
Sepulang bekerja, Aira pulang ke rumah Keno terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya dan membuatkan sup ayam kesukaan Mamanya. Setelah sup ayam siap, ia langsung menuju ke rumah sakit menemani Mamanya dan akan menginap di sana untuk malam ini.
"Assalamu'alaikum semuanya..." ucap Aira saat masuk ke ruangan Mamanya.
"Waalaikumsalam Aira..." jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
Di sana bukan hanya ada Mama dan Papanya saja, melainkan juga ada Tante Ratna, Hana, dan juga Raka.
"Kak Aira..." ucap Hana langsung memeluk Aira. Hana menangis saat memeluk Aira.
"Hey, kenapa kau menangis. Memalukan saja."
"Maafin Hana ya kak, dulu engga percaya sama kak Aira."
"Aira, tante juga minta maaf ya. Maaf, dulu tante sudah menampar kamu." ucap Tante Ratna ikut berhambur memeluk Aira.
"Aku sudah memaafkan semuanya, tidak perlu diungkit- ungkit lagi. Huffttt tolong lepaskan, aku bisa sesak nafas kalau kalian memelukku seperti ini terus." celetuk Aira menggelakkan tawa di ruangan itu.
Setelah pelukan terlepas, Aira langsung memeluk Mamanya dan menghujaninya dengan ciuman.
"Ra, aku minta maaf ya gara- gara ulahku kamu jadi kena imbasnya. Maaf." lirih Raka dengan wajah sendu.
"Jangan terus meminta maaf kepadaku, aku bosan sekali mendengarnya. Aku sudah memaafkan semuanya, jangan membahasnya lagi okay."
Raka senang ternyata Aira tidak menyimpan dendam kepadanya. "Kau begitu baik maka dari itu aku selalu menginginkan mu meskipun aku sudah menikah. Aku mencintai mu Ra, Aku menyayangi mu." batin Raka.
Mereka pun sedikit mengobrol hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam. Tante Ratna, Hana, dan Ratna pun sudah berpamitan pulang.
"Aira.."
"Iya pah..."
"Kamu mau kan kembali ke rumah lagi? Tapi kalau tidak mau ya sudah, tidak apa."
"Tentu saja Aira mau, besok Aira akan kembali ke rumah."
Pak Andi dan Bu Mira pun senang mendengarnya. Akhirnya mereka bisa berkumpul lagi dengan suasana yang berbeda tentunya, suasana yang lebih hangat dengan satuan cinta dari ketiganya.
"Terus Aira mau tidur dimana, Mah? Sofanya udah dibuat tidur tuh sama Papah."
"Sini tidur sama Mama." Bu Mira menggeser tubuhnya menyisakan tempat supaya bisa tidur berdua.
"Tidak perlu, Mah."
"Sudah naiklah jangan banyak bicara."
"Mama yakin?" Bu Mira mengangguk dan menepuk tempat di sebelahnya.
Aira pun naik ke brankar. Brankarnya memang lumayan luas jadi cukup untuk tidur berdua. Mereka saling memeluk tubuh satu sama lain.
"Dari dulu Aira selalu ingin tidur dengan memeluk Mama. Dan sekarang Aira bisa merasakannya. Terima kasih Mama." ucap Aira menitikkan air matanya.
"Mama juga ingin, mulai sekarang kita bisa tidur bersama terus sayang. Mama sayang kamu." Bu Mira mengecup kedua pipi dan kening anaknya.
"Have a nice dream, Mamah. Aira sayang Mamah." Aira semakin mengeratkan pelukannya. Tak lama kemudian mereka pun tertidur dan masih berpelukan.
Pagi hari pun telah tiba, cahaya matahari mulai masuk melalui celah- celah ventilasi ruangan rumah sakit itu. Pak Andi terbangun lebih dulu. Lalu ia menghampiri Bu Mira dan Aira yang masih tertidur dengan memeluk satu sama lain. Hatinya senang sekali melihat keduanya senyum merekah pun muncul di bibir pak Andi.
Ia mengusap kepala dua wanita yang sangat dicintai dan disayangi itu, lalu mencium mereka secara bergantian mencoba membangunkan keduanya.
"Eh Papa, selamat pagi pah.." seru Bu Mira dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pagi Mah, Aira ayo bangun ini sudah pagi." ucap Pak Andi mencoel- coel pipi Aira. Namun Aira hanya menggeliat saja dan semakin mengeratkan pelukan pada Mamanya membuat Pak Andi dan Bu Mira terkekeh dengan tingkahnya.
"Selamat pagi Mama sayang." ucap Aira dan mengecup pipi Mamanya.
"Selamat pagi juga sayang."
"Hey anak nakal, siapa yang menyuruh mu tidur bersama istriku." seru Pak Andi.
"Istri Papa sendiri yang menyuruhku, kenapa memangnya? Papa cemburu?"
"Tentu saja Papa cemburu, kalian tidur berpelukan sedangkan papa tidak ada yang memeluk semalam, huh."
"Hm kenapa papa sangat menggemaskan sekali sih." tutur Aira gemas mencubit kedua pipi papanya.
"Sudah cepat mandi sana, kau kan harus bekerja nanti."
"Tidak, hari ini Aira tidak ada jadwal. Aira mau mengambil barang- barang Aira yang ada di rumah Keno."
"Kau tidak ke Toko?"
"Untuk apa, Aira kan bosnya jadi terserah Aira dong mau ke sana apa tidak." Aira terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Baiklah- baiklah kau memang bosnya."
Akhirnya dokter memperbolehkan Bu Mira untuk pulang ke rumah tetapi tetap harus beristirahat. Pak Andi meminta Aira untuk langsung pulang ke rumah saja, untuk barang- barang Aira ia sudah menyuruh salah satu pelayannya untuk mengambilkan. Aira pun menuruti Papanya, walaupun enggan karena belum berpamitan dengan Keno, bi Ijah, dan mang Dadang secara langsung.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah disambut oleh Tante Ratna, Hana, Raka, dan juga para pelayan.
Aira langsung menuju ke kamarnya. Kamar yang bernuansa Jepang dengan banyak ornamen bunga sakura yang berwarna merah muda itu. Dan seprei biru tua bercorak bunga sakura. Di jendela kamarnya juga ia gantung beberapa boneka ala jepang yang bernama Teru Teru Bozu. Dinding yang berwarna biru muda juga banyak tertempel kaligrafi huruf Jepang yang sering disebut dengan Shodo. Ada juga space pada dinding ruangan dengan aksen kayu lengkap dengan Zabuton ( alas duduk ala Jepang ) memberi kesan seperti berada di Jepang sungguhan.
"Euhhmm, nyaman sekali." seru Aira saat merebahkan tubuhnya di ranjang yang menurutnya sangat nyaman tiada tara. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
***
__ADS_1
Di Sanjaya Group, Keno merasa tidak seperti biasanya. Ia terus memikirkan Aira, ia merindukan wanita periang itu.
"Tuan..."
"Kenapa."
"Maaf, mulai hari ini aku membawa istriku kemari. Karena aku takut sewaktu- waktu akan melahirkan." ucap Frido.
"Hm terserah, asal tidak mengganggu saja."
"Hai Keno." seru Ellen yang baru saja masuk ke ruangan Keno.
"Wanita kedua mu datang, aku pergi dulu ya." goda Frido. Keno pun hanya melototkan matanya merasa tidak suka dengan perkataan Asistennya itu.
"Hai Ele, kau membawa apa?" tanya Keno kepada Ellen yang menenteng paper bag di tangannya.
"Aku membawakan makan siang untukmu." ucap Ellen meletakkan paper bag di meja dan mulai mengeluarkan isinya. Spagetti Carbonara yang sengaja ia masak sendiri untuk Keno.
"Kenapa kau repot sekali, aku bisa makan di luar."
"Kemarilah, coba cicipi masakan ku. Maaf jika rasanya tidak terlalu enak, aku baru belajar hehe."
Keno segera menghampiri Ellen dan duduk di sampingnya. Ellen sangat antusias menyuapi Keno. Keno pun dengan senang hati menerima suapan demi suapan yang diberikan Ellen.
"Bagaimana rasanya?"
"Ini enak, kau pintar memasak ternyata." jawab Keno mengacak- acak rambut Ellen.
"Rasanya memang enak, tapi lebih enak masakannya Aira. Ah aku merindukan masakannya Aira, padahal baru hari ini saja aku tidak memakan masakannya." lanjut Keno dalam hatinya.
"Kau suka? Kalau kau suka aku akan membawakan mu makan siang terus dan aku akan belajar memasak makanan yang lain." tanya Ellen dengan senyum menyeringai.
"Aku suka, tapi kau tidak perlu membuatkannya setiap hari. Nanti kau kelelahan, aku tidak mau." Keno menarik tangan Ellen menyuruhnya untuk menyuapi lagi.
"Eheem, Tuan sebentar lagi rapat akan segera di mulai. Mohon untuk hadir tepat waktu." seru Frido yang tiba- tiba masuk membuat Ellen dan Keno salah tingkah.
"Ele, aku harus memimpin rapat sekarang. Kau mau pulang atau menunggu ku?"
"Aku menunggu kau saja, tidak lama kan?"
"Aku usahakan sebentar, maaf ya aku tinggal dulu."
Ellen dengan sabar menunggu Keno rapat. Ia menonton televisi dan sesekali memainkan ponselnya menghilangkan kebosanan.
***
Malam harinya...
Setelah selesai makan malam, Hana mengajak Aira untuk ke taman rumah. Ingin mengobrol seperti yang dulu mereka lakukan.
"Lama sekali tidak kemari, banyak yang sudah berubah ternyata." ujar Aira memperhatikan sekeliling taman di rumah papanya itu yang sedikit berubah.
Aira terkekeh mendengarnya, "Harus berapa kali aku bilang ke kamu kalau aku itu sudah melupakannya. Aku benar- benar sudah tidak mencintai Raka lagi."
"Tapi kak Raka sepertinya masih mencintai kak Aira." ucap Hana menundukkan wajahnya.
"Yang penting aku sudah tidak mencintainya lagi, dan sekarang kau harus berusaha membuatnya jatuh cinta denganmu."
"Sulit sekali untuk hal itu, dia terlalu mencintai mu kak."
"Tidak akan sulit, kau harus tetap berjuang mendapatkan hatinya. Aku yakin kalau Raka akan jatuh cinta kepadamu."
"Benarkah? Aku tidak yakin."
"Oh ya, apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri?" tanya Aira yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Hana.
"Apa aku kasih kak Raka obat perangsang saja ya..."
"Kau tau begituan dari mana?" tanya Aira menoyor kepala Hana.
"Dari Sisil temanku, dia selalu bercerita hal- hal mesum juga kepada ku." jawab Hana santai.
"Wahh sumpah ini, aku aja engga tau begituan kamu malah lebih tahu." ucap Aira terkekeh.
"Ah bodo, sepertinya aku memang harus mencobanya kak."
"Ya terserah, aku sih bodo amat haha."
"Mungkin dengan kehadiran anak, Kak Raka akan bisa menerima dan mencintai ku."
"Mungkin saja."
Setelah mengobrol dengan Hana, Aira langsung menuju ke kamarnya. Membuka ponselnya yang ternyata banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Keno. Aira pun menghubungi Keno dengan melakukan panggilan video.
"Kau kemana saja tadi, kenapa tidak membalas pesan- pesan ku." seru Keno sedikit kesal dengan Aira.
"Aku baru selesai makan malam, apa kau sudah makan malam?"
"Baru saja selesai. Aku merindukan masakan mu. Masakan mu membuat ku candu saja, huh."
"Kau merindukan masakan ku? Benarkah? Jadi kau tidak merindukan aku dan hanya merindukan masakan ku saja?" ucap Aira pura- pura kesal.
"Untuk apa merindukan mu, aku tidak akan merindukan mu." ucap Keno berbohong dan mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Hm baiklah kalau kau hanya merindukan masakan ku saja. Besok aku akan membawakan makan siang untuk mu. Apa kau mau anak manis?"
"Serius? Awas saja kalau kau sampai berbohong. Aku tidak akan mengampuni mu."
"Iyaa, aku tutup ya panggilannya. Aku sudah mengantuk sekali."
"Jangan di tutup, temani aku sampai aku tertidur." seru Keno.
"Baiklah, cepat tidurlah."
Mereka merebahkan tubuh dan mengatur letak ponsel supaya tetap terlihat wajah mereka satu sama lain. Tak lama kemudian mereka pun terlelap tanpa mematikan panggilan video terlebih dahulu. Mereka tidur dengan ponsel yang masih menyala.
***
Pagi harinya, Bu Mira sudah bangun dan memasak di dapur. Meskipun kondisinya belum pulih total, Ia sengaja memasak untuk Aira dengan sedikit bantuan oleh pelayan.
"Selamat pagi sayang." ucap Bu Mira mengecup pipi Aira.
"Pagi mah, ini yang masak Mama? Kenapa Mama masak sih harusnya Mama istirahat jangan kecapean dulu."
"Tidak apa, Mama tidak lelah kok. Tadi juga dibantu pelayan."
"Mama mu itu kalau dibilangin emang ngeyel terus. Bandel banget." timpal Pak Andi yang menghampiri Aira dan Bu Mira.
"Papa sama anak sama- sama cerewet. Sudah cepat sarapan dulu."
Bu Mira segera mengambilkan nasi dan lauk ke piring pak Andi. Mereka kalau pagi memang memakan makanan yang berat karena mereka tidak lega kalau tidak memakan nasi saat pagi.
"Mah, nanti Aira bawa makanannya untuk makan siang ya buat Keno juga."
"Ehem ehem, yang perhatian banget sama pacarnya." goda Pak Andi.
"Apaan sih pah."
"Ini sudah Mama siapkan, buat kamu dan juga Keno calon menantu Mama haha." ucap Bu Mira menyodorkan kotak makan.
"Makasih Mama, baik dehh jadi tambah sayang."
"Inget ya jangan sampai hilang tupperware Mama itu, awas saja kalau sampai hilang."
"Astauge sayur lodeh, Mama ini cuma tupperware kenapa segitunya."
"Cuma- cuma, pokoknya jangan sampai hilang."
"Ntar kalau hilang kan bisa beli lagi, Mah."
"Pokoknya jangan sampai hilang, jangan kaya si author tuh. Kalau sekolah bawa bekal pasti ngilangin tupperware Mamanya."
"Masa sih Mah, berarti si author sering dimarahin Mamanya dong. Kasihan banget sih tuh anak haha."
"Iya kasihan banget haha."
Saat hendak berangkat, Aira melihat Hana dan Raka sedang menuruni tangga. Dengan Hana yang langkahnya tidak biasa seperti menahan sakit, Aira pun mendekat dan bertanya kepada mereka.
"Hai pengantin baru selamat pagi." ucapnya tersenyum.
"Pagi Ra." jawab Raka.
"Eh kamu kenapa Han? Kok jalannya engga biasa gitu sih? Sakit?"
Hana mendengus kesal, "Jebol !!! Kaya ngga tau aja sih."
"Jadi kalian bener- bener udah ngelakuin nih?" tanya Aira terkekeh. Mendengarnya, Raka langsung meninggalkan mereka berdua. Ia merasa menyesal karena telah melakukan itu dengan Hana.
"Wahh kamu hebat ya ternyata. Semoga kalian cepet punya momongan ya haha. Dah ya aku berangkat dulu, byeee."
***
Mentari semakin terik, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Aira masih berada di toko kuenya mengecek laporan. Mengingat ia harus mengantarkan makan siang kepada Keno, Aira pun menyudahi pekerjaannya. Segera ia menuju ke kantor Keno.
Di Sanjaya Group, Keno sudah tampak antusias menanti kedatangan Aira yang akan mengantarkan makanan untuknya sesuai janji semalam. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Aira, berulang kali ia mengirimi Aira sudah sampai mana.
Dan tiba- tiba seseorang datang ke ruangannya dengan senyum merekah dengan paper bag yang berisi makanan. Keno segera berdiri hendak menyapa wanita itu yang ia pikir adalah Aira, namun ternyata itu adalah Ellen.
"Ele..."
"Hai, kau belum makan siang kan? Ini aku bawakan makanan lagi. Ayo makan."
Dengan sigap, Ellen menyiapkan makanan untuk Keno dan mulai menyuapinya. Keno hendak menolak karena ia hanya ingin makan makanan Aira, namun merasa tidak enak akhirnya Keno memakan makanan yang di bawa Ellen. Dan beberapa saat kemudian, Pintu ruangan Keno terbuka lagi.
"Hai Keno, aku sudah sam-" ucap orang itu terputus saat melihat Keno sedang suap- suapan dengan Ellen.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan vote ya :)
Terima kasih sudah membaca :)))
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novelnya "ALDEKHA DEPE" juga ya judulnya "Tentang Hati"