Hello Presdir

Hello Presdir
Surprise


__ADS_3

Keno mulai membuka pintu perlahan. Membukanya lebar- lebar supaya jenazah istrinya lebih mudah masuk. Dan betapa terkejutnya ia, tatkala melihat Sandi dan Mega yang berdiri di sana dengan kue ulang tahun di tangan Sandi.


"SURPRISE !!!!!" teriak Sandi.


Keno baru menyadari kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, tapi ini bukanlah saatnya untuk merayakan atau apa. Istrinya meninggal, haruskah ia meniup lilin di kue yang telah dipersiapkan Sandi?


Sandi sangat bodoh, pikirnya. Bagaimana bisa dia malah merayakan hari ulang tahunnya yang bertepatan dengan hari kematian istri tercintanya.


"Ayo sayang, tiup lilinnya," seru Maria yang sedari tadi berdiri di belakang Sandi bersama Mira, Andi, dan Bram. Di sana juga telah ada Niken dan Frido.


"Apa- apaan kalian ini !!! Istriku meninggal dan kalian malah mau merayakan hari ulang tahunku ! Dasar bodoh !


Bugh !


Keno tersulut emosi, ia memukul perut Sandi hingga tersungkur dan kue yang dibawanya pun terjatuh dan hancur.


"Kalian juga ! Bagaimana bisa kalian malah bersenang- senang di atas kesedihanku !" teriak Keno kepada orang tua dan mertuanya.


Mereka sudah tak bisa menahannya lagi, semuanya tertawa terbahak- bahak. Membuat amarah Keno semakin memuncak.


"Anakmu terbujur kaku di sana dan bisa- bisanya kau tetap tertawa bahagia seperti ini !" bentak Keno seraya mencengkram kemeja Andi.


"Dan kau !" Keno beralih kepada Papanya.


"Menantumu pergi dan kau malah merayakan ulang tahunku yang tak berguna seperti ini ! Dimana hati nuranimu !" teriak Keno, ia mendorong Bram hingga tersungkur.


Keno mendekati Sandi dengan tatapan membunuh. Ia kembali memukuli Sandi dengan gencarnya.


"Keno sudah !" Maria mencoba menghentikan Keno karena Sandi mulai lemas tak berdaya.


"Mah...istriku pergi dan kalian malah seperti ini. Apa hati kalian telah mati," ucap Keno, ia kembali terisak pilu.


Semua yang ada di sana kembali tertawa lepas, termasuk perawat dan sopir ambulance tadi.


Keno serasa ingin membunuh semua orang yang di sana. Tiba- tiba terdengar seseorang yang berbicara.


"Mamah..."


"Apa aku sudah boleh tertawa? Aku sudah tidak bisa menahannya," seru orang itu.


Keno terdiam, ia menyadari jika suara itu adalah suara istrinya. Tapi, mana mungkin istrinya kembali hidup setelah dinyatakan meninggal oleh dokter. Tadi ia juga memastikannya sendiri, wajah istrinya pucat pasi dan tak terdengar detak jantungnya lagi.


"Iya sayang, tertawalah sepuasmu. Ini sudah saatnya," jawab Mira dan kemudian mereka kembali tertawa.


Seseorang yang tak lain adalah Aira itu pun tertawa meringkuk seraya memegangi perutnya di atas brankar, ia sudah tak bisa menahannya lagi sejak di rumah sakit.


Keno memandang ke arah brankar dan mulai mendekat. Ia belum bisa memahami situasi ini, bagaimana bisa orang yang sudah meninggal bisa tertawa renyah seperti itu, pikirnya.


Keno menatap istrinya dengan tatapan tak bisa diartikan. Ia kembali memastikan bahwa yang ia lihat itu benar- benar istrinya.


"Hai sayang, kau tadi lucu sekali..." ucap Aira disela tawanya.


"Sayang, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup sendiri, jangan pergi...jangan pergi..." Aira mengulang kata- kata yang suaminya lontarkan sedari tadi. Ia tak bisa berhenti tertawa, hingga rahangnya mulai sakit.


Keno memeluk tubuh Aira dan kembali terisak di dekapan wanita itu. Perasaannya campur aduk, ia hanya bisa menangis sekarang.


Tubuhnya gemetar, tangisnya semakin keras, membuat Aira merasa sangat bersalah.


"Sayang, sudah...Jangan menangis," ucap Aira seraya mengusap bahu Keno, tapi lelaki itu semakin tersedu pilu.


"Ini beneran Aira istriku, kan? Kau tidak pergi, kan? Aku takut...."

__ADS_1


"Iya ini benar- benar Aira istrimu, yang cantik jelita, menggemaskan, dan tidak sombong." Jawaban Aira itu membuat Keno senang, tapi ia belum bisa menghentikan tangisnya.


"Jangan pergi..."


"Tidak." Aira mengusap air mata suaminya yang terus membanjiri wajahnya.


"Untuk apa kau melakukan ini? Kau tahu, aku hampir gila. Aku benar- benar takut kehilanganmu, huu...huuu...huuu..."


"Ututu sayang, cup cup cup. Berhentilah menangis anak manisku..."


Aira membiarkan suaminya menangis begitu lama di pelukannya. Keno benar- benar tak mau melepas istrinya sedetik pun.


"Ini 'kan hari ulang tahunmu, surprise yang telah aku rencanakan kemarin sudah kau ketahui, jadi aku memikirkan kejutan lain untukmu."


"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Ini sangat kelewatan. Kalau jantungku tadi copot bagaimana."


"Kan bisa dipasang lagi, Tuan," celetuk Frido sekenanya, dan ia kembali tertawa.


"Sayang, rasakan ini." Keno meletakkan tangan Aira di dadanya. "Masih berdegup kencang, kan? Aku benar- benar takut." Keno menyusupkan kepalanya di dada Aira meminta untuk dielus- elus.


"Hey, Tuan Keno ! Umurmu sudah dua puluh tujuh tahun dan kau masih manja seperti itu? Dihhh, presdir kok ada yang seperti dirimu sih," seru Sandi dan langsung mendapat pelototan dari Keno.


"Tutup mulutmu, kau mau aku pukuli lagi?!"


"Sayang, lihat ini. Tanganku terluka, rasanya sakit..." Keno menunjukkan jari tangannya kepada Aira.


Aira mengecupi jari- jari Keno, "Sudah tak sakit lagi, kan?"


"Cium di sini juga !" Keno menunjuk bibirnya supaya Aira juga menciumnya.


***


"Bagaimana aktingku tadi? Apa aku sudah layak menjadi artis?" tanya Aira terkekeh.


"Ah sangat menyebalkan ! Kau tadi benar- benar seperti orang yang meninggal, wajahmu pucat dan saat aku mencari denyut nadimu benar- benar tak ada. Kau juga tak bergerak sedikitpun."


"Hebat bukan istrimu ini, haha..."


"Kamu totalitas banget, Ra. Sumpah aku salut melihatnya, harusnya kau sudah mendapatkan Award ini," puji Mega.


"Bagaimana akting Mama di rumah sakit tadi? Apa juga cukup memuaskan?" tanya Mira lalu ia kembali tertawa.


"Aktingku juga bagus," seru Maria tak mau kalah.


"Sebenarnya ini ide siapa? Idemu?"


Aira menggeleng, "Ini idenya Kak Sandi tuh. Kemarin aku curhat sama dia kalau aku bingung mau kasih surprise apa ke kamu, terus dia kasih ide yang luar biasa ini."


"Kau harus memberinya hadiah, sayang. Dia sangat bekerja keras untuk surprise ini."


Semua ide Sandi tersusun dengan rapi dan berjalan sesuai rencana. Semuanya melakukan perannya masing- masing dengan baik, terutama Aira yang menjadi tokoh utama di kejutan yang benar- benar mengejutkan Keno. Sandi sangatlah mempersiapkannya dengan baik, bahkan ia juga bersusah payah mengajak dokter dan perawat memainkan drama yang super duper keren ini. Sandi sangat totalitas atas surprise ini hingga Keno tak menyadari jika ini hanyalah surprise belaka.


"Oh jadi ini semua idenya dia." Keno langsung menatap Sandi dan menghampirinya.


"Terima kasih ya, kau benar- benar sutradara yang hebat. Kau mampu membuat jantungku hampir copot !" ucapnya seraya menepuk bahu Sandi dengan keras.


Sandi mendelik mendengarnya, ia benar- benar takut Keno berbuat sesuatu dengannya.


"Ayo ikut aku, aku akan memberimu hadiah."


"Benarkah?" Rasa ketakutan Sandi sirna seketika tatkala Keno hendak memberinya hadiah. Ia sudah memikirkan sebuah mobil dan rumah berharga milyaran, atau tiket untuk liburan.

__ADS_1


Keno mengajak Sandi menuju ke kolam renang yang tak jauh dari tempat mereka berkumpul. Dan ia langsung menceburkan sahabatnya itu ke kolam renang.


BYUUUURRRRR !!!!!


"SURPRISE !!!" teriak Keno dengan penuh kemenangan.


Semua yang menyaksikannya pun kembali tertawa melihat pembalasan yang Keno lakukan.


"Ah kurang aja kau !" Sandi tak terima ia menarik tangan Keno dan akhirnya Keno juga ikut tercebur. Mereka bertengkar kecil di kolam renang.


"Sayang, ayo keluarlah. Kita tiup lilinnya..." ajak Aira seraya membawakan handuk untuk Keno.


"Tiup lilin apanya? Kan kuenya tadi sudah hancur karena aku mendorong anak sialan ini," ucap Keno seraya menenggelamkan kepala Sandi.


"Syukurin, jadi orang emosian sih ! Nggak jadi ulang tahun deh," celetuk Sandi.


"Aku membuatkan dua kue untukmu, karena aku sudah tahu pasti akan terjadi seperti ini." Keno segera menghampiri Aira dan mengganti bajunya.


***


Usai mengganti baju, Keno kembali duduk di sofa dan mendekap Aira erat. Ia tak mau dipisahkan dengan wanita yang sangat ia cintai dan sayangi itu.


"Hey anak manja, kasihan istrimu kau peluk terus dari tadi. Lepaskanlah dia," ucap Maria.


"Aku tidak mau melepasnya, aku tidak mau jauh dengannya."


"Halah modus ! Baru tahu kalau Presdir Sanjaya Group itu manjanya kelewatan seperti ini," seru Bram seraya menendang kaki anaknya.


"Diam saja kau Tuan Bramantyo Sanjaya. Aku masih marah dengan kalian semua, berani- beraninya mengerjaiku!"


"Heyy, kenapa kau marah dengan kami? Kenapa tidak marah dengan istrimu? Dia 'kan tokoh utamanya, dia yang banyak salah denganmu," ucap Andi.


"Awas saja kalian, akan kutenggelamkan di laut paling dasar ! Aku masih kesal dengan kalian semua, jangan ada yang berbicara denganku !" seru Keno dengan nada tinggi.


Keno kembali bersandar dan memeluk Aira, sesekali mengecupi istrinya. Dirinya benar- benar tak mau lepas dari wanita itu.


"Happy Birthday, sayangku, cintaku, kasihku..." ucap Aira seraya mendaratkan kecupan di kening Keno.


"Maafkan aku ya kalau hari ini membuatmu kesal."


"Jangan diulangi lagi ! Aku benar- benar akan marah denganmu jika kau seperti ini," ucap Keno manja.


"Tergantung..." goda Aira.


"Jangan pernah pergi dari sisiku apapun yang terjadi, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Aku juga mencintaimu suamiku dan ayah dari anakku. Aku sangat sangat sangat mencintaimu, aku juga takut kehilanganmu..."


.


.


.


.


.


Bagaimana? Menyebalkan ya?๐Ÿ˜‚Salahin si Sandi ya jangan salahin author wkwk.


Oh ya, sepertinya "Hello Presdir" akan berhenti di episode ini. Ehm, sebenarnya engga mau juga sih. Tapi kalian gimana nih? Mau lanjut apa berhenti di sini hehe, jangan lupa like dan komennya ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2