Hello Presdir

Hello Presdir
Hanya Kecewa


__ADS_3

Aksa tak seramah hari- hari biasanya. Anak itu segera menggendong tasnya dan berlalu menuju ke meja makan. Aira dan Keno sudah berada di sana, membuat Aksa malas untuk sarapan.


"Aksa, kamu mau ke mana sayang?" tanya Aira karena Aksa tak langsung duduk di kursi meja makan, tetapi malah menghampiri Bi Ijah yang kala itu tengah mencuci piring.


Aksa terlihat membisikkan sesuatu kepada Bi Ijah. Aira yang penasaran pun menghampirinya, tapi Aksa langsung pergi dari sana sebelum Aira sampai.


"Bi Ijah, tolong beritahu Mama dan Papa. Aku akan berangkat sekarang, ada pemadatan materi!" seru Aksa membuat hati Aira teriris. Ia sedih kenapa Aksa tak berpamitan dengannya padahal jelas- jelas Aira berada di sana.


"Aksa!" gertak Keno, tapi tak membuat Aksa berhenti. Kenonpun menyudahi sarapannya dan mengejar Aksa.


Aksa sudah duduk di dalam mobil bersama Mang Dadang, tapi belum berangkat karena Bi Ijah belum menyiapkan sarapan untuknya. Ya, Aksa meminta Bi Ijah untuk mengemas makanannya ke dalam wadah, ia akan sarapan di dalam mobil saja.


"Begitu caramu menghormati orang tua?" seru Keno menatap anaknya lekat.


"Begitu juga cara memperlakukan anak? Kalian selalu saja pulang malam dan selalu berangkat pagi sekali. Bahkan, hari libur pun seakan tak ada untuk kalian. Apa kalian tak memikirkan aku? Aku juga butuh perhatian kalian meskipun aku sudah cukup dewasa untuk hal ini."


"Papa dan Mama sibuk kerja itu demi kamu, kami ingin yang terbaik untukmu!"


"Ya, kalian memang terbaik. Presdir Sanjaya Group dan juga pemilik toko kue dengan brand ternama di Indonesia," sahut Aksa tak kalah sengitnya.


"Aksa..." lirih Aira. Ia terdiam mendengar obrolan suami serta anaknya.


Suasana hening seketika, sebelum akhirnya Aira angkat bicara.


"Masalah waktu kami memang sulit untuk membaginya, tapi kami selalu berusaha semaksimal mungkin. Maafkan Mama," ujar Aira.

__ADS_1


"Iya, Mah. Aku sangat mengerti, tapi aku juga punya batasan, aku sudah mulai lelah."


Aksa segera meminta Mang Dadang untuk melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Tanpa disadari air mata anak itu menetes, dia memang selalu begitu. Ia tahu jika perkataannya itu menyakiti orang tuanya, tapi ia hanya ingin meluapkan apa yang selama ini ia rasakan.


"Loh, Nak Aksa sudah berangkat?" tanya Bi Ijah, wanita itu terburu- buru membawakan kotak makan dan tumbler untuk sarapan Aksa.


"Sudah berangkat, Bi. Tenang saja, aku akan mengantarkan makanannya. Hari ini aku akan bercuti," ucap Aira dan langsung mengambil kotak makan dan tumbler yang berisi susu.


"Ayo, Sayang, antarkan aku ke sekolah Aksa dulu ya." Aira menggandeng Keno dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


*****


Sesampainya di sekolahan Aksa, Aira dan Keni disambut Bu Maya, wali kelas Aksa.


"Selamat pagi, Bu," sapa Bu Maya dengan ramah dan senyum yang mengembang.


"Ada apa ya, Bu?"


"Ini saya membawakan sarapan untuk Aksa, tadi orangnya ngambek jadi nggak mau sarapan, Bu."


"Oh, Aksa pasti ngambek gara- gara Ibu tidak bisa datang di acara kemarin ya?"


Aira terdiam sejenak. Acara? Acara apa? Ah, ia baru teringat jika minggu lalu Aksa memberikan surat undangan untuk menghadiri acara persembahan anak- anak kelas sembilan untuk para orangtua. Baiklah, di sini Aksa tak hanya marah gara- gara semalam ia pulang larut, tapi karena tak hadir dalam acara itu.


Ia teringat jika Aksa akan mempersembahkan sebuah lagu untuknya, tapi dirinya malah tak datang kemarin. Ya, Aira tahu Aksa berlatih selama berhari- hari untuk mempersiapkannya. Anak itu pasti kecewa sekali.

__ADS_1


"Kemarin Aksa menyayi dengan sangat bagus loh, Bu. Suaranya begitu mengena di hati, tapi sayang dia tak bisa menyelesaikannya dengan baik karena di tengah-tengah lagu dia menangis dan langsung meninggalkan panggung," jelas Bu Maya.


Hati Aira terenyuh mendengarnya. Bulit air mata pun menetes seketika.


"Bolehkah saya menemui Aksa?"


"Boleh, Bu. Silakan mumpung belum masuk."


Aira berlari menuju ke kelas putranya dengan tergesa-gesa. Ia hanya ingin memeluk serta mengucap maaf. Dirinya benar- benar ibu yang buruk.


"Aksa, maafkan Mama. Kemarin Mama benar- benar lupa, maafkan Mama..." ucap Aira ketika dia sudah sampai di kelas Aksa.


"Kenapa Mama ke sini? Pulanglah, Toko kue mu membutuhkan Bosnya bukan? Ayo pergilah," ucap Aksa dan langsung melepas pelukan Mamanya.


"Kamu boleh hukum Mama, lakukan apapun untuk menebus kesalahan Mama. Asalkan kamu nggak marah lagi sama Mama." Aira memohon dan mengatupkan kedua tangannya.


Teettttt


Bel tanda masuk berbunyi di antero sekolahan.


"Mah, pulanglah. Kelas akan segera dimulai!"


"Baiklah, ini jangan lupa dimakan ya," ucap Aira sembari menyodorkan kotak makan dan tumbler. Ia lalu bergegas pergi sebelum guru mapel pertama datang.


Aksa tersenyum tipis melihat kepergian Mamanya, ia senang karena Mamanya ternyata masih perhatian hingga rela membawakan sarapan sampai ke sekolahan.

__ADS_1


"Aku nggak marah, Ma. Aku hanya kecewa," ucap Aksa lirih di akhir kalimatnya.


__ADS_2