Hello Presdir

Hello Presdir
Aksa Manja


__ADS_3

Perjalanan dari Jakarta sampai Pulau Bali memerlukan waktu kurang lebih dua jam. Keno dan keluarga telah sampai di sana tepat pukul dua belas siang, mereka langsung menginap di hotel yang telah di pesan sebelumnya setelah makan siang.


"Kamarmu di sini, Sa. Kamar Papa dan Mama di sebelahnya," seru Keno ketika mereka telah sampai di depan pintu kamar hotel.


Aksa mendongak memandangi Papa dan Mamanya secara bergantian, ada gurat ketakutan dari wajahnya. "Aksa nggak mau di kamar sendiri."


"Kenapa?" tanya Aira menyejajarkan tubuhnya dengan anaknya.


"Biasanya kamu kan juga sekamar sendiri, nggak mau ada orang lain di kamarmu." Keno sedikit heran dengan anaknya, sedari tadi Aksa hanya diam dan memendam ketakutan. Dalam pesawat hingga hotel ini pun Aksa tak melepas tangan Keno dan Aira.


"Aku takut kalau Papa dan Mama meninggalkan aku, jadi lebih baik aku sekamar saja dengan kalian," jawab Aksa menundukkan kepalanya.


"Papa dan Mama pasti sengaja memesankan aku kamar sendiri biar aku nggak tahu kalau kalian pergi, kan? Kalian pasti telah merencanakan sesuatu untuk meninggalkanku di sini," tambah Aksa. Dan kali ini ia terisak, tangisannya sungguh memilukan.


"Aksaaaa, hey hey hey...Kenapa kamu jadi cengeng, Nak?" Aira langsung mendekap anaknya dan menggendongnya. Ia tahu jika anaknya sangat ketakutan gara- gara keusilan Keno kemarin.


"Pikiranmu itu ada- ada saja, mana mungkin kami akan meninggalkanmu di sini. Kamu itu anak Papa sama Mama satu- satunya, dan yang paling berharga," ucap Keno mengusap punggung Aksa. Ia lalu membuka pintu kamar dan menyuruh anak serta istrinya beristirahat terlebih dahulu.


Aira menjatuhkan tubuhnya dan Aksa di kasur. Anak itu masih menangis tersedu- sedu.


"Aksa, Mama nggak akan meninggalkanmu sampai kapanpun. Jangan berpikiran seperti itu lagi ya, Mama nggak suka." Wanita itu mengusap air mata yang terus saja keluar membasahi pipi gembul anaknya, ia lalu mengecupinya. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena sempat bercanda dengan anaknya hingga Aksa jadi ketakutan seperti ini.


Keno hanya tersenyum melihatnya, ia lalu ikut merebahkan tubuhnya di kasur dengan Aksa yang berada di tengah. Ia ikut memeluk Aksa dan menciumnya.


"Kalian nggak akan meninggalkan Aksa, kan?" tanya Aksa sesegukan.


"Enggak akan," jawab Keno dan Aira serempak seraya mengecup pipi Aksa.


"Janji ya." Aksa mengulurkan dua jari kelingkingnya dan disambut oleh kelingking Keno dan Aira.


"Janji!"

__ADS_1


"Aku menyayangi kalian," ucap Aksa mengecup pipi Keno dan Aira secara bergantian.


"Sekarang istirahat dulu ya, nanti sore kita lihat sunset di pantai kuta!" seru Keno.


"Siap, Papa!" sahut Aira dan Keno serempak.


Mereka bertiga lalu tertidur dengan mendekap tubuh satu sama lain. Aksa nampak lega, namun masih terlihat sedikit takut. Ia menggenggam erat tangan orang tuanya yang tengah mendekapnya.


*****


Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore, Aira dan Keno bangun terlebih dahulu. Sedangkan Aksa, ia masih nyenyak tertidur apalagi dipeluk kedua orang tuanya.


"Jam berapa, sayang?" tanya Keno sembari meregangkan ototnya.


"Masih jam tiga," jawab Aira. Ia tengah asyik memandangi dan membelai wajah anaknya yang masih tertidur pulas.


"Anak sekecil itu bisa berpikiran seperti tadi ternyata. Ada- ada saja, mana mungkin kita akan meninggalkannya," ucap Keno terkekeh. Ia ikut memandang wajah Aksa.


"Aksa baperan sih orangnya, udah tau papanya suka bercanda, tapi dia tetap nanggepin serius."


"Kamu kemarin ngomongnya kaya serius gitu, dia jadi nanggepin serius juga deh," sahut Aira. "Maafin Papa yang nakal ya, sayang. Jangan berpikiran seperti tadi lagi," tambah Aira mengecup kening Aksa.


Ia lalu bangun mengikat rambutnya yang terurai dan bersiap untuk mandi. "Aku mandi duluan ya, tolong jaga Aksa sebentar," pamitnya kepada Keno.


"Kita mandi bareng!" seru Keno, ia lalu bangun dan menggendong istrinya ke kamar mandi. Aira hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah biasa dengan ulah Keno ini. Bahkan hampir setiap hari mereka selalu mandi bersama.


Aira segera mengisi air di bath up dan mencampurnya dengan sabun spa yang menenangkan pikiran. Ia dan suaminya segera masuk ke dalamnya, Keno memangku Aira dan memeluknya dari belakang. Bermain- main dengan sabun, bercanda lalu tertawa sama seperti biasanya.


"Tanganmu kalau nggak bisa diem nanti aku potong loh, sayang..." ucap Aira ketika tangan Keno mulai bergerilya di tubuhnya.


"Ayo kita lakukan lagi, aku menginginkannya," bisik Keno menggoda.

__ADS_1


Aira menghela nafas dan membiarkan suaminya berbuat semaunya.


"Mah....pah...katanya nggak akan ninggalin aku hikks....hiks...hiks..." Teriakan Aksa yang diselingi tangisan itu membuat aktivitas Keno dan Aira berhenti seketika.


Mereka langsung membilas tubuh dan keluar menghampiri anaknya yang sedang menangis meraung- raung. "Aksa, kenapa menangis?" tanya Aira.


Anak itu lalu menghampiri Mamanya yang tengah berbalut handuk dan memeluknya. "Aku kira kalian meninggalkan aku," lirihnya. Ia begitu takut tatkala bangun dan tak mendapati orang tuanya.


"Harus berapa kali papa bilang kalau nggak akan meninggalkanmu! Ah, kamu itu mengganggu aktivitas kami saja," gerutu Keno, ia sedikit kesal karena tak jadi enak- enak.


"Memangnya kalian tadi mau ngapain?"


"Mandi bareng!" jawab Keno, lelaki itu langsung disentil istrinya. Bisa- bisanya ia mengatakan hal itu di depan anaknya.


*****


Keluarga kecil itu telah sampai di Pantai Kuta. Pantai yang sangat indah dan tak pernah sepi pengunjung, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu tempat di Bali yang wajib dikunjungi untuk melihat sunset yang indah.


"Aksa, sampai kapan kamu mau digendong papa terus? Jalan sendiri ya," seru Keno. Sejak keluar dari hotel, Aksa tak mau jalan sendiri. Ia selalu meminta digendong sang Papa dengan alasan jika kakinya sakit.


"Kakiku sakit, Pah. Aduhhh sakit sekali," pekik Aksa sembari memegang lututnya.


Aira tertawa gemas melihatnya, ia tahu betul jika anaknya itu hanya berpura- pura. "Aksa ternyata pandai akting ya," celetuk Aira diselingi gelak tawa.


"Hufft, dasar manja! Anak siapa sih!"


"Anaknya Papa dong!" sahut Aksa bersemangat.


"Pah, Mah. Ayo berkeliling, tapi aku tetep digendong Papa ya." Aksa tetap bergelayut di punggung Keno dan mengalungkan tangannya di leher Keno.


"Nanti kalau Papa capek gimana sayang? Ayo turun saja, kamu tumben- tumbenan ih manja banget hari ini," ucap Aira membujuk Aksa, tapi anak itu terus menggeleng.

__ADS_1


Keno lalu menuruti Aksa, mereka bertiga berjalan menyusuri pasir putih tanpa alas kaki. Berceloteh dengan riang, terutama Aksa. Anak itu sangatlah cerewet, dia selalu saja membuat Aira dan Keno terkekeh gemas dengan celotehan- celotehannya.


__ADS_2