
Satu bulan kemudian....
Pagi itu Keno dan Aira enggan sekali untuk bangun. Mereka masih bermanja- manjaan di atas ranjang yang sangat nyaman.
"Apa sudah ada Keno junior di sini?" tanya Keno seraya mengusap perut datar Aira.
"Entahlah, kita berdo'a saja..." Aira menjadi takut sesuatu akan menimpanya. Hingga pikiran tak bisa memiliki keturunan pun terus terngiang.
"Harusnya sudah ada, kita kan membuatnya setiap malam."
Keno sangat tak sabar dengan kehadiran Keno Junior di rumahnya. Ia sudah membayangkan bagaimana nantinya jika jadi ayah.
"Aku ke kamar mandi dulu ya..." pamit Aira.
"Jangan lama- lama." Keno segera melepas pelukannya dan membiarkan istrinya untuk ke kamar mandi.
Hiks...hikss...hikss....
Terdengar suara Aira yang sedang menangis pelan. Keno langsung beranjak dari tidurnya dan langsung menemui istrinya.
"Aira, kau kenapa menangis?" Aira yang terkejut mendengar suara Keno, ia segera menghapus air matanya.
"Maafkan aku," lirih Aira. Ia menunduk tak berani menatap wajah suaminya.
"Memangnya kau salah apa? Kenapa meminta maaf kepadaku?" Keno mengusap bahu Aira lembut. Ia sendiri juga bingung kenapa istrinya itu tiba- tiba menangis dan meminta maaf kepadanya.
"Maafkan aku, hiks..."
"Kau tidak salah, kenapa terus saja meminta maaf. Baiklah- baiklah, aku akan memaafkanmu walaupun aku tak tahu apa salahmu," ujar Keno.
"Aku...aku datang bulan. Kita gagal mendapatkannya, hiks..." ucap Aira, tangisannya kembali pecah, Keno hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia memeluk erat tubuh Aira.
"Hanya itu saja kau menangis? Heyy, lihat aku." Keno mendongakkan wajah Aira supaya menatapnya.
"Mungkin bukan rezeki kita bulan ini. Jangan menangis lagi..."
"Kau pasti kecewa denganku, Mama juga pasti kecewa."
"Aku tidak kecewa, Mama juga tidak akan kecewa. Dia pasti mengerti kok, kita menikah juga baru saja 'kan. Jadi, wajarlah kalau kita belum dikaruniani anak," ujar Keno mencoba menenangkan istrinya.
"Kau bisa saja berbicara seperti itu, tapi wajahmu terlihat kecewa. Kau pasti kecewa denganku," ucap Aira disela isakannya.
"Aku itu kecewa karena aku harus berpuasa bukan karena belum mendapatkan anak," jawab Keno, ia memeluk istrinya lagi.
"Maaf ya..."
"Jangan meminta maaf. Kalau kau sudah selesai dengan tamu bulanan mu, bilang aku secepatnya. Kita harus berjuang lebih keras lagi," ucap Keno terkekeh.
"Semoga bulan depan sudah ada baby."
***
Sesampainya di kantor, Aira mendapati pemandangan yang membuatnya merasa iri sekaligus menyesakkan dadanya. Dia melihat Sandi memijat tengkuk Mega yang tengah muntah karena hormon kehamilannya.
Ia terus saja membayangkan jika berada di posisi mereka. Keno pasti akan lebih posesif dalam menjaganya jiga ia benar- benar hamil.
__ADS_1
"Kak Mega nggak papa, kan?"
"Nggak papa, Ra. Biasalah, kalau pagi seperti ini," jawab Sandi.
Aira semakin iri saat melihat perut Mega yang mulai membuncit. Ingin rasanya ia berada di posisi Mega.
"Lo gimana, Ra? Udah isi belum?" tanya Mega.
"Udah, tadi pagi isi pancake," celetuk Aira.
"Maksud gue tuh baby, bukan makanan yang lo makan tadi pagi. Lo bikin emosi gue aja dah," Mega sedikit emosi mendengar jawaban Aira.
Aira mengehela nafas panjang, "Belum, tadi pagi malah datang bulan, kak," jawabnya lesu.
"Sabar, mungkin belum rezeki. Nanti gue mau ketemu sama si Keno, mau gue ajarin biar cepet jadinya," ujar Sandi.
"Apaan sih kak !"
***
Di Sanjaya Group, Keno merasa sedih ketika mengingat kejadian tadi pagi. Ia hanya sedikit kecewa saja ketika Tuhan belum mempercayakan dirinya untuk mempunyai anak. Padahal, banyak temannya yang baru saja menikah sebulan tapi sudah dikaruniai anak. Raka, Frido dan Sandi dulu juga begitu, baru satu bulan menikah tapi istrinya sudah hamil.
"Tuan, ini ada berkas yang harus ditandatangani. Dan jangan lupa untuk rapat siang nanti," ujar Frido memecahkan lamunan Keno.
"Aku sedang tidak mood mengikuti rapat, kau saja yang memimpin."
"Ada apa kau ini? Tumben sekali tidak mau menghadiri rapat. Apa sedang bertengkar dengan istrimu?"
"Bukan bertengkar, aku dan Aira sangat menantikan kehadiran seorang anak. Tapi, Tuhan belum juga menghadirkannya kepada kami."
"Kau pikir aku tidak pandai dalam urusan begituan? Jangan meledekku !"
"Aku hanya ingin mengajarimu saja, siapa tahu kau belum mengetahuinya," ledek Frido, ia segera keluar dari ruangan Keno ketika mendapatkan lirikan tidak mengenakkan dari Presdir itu.
"Jangan keluar ! Aku masih ingin mengobrol denganmu," teriak Keno, Frido yang baru sampai di ambang pintu pun membalikkan tubuhnya dan kembali mendekat Keno.
Anak ini kurang ajar sekali, kalau mau bicara kenapa tidak bilang dari tadi, huh. gerutu Frido dalam hatinya.
***
Sepulanh bekerja, Aira memilih untuk pulang ke rumah Mamanya. Ia tidak mau melihat Keno yang kecewa. Aira yakin, walaupun Keno terus saja berkata kalau dia tidak kecewa, tapi dari raut wajah Keno terlihat jelas jika lelaki itu sedang memendam kekecewaan.
"Loh sayang, kenapa kemari sendiri? Dimana menantu Mama?" tanya Mira tatkala mendapati anaknya sendiri.
"Di rumah, Mah. Aira kangen Mama, bolehkah aku menginap di sini malam ini?"
"Kalian sedang bertengkar ya? Kenapa wajahmu lesu begini? Ada apa sayang, cerita sama Mama..."
Aira tidur di pangkuan Mamanya. Mira yang mengetahui anaknya itu sedang bersedih pun membelai kepala anaknya dan mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Belum rezeki, sayang. Kamu nggak boleh berpikiran kalau kamu nggak bisa kasih Keno keturunan. Enggak untuk bulan ini, tapi enggak menutup kemungkinan untuk bulan depan, kan?
"Aku takut kalau aku engga bisa ngasih Keno keturunan. Aku takut kalau Keno mencari wanita lain dan meninggalkanku, atau nggak dia bakalan cari rahim pengganti supaya mendapat keturunan. Aku takut..." Aira terus berbicara tanpa jeda sedikitpun. Terlihat dari raut wajahnya kalau wanita itu benar- benar ketakutan.
"Kalau terlalu banyak menonton sinetron dan baca novel ya gitu jadinya !" celetuk Andi yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya sayang, kau itu terlalu banyak menonton sinetron. Mama yakin kok, kalau Keno nggak akan ninggalin kamu atau cari rahim pengganti atau apalah itu..."
__ADS_1
"Tuh suamimu dateng, pasti nyariin kamu," ucap Andi ketika mendengar suara klakson mobil dari depan rumahnya.
***
"Hey menantuku, kenapa kau kemari? Apa kau merindukan Papa mertuamu yang sangat tampan dan mempesona ini?" ucap Andi dengan pd nya.
"Apa Papa tidak ada yang memuji jadinya memuji diri sendiri?" ledek Keno.
"Jangan salah sangka kau ini, gini- gini Papa mertuamu ini menjadi idola di kampus dulu, banyak yang memujiku. Para wanita banyak yang mendekati Papa, tapi karena Papa tidak mau dicap sebagai fakeboy, playboy, atau apalah itu, jadi Papa hanya menikahi Mira saja," ucap Andi seraya menepuk dadanya merasa bangga karena menjadi lelaki yang setia.
"Bukannya Papa menikah sama Mama Mira itu karena dijodohkan? Kalau setahu Keno dijodohkan itu karena tidak laku atau..."
Omongan Keno terputus tatkala Andi mencubit perutnya.
"Papah..."
"Anak nakal, pulang saja kau ! Kau kira aku dijodohkan karena tak laku gitu? Huh, menjengkelkan sekali kau itu."
"Hehe, Keno bercanda, Pah. Udahlah, Keno mau menemui istriku dulu, papay..." Keno langsung melenggang masuk dan tak sengaja menubruk tubuh Andi.
"Dasar menantu nggak ada akhlak !"
Keno langsung berhambur memeluk istrinya yang tengah tidur di pangkuan Mama mertuanya.
"Sayang, kenapa kau pergi ke rumah Mama nggak bilang denganku dulu?" Dari sore, Keno menanti kedatangan istrinya, namun tak kunjung pulang ke rumah. Ia pun menuju ke toko kue dan kantornya, tapi tidak menemukan Aira juga.
"Kau memanggilku apa tadi?"
"Aira..."
"Sepertinya besok kita harus ke dokter telinga deh. Telingaku akhir- akhir ini salah dengar terus, masa iya tadi aku mendengarmu memanggilku sayang," ujar Aira.
"Kalau aku memanggilmu sayang kenapa? Aku 'kan benar- benar menyayangimu," jawab Keno malu- malu.
Cup
Aira mengecup bibir Keno singkat.
"Aku juga menyayangimu. Maaf kalau tadi nggak ngomong dulu sama kamu," ucap Aira, ia membelai pipi suaminya.
"Jadi, mulai sekarang kita akan memanggil 'sayang'?" Keno mengecupi wajah Aira dan tak sadar jika masih ada Mira dan Andi di sana.
"Ehemmm...Sepertinya kita menganggu waktu mereka nih, Mah. Pergi saja yukkk..." ajak Andi kepada istrinya.
"Iya, Pah. Kalian lanjutkan dulu ya bermesraannya, papay sayang- sayangnya Mamah..."
.
.
.
.
.
Selamat membaca cerita yg gaje ini🙄
__ADS_1