Hello Presdir

Hello Presdir
Tidak Seperti Biasa


__ADS_3

Keno mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Pagi ini terasa berbeda, biasanya ia bangun dan langsung menatap bidadari cantik yang tak lain adalah Aira. Membangunkannya dengan berbagai cara dan diselipi dengan perdebatan kecil tiap paginya. Satu bulan memang waktu yang singkat tapi mampu membuat Keno terbiasa dengan kehadiran Aira, begitupun dengan Aira.


Yang biasanya keperluan dan perlengkapan kantornya sudah disiapkan oleh Aira, tapi pagi ini ia menyiapkannya sendiri. Tentu saja rasanya berbeda, Ah rasanya ia ingin segera untuk menikahi Aira dan menjadikan Aira miliknya sepenuhnya. Menikah? Ah apa itu akan benar- benar terjadi pada mereka?


Setelah selesai bersiap ia menuju ke meja makan dengan langkah gontainya, ia merasa sepi karena tak ada Aira. Segera ia mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.


"Emh kenapa rasanya berbeda?" tanyanya ketika roti sudah mulai ia kunyah.


"Kenapa Tuan? Rotinya sama seperti biasanya kok." ucap mang Dadang.


"Tidak tahu, tapi rasanya memang berbeda. Tidak seperti biasa yang Aira buatkan." batin Keno.


"Berbeda karena tidak ada nak Aira bukan? Biasanya kan nak Aira yang menyiapkan sarapan untuk Tuan." timpal bi Ijah seraya menyodorkan susu hangat di hadapan Keno.


"Ehm mungkin begitu, hehe."


Keno pun mengambil ponsel di sakunya dan segera melakukan panggilan video dengan Aira. Baru semalam saja rasanya ia sudah sangat merindukan wanita cantik dan manis itu.


"Halo anak manis, apa kau sudah memakan sarapan mu?" tanya Aira dengan cerianya dan senyum mengembang.


"Sudah, tapi apa kau tahu. Roti ini tidaklah enak, tidak seperti dulu." ucap Keno seraya memperlihatkan roti yang baru ia gigit setengahnya.


"Tapi itu roti yang biasanya bukan? Selai yang kau oleskan juga seperti biasanya, kenapa bisa tidak enak."


"Bodoh ! Karena bukan kau yang menyiapkannya untukku, jadi rasanya tidak enak." Aira malah tertawa terbahak- bahak.


"Sepertinya kau perlu ke dokter untuk memeriksakan lidah mu."


"Jadi kau menyalahkan lidah ku? Ah kau ini menyebalkan sekali."


"Kau lebih menyebalkan tuan Keno."


"Apa kau sudah sarapan? Dimana calon papa sama mama mertua ku?"


"Kenapa kau menanyakan mereka? Harusnya aku yang kau cari."


"Untuk apa aku mencari mu kau kan sudaha ada dihadapan ku."


"Oh iya lupaa, ini merekaa. Lagi mau makan. Halo pah, halo mah...Ini ada Keno." Aira mengarahkan ponselnya ke Mama dan papa nya yang sedang menikmati sarapan.


"Halo calon menantu ku, apa kau sudah sarapan?" tanya bu Mira dengan senyuman.


"Sudah mah, mama lanjutkan saja makannya. Maaf mengganggu hehe."


"Tidak apa, kita makan seraya mengobrol sayang." ucap Bu Mira lembut.


Mereka berempat melanjutkan makan walaupun di tempat berbeda dan tetap mengobrol serta bercanda. Karena sudah saatnya berangkat, Aira pun segera mematikan panggilan videonya. Dan segera berpamitan kepada orang tuanya.


Saat hendak masuk ke mobil, tangan Aira dicekal seseorang. Orang itu yang tak lain adalah Raka. Mantan kekasihnya.


"Raka..."


"Tolong lepaskan tangan ku."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau ada yang melihatnya dan berfikiran macam- macam. Lagi pula aku juga sudah punya pacar."


"Siapa pacar mu? Keno?" Aira tak menjawabnya. "Apa cinta mu dulu sudah tidak ada lagi untukku? Asal kau tahu saja, Keno itu bukan orang yang baik, dia punya banyak wan-"


"Jaga ucapan mu ! Aku lebih mengenalnya, dia tidak mungkin begitu." seru Aira memotong pembicaraan Raka. Emosi Aira sudah mulai memuncak.


"Kak Aira..." teriak Hana menghampiri Aira dan Raka dengan wajah yang tidak suka.


"Kenapa?" tanya Aira saat Hana berada di dekatnya.


"Engga papa, ngapain kak Aira sama kak Raka di sini?"


"Kenapa emangnya? Kamu cemburu ya..." goda Aira mencubit pipi Hana.


"Enggak kok, oh ya kue pernikahan ku udah jadi belum kak? Kapan nyampenya?"


"Udah jadi sih sebenarnya, tapi nanti masih mau dihias lagi biar tambah cantik. Nanti pulang kerja aku ambil sekalian deh, jangan khawatir pokoknya."


"Siap kak Aira, buatin yang cantik dan sangat berkesan ya kak."


"Pasti dong. Udah ah, aku mau berangkat sekarang. Kamu pacaran aja sama dia, inget jangan nakal- nakal dulu ya haha." celetuk Aira dan langsung masuk ke mobilnya.


"Aku tidak yakin kalau kau semudah itu melepaskan aku, aku lebih tau kamu. Sebenarnya kamu masih mencintai aku. Tunggu aku, aku akan berusaha membatalkan pernikahan ini. Aku yakin bisa." gumam Raka dalam hatinya. Ia masih menatap mobil Aira hingga menghilang dari pandangannya.


***


Sesampainya di kantor, Aira langsung menuju ke ruangannya. Ruangan yang sama dengan Mega dan Sandi. Dan untuk beberapa hari ini tidak ada yang menyenangkan, tidak ada yang mengajak ngobrol dan bercanda karena Mega dan Sandi sedang cuti untuk bulan madu, dan mungkin dua hari lagi baru akan masuk.


Dengan langkah gontai, Aira memasuki ruangannya. Tak ada semangat dalam dirinya karena ia sendiri saja di ruangan itu. Saat membuka pintu, Aira dikagetkan dengan teriakan.


"HALOOO AAAAIIIIRRRRAAAA !!!!" jerit Sandi dan Mega secara bersamaan.


"Kak Mega, kak Sandi." Aira langsung berhambur memeluk keduanya dengan erat. "Kenapa engga bilang sih kalau masuk hari ini, katanya lusa baru masuk."


"Kan biar surprise, kenapa tadi kamu engga semangat gitu? Pasti kangen kita kan..." ucap Mega.


"Pasti dong, beberapa hari ini engga ada temen yang diajak ngobrol sama bercanda. Yang ada malah si Wildan tuh gangguin aku terus, nyebelin." tutur Aira memanyunkan bibirnya kesal. Mega dan Sandi malah tertawa mendengarnya.


"Gimana ini bulan madunya? Lancar engga?"


"Lancar dong pastinya, tapi kurang lama si Mega tuh udah ngajakin pulang terus engga seru." jawab Sandi.


"Lagian kamu engga ada istirahatnya, masa iya bulan madu malah engga jalan- jalan. Di kamar terooossss !"


"Namanya juga bulan madu sayang, jalan- jalan keluar itu kalau sempet. Kita kan engga ada waktu buat itu."

__ADS_1


"Ah kamu itu emang nyebelin tau ngga, masa iya sih Ra aku dibuat engga bisa jalan selama dua hari."


"Hah? Maksudnya apaan sih kak?" tanya Aira yang benar- benar tidak tahu dengan maksud Mega.


"Sayang kamu jangan ngomong gitu dong ke Aira, dia kan masih bocil mana ngerti dia begituan." ledek Sandi dan langsung mendapat cubitan dari Aira.


"Aku bukan bocil tau ngga ! Baiklah, ayo ceritakan mulai dari hari pertama." Aira tampak antusisas mendengarnya, Mega dan Sandi pun dengan malu- malu bercerita kepada Aira. Seraya menyelesaikan pekerjaan, mereka terus mengobrol. Suasana hening beberapa hari yang lalu sudah tak ada lagi, Aira pun menjadi lebih semangat untuk bekerja.


***


Sore hari di rumah Aira...


Semuanya tampak berlari- lari dari satu arah ke arah lain. Sibuk dengan dunianya masing- masing, ada yang sampai terjatuh karena bertubrukan dengan yang lain. Semua orang di rumah itu sangatlah sibuk mempersiapkan pernikahan Hana yang akan diselenggarakan besok.


Papa dan Mamanya juga sudah nampak kelelahan tapi mereka enggan sekali untuk beristirahat. Yang mereka ingin hanyalah sebuah pernikahan yang istimewa dan berjalan dengan baik. Tentu saja itu membuat Aira iri karena ornag tuanya telrihat sangat menyayangi Hana, yang statusnya bukanlah anak kandung mereka sendiri.


Aira merasa sendiri di rumah itu, para pelayan yang biasanya menemani Aira mengobrol juga tampak sibuk sekali tak ada satupun yang lepas dari pekerjaan. Hana juga sibuk, dia masih melakukan perawatan tubuhnya.


"Kenapa tidak ada orang yang bisa diajak bicara, kenapa semuanya harus sibuk, hiks." batin Aira terisak saat melihat orang tuanya tak menghiraukan dirinya.


Karena bosan dan daripada sesak melihat orang tuanya yang sibuk memperhatikan Hana, Aira pun memilih untuk jogging berkeliling kompleks.


"Mah, Aira mau jogging bentar ya."


"Iya sana, ingat ya sebentar saja. Ini sudah hampir maghrib soalnya." jawab Bu Mira tanpa melirik ke arah Aira sedikit pun.


***


Suasana komplek cukup sepi dan sedikit menenangkan. Udara sore hari mampu menjernihkan pikiran. Aira berlari kecil mengelilingi komplek seraya botol minum di tangan kirinya. Melihat komplek yang sudah banyak berubah itu. Menyapa ibu- ibu yang sedang berkumpul di salah satu rumah. Apa yang mereka lakukan? Tentu saja bergosip. Membicarakan sesuatu yang tidak penting dan terkadang tak ada kebenarannya, yang ada malah semakin menambah dosa saja.


Aira berlari menuju ke taman komplek. Taman yang asri dan sering ia kunjungi dulu. Taman yang tak pernah sepi, apalagi saat sore hari. Banyak para pekerja kantor yang berolahraga di taman itu setelah mereka pulang bekerja. Mungkin karena paginya tidak sempat jadi mereka lebih memilih untuk sore harinya.


"Awww..." ringis Aira saat ada seseorang yang berlari menabraknya. Karena tubuh lelaki itu cukup besar, Aira pun terpental jatuh ke tanah.


"Maaf, saya tidak sengaja. Tadi ada anak kecil yang mendorongku." tutur lelaki itu seraya mengulurkan tangannya membantu Aira berdiri.


"Maaf- maaf, kau pikir ini tidak sakit apa. Untung saja tadi kepala ku tidak terpentok bangku taman itu, kalau iya kan aku bisa lupa ingatan." gerutu Aira sembari membersihkan tubuhnya yang kotor karena terjatuh.


"Itu terlalu berlebihan, mana mungkin terjadi."


"Heyy itu mungkin saja terjadi, rencana Tuhan mana ada yang tahu. Kau-" ucap Aira terhenti saat mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang menabraknya tadi.


"Pak Dokter, eh maksudnya Kak Alfa." kaget Aira.


"Ternyata kau, Aira." ucap Alfa tersenyum.


Mereka pun melanjutkan obrolan dan duduk di salah satu bangku taman. Melihat anak- anak yang sedang berlarian kesana- kemari dengan riangnya, bermain dengan orang tuanya menikmati sore yang semakin redup.


"Kamu suka ke taman ini kalau sore?" tanya Alfa.


"Tidak juga, tadi aku hanya jogging keliling komplek terus mampir ke taman ini."


"Iya, sejak kecil di sini. Tapi saat kuliah dan bekerja udah engga. Terus kemarin baru balik lagi deh ke sini karena disuruh orang tua." jelas Aira.


"Oh jadi begitu, pantas saja kita enggak pernah ketemu."


"Jangan bilang kalau kak Alfa juga tinggal di sini?"


"Yeah, baru setahunan di sini. Karena jarak ke rumah sakit lebih deket dari sini, ya aku pindah aja ke sini."


Aira menatap langit yang hampir berwarna abu- abu. "Udah mau maghrib kak, aku pulang duluan ya. Tadi pamitnya cuma sebentar aja, eh malah jadi lama haha."


"Yaudah ayo barengan aja. Kau juga mau pulang sekarang kok." Aira mengangguk. Alfa mengulurkan tangannya menggenggam Aira. Aira kaget dan langsung melepasnya.


"Maaf..."


"Engga papa kok."


Mereka melanjutkan perjalanan, tapi sesekali berlari. Menyusuri jalanan komplek yang sudah sepi itu.


"Kak, ada cilok tuh. Beli dulu yuk, kayaknya enak." ajak Aira menarik tangan Alfa menuju tukang cilok.


Sebenarnya Alfa tidak pernah makan makanan jalanan seperti itu, tapi karena tidak enak jika menolak Alfa pun menuruti Aira. Mereka membelinya dan menikmati cilok seraya berjalan pulang.


"Kok punyaku pedes sih kak, huh huh." seru Aira kepedesan.


"Kamu tadi nyuruh banyakin saus sih jadi pedes kan. Nih minum dulu, botol mu sudah kosong kan." ucap Alfa menyodorkan botol minum miliknya.


"Hehe, terima kasih kak."


"Itu ciloknya tuker punya aku aja ya, biar aku yang makan punya kamu."


"Jangan kak, ini pedes banget loh." tolak Aira namun Alfa tetap menukar cilok miliknya. Dan langsung memakannya.


"Engga pedes kok." ucapnya berbohong. Padahal jelas- jelas ia kepedesan, wajah putihnya berubah menjadi merah menahan pedas.


"Kak Alfa mah bohong, jelas- jelas itu pedes haha." Aira pun menertawakan Alfa.


"Berani ya ngetawain aku." Alfa mengacak- acak rambut Aira dan tersenyum. Aira mendongakkan kepalanya ke wajah Alfa. Tinggi Aira hanya sebatas dadanya saja, jadi harus mendongak.


Deg.Deg.Deg. Jantung Aira berdegup kencang saat mereka bertatap- tatapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Astauge sayur lodehhhh, ternyata kak Alfa engga jauh tampannya sama Keno. Ya ampun, apa yang aku katakan. Ayo kembalilah akal sehat ku, kau sudah punya Keno sekarang." batin Aira.


"Kau sangat lucu dan manis, aku menginginkan mu." batin Alfa.


Lama saling menatap, mereka pun segera melanjutkan langkah mereka kembali. Aira nampak kewalahan mengikuti langkah Alfa. Kakinya yang panjang membuat lelaki itu cepat melangkah. Aira seperti berlari saja mengikuti langkah Alfa.


"Kenapa malah berlari sih kamu? Belum capek apa dari tadi lari terus." tanya Alfa.


"Kak Alfa jalannya cepet banget, aku kewalahan ngikutin langkah kaka." Alfa tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Maaf." Aira ikut tersenyum melihat Alfa. Senyum manis selalu tersungging dari bibi tipis Alfa.


"Oh ya, rumah kamu yang nomor berapa?" tanya Alfa membuat gugup Aira karena dari tadi ia terus memandangi wajah tampan itu.


"Ah itu no.17"


"Lah kita tetanggaan dong, rumah ku no.19 terhalang satu rumah aja."


"Wah seru dong bisa main terus sama kak Alfa."


"Main? Emangnya anak kecil apa." Alfa menggelengkan kepalanya, sedangkan Aira hanya nyengir kuda. Ia senang memiliki teman jadi kalau tidak ada yang bisa diajak mengobrol di rumah, dia bisa main ke rumah Alfa, Pikirnya.


"Jadi kamu anaknya pak Andi?"


"Kakak kenal sama papa?"


"Kenal dong kenal banget malah, kalau ada waktu senggang aku sama pak Andi suka main catur bareng." tutur Alfa. "Ternyata dunia sempit ya, engga nyangka kalau kamu anaknya pak Andi."


Tak terasa mereka pun sudah sampai di depan gerbang rumah Aira. Aira pun mengajak Alfa untuk mampir sebentar, namun Alfa tidak mau.


"Adek kamu aja udah nikah loh, masa kamu kakaknya belum." goda Alfa saat melihat rumah Aira yang sudah siap untuk mengadakan pernikahan.


"Kalau enggak diembat sama dia aku juga bakal nikah duluan kak." ucap Aira mendengus kesal.


Alfa mengernyitkan dahinya, "Maksudnya gimana?"


"Jadi yang nikah sama Hana itu pacar ku dulu. Malah di embat sama Hana. Eh bukan diembat sih, cuman Hana itu dijodohin dan ternyata yang dijodohin itu pacar aku. Huh, ya udah lah aku yang ngalah Haha." jelas Aira berusaha tersenyum padahal hatinya sakit saat mengingat itu semua.


"Kasihan banget sih, haha." ucap Alfa menertawakan Aira.


"Ishh malah diketawain, aku masuk dulu ya kak. Kapan- kapan mampir dong ke rumah, hehe."


"Iya itu pasti." Alfa memastikan Aira masuk ke rumahnya. Baru ia pulang ke rumahnya yang ternyata hanya terhalang satu rumah saja.


"Aku semakin menginginkan mu, tunggu aku, Ra. Aku akan menaklukkan hati mu." lirih Alfa menyeringai.


***


Aira tidak langsung menuju ke dalam rumah, melainkan ia menuju ke pos satpam rumahnya. Berniat menjahili Pak Dodit satpam berusia sekitar 40 tahunan dan lucu itu.


Dilihatnya pak Dodit sedang tertidur di pos dengan tangan sebagai bantalnya. Aira pun semakin ingin segera mengganggu. Ia berjalan hati- hati mendekati pak Dodit. Dan....


"PAKK DODIT ADA MALING !!! KENAPA MALAH TIDUR !!!" teriak Aira sekencang- kencangnya hingga membuat Pak Dodit langsung beranjak dan mencari pentung.


"Mana- mana malingnya, biar saya tangkap sekarang terus jadiin pecel sekalian." panik pak Dodit membuat Aira tertawa terbahak- bahak.


"Itu pak, di depan gerbang. Cepetan ke sana." Dan benar saja, pak Dodit langsung keluar mencari maling. Aira langsung mengunci pagar dari dalam dan masih tertawa terbahak- bahak.


"Non Aira, mana malingnya engga ada."


"Cari dulu, Pak. Tadi dia lari ke situ kok."


Merasa sadar jika dirinya sedang dikerjai Aira, pak Dodit pun ingin masuk ke dalam. Namun pintu pagarnya telah dikunci Aira.


"Non, non Aira !!! Jangan main- main, ayo bukain sekarang."


"Di situ aja pak Dodit, enakan di situ kok, hahaha."


"Non ayolah, nanti saya dimarahin Tuan Andi kalau gini hiks hiks hiks."


Mendengar isakan dari pak Dodit, Aira pun menjadi tidak tega. Ia ingat bahwa Papanya akan bertindak tegas jika para pekerja tidak serius dan hanya bermain- main saja. Ia pun segera membukakan pintu pagarnya.


"Maaf Pak Dodit." lirih Aira menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena membuat pak Dodit menangis.


"Maafin pak Dodit juga ya non Aira, soalnya pak Dodit hanya pura- pura menangis saja biar dibukain pintu lagi hehe."


Ahh Aira kesal mendengarnya, ingin sekali ia menarik kata- katanya tadi yang meminta maaf kepada pak Dodit. Sekarang rasanya ia semakin ingin menjahili pak Dodit terus menerus. Aira meninggalkan pak Dodit yang maish tertawa menertawakan Aira.


Aira mulai masuk ke rumahnya, tapi ia melihat kursi- kursi yang tersusun rapi saat ia berangkat tadi sekarang menjadi berantakan dan terbalik tak beraturan. Bunga- bunga yang mengiasi rumah bagian depan juga berantakan, berjatuhan, dan tak layak untuk diperlihatkan lagi. Seperti telah terjadi kekacauan saat ia pergi tadi.


Ia pun melangkahkan kakinya membuka pintu. Ia semakin terkejut dengan dekorasi pesta yang berantakan. Kue pernikahan yang tadi dibawa Aira pun jatuh berserakan dan tak berbentuk lagi. Dan tidak ada lagi yang berlarian kesana kemari menyiapkan segala sesuatu. Kini dilihatnya orang rumah sedang berkumpul di ruang tamu. Papa, mama, tante, Hana, dan para pelayan ada di sana dengan suasana yang menegangkan sekali. Aira pun mendekat ke arah mereka.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini? Tidak seperti biasanya kalian ini."


Tidak ada sahutan dari mulut mereka, yang ada hanyalah tatapan marah dari Papa dan Mamanya. Hana juga malah menangis terisak dipelukan mamanya. Para pelayan pun menundukkan kepalanya seperti ketakutan. Aira semakin bingung dibuatnya. Ia mencoba bertanya lagi.


"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian sedang sariawan sehingga sulit menjawab pertanyaan ku?" tanya Aira mencoba tenang, sebenarnya ia juga merasa takut akan suasana mencekam ini.


Pak Andi beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Aira dengan wajah yang merah penuh dengan Amarah.


Plakkkkk....


Plakkkkk....


Suara tamparan menggema di ruangan yang besar dan megah itu. Pak Andi menampar pipi Aira dengan penuh amarah.


"Arrrggghhhhhh..."


.


.


.


.


.


Kalau suka sama ceritanya Jangan lupa like, komen, dan votenya.


Terima kasih sudah membaca, tunggu episode selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2