
Aira dan Keno sudah bersiap untuk menghadiri pernikahan Mega dan Sandi. Berbalut dengan dress berwarna biru yang di design oleh mamanya sendiri menambah kecantikan Aira. Rambut hitamnya yang dibiarkan terurai dengan riasan make up natural di wajahnya turut memancarkan pesona kecantikan Aira yang selama ini terpendam. Sedangkan, Keno dengan berbalut jas berwarna cream juga terlihat tampan dan penuh wibawa.
Mereka akan menjadi MC di pernikahan kedua sahabatnya itu. Sungguh pengantin yang sangat beruntung karena tak perlu merogoh uang untuk membayar MC.
Keno dan Aira mulai melangkahkan kaki mereka memasuki sebuah gedung yang sudah lama dipersiapkan. Kehadiran Keno tentu saja menjadi pusat perhatian di sana ketika mengingat ia adalah presdir dari Sanjaya Group. Dengan berjalan bergandengan dengan Aira memasuki gedung bernuansa merah muda dan putih, tapi tidak ada hello kitty kok di sana.
Kini Aira menemani Mega yang sudah disulap menjadi seorang putri oleh mbak- mbak MUA. Dengan gaun berwarna putih yang di design sedemikian rupa yang lebih mirip dengan kandang ayam, Mega sudah siap untuk acara akad nikah.
"Are you ready?" tanya Aira.
"Yeahh, I'm ready." Mereka pun segera keluar menuju ke tempat akad nikah.
"Astaga kak Mega, kenapa berjalan cepat sekali."
"Issh lalu aku harus bagaimana?"
Aira menepuk keningnya, "Berjalanlah pelan dan jangan seperti dikejar hantu. Ingat, kau itu pengantin sekarang. Jangan membuat malu."
Mega pun mulai berjalan pelan mengikuti perintah Aira. Di sisi lain, Sandi sudah duduk di depan papanya Mega yang siap untuk menikahkan mereka. Jangan ditanya bagaimana ekspresi Sandi saat itu. Wajahnya sudah pucat pasi dan badannya terus gemetar.
"Kenapa kau malah menggigil? Apa kau demam?" bisik Keno mendekati Sandi.
"Bukan demam hiks, aku grogi. Lihatlah calon papa mertuaku, dia serius sekali membuatku bergidik ngeri. Aku takut kalau nanti pingsan."
"Bodoh, ini acara serius jadi wajar kalau dia seperti itu. Kau saja yang aneh." Keno menoyor kepala Sandi.
Tak lama kemudian, Mega sudah duduk di samping Sandi. Sandi yang melihatnya pun tertegun akan kecantikan calon istrinya itu.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?"
"Tidak, kau sangatlah cantik. Aku jadi tidak sabar untuk memakan mu nanti malam."
"Jangan pikirkan hal lain dulu, pikirkan akadnya. Awas saja kalau sampai membuatku malu." ancam Mega.
"Ananda Sandi Guntur Pratama, apakah anda sudah siap untuk memulainya?"
"Insyaallah siap komandan." seru Sandi penuh semangat.
Pak Farid langsung menjabat tangan Sandi, dirasakannya tangan yang sangat dingin dan seperti tak bernyawa itu.
"Saya nikahkan engkau Sandi Guntur Pratama bin Adi Nugroho dengan anak saya Mega Anastasia binti Muhammad Farid dengan mas kawin emas 100 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai."
Menghela nafas panjang, "Saya terima nikah dan kawinnya Muhammad Farid binti Mega Anastasia dengan mas kaww..."
"STOPPP !!!"
"Kau mau menikah dengan ku atau dengan papa ku sih?!" bentak Mega menggelakkan para tamu undangan yang menyaksikannya. Orang tua Sandi juga tampak malu akan ulah anaknya itu.
Sandi yang sadar akan kesalahannya pun merutuki mulutnya sendiri, "Ahh kenapa terbalik sih, dasar mulut sialan."
"Sebaiknya nak Sandi keluar dulu menenangkan diri, jika sudah tenang baru kembali ke sini." perintah Pak Farid.
Keno berdiri dari tempat duduknya dan menarik tubuh Sandi keluar dari ruangan untuk menenangkan mempelai gesrek itu.
"Aduhh Ken, gimana dong gue grogi ini. Takut salah lagi nanti."
"Gini deh, bayangkan saja semua yang ada di dalam itu semut. Nanti juga engga grogi lagi."
"Bagaimana bisa, jelas- jelas mereka semua manusia. Kau bodoh juga ternyata."
Keno menepuk keningnya tak tahu lagi harus bagaimana, "Kalau kau tidak mengucapkannya dengan baik dan benar maka kau tidak akan jadi menikah dengan Mega. Dan kau tidak bisa mantap- mantap dengan Mega nanti mal- "
"Oke gue udah siap sekarang." seru Sandi penuh semangat dan masuk ke dalam. Ia nampak ragu karena masih banyak tamu yang menertawakannya, tapi ia mampu menepisnya.
Pak Farid pun kembali melayangkan ijab kabul dan....
"Saya terima nikah dan kawinnya Mega Anastasia binti Muhammad Farid dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Dan akhirnya kata "SAH" terlontar dari para saksi dan tamu yang menyaksikan. Tampak wajah kelegaan dari Sandi, kemudian ia mengulurkan tangannya untuk dicium Mega setelah itu mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan dan rasa cinta.
"WOOOYYYYY GUEEE UDAHHH NIKAAAHHH NIHHH."
"NANTI MALAM MANTAP- MANTAP UHUUUUUUUYYYYY." teriak Sandi seraya mengangkat kedua tangannya ke atas seakan telah memenangkan sesuatu. Keluarganya pun semakin malu dengan tingkah Sandi itu.
Setelah melaksanakan akad, kedua pengantin itu pun dipajang di pelaminan. Eh bukan dipajang emang mereka barang di toko apa. Maksudnya untuk menerima ucapan dari para tamu undangan.
Satu persatu tamu pun naik menghampiri kedua mempelai. Hanya sekadar mengucapkan selamat dan memanjatkan doa tanpa memberi amplop haha. Dan tak sedikit dari mereka yang masih meledek Sandi karena terbalik mengucapkan akad tadi.
"Widiihhh penganti baru. Selamat ya kakak- kakak Aira tersayang. Semoga samawa buat kalian." kata Aira seraya memeluk kedua sahabatnya itu secara bergantian.
"Thank you Aira sayang."
"Selamat ya, semoga langgeng dan segera buatin kita keponakan."
"Tenang saja, nanti malam sudah dicicil. Sayang aku jadi tidak sabar untuk nanti malam." ujar Sandi.
"Emang utang apa di cicil, haha." sahut Aira.
"Eh terima kasih ya kalian udah mau jadi MC tanpa bayaran, Aira terima kasih kuenya dan Keno terima kasih tiket bulan madunya." tutur Mega yang hanya dibalas deheman oleh keduanya.
"Kalian buruan nyusul dong."
"Tenang saja, sebentar lagi undangan akan segera sampai ke kalian kok." jawab Keno dan mendapat cubitan dari Aira.
"Eh bukannya Keno jago nyanyi ya? Gimana kalau nyumbang lagu?" ujar Sandi.
"Engga kok siapa yang bilang jago, suara ku fals nanti malah pada kabur tamu kalian."
Karena mereka bertiga terus merengek akhirnya Keno pun bersedia untuk menyanyikan sebuah lagu. Ia duduk di sebuah kursi dengan gitar yang sudah siap dimainkan.
"Pak Presdir mau ngapain?" teriak salah satu tamu.
"Saya mau nyuci baju." balas Keno menggelakkan tawa isi gedung.
Keno pun segera memetik gitar dan mulai melantunkan sebuah lagu.
Memenangkan hatiku bukanlah
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
'Ku tak bisa hidup tanpamu
Menjaga cinta itu bukanlah
Satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
__ADS_1
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Para tamu terkagum- kagum dengan bakat terpendam yang Keno miliki. Suara merdu Keno menarik perhatian para hadirin dan tak sedikit dari mereka yang memuji bakat yang tidak diketahui banyak orang itu.
Saat Keno menyanyi ia terus saja memandang ke arah Aira. Mata mereka saling bertemu dan terkunci. Bibir yang saling tersenyum tipis dan enggan untuk mengalihkan tatapan satu sama lain.
Banyak sekali tamu yang menggunakan ponsel mereka untuk mengabadikan momen langka tersebut. Dan karena banyak teman wartawan yang hadir, mereka pun juga ikut meliput momen tersebut. Momen dimana seorang Presdir menjadi MC serta menyanyikan sebuah lagu dengan sangat merdu di pernikahan temannya.
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
Tolong kamu camkan itu
Lagu pun selesai, suara tepuk tangan dan sorak terdengar riuh di telinga. Keno dan Aira kembali membawakan sususan acara yang belum terlaksana. Dan acara terakhir adalah melempar bunga pengantin.
"Aira, Keno sana ikutan!" pinta Mega.
"Engga perlu kak, Aira di sini saja."
"Udah sana siapa tahu kalian yang dapet trus langsung nyusul kita deh." ujar Sandi.
Aira dan Keno pun terpaksa mengiyakan, mereka berdiri di tengah- tengah tamu lain yang bersiap untuk menerima buket bunga dari sang pengantin.
Sandi dan Mega akan melempar buket dengan posisi membelakangi para tamu. Setelah hitungan ketiga mereka pun melemparnya. Suara riuh kembali terdengar dari para tamu.
Dan entah kebetulan atau apa, buket yang mereka lempar tepat jatuh di antara Keno dan Aira. Mereka pun saling memandang dan mengambil buket itu secara bersamaan dengan rasa canggung.
"Ciieeee ternyata pak Presdir yang dapet cieee..."
"Kalian buruan nikahh, kalau jodoh emang engga kemana kok."
"Suiittt suiiittt suiiitttt." suara burung berkicau, eh bukan. Suara siulan dari sesorang maksutnya.
Keno dan Aira semakin canggung dengan sorakan dari para tamu lain.
Acara pernikahan sudah selesai saat senja menyapa. Semua tamu pun berhambur keluar dari gedung dengan perut yang terisi penuh tentunya haha. Aira dan Keno juga tampak berpamitan kepada pengantin baru yang somplaknya luar biasa itu.
Di dalam mobil, Keno dan Aira masih tampak canggung akan kejadian tadi. Yang biasanya selalu ada ocehan dari kedua mulut mereka saat bersama, namun untuk saat ini hanyalah ada keheningan semata. Hanya sesekali melirik tanpa ada sepatah kata yang terucap dari bibir mereka, dan akhirnya Keno memecah keheningan itu dengan deheman.
"Kenapa? Haus?" tanya Aira dan Keno menggeleng. Beberapa saat kemudian, Keno pun kembali berdehem.
"Apa? Katakan saja!" seru Aira yang mulai nampak kesal karena Keno hanya berdehem lalu tak merespon lagi.
"Engga, cuma mau bilang kalau aku sayang kamu." lirihnya.
Keheningan pun mulai menyapa lagi hingga mobil memasuki halaman rumah Keno. Aira segera keluar dari mobil dan meninggalkan Keno yang masih terlihat kesal.
"Sudah pulang nak Aira?" tanya bi Ijah saat Aira masuk ke rumah.
"Sudah bi, kalau belum ya kenapa masih di sini."
"Hehe bibi kan cuma basa basi aja."
"Bi Ijah, sini deh aku bisikin sesuatu." Bi Ijah pun mendekat dan Aira membisikkan sesuatu kepadanya hingga membuat wanita paruh baya itu terkekeh geli mendengar bisikan itu.
"Aira ke kamar dulu ya, Bi." Aira nampak malu- setelah membisikkan sesuatu kepada bi Ijah.
Sedangkan, Keno memasuki rumah dengan langkah gontai dengan wajah yang tertekuk. Ia merasa jika Aira tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Bi Ijah yang melihatnya langsung menyapa tuan rumah itu.
"Selamat sore, Tuan."
"Hm."
"Mau bi Ijah buatkan teh atau kopi?"
"Tidak perlu." Keno pun menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika bi Ijah memanggilnya kembali.
"Tadi nak Aira menitipkan sesuatu untuk Tuan Keno."
"Apa?" tanya Keno ketus.
"Tadi dia cuma menyuruh bibi buat bilang kalau...."
"Kalau apa?"
"Kalau nak Aira juga menyayangi Tuan Keno."
Deg. Senyum Keno pun mengembang setelah mendengarnya. Wajahnya kembali berbunga- bunga.
***
Keno dan Aira menikmati makan malam mereka. Tak ada percakapan atau perdebatan kecil diantara mereka. Aira terheran- heran karena Keno hanya terdiam saja sedari tadi.
"Kenapa dia diam saja? Apa dia tidak ingin menanyakan kebenaran dari yang aku katakan tadi? Apa jangan- jangan bi Ijah lupa mengatakannya pada Keno?" Aira bertanya- tanya kepada dirinya sendiri.
"Ekhem."
"Apa bi Ijah tidak mengatakan sesuatu pada mu?" lirih Aira bertanya kepada Keno yang baru saja selesai makan.
"Katakan apa? Dia tidak mengatakan sesuatu pada ku." seru Keno berbohong.
"Hm baiklah."
Setelah membereskan meja dan selesai mencuci piring, Aira ikut menonton televisi dengan Keno. Duduk di samping Keno yang serius menatap televisi. Memainkan ponsel membalas pesan- pesan dari temannya termasuk Raka, mantannya yang selalu menanyakan kabar dan kegiatan sehari- harinya.
Sudah satu jam lamanya mereka menonton film di televisi. Berbagai macam posisi duduk telah dilakukan mereka agar tidak bosan. Namun akhirnya bosan tetap menyerang.
"Apa kau tidak bosan?" tanya Aira
"Apa kau tidak bisa melihat dari raut wajah ku?"
"Kenapa kau malah kembali bertanya!"
__ADS_1
Aira dan Keno terdiam beberapa saat dan kemudian saling memandang.
"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?"
"Sepertinya begitu." Mereka tersenyum devil karena menemukan sesuatu yang akan menghilangkan kebosanan mereka.
***
Selepas acara selesai, Sandi memboyong Mega menuju ke apartemen miliknya. Apartemen yang cukup mewah yang sudah dihias sedemikian rupa. Ranjang berukuran king size dengan kelopak mawar merah yang tersusun rapi berbentuk hati akan menjadi saksi malam pertama mereka wkwk.
"Siapa yang mempersiapkan semua ini?"
"Tentu saja suami mu yang sangat tampan ini."
Mega memutar mata malasnya, "Tampan tapi somplak juga."
Sandi terkekeh mendengarnya ia semakin tidak sabar memulai pertarungannya. Ia menyuruh Mega untuk mandi terlebih dahulu.
"Kau saja yang mandi dulu. Aku masih lelah." ujar Mega seraya merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia tampak lelah karena meladeni para tamu yang lumayan banyak dan tangannya pun hampir putus. Eh tidak, ini terlalu lebay.
"Aku sebenarnya juga malas mandi, toh nanti juga akan berkeringat lagi. Kita langsung memulai saja kalau begitu." ujar Sandi dengan nada menggoda.
"Ti- tidak, aku akan mandi dulu." Mega nampak belum siap melakukannya jadi ia memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Sesudah mandi, mereka memilih untuk makan malam terlebih dahulu biar kuat katanya.
"Aku akan segera memakan mu." tutur Sandi penuh nafsu.
"Kau kan sudah makan tadi, apa masih lapar?"
Sandi melepas kaos yang dipakainya dan ikut duduk di samping Mega.
"Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?"
"Belum, kau sendiri bagaimana?"
"Aku juga belum."
"Tapi kenapa kau selalu berpikiran mesum"
"Aku tidak tahu."
Sandi pun membawa Mega dalam pelukannya. Tangannya sudah menjalar kemana- mana. Dan....
Tringggg....tringgg....tringggg
Ponselnya sudah berbunyi untuk ketiga kalinya namun Sandi tak menghiraukannya.
"Angkat sayang, siapa tahu itu penting."
"Tidak perlu yang, kita lanjutkan saja."
"Angkat Sandi !!!"
"Siapa sih yang mengganggu malam pertama ku !"
Sandi pun dengan malasnya menggeser tombol hijau menerima panggilan video dan mengarahkan ponsel pada wajahnya.
"Ada apa kau menelfon ku?"
"Kenapa wajah mu cemberut seperti itu? Oh ya kenapa kau bertelanjang dada? Apa AC di apartemen mu rusak jadi kau kepanasan?" tanya Keno. Ya, yang menelfon dan mengganggu Sandi adalah Keno.
"Cepat katakan apa mau mu, kau itu mengganggu ku saja."
"Jangan memarahi ku, aku hanya ingin mengingatkan mu kalau penerbangan ke Bali dua hari lagi dan aku sudah menyiapkan hotel untuk kau dan istri mu." Keno terkekeh mengucapkannya.
"Kau sudah bilang kemarin, kau tidak perlu bilang lagi aku ini masih muda jadi tidak pikun." seru Sandi kesal.
Keno tertawa terbahak- bahak, "Kenapa kau lucu sekali, dari tadi marah- marah tidak jelas."
"Tidak jelas gundul mu itu, sudah ku matikan telfonnya." Sandi pun mematikan telfonnya. Ia kembali menatap Mega dan berhambur ke pelukannya. Menghujani wajah Mega dengan ciuman, dan lagi- lagi ada telefon masuk. Kali ini dari ponsel Mega.
"Sebentar yang..."
"Siapa lagi yang mengganggu malam pertama ku, awas saja nanti." Sandi terus merutuki orang tersebut.
"Haaaaiii kak Mega." seru Aira.
"Kenapa kau menelfon ku?"
"Aku hanya merindukan kak Mega saja. Kan sudah lama kita tidak tidur bareng, biasanya jam segini kita masih curhat- curhatan loh."
"Curhat- curhat !!! Besok kalau mau curhat !" ucap Sandi merebut ponsel Mega dan mengalihkan ke wajahnya yang sedang kesal.
"Heyyy, kenapa kau marah. Kembalikan ponselnya ke kak Mega."
"Oh ya kak Sandi, kenapa kau tidak memakai baju? Nanti masuk angin loh haha."
"Kau sama saja seperti kekasih mu itu, mengganggu malam pertama ku."
"Aku tidak mengganggu mu, aku tadi kan hanya mengingatkan mu saja." ucap Keno menimpali dan terjadilah perdebatan antara keempat anak manusia itu.
"Aira, kita tutup saja telfonnya ya. Sang singa sangat marah dan sepertinya akan segera menerkam seseorang."
"Iya Ken, kita sudahi saja. Takutnya malah tambah ngamuk Kak Sandi haha."
Tak perlu waktu lama Sandi pun menutup panggilannya. Lagi- lagi Aira dan Keno menelfon Sandi. Mereka sangat senang menjahili Sandi dan Mega.
"Damn it !!!" Sandi semakin geram karena ulah dua sejoli itu. Ia langsung mematikan ponselnya dan akan melemparnya ke lantai...
"Jangan dibanting, itu 60 juta loh sayang. Baru beli juga masa mau kamu rusak sih."
"Oh iya lupa sayang."
"Sudah ayo kita tidur, ini sudah larut malam."
"Sayang, tapi kan belum mantap- mantap." Sandi merengek dan hampir menangis.
"Hehe tidak sayang, aku hanya bercanda. Ayo kita mulai."
"Sepertinya kau sudah tidak sabar."
"Bukankah itu kau?"
"Sudahlah, mari kita mulai. Aku akan menghabisi mu malam ini."
Dan....
Dan........
Dan kalian harus membayangkannya sendiri karena aku juga tidak tahu apa yang mereka lakukan hahaha hahaha hahaha.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya wkwk
Terima kasih sudah membaca cerita yang gaje ini haha...