Hello Presdir

Hello Presdir
Kelahiran


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, kandungan Aira telah memasuki bulan terakhir. Perut wanita itu membulat sempurna. Kedua keluarga sudah tak sabar menantikan cucu pertama mereka. Sebulan ini, mereka tinggal bersama di rumah Keno. Rumah yang biasanya sepi kini sangatlah ramai karena adanya Mira, Maria, Andi, dan juga Bram.


Kelahiran anaknya hanya menunggu hitungan hari saja, tentu ini semakin membuat Keno cemas. Dia bahkan tak bisa jauh dari Aira, takut wanita itu tiba- tiba melahirkan dan tak ada dirinya.


Mereka tengah berkumpul menyaksikan sinetron ikan terbang. Keno menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dan tangannya tak berhenti mengusap perutnya yang bulat dan besar.


"Aira, apakah sudah berasa sakit, Nak?" tanya Mira memecahkan keheningan. Semuanya pun menoleh ke arah Aira.


Aira menggeleng, "Belum, Mah."


"Baby, kau kapan keluar? Kami sudah tak sabar menunggumu," seru Keno mencium perut Aira.


"Aww..." Aira merintih, semuanya langsung bangkit dan menghampirinya.


"Sakit?" tanya semuanya serempak. Aira mengangguk, semuanya langsung panik dan berlarian menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa ke rumah sakit. Mira dan Maria mengambil barang di kamar bayi, sedangkan Bram menelpon pihak rumah sakit untuk menyiapkan kamar. Dan Andi, ia menyiapkan mobil. Lalu Keno? Ah, anak itu bingung sendiri mau ngapain. Dia panik, celingukan kesana kemari, dan tak tahu harus berbuat apa.


Melihat semuanya yang panik dan berlarian kesana kemari hingga bertabrakan malah membuat Aira tertawa terbahak- bahak. Apalagi saat melihat ekspresi mereka satu persatu. Sungguh, ini hiburan tersendiri bagi calon Mama muda itu. Semuanya begitu menyayanginya, dia bahagia karena diberikan keluarga yang terbaik.


"Stop stop stop !" teriak Aira menghentikan langkah mereka. Semuanya pun terdiam menatap Aira.


"Sudah tidak sakit, tadi hanya kontraksi palsu hehe..." ucap Aira seraya menunjukkan deretan gigi putihnya. Ia merasa tak berdosa sama sekali dan langsung melanjutkan acara makan keripiknya tadi.


Semuanya mengangahkan mulut mereka merasa dikerjain habis- habisan dengan bumil itu. Dengan langkah gontai mereka kembali menuju ke tempat semula dan masih sedikit kesal tentunya.


"Baby, kau nakal sekali. Belum juga keluar tapi sudah berani- beraninya mengerjai kami." Keno berkata seraya melototi anaknya yang masih ada di dalam perut.


"Memangnya kenapa kalau aku nakal, Papa?" tanya Aira terkekeh.


"Awas saja kau, aku akan menghukummu jika sudah keluar nanti."


"Kalau begitu aku tidak mau keluar, Pah. Takuuuuttt..." Aira semakin tertawa lepas melihat tingkah konyol suaminya itu.


***


Malam harinya, Aira tak bisa tertidur nyenyak. Ia gelisah dan sering merasakan mulas. Ia menuju ke kamar mandi untuk mengeceknya, terdapat bercak darah itu berarti dirinya akan segera melahirkan. Ia berjalan dengan tangan kanan mengusap perutnya dan tangan kiri mengusap pinggangnya.


"Ken..." serunya membangunkan sang suami. Namun Keno hanya menannggapinya dengan deheman.


"Sa- sakit..." rintihnya tak kunjung membangunkan suaminya.

__ADS_1


"Kau pasti akan membohongiku lagi, kan?" Lelaki itu sudah tak percaya dengan istrinya karena sejak pagi dirinya terus saja dibohongi Aira.


"Tidaakkk uhhh..." Mata Keno mengintip ke arah istrinya yang tengah bersandar di depan pintu kamar mandi. Ia pun langsung bangkit dan menghampirinya.


"Sayang, kau benar- benar mau melahirkan?" tanya Keno memastikannya lagi.


Aira mengangguk, "Tadi ada bercak darah..." ucap Aira.


Keno pun langsung menggendong istrinya ke bawah dan mendudukkannya di sofa sebentar, ia membangunkan semua orang. Tak butuh waktu lama, mereka pun sudah siap mengantarkan Aira ke rumah sakit.


Di dalam mobil Aira terus saja merintih namun tetap mengulas senyuman. Sedangkan Keno, ia sudah panik tingkat dewa. Ia rela tangannya menjadi sasaran dan gigitan Aira. Lelaki itu tak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu.


Pasalnya selama ini dia tak pernah melihat istrinya kesakitan seperti itu, tentu saja ini seakan membuat nyawa lelaki itu melayang seketika. Istrinya tengah berjuang antara hidup dan matinya.


Sesampainya di rumah sakit Sanjaya, Aira langsung dibawa ke ruang bersalin. Di sana sudah ada Dokter Salsa yang siap membantu persalinan Aira.


Yang pertama kali Dokter itu lakukan adalah mengecek pembukaan Aira. Ia memasukkan jarinya mengecek sudah pembukaan ke berapa, Aira sedikit terkejut merasakan jari Dokter itu di bagian bawahnya.


"Kenapa Anda memasukkan tangan ke alat vital istri saya?!" bentak Keno kepada Dokter Salsa.


"Memang begini prosedurnya, Bodoh! Kau diam saja!" seru Maria menarik telinga anaknya itu. Tentu saja itu menggelakkan tawa semua yang ada di sana termasuk Aira. Rasa sakit wanita itu sedikit berkurang melihat suaminya.


"Bagaimana Anda bisa menyuruh istri saya berjalan- jalan saat dia kesakitan! Dimana hati nurani Anda!" bentak Keno lagi. Dan kali ini Mira yang menjewernya, lengkap sudah dua telinganya itu mendapatkan jeweran hingga memerah.


"Kau itu diam saja jangan sok tahu! Pergi saja kalau tidak bisa diam," ucap Mira memperingatkan menantunya yang menyebalkan itu.


"Sudah, kau keluar saja, ayooo!" Bram dan Andi menarik Keno dan mengajaknya keluar dari ruang bersalin. Dia pun meronta- ronta layaknya penjahat yang tertangkap polisi. Aira semakin tergelak melihatnya.


***


Setelah merengek dan berpura- pura menangis karena tak diperbolehkan masuk menemani istrinya, keluarganya pun memperbolehkannya masuk dengan satu syarat, tidak boleh cerewet. Anak itu menurut, yang penting baginya adalah menemani sang istri.


Aira sudah mengenakan baju rumah sakit dengan infus di tangannya. Keno selalu berada di sampingnya memberikan dukungan dan semangat untuknya. Aira yang memilih melahirkan secara normal membuat Keno tak tega, tapi ini sudah keinginan sang istri. Keno mengelus kepala, memijat kaki, dan memijat punggung Aira untuk mengurangi rasa kontraksi yang begitu menyakitkan.


"Sayang..." lirih Keno meneteskan air matanya. Ia tidak sanggup melihat istrinya mengalami kontraksi ini, bahkan masih harus menunggu berjam- jam untuk menunggu pembukaan sempurna.


"Jangan menangis, aku tidak apa..." Aira tersenyum. Wanita itu terus memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang teramat. Tapi dia sangat menikmati proses menjadi ibu ini.


Keno mengecupi wajah Aira, "Maafkan aku..."

__ADS_1


"Bukan salahmu, kenapa minta maaf..." ucap Aira seraya mengatur nafasnya.


Frido, Niken, dan anaknya juga sudah terlihat di sana. Begitu juga dengan Sandi dan Mega serta bayi perempuan yang baru saja lahir satu bulan lalu. Raka dan Hana juga tampak hadir menunggu kelahiran bayi Aira. Mereka juga mengajak bayi lelaki yang lahirnya hanya berselisih satu minggu lebih cepat dari Sandi dan Mega. Semuanya begitu antusias menantikan kehadiran calon penerus Sanjaya Group.


"Sayang, kau yang kuat ya. Mama yakin kau bisa," ucap Mira menyemangati anaknya.


"Iya sayang, kau harus kuat. Kalau sakit tampar saja suamimu," ucap Andi membuat Keno kesal.


"Jangan cuma ditampar, tapi juga dicubit, gigit, dan cakar," tambah Bram terkekeh.


"Lihatlah ini, Aira sudah melakukannya padaku." Keno menunjukkan bekas aniaya istrinya tadi.


"Rasakan! Dulu kau meledekku, akhirnya kau merasakannya sendiri bukan..." ucap Frido mengejek Keno.


Keno menatao tajam ke arah Frido, "Pergi saja kau," ucapnya ketus.


***


Aira sudah memasuki bukaan sepuluh, tinggal menunggu ketubannya pecah, wanita itu pun siap untuk mendorong bayinya keluar. Tak berapa lama kemudian ada dorongan dari dalam sana yang membuat ketuban Aira pecah.


Dokter Salsa pun mengarahkan Aira untuk mengejan atau mendorong bayi jika rasa sakit datang. Mengejan dan mengatur nafasnya membuat Aira kelelahan sendiri. Selama hidupnya ini adalah sakit yang sangatlah luar biasa.


Keno setia menemani istrinya, dia terus memberikan semangat dan dorongan. Bibirnya juga tak berhenti merapalkan do'a untuk keselamatan istri dan bayinya.


Di luar ruangan, keluarga mereka pun juga tak henti- hetinya merapalkan do'a. Walaupun kantuk menyerang, tapi mereka tetap setia menemani Aira melahirkan.


"Kamu kuat sayang..." bisik Keno menyemangati istrinya.


"Sakit... Ini sakit banget..." ucap Aira ketika berusaha mengejan tapi gagal.


"Kau bisa, kau kuat. Dokter sudah melihat kepala anak kita..."


"Ahhhh !" dorongan terakhir Aira membuat yang bayi terlahir dan langsung terdengar suara tangisan memecah seisi ruangan.


Suara tangisan pun terdengar hingga luar ruangan, membuat keluarga yang menanti berjingkrak bahagia. Yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Tangisan haru dan ucapan syukur tak hentinya terucap Mira, Maria, Andi, dan Bram atas kelahiran cucu pertama mereka.


Keno menghujani banyak ciuman pada sang istri, air matanya pun tak berhenti menetes, ia terus saja mengucapkan terima kasih. Aira pun terharu mendengar suara tangisan bayinya, itu berarti dia sudah menjadi ibu. Berjam- jam menahan rasa sakit akhirnya terbalaskan juga akan kelahiran sesosok bayi laki- laki dari rahimnya sendiri.


"Aku mencintaimu..." lirih Keno mengecup kening Aira begitu lama.

__ADS_1


__ADS_2