
Usai kejadian kemarin, Keno tak membiarkan istrinya lepas dari dekapannya sedetik pun. Ia terus saja mengekor dan mengikuti kemana pun wanita itu pergi. Ia juga mengikuti Aira saat pergi ke kamar mandi juga.
Bahkan, Keno juga memintakan cuti ke kantor Aira selama satu minggu lamanya. Aira terus menolak, tapi Keno tetap bersikukuh.
Setiap hari selama cuti, Aira mengikuti Keno ke Sanjaya Group. Wanita itu menemani Keno selama bekerja, bahkan Aira juga mengikuti kemanapun Keno pergi rapat.
Seperti biasanya, Keno selalu menyuruh Aira duduk di pangkuannya. Aira merasa risih, tapi Keno malah merasa senang karena Aira berada di dekatnya, jadi ia lebih mudah mengawasi dan menjaga istrinya itu. Ia takut kalau kejadian surprise yang dibuat Sandi itu terulang lagi dan terlebih lagi ia benar- benar takut kehilangan istrinya.
"Sayang, biarkan aku duduk di sofa saja. Selama seminggu ini kau terus saja memangku aku, kakimu pasti sakit," kata Aira seraya membelai wajah suaminya yang tengah fokus menatap laptop.
"Tidak boleh, kau harus selalu di dekatku. Tidak boleh kemana- mana tanpaku, aku takut kau pergi dan kenapa- kenapa..."
"Hufftt, sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak akan pergi dan aku akan baik- baik saja." Aira sudah merasa lelah ketika harus mengucapkan kalimat itu berkali- kali kepada suaminya. Keno benar- benar trauma akan kejadian itu, Aira jadi menyesal karena telah melakukannya.
"Baiklah- baiklah. Puas- puasin aja dulu, besok 'kan aku sudah mulai bekerja," gumam Aira lirih.
"Astaga aku lupa kalau besok cuti mu sudah habis. Baiklah, aku akan menyuruh Frido untuk memintakan cuti lagi untukmu." Keno langsung mengambil ponselnya dan mencari nama Frido.
"Biarkan aku bekerja lagi. Kau dulu 'kan juga memperbolehkanku, aku akan berhenti jika kandunganku berusia tujuh bulan." Aira mulai terisak.
"Sayang, jangan begitu. Kau juga harus memikirkan bayi kita, kalau terjadi apa- apa karena kau kelelahan bagaimana?" Keno mengusap air mata istrinya yang terus berjatuhan.
Aira mendiami Keno dalam waktu yang cukup lama. Keno terus berusaha mengajak istrinya berbicara, tapi Aira tetap bungkam. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya.
"Kau berjanji akan menjaga dirimu baik- baik?" tanya Keno mencoba memastikannya sekali lagi.
Aira mengangguk yakin.
"Baiklah, aku akan mengizinkanmu bekerja."
Aira langsung memeluk Keno karena senang mendengarnya.
"Terima kasih sayangku, cintaku, kasihku, muachh..." ucap Aira kegirangan seraya mengecup pipi Keno.
"Tapi ada syaratnya !" Wajah Aira langsung berubah masam, jika suaminya sudah berkata seperti itu pasti syarat yang ia berikan sangatlah sulit dan tak masuk akal.
"Aku akan mencarikan bodyguard untukmu, kau tidak boleh menolaknya. Dia akan menjagamu selama aku tidak bersamamu, bagaimana? Setuju, kan?"
"Aku tidak mau memakai bodyguard, aku bisa menjaga diriku sendiri. Percayalah padaku..." Aira terus merengek.
"Kalau tidak mau berarti kau harus resign dari kantormu itu."
Aira dihadang dengan keputusan yang begitu berat menurutnya, kalau ia tidak bekerja pasti akan bosan jika di rumah. Tapi, kalau tetap bekerja dengan bodyguard yang akan selalu mengekorinya, itu jauh lebih menyebalkan.
"Bolehkah Bi Ijah saja yang menemaniku? Aku tidak mau bodyguard." Aira lebih memilih Bi Ijah karena menurutnya Bi Ijah tetap akan memberi kebebasan untuknya.
"Kenapa harus Bi Ijah? Dia tidak bisa bela diri, kalau ada seseorang yang akan melukaimu bagaimana? Ah, cari yang lain saja." Keno menolak permintaan istrinya dengan nada tegas.
"Tidak apa, pokoknya aku mau Bi Ijah saja. Biarkan dia merangkap jadi bodyguard ku," ucap Aira manja.
"Boleh ya..."
"Cium dulu !" Aira pun langsung menyium pipi Keno.
"Sudah, sayang..."
***
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan pukul empat sore, Keno pun mulai membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Tapi, dimana istrinya saat ini?
"Aira? Kau dimana, sayang? Ayo kita pulang," teriak Keno memanggil istrinya. Ia kemudian memasuki kamar di ruangannya. Ternyata istrinya masih tertidur dengan nyenyak di sana. Keno pun menggendongnya karena tak mau membangunkan Aira.
"Kenapa istrimu?" tanya Frido terheran- heran saat berpapasan dengan Keno yang tengah menggendong Aira.
"Dia sedang tidur, tolong bantu aku menekan tombol liftnya !" Frido pun mengangguk, ia menekan tombol lift dan ikut masuk juga ke dalam, takut Keno membutuhkan dirinya lagi.
Para karyawan yang melihat Keno menggendong istrinya pun terkagum- kagum. Presdir yang mereka kenal galak dan tegas itu ternyata begitu menyayangi istrinya.
"Kenapa kau diam saja? Bukakan pintu mobilnya," teriak Keno karena Frido malah asyik dengan ponselnya.
"Iya- iya maafkan aku."
"Dasar tak peka kau itu !"
"Hey, mana tips untukku?" tanya Frido tapi tak digubris Keno karena anak itu segera melaju meninggalkan dirinya.
"Sudah dibantu tapi tak tahu terima kasih, kau itu anak orang apa bukan sih," gerutu Frido seraya menatap mobil Keno yang terus melaju.
***
Aira mulai membuka matanya karena merasakan ada guncangan. Ia pun mulai menyesuaikan dengan situasi yang ada.
"Kenapa aku ada di dalam mobil? Tunggu- tunggu, ini pasti aku masih bermimpi."
"Ini tidak mimpi," sahut Keno.
Aira pun membulatkan mulutnya mendengar perkataan suaminya, "Kau menggendongku?" tanyanya kemudian.
"Ohh tadi kau melemparku ternyata, terima kasih ya sayangku..." ucap Aira terkekeh.
Keno kembali fokus dengan mobilnya. Sedangkan Aira, ia terlihat gusar saat membuka ponselnya.
"Sayang, aku pengen ini. Lihatlah, ini sangat menggiurkan," ucapnya seraya menunjukkan gambar rujak dari ponselnya.
"Nanti biar dicarikan Mang Dadang, kita sudah hampir sampai rumah soalnya," ucap Keno.
"Tapi aku mau mangganya yang masih menggantung di pohon, aku mau Mama Mira yang membuat rujaknya, tidak mau beli," rengek Aira bergelayut manja di lengan Keno.
"Pokoknya mangganya yang masih muda dan kalau bisa kau yang memetiknya," tambah Aira.
Melototlah si Keno mendengar permintaan istrinya itu. Ia sudah membayangkan jika dirinya memanjat seperti monyet yang bergelantungan untuk memetik mangga muda demi istrinya yang ngidam.
"Nanti malam kita ke rumah Mama, di sana 'kan ada pohon mangga. Sabar ya baby..." ucap Keno mengusap perut Aira.
Aira pun mengangguk senang, ia tak sabar untuk memakan rujak buatan Mamanya nanti.
"Iya baby, sabar ya...Nanti Papa bakal metik mangga muda buat kita, pasti lucu. Mama jadi sudah tak sabar," ucap Aira pada bayinya, ia jadi geli sendiri membayangkan suaminya nanti.
"Iya lucu ! Kaya monyet, kan? Huh, baby kenapa kau menyusahkan Papa tampanmu ini," batin Keno terisak sedih.
"Baiklah Keno, kau harus kuat. Ini baru awal, demi bayi dan istri tercintamu !" ucap Keno menguatkan dirinya sendiri.
"Sayang, kita berhenti ke toko bunga itu ya. Sepertinya bunga- bunga di sana bagus." Aira menunjuk Toko Bunga yang tak jauh dari rumahnya. Keno pun menurutinya.
Sesampainya di toko bunga, Aira langsung masuk dan mencari bunga yang ia inginkan. Matanya berbinar senang tatkala melihat bunga tulip, aster, mawar dengan warna yang beragam. Tersusun rapi di dalam pot kaca yang berisikan air supaya tetap segar.
__ADS_1
"Waahhhh cantik sekali..." ucapnya memuji bunga Tulip yang memiliki warna ungu, putih, dan kuning.
Keno hanya mengernyitkan dahinya mengamati istrinya yang mengitari rak bunga dan berbicara sendiri.
"Sayang, ambil kameramu dan fotoin." Keno pun menurut saja dengan perkataan istrinya.
"Tunggu, bagaimana pose yang bagus ya. Ahh...seperti ini saja. Ayo sayang ambil fotoku..." Aira ribut sendiri ketika mau difoto.
"Banyak gaya sekali kau ini," seru Keno.
"Buat diposting, sayang. Fotoin lagi, tapi kali ini agak deketan ya, jangan jauh- jauh."
"Ihh rempong deh."
Usai puas berfoto ria, Aira pun mengajak suaminya untuk pulang. Tapi ia meletakkan bunga tadi ke tempat semula terlebih dahulu.
"Kau tidak mau membeli satu pun?" tanya Keno dan Aira menggeleng. "Jadi, kau hanya mau numpang foto saja di sini?" tanya Keno lagi dan kali ini Aira menganggukkan kepalanya.
"Pelankan suaramu, nanti pemilik tokonya mendengar kita," bisik Aira.
"Untuk apa beli bunga, tidak berguna. Mending minjem aja buat foto. Udah yuk, kita pergi sekarang. Tapi jalannya pelan- pelan ya biar tidak ketahuan pemilik tokonya," tambah Aira. Mereka pun berjalan mengendap- endap keluar dari toko.
"Woyyy ! Kok nggak beli sih ! Huh dasar pasangan somplak ! Dateng cuma numpang foto doang, awas aja kalian," teriak pemilik toko yang mengetahui kalau Aira dan Keno pergi tanpa membeli bunga.
Keno dan Aira tertawa tepingkal- pingkal saat sudah masuk ke mobil mereka.
"Kau itu nakal sekali sih, untung orang tadi tidak melempar sepatunya ke kita," ucap Keno disela tawanya.
"Biarin aja, kalau beli 'kan malah mubazir. Mending gitu, seru bukan, ha-ha-ha !"
Keno menggelengkan kepalanya mengingat tingkah konyol istrinya. Ia cuma berharap supaya anaknya tidak sekonyol wanita itu, kalaupun iya, pastilah pusing ia nantinya.
"Sayang, foto yang tadi captionnya apa ya yang bagus?" Aira berpikir tentang caption yang akan ia gunakan untuk mengunggah fotonya di sosmed.
"Bumil rempong? Bumil banyak gaya? Bumil nakal? Bumil konyol?" jawab Keno sekenanya.
"Ayihh, kalau captionnya gitu tidak ada yang ngelike nanti."
"Tapi itu 'kan kenyataannya, itu sudah bagus," ucap Keno terkekeh seraya mengacak- acak rambut istrinya.
.
.
.
.
.
Hello guys🤗
Sebenernya aku pengen tamat di episode 92 kemarin, tapi ternyata banyak banget yang pengen dilanjutin hehe, aku jadi terhura (Ah maap aku lebay wkwk)
Dan aku pun memutuskan untuk lanjut lagi, lumayan buat ngisi waktu luang juga si sebenrnya😂 karena aku udah lanjut, jgn lupa buat like dan vote ya biar tanganku nggak sia- sia ngetiknya🙂
__ADS_1