Hello Presdir

Hello Presdir
Sudah Tak Sabar


__ADS_3

"Iya, Pak. Kenapa Anda tiba- tiba membatalkannya? Apa Anda memiliki masa lalu yang buruk dengan istri saya? Kalaupun iya, tolong lupakan masa lalu kalian, biarkan anak- anak kita menikah," tutur Andi.


Bram semakin emosi mendengar ucapan Andi, rasanya ia ingin membunuh lelaki itu. Lelaki yang menjadi perusak hubungannya dengan Mira.


"Pah..." seru Keno, namun Bram tetap melangkah keluar dari rumah itu. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Andi dan Mira.


"Nak, tolong maafkan anak saya, ya. Dia mungkin butuh waktu untuk menerima kenyataan ini," ucap Nenek Ratih.


"Tak apa, Bu," jawab Andi ramah.


"Maafkan suami saya. Saya akan mencoba membujuknya, maaf jika lamaran malam ini menjadi kacau," ucap Maria mengatupkan kedua tangannya.


"Jangan merasa bersalah, ini hanyalah insident kecil. Semoga hal baik segera datang dan semoga kita tetap bisa menjadi keluarga," ucap Mira memeluk istri mantan kekasihnya itu.


"Kenapa selalu ada saja halangan untuk cinta kita, apa kita berbuat salah sehingga Tuhan selalu mempersulit kita?" lirih Keno saat memeluk Aira.


"Jangan sedih, aku yakin kita akan mendapatkan restu dari Papamu," jawab Aira mengusap punggung Keno.


***


Sesampainya di rumah, Keno langsung menemui Papanya. Amarahnya memuncak, tak ada kelembutan sedikitpun darinya. Ia membanting pintu kamar Papanya.


"Apa maksudmu tidak merestui hubunganku dengannya?!"


Bram menoleh sejenak ke arah anaknya yang telah merah padam itu.


"Pah ! Apa kami tak pantas untuk bahagia?"


"Ku mohon itu hanya masa lalu saja, Pah. Lupakan semuanya, izinkan kami melangsungkan pernikahan,"


"Lupakanlah dia. Keputusan papa sudah bulat, Papa tak akan berbesanan dengan keluarga mereka."


"Keluar !" pinta Bram menajamkan suaranya.


"Egois ! Aku membencimu Bramantyo !" bentak Keno sebelum meninggalkan kamar Bram.


Amarahnya semakin memuncak, ia langsung menuju ke kamarnya.


"Jangan ada yang berani masuk ke kamarku !" perintahnya kepada semua maids di rumahnya.


Ia duduk di samping ranjangnya, mengacak- acak rambutnya frustasi. Ia teringat dengan perkataan Andi yang tidak akan membiarkannya menikahi Aira sebelum mendapatkan restu dari Papanya sendiri.


***


Di kamarnya, Aira juga merasa sedih. Kebahagiaan begitu sulit untuknya. Baru saja datang tapi harus kembali lagi. Apa memang dia tidak layak untuk bahagia?


Aira terduduk lemas di lantai kamarnya. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya keluar juga. Ia menangis dalam diam, berbagai cobaan selalu menghampirinya. Ia hanya ingin bahagia, tidak lebih !


Papa dan Mama Aira pun menghampirinya, ulu hati mereka ikut merasakan kesedihan anaknya. Penampilannya kacau, rambut yang sudah tak beraturan, dan air mata membasahi wajah cantinya.


"Mah, Pah. Kenapa selalu seperti ini? Kebahagiaan begitu sulit kudapatkan. Tuhan begitu jahat, baru saja aku merasakan kebahagiaan tapi ia selalu mengambilnya kembali," lirih Aira tersenyum getir.


"Apa Dia tidak suka jika aku bahagia dengan Keno? Apa Dia iri melihatku dari sana?"

__ADS_1


Papa dan Mamanya tersentak mendengar penuturan anaknya. Kebahagiaan anaknya memang sulit sekali didapatkan.


"Kami akan berbicara lagi dengan Papa Keno, sayang. Maafkan Mama, gara- gara kesalahan Mama kau ikut merasakan akibatnya," ucap Mira.


"Aku selalu dipermainkan takdir. Aku harus merelakan cinta pertamaku menikah dengan Hana, lalu kini cintaku kembali terhalang."


"Tuhan jahat kepadaku."


Penuturan dengan nada sinis berdengung nyaring di telinga Mira dan Andi. Mereka tak bisa menahan lagi laju air mata yang menggenang di pelupuk mata.


***


Paginya, Maria memberi kabar buruk kepada Aira. Ia menyuruh Aira untuk menenangkan Keno, karena dari tadi malam anak itu terus saja berteriak dan mengamuk di kamarnya. Tak ada yang bisa membujuknya sedikitpun.


Aira langsung merasa cemas takut Keno berbuat nekat karena tak mendapat restu dari papanya. Semalam ia juga berkali- kali menghubungi Keno, tapi tak ada jawaban apapun darinya.


Tok- tok- tok !


Aira terus mengetuk pintu kamar Keno, namun tak ada sautan dari dalam. Maria dan Nenek Ratih pun ikut cemas, semalaman mereka terus berada di depan kamar Keno mengawasi anak itu.


"Ken, apa kau masih tidur? Buka pintunya, aku ingin berbicara denganmu," teriak Aira dan tetap menggerakkan tangannya mengetuk pintu.


"Ken, ayolah buka pintunya." Aira semakin panik, sudah setengah jam ia mengetuk pintu kamar itu tapi pintu itu tak kunjung terbuka juga.


"Kita dobrak saja pintunya, tunggu sebentar." Maria segera memanggil pelayan untuk mendobrak kamar itu.


Tak lama kemudian, Aira pun berhasil masuk ke kamar Keno. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kegelapan. Ia semakin takut kalau Keno benar- benar berbuat hal bodoh. Ia pun mulai melangkah mencari saklar lampu.


Aira menggelengkan kepalanya terkejut melihat kondisi kamar yang sangat kacau. Pecahan kaca, televisi yang tergeletak di lantai dan hampir hancur serta sofa panjang yang terbalik.


Akhirnya ia mendapati lelaki yang sedari tadi dicarinya. Keno sedang tertidur nyenyak di lantai yang beralaskan karpet bulu. Kancing kemejanya terlepas, rambutnya acak- acakkan. Matanya sembab, masih ada sisa air mata yang hampir mengering. Sudah dipastikan jika Keno menangis semalaman.


Aira menutup mulutnya saat menatap punggung tangan Keno, terdapat darah yang mengering dan masih ada beberapa serpihan kaca yang menancap di sana.


"Ken..." lirih Aira membelai wajah Keno yang sedang tertidur pulas. Mungkin dia terlalu lelah menangis dan mengamuk.


"Aira !"


"Jangan pergi ku mohon, aku tidak bisa tanpamu," lirih Keno menyakitkan. Ia memeluk erat tubuh Aira.


Tubuh Keno bergetar hebat, lelaki itu kembali menangis tersedu di pelukan Aira.


"Jangan seperti ini, aku tidak bisa melihatmu dengan keadaan sekacau ini." Aira mulai membersihkan noda darah di tangan Keno dan mengambil serpihan kaca.


"Ayo pergi dari sini. Iya ataupun tanpa restu, aku akan tetap menikah denganmu, kita akan menikah diam- diam."


"Apa kau sudah tak sabar?" tanya Aira mendapatkan tatapan tajam dari Keno.


"A- aku ikut kau saja. Tapi, berjanjilah kau tidak akan seperti ini lagi."


Keno mengangguk, ia pun segera menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Keputusannya sudah bulat, ia akan membawa kabur Aira dan menikahinya secara diam- diam.


Saat melewati ruang keluarga, terdapat Mama, Papa, dan Neneknya di sana. Tapi Keno tak menggubris mereka, ia tetap melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" tanya Bram menghentikan langkah Keno dan Aira.


"Bukan urusan Anda !"


"Ken, kau mau kemana?" tanya Maria lembut.


"Aku dan Aira akan pergi, Mah. Terserah kalian mau merestui atau tidak, aaku tetap akan menikah dengan Aira !"


Bram tertawa mendengarnya, "Apa kau serius akan membawanya kabur? Apa kau benar- benar mencintainya?"


Keno mengacak- acak rambutnya frustasi, "Darimana Keno tidak serius sih, Pak Bramantyo Sanjaya ! Bahkan aku hampir gila saat kau tak merestui kami, sudahlah ! Jangan membuatku tambah emosi, permisi." Keno kembali menggenggam tangan Aira dan mengajaknya melangkah kembali.


"Apa kau tidak ingin izin dulu dengan orangtua wanitamu itu?" seru seseorang.


Keno dan Aira yang mengenal suara itu pun segera menoleh. Mereka terkejut dan terheran kenapa Papa dan Mama Aira berada di rumah keluarga Sanjaya.


"Papah..." lirih Aira.


Aira dan Keno saling memandang, mereka sama- sama kebingungan dengan situasi yang ada.


"Bagaimana Bram, apakah kita jadi menikahkan mereka minggu depan? Atau hari ini saja, sepertinya mereka sudah tak sabar," ucap Andi dengan kekehan kecil.


"Iya, aku juga berpikir kalau minggu depan itu terlalu lama bagi mereka. Hari ini saja, ya?" jawab Bram.


"Apa maksud kalian?" tanya Keno mengernyitkan dahinya.


"Kau itu bagaimana, katanya mau menikah? Kemarilah jangan mengajak Aira kabur !" ujar Maria.


"Jadi, Papa merestui kami?" tanya Keno kepada Bram. Bram hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Tapi semalam?"


"Lupakan, dari sini aku semakin tahu kalau cintamu dengan Aira itu benar- benar kuat. Kalian berhak bahagia, maafkan papa yang telah membuatmu kesal," jawab Bram.


"Bramantyo Sanjaya ! Kau benar- benar ingin mendapat pukulan dariku ya !" Keno menggertakkan giginya, mengepalkan kedua tangannya, dan langsung menghampiri Bram. Ia menatap Bram sejenak dengan mata yang berbinar, lalu ia pun memeluk erat tubuh lelaki itu.


"Terima kasih," lirih Keno. Bram menepuk- nepuk pundak anaknya, ia sudah lama tak merasakan pelukan dari anaknya itu. Ia terharu, air matanya hampir menetes.


"Maafkan Keno, Pah. Karena Keno sedikit kasar dengan Papah."


"Aku sudah tahu sifatmu itu bagaimana, aku tidak kaget, haha."


Mereka pun melanjutkan perbincangan dan membahas pernikahan. Mereka sepakat akan melangsungkan pernikahan minggu depan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


yeeeeeyyyyyy, next episode mereka bakalan nikah🤣🤣🤣Kalau tidak ada masalah lagi hihi🤭🤭🤭


__ADS_2