kembali ke tokonya.


Ia melamun, memikirkan kondisi Ellen. Ellen sangatlah baik tapi kenapa nasibnya tidak sebanding dengannya. Bukankah orang baik juga akan mendapat sesuatu yang baik pula, tapi kenapa Ellen harus menerima cobaan yang begitu berat. Kenapa dia harus sakit jantung di usianya yang masih muda.


Aira terus memikirkan wanita itu, ia tidak mau kehilangan teman sebaik Ellen. Larut dalam lamunannya, Aira tidak sadar jika sedari tadi Keno memanggilnya berkali- kali.


"Airaaaaaaa!!!"


"Hah, apa ada apa."


"Ayo pulang ! Dari tadi teriak- teriak tapi engga nyaut- nyaut. Nyebelin tau nggak !" ucap Keno penuh emosi dan langsung mengajak Aira masuk ke mobilnya.


Di dalam mobil Aira masih diam melamunkan Ellen. Hingga membuat Keno kesal lagi.


"Kau tadi belanja?" tanya Keno menyerobot paper bag di tangan Aira dan melihat isinya.


"Iya."


"Kenapa tidak ada barang untuk ku? Harusnya kau membelikan sesuatu untuk ku."


"Kau kan sudah punya banyak barang, kalau kau mau sesuatu ambillah tas itu. Pakai saja, aku memberikannya untuk mu."


"Cihh, kau yang benar saja. Masa iya aku memakai tas perempuan." Keno terus membayangkan jika dirinya memakai tas yang di beli Aira, sling bag berwarna light grey dengan pita di sampingnya. Keno bergidik ngeri membayangkannya hingga membuat Aira terkekeh.


"Sebenarnya itu bukan aku yang membelinya. Aku tadi dipaksa teman ku, teman yang aku ceritakan waktu itu. Dia terus memaksa dan membayarkannya untuk ku. Dia terlihat sedih saat aku menolak, jadi ya sudah aku menerimanya."


"Ohhhh. Lain kali jangan menerima barang apapun dari orang lain, siapa tau orang itu memiliki maksud lain kau harus berhati- hati dengannya."


"Mana mungkin dia begitu, dia itu sangatlah baik. Tadi siang dia membelikan makan siang untuk semua karyawan ku. Dan dia membelikan tas itu padahal harganya sangatlah mahal, tapi dia dengan santainya membelikan untukku. Tapi aku sangat kasihan dengannya."


"Kenapa kasihan?"


"Dia sakit jantung dan harus mendapat donor segera. Aku sangat kagum dengannya, dia mampu menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan banyak orang dan selalu berusaha tersenyum supaya tidak membuat orang khawatir akan sakitnya."


"Kenapa bisa sama seperti Ele, dia juga butuh donor jantung dan mendengar cerita Aira orangnya mirip dengan Ele. Ah, mungkin hanya kebetulan saja." batin Keno. Ia sendiri juga tidak tahu kalau yang dimaksud Aira itu memanglah Ellen.


***


Aira berada di dapur membantu bi Ijah menyiapkan makan malam. Mungkin ini yang terakhir memasak di rumah Keno, karena tadi sore ia meminta izin supaya Keno menyudahi perjanjian mereka yang tinggal tiga hari itu. Aira akan tinggal bersama Pak Andi dan Bu Mira.


"Nak Aira beneran besok udah engga tinggal di sini lagi?" tanya bi Ijah sedih saat mendengar besok Aira akan kembali ke rumahnya.


"Iya bi, besok Aira pulang ke rumah papa. Aira akan tinggal di sana, tapi Aira janji akan sering datang ke sini. Bi Ijah jangan sedih dong."


"Sedih sih kalau engga ada nak Aira di sini, tapi engga papa lah. Toh sebentar lagi nak Aira menikah sama Tuan Keno jadi ya akan tinggal lagi di sini hehe." timpal mang Dadang yang sedari tadi nguping. Aira hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah makan malam, Aira menuju ke kamarnya membereskan barang- barangnya ke dalam koper. Sebenarnya ia enggan untuk meninggalkan rumah ini, tapi ia harus mementingkan mamanya. Mama Mira menginginkan Aira untuk kembali ke rumah, mungkin ini jalan untuk Aira dan mamanya supaya lebih dekat lagi.


"Apa kau yakin akan tinggak bersama orang tua mu?" tanya Keno yang baru saja masuk ke kamar Aira.


"Tentu saja kenapa memangnya? Kau takut merindukan aku ya.." goda Aira yang masih memasukkan bajunya ke dalam koper.


"Ehm tidak tahu, tapi sepertinya tidak." ucap Keno berpura- pura karena juga ingin menggoda Aira.


"Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu bertemu lagi setelah ini. Aku juga tidak akan merindukan mu, tenang saja." Keno terkekeh mendengarnya, ia gemas dan mencubit pipi Aira.


"Bagaimana bisa aku tidak merindukan mu, aku akan sangat merindukan mu. Kita akan segera menikah biar kita terus bersama." ucap Keno malu- malu.


"Baiklah anak manis." seru Aira menangkup kedua pipi Keno.


"Oh ya, kenapa selama ini kau tidak tinggal bersama orang tua mu dan memilih untuk tinggal di apartemen bersama Mega?"


"Dulu waktu aku kelas 3 SMA, Hana kecelakaan dan lukanya cukup parah sampai- sampai ia harus melakukan operasi pemasangan pen di kakinya. Mereka mengira aku yang memaksa Hana untuk mengendarai motor sendiri saat membeli makanan. Padahal Hana yang memintanya sendiri, dan saat itu Hana memang belum benar- benar bisa mengendarai motor."


"Terus?"


"Terus ya Mama, Papa, dan Tante memarahi ku, bahkan papa dan mama menghajar ku hingga aku babak belur dan pingsan. Mereka juga mengurungku di gudang selama Hana masih sakit, membiarkan aku tidur di sana tanpa alas dan kedinginan. Bahkan mereka juga lupa memberi ku makan hingga aku sering kelaparan."


"Hana baru sembuh sebulan kemudian, dan selama itu aku tinggal di gudang. Aku sedikit trauma, dan sejak itu aku berjanji setelah lulus SMA akan kuliah di luar kota dan akan tinggal sendiri tanpa Mama dan Papa. Aku sangat takut kejadian itu terulang kembali." ucap Aira meneteskan air matanya.


"Maaf telah mengingatkan mu akan hal pahit itu. Jangan takut lagi, aku akan selalu ada untuk mu. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, aku akan selalu melindungi dan memberikan mu kebahagiaan." Keno merengkuh tubuh Aira dan memeluknya erat.


"Terima kasih."


"Aku bersyukur Allah telah menggantikan Raka dengan seseorang yang lebih baik darinya, aku mencintai dan menyayangi Keno. Ku harap aku dengannya bisa terus bersama. Amin." batin Aira.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau suka sama ceritanya Jangan lupa like, komen, dan votenya ya wkwk


Terima kasih sudah membaca :)


__ADS_2