
Lima bulan kemudian...
Malam telah menjemput, tapi Aira belum kunjung tidur juga. Wanita itu masih asyik dengan putra kecilnya. Ia terus menimang- nimang Aksa supaya tertidur, tapi Aksa tak mau tidur juga.
"Sayang, kenapa kamu belum tidur juga. Ini sudah malem loh..."
Keno terbangun karena celotehan bayi terdengar begitu riang di telinganya, ia segera menghampiri istrinya yang tengah duduk di sofa dan menggendong Aksa. Aira begitu lelah dan terlihat sangat mengantuk.
"Sayang, Kenapa Aksa belum tidur juga? Biar aku yang menidurkannya, kamu tidur saja," ucap Keno dan langsung mengambil alih Aksa dari gendongan Aira.
"Beneran nih aku tidur? Kamu emangnya bisa jaga dia?" Aira tak begitu yakin dengan suaminya. Pasalnya, kemarin saja saat Keno menidurkan Aksa, malah dia sendiri yang tidur.
"Kamu tidur saja sana, aku bisa mengatasi jagoan kecil ini." Keno mengecup kening Aira dan menyuruhnya untuk segera tidur. Aira pun menurut karena dirinya memang sangat mengantuk, baru beberapa saat berbaring di kasur, Aira sudah tertidur dengan nyenyaknya.
"Baiklah bayi kecil, kamu nakal sekali jam segini belum juga tidur. Lihat mata Papa ini, mengantuk kan..." ucap Keno melototi anaknya.
Bayi itu malah tersenyum meledek membuat Keno semakin gemas dengannya. Ia menciumi wajah anaknya tanpa ampun dan hampir saja menggigit pipinya karena sangat gembul dan menggemaskan.
"Tidur ya..." ucap Keno, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, ia juga sudah mengantuk tapi Aksa masih terjaga.
"Anak Papa 'kan baik, besok Papa beliin mobil buat kamu tapi janji harus tidur sekarang juga."
Keno menggendong Aksa, meletakkan kepala Aksa di bahunya dan menepuk pantatnya supaya tertidur. Mulutnya juga tak berhenti melantunkan lagu- lagu pengantar tidur untuk bayinya.
Lima belas menit kemudian, Aksa baru tertidur. Keno pun tersenyum penuh kemenangan, akhirnya sang bayi telah tidur dan ini saatnya dia bermesraan dengan sang istri. Ia segera meletakkan Aksa di box bayi dan menyelimutinya. Baru saja pergi dua langkah, Aksa menangis.
"Astaga..." pekik Keno menepuk jidatnya. Ia segera menggendong Aksa lagi supaya berhenti menangis dan tak mengganggu istrinya.
"Cup..cup..cup...Anak papa ganteng, jangan menangis lagi ya. Kasihan Mama baru tidur loh, kita keluar dari kamar saja ya..."
__ADS_1
Keno mengajak anaknya ke ruang keluarga dan duduk di sofa, dengan Aksa yang tetap berada di pelukannya. Tak lama kemudian, Aksa akhirnya tertidur kembali. Tak hanya Aksa saja yang tidur, tapi Papanya juga.
*****
Suara Adzan subuh membangunkan Aira, ia menggeliatkan tubuhnya dan mencari sesosok orang yang selalu menemaninya tidur. Tapi, tak menemukannya juga. Ah, mungkin suaminya itu sedang di kamar mandi untuk boker atau mengambil air wudhu. Aira segera bangun dan menengok Aksa. Betapa terkejutnya ia tatkala mendapati box bayi Aksa yang kosong.
"Aksa...kamu dimana sayang?" teriak Aira menyusuri setiap sudut kamarnya. Ia tak kunjung menemukan Aksa juga, Aira pun segera turun dan bertanya kepada Bi Ijah atau Mang Dadang, mungkin mereka tahu keberadaan Aksa.
Saat melewati ruang keluarga, ia menangkap dua orang yang dicarinya sedari tadi. Aksa dan Keno tidur di sofa panjang ruang keluarga, dengan posisi Aksa yang tengkurap di dada bidang Keno. Senyum tersungging di wajah Aira, hatinya terenyuh saat melihat Keno dan anaknya.
"Sayang..." liriny Aira membangunkan sang suami dengan membelai kepalanya. Keno pun mulai mengerjapkan matanya. Ia langsung tersenyum mendapati sang istri berada di hadapannya.
"Maaf ya, gara- gara Aksa kamu jadi ketiduran di sini," ucap Aira dan langsung mengambil Aksa dari tubuh Keno. Ia tahu kalau suaminya itu pasti kesusahan saat menidurkan Aksa semalam.
"Kamu tidur jam berapa semalam?" tanya Aira membelai suaminya yang masih berbaring di sofa.
"Jam satu sayang, aku masih mengantuk. Aku tidur lagi ya..." jawab Keno dengan manjanya.
*****
Setiap pagi, Aira selalu disibukkan dengan dua lelaki yang sangat ia cintai dan sayangi. Bagaimana tidak, ia harus menyiapkan keperluan Keno dan Aksa.
"Sayang, aku nggak mau pakai kemeja ke kantornya. Aku mau pakai kaos saja," teriak Keno.
Aira yang kala itu tengah menyuapi Aksa pun langsung menyuruh Bi Ijah untuk menggantikannya dan pergi menghampiri suaminya.
"Emangnya nggak ada meeting atau pertemuan? Kok pakai kaos?" tanya Aira, ia mengambilkan kaos untuk suaminya di ruang ganti.
"Enggak ada," jawab Keno tanpa memandang istrinya. Ia tengah sibuk menatap laptopnya.
__ADS_1
"Ini pakailah dulu." Aira menyodorkan kaos kepada suaminya. Baru saja mau membereskan kemeja yang tak terpakai tadi, ia mendengar suara tangisan anaknya. Aira pun segera turun dan menghampiri Aksa.
"Ututu...sayangnya Mama kenapa nangis? Loh, kok belum dimakan buburnya?" tanya Aira dan langsung menggendong anaknya.
"Nak Aksa nggak mau makan, Nak. Dia selalu menolak saat bibi menyuapinya," ucap Bi Ijah.
"Biar Aira saja yang menyuapinya, Bi Ijah lanjutkan saja pekerjaan yang lain ya..." Aira mengambil mangkok berisi bubur bayi dari tangan Bi Ijah.
Ia pun mulai menyuapi Aksa sedikit demi sedikit. Aira menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang begitu lahap saat disuapi dirinya. Padahal, tadi saat Bi Ijah menyuapinya Aksa tidak mau. Aksa sungguh menggemaskan.
"Makan yang banyak ya sayang, anak Mama 'kan pinter ya..."
Aksa sangat aktif, ia mulai bisa bertepuk tangan dan tertawa menanggapi orang lain yang mengajak dirinya berbicara.
"Ohh jadi kamu merebut istriku ya, berani sekali kamu," ucap Keno. Aksa bengong menatap Keno yang berjalan menuruni tangga hendak menghampiri dirinya.
"Merebut bagaimana sih, Papa?" tanya Aira menirukan suara anak kecil.
"Harusnya Papa yang disuapin Mama bukan kamu," seru Keno mencubit pipi Aksa karena gemas. Aksa yang merasa terganggu dengan kedatangan Papanya pun langsung menangis kencang, membuat Aira melototkan matanya ke arah Keno.
"Cup...cup...cup...Nanti Mama kasih pelajaran ya sama Papa yang nakal itu." Aksa malah semakin kencang menangis.
"Aduhhh..." Keno memekik kesakitan saat Aira mencubit dirinya.
"Tuhh, Mama udah kasih pelajaran buat Papa. jangan menangis lagi ya sayang..."
Dan benar saja, Aksa langsung terdiam saat melihat Keno dicubit Aira. Ia tertawa melihat Keno yang mengusap- usap bekas cubitan istrinya tadi.
"Wahhh, langsung berhenti nangisnya...." ucap Aira tergelak sendiri melihat anaknya. Aksa senang sekali ketika Papanya mendapat pelajaran dari Mamanya.
__ADS_1
"Dasar anak nakal kamu ya. Papanya dicubit Mama malah seneng! Ihhhh gemes deh...." Keno menciumi anaknya tanpa ampun membuat Aksa jadi kesulitan untuk bernafas.