Hello Presdir

Hello Presdir
Lebih Memilihnya


__ADS_3

Tak perlu waktu lama, Aira sudah sampai di Sanjaya Group. Perusahaan yang menguasai semua bidang. Yang mempekerjakan ribuan karyawan yang tersebar di ratusan cabang seluruh wilayah Indonesia. Dalam hitungan detik saja bisa mampu menghasilkan ratusan juta rupiah, perusahaan ini juga memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar di Indonesia.


Setelah sampai di lantai dimana ruangan Keno berada, ia bertemu dengan Frido, musuh bebuyutan Aira semenjak kenal.


"Wow, wanita yang satunya juga kemari. Beruntung sekali anak itu, dibawakan makanan pula padahal Ellen juga membawakannya makanan tadi." gumam Frido dalam hatinya.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu !" ketus Aira saat dirinya ditatap Frido terus menerus.


"Ciihhh, siapa yang melihat mu. Aku hanya melihat kotak makanan mu saja." elak Frido.


"Hylyh, jelas- jelas kau memandangi ku terus tadi."


"Hello Aira.." jerit Niken girang, langsung berhambur memeluk Aira.


"Mbak Niken kok di sini? Bagaimana dengan baby boy! Apa dia baik- baik saja." tanya Aira mengusap perut buncit Niken.


"Dia baik- baik saja kok malah lebih aktif sekarang, sebentar lagi kan mau lahiran jadi si Frido ngajak aku ikut kerja soalnya dia takut sewaktu- waktu melahirkan trus ngga ada dia."


"Ayihhhh, dia menendang terus mbak." ujar Aira saat merasakan tendangan dari perut Niken.


"Itu karena baby tidak suka dengan kedatangan mu, berhentilah mengusap perut istriku kasihan dia."


"Heyy, itu berarti dia suka jika aku mengusapnya. Dia menendang karena ingin segera di gendong dengan ku."


"Tidak mungkin baby ku seperti itu."


"Mbak Niken, cepat keluarkan aku ingin segera menggendongnya." ucap Aira dengan wajah imutnya.


"Kau pikir segampang itu mengeluarkannya, tunggu sampai waktunya, dasar bodoh !" gertak Frido sedangkan Niken hanya terkekeh melihat Aira yang seperti anak kecil itu.


"Hufffttt, kalau ngmong itu ngga usah ngegas dong."


"Kalau tidak di gas tidak jalan bukan." sahut Niken, Aira dan Frido pun melototkan mata ke arahnya.


"Ah sudahlah, aku akan ke ruangan Keno sekarang. Pay pay baby boy muachhh, I will come back."


"Duhh, apa yang akan terjadi nanti dengan bos menyebalkan itu? Kedua wanitanya akan bertemu, pasti dia akan sangat terkejut." Batin Frido.


Di ruangannya, Keno masih makan disuapi Ellen. Tampak mesra dan sesekali bercanda lalu tertawa.


"Bagaimana masakan ku kali ini?" tanya Ellen dengan sangat antusias.


"Enak kok Ele, kau pandai memasak. Sekarang, kau harus makan juga ya. Sini aku suapin." Keno menyuapi Ellen.


"Besok kau mau makan apa? Aku akan memasakannya untuk mu."


"Apa saja, ayo makan lagi."


Dan beberapa saat kemudian, Pintu ruangan Keno terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.


"Hai Keno, aku sudah sam-" ucap orang itu terputus saat melihat Keno sedang suap- suapan dengan Ellen. Sontak, Ellen dan Keno pun menoleh ke arah orang itu. Semua terkejut, terutama Aira. Ia melihat orang yang dicintai bermesraan dengan wanita lain.


"Kenapa ada Ellen di sini? Dan kenapa mereka juga suap- suapan, mereka sangat mesra. Ada hubungan apa sebenarnya mereka itu, mereka terlihat sangat dekat. Ah hatiku sangat sesak melihatnya, hiks." batin Aira terisak, matanya berkaca- kaca.


"Aira.."


"Aira..." seru Ellen tapi Aira masih terdiam menatap Keno dan Ellen.


"Arghh iya Ele."


"Jadi mereka saling kenal? Arghhh !!! Berarti yang selama ini diceritakan Aira itu memang benar- benar Ellen. Tuhan, lalu aku harus bagaimana ini? Aku akan mengacaukan dua hati sekaligus."


Keno terkejut ketika Ellen memanggil Aira. Ia tidak menyangka jika Ellen juga mengenal Aira. Perasaan Keno semakin kacau, Aira pasti cemburu melihatnya dan juga Ellen akan sedih jika tahu kalau Keno dan Aira memiliki hubungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, Keno hanya bisa memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya ia ingin mati saja saat ini juga.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Sedang mencari siapa?" tanya Ellen penasaran.


"Tunggu, Apa Ellen ini adalah mantan kekasih Keno? Ellen kan juga model dulunya, mantan yang diceritakan Keno waktu itu juga seorang model. Ellen juga pernah bilang kalau mantan kekasihnya adalah seorang Presdir. Fix, aku yakin kalau Ellen adalah mantan kekasih Keno. Tuhan, kenapa bisa seperti ini hiks."


"Aira, kau kenapa diam saja dari tadi?"


"Ah tidak apa, sepertinya aku salah ruangan."


"Kau mau kemana memangnya? Kau pasti mau mengantarkan makanan untuk temanmu, jadi temanmu juga bekerja di sini?"


"Ahh iy- iya Ele, a- aku akan mengantarkan makanan untuk temanku, dan aku sudah salah ruangan. Aku permisi dulu ya." Aira pun berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Airaa tunguuu." seru Keno. Ia berdiri dan hendak mengejar Aira tapi Ellen buru- buru menarik tangan Keno. Mau tidak mau, Keno kembali duduk lagi bersama Ellen.


"Kau mau kemana? Apa kau juga mengenal Aira?" tanya Ellen.


Keno bingung menjawabnya ia pun membohongi Ellen. "Iya aku mengenalnya, di- dia teman ku." tutur Keno seraya mengusap wajahnya kasar.


"Wahh ternyata kau juga berteman dengannya, dia baik ya orangnya aku beruntung sekali bisa berteman dengan Aira."

__ADS_1


"Dia bukan hanya temanku saja, aku juga akan menikah dengannya. Arrgghhhh !!!" gumam Keno dalam hatinya.


"Ele, aku akan menemui Aira sebentar."


"Baiklah, jangan lama- lama. Awwww..." Ellen meremas dadanya. Ia merasakan sakit yang luar biasa.


"Dadaku sakit sekali, arrgghhhh...sakit." Ellen semakin kesakitan, ia pun jatuh tidak sadarkan diri.


"Ele, kau kenapa? Ele ayo ke rumah sakit sekarang." Keno panik ia langsung menggendong Ellen dan secepat mungkin berlari.


"Jangan menghalangi Jalanku !!!"


"Semuanya beri jalan, minggir !!!" Keno terus berteriak karena banyak karyawan yang sedang berlalu lalang dan membuat jalannya terhambat. Ia bahkan tidak peduli berapa karyawan yang telah ia tabrak hingga terjatuh dan kesakitan.


Keno segera masuk ke mobil meletakkan kepala Ellen di pangkuannya dan menyuruh Frido yang menyetir mobilnya.


"Ele...bertahanlah. Kita akan segera sampai ke rumah sakit." Keno terus saja panik. Ia terlalu mengkhawatirkan Ellen, takut jika Ellen benar- benar pergi.


"Ele, ayo bangun. Jangan membuatku khawatir." Keno menepuk- nepuk pipi Ellen terus berusaha membangunkan wanita yang sangat pucat itu.


"Ele, jangan pergi..."


"Tambah kecepatannya ! Kita harus segera sampai !"


"Iy-iyaa, bersabarlah." Frido ikut panik dibuatnya.


"Kenapa dia bisa pingsan? Apa dia terkejut saat melihat Aira menemui mu?"


"Aku tidak tahu, dia dengan Aira berteman baik ternyata. Aku juga tidak mengatakan apapun tentang hubunganku dengan Aira. Dia tiba- tiba merasakan sakit di dadanya lalu ia tak sadarkan diri."


"Aku kira kau sudah mengatakan hubunganmu dengan Aira kepada Ellen jadi ia terkejut mendengarnya."


"Aku tidak akan sebodoh itu ! Berhenti bicara, lajukan mobilnya cepat !!!"


Di sisi lain...


Setelah Aira keluar dari ruangan Keno, ia tak langsung pulang. Ia menuju ke ruangan Frido, dimana ada Niken di sana.


"Aira kenapa kau malah kemari?"


"Tidak apa mbak Niken, hanya ingin ke sini saja." jawab Aira dengan raut wajah sedih.


"Kenapa masih membawa kotak makanan itu? Apa tidak jadi kau berikan untuk Keno?"


"Mbak Niken..." Aira mengusap perut Niken.


"Hm kenapa?"


"Apa mbak Niken mengenal Ellen? Apa benar dugaanku kalau Ellen adalah mantan kekasih Keno?"


"Iya aku kenal dia, tapi hanya sebatas tahu saja. Dia dulu meninggalkan Keno karena ingin menikah dengan lelaki lain dan lebih memilih karirnya." tutur Niken seraya mengunyah makanan.


"Jadi benar ya kalau Ellen itu mantan kekasih Keno. Hufftt, aku tidak menyangka kalau yang selama ini di bicarakan Ellen itu adalah Keno. Orang yang aku cinta tapi Ellen juga mencintainya. Ellen kenapa kita bisa mencintai orang yang sama, hiks hiks." batin Aira, air matanya menetes seketika.


"Aira kau kenapa?" melihat Aira menangis Niken pun menghentikan makannya dan mulai menyeka air mata Aira.


"Aku mencintai Keno mbak, tapi Ellen juga mencintai Keno. Kenapa aku dan Ellen bisa mencintai orang yang sama, salah satu diantara kita pasti akan tersakiti, mbak." Aira menangis dan menyandarkan kepalanya di bahu Niken.


"Kau yang tenang, kalau Ellen masih mencintai Keno bukan berarti Keno juga masih mencintainya kan?"


"Mereka terlihat masih mencintai mbak, aku melihatnya sendiri. Mereka suap- suapan, bercanda, dan tertawa bersama."


"Tenang saja, aku yakin Keno lebih mencintaimu. Berdoa saja semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk semuanya."


"Aku sangat mencintai Keno mbak, aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya."


"Aku tahu, aku hanya bisa mendoakan kau saja." ucap Niken dan langsung memeluk Aira.


***


Melihat kedatangan cucu dari pemilik Rumah Sakit, para perawat segera menyiapkan brankar untuk Ellen. Mereka ikut panik melihat Keno yang tidak bisa berhenti berteriak.


"Cepat selamatkan dia ! Jangan sampai terjadi apa- apa dengannya !" teriakan itu menggema di Rumah Sakit Sanjaya.


Beberapa dokter terbaik pun segera menangani Ellen. Mereka sangat ketakutan dengan amarah Keno. Mengingat Keno adalah cucu dari pemilik rumah sakit itu mereka hanya bisa menerima amukan dan bentakan Keno karena takut kehilangan pekerjaan mereka.


Setelah setengah jam berlalu akhirnya tiga dokter yang menangani Ellen pun keluar dan menemui Keno. Dokter- dokter tersebut menundukkan badannya saat berada di hadapan Keno. Saat berada di depan Keno mereka mendadak sesak nafas melihat wajah Keno yang merah padam seakan ingin memakan mangsanya.


"Kenapa kalian diam saja !" teriak Keno saat dokter- dokter tersebut diam dan belum bicara.


"Apa dia baik- baik saja! Katakan !!!" Keno kembali berteriak dan kali ini ia menarik kerah kemeja salah satu dokter itu hendak memukulinya. Dokter tersebut semakin ketakutan badannya gemetar dan keringat kembali menetes dari keningnya.


"Tuan Keno, tolong lepaskan. Mereka akan semakin ketakutan dan tidak akan bicara jika kau terus seperti itu." ujar Frido mencoba menenangkan Keno.

__ADS_1


"D- di-dia sekarang baik- baik saja, Tuan. Dia hanya kelelahan dan telat meminum obatnya, jadi jantungnya kembali sakit." ucap dokter itu dengan menundukkan pandangannya.


"Apa ada cara supaya dia tidak merasakan sakit lagi?"


"Kerusakan jantungnya sudah lumayan parah, tidak bisa jika hanya diobati dengan tindakan bedah atau lainnya. Salah satu cara supaya dia bisa sembuh total dan tidak merasakan sakit lagi adalah dengan transplantasi jantung, Tuan."


"Carikan donor jantung segera untuknya, aku tidak mau dia kesakitan lagi."


"Ka- kami usahakan, Tuan." Dokter itu masih saja gugup dan gemetaran.


"Pergilah !"


Mendengar perintah dari Keno, mereka pun segera gelagapan berlarian hingga ada yang tersandung dan jatuh pula. Tapi perasaan mereka sangatlah lega karena seperti terbebas dari sangkar harimau yang sangat kelaparan.


Keno segera menemui Ellen. Hatinya sakit melihat Ellen terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus di tangannya. Bagaimanapun juga ia harus segera mendapatkam donor jantung untuk Ellen, ia tidak bisa melihat kondisi Ellen terus- terusan seperti ini.


"Ele..." lirih Keno seraya memegang tangan Ellen.


"Ken." sahut Ellen dengan senyum paksa. Wajahnya masih pucat, dadanya masih terasa sesak, tapi ia tidak mau terlihat terlalu lemah di hadapan Keno.


"Jangan seperti ini terus, aku tidak bisa melihatmu kesakitan. Jaga tubuhmu, jangan sampai kau kelelahan dan minumlah obat secara teratur."


"Iya terima kasih, maaf ya aku jadi merepotkan mu."


"Tidak ada yang direpotkan di sini, siapapun juga akan menolong mu tidak hanya aku. Istirahatlah, aku akan menemani mu di sini."


Ellen pun mengiyakan, ia lalu melanjutkan tidurnya. Tangannya masih tergenggam erat oleh Keno.


"Semoga kau lekas membaik Ele."


"Tuan, apa kau tidak akan kembali ke kantor?" tanya Frido yang sedari tadi berada di belakang Keno.


"Aku ingin sekali, aku ingin menemui Aira juga tapi di sini tidak ada yang menjaga Ellen. Keluarganya belum sampai."


"Kau terlalu mengkhawatirkan Ellen hingga tidak memikirkan perasaan Aira, kasihan dia. Dia sangat mencintaimu juga menyayangimu, kau harus bisa tegas dalam menyikapi semua ini, kau tidak boleh egois dengan mempertahankan dua wanita sekaligus."


"Kau tidak tahu bagaimana perasaan ku saat ini. Tutup mulut mu jangan banyak bicara, kau malah membuatku semakin pusing saja."


"Baiklah, Aku akan kembali ke kantor, permisi." Frido meninggalkan ruangan itu.


"Aira maafkan aku. Maaf jika membuat mu sakit hati tadi, aku terlalu memikirkan kondisi Ellen hingga melupakan mu, tapi percayalah aku mencintaimu dengan sangat." lirih Keno dalam hatinya.


***


Aira masih berada di kantor Keno, ia merebahkan tubuhnya dengan kepalanya ia letakkan di pangkuan Niken seraya mengusap dan menciumi perut Niken.


"Mbak Niken, kalau mbak Niken berada di posisi ku apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengalah dan membiarkan dia memiliki orang yang kau cintai?" tanya Aira.


"Aku tidak tahu, yang pasti aku akan tetap berjuang untuk itu. Dan untuk hasilnya aku serahkan kepada Tuhan, Dia tahu mana yang lebih baik."


"Jangan terlalu dipikirkan, jalani saja apa yang ada." tambah Niken mengusap kepala Aira.


"Hey kenapa kau berbaring di paha istriku ! Cepat berdiri !" seru Frido yang baru saja datang.


"Sayang biarkan saja, aku tidak apa- apa kok."


"Kau nanti kelelahan memangku wanita menyebalkan ini."


Aira pun mengangkat kepalanya dari pangkuan Niken, ia tidak mau mendengar celotehan Frido yang memekakkan telinganya.


"Kau darimana saja tadi, kenapa baru kemari sayang." tanya Niken bergelayut manja di lengan Frido.


"Aku dari Rumah Sakit, tadi mengantar Ellen."


"Ele? Kenapa dia?" Aira sangat panik mendengar Ellen dibawa ke rumah sakit.


"Tadi pingsan kau tidak perlu mengkhawatirkannya." jelas Frido.


"Oh iya aku lupa, kan sudah ada Keno. Dia pasti akan baik- baik saja hehe." ucap Aira tersenyum getir. "Keno lebih memilih Ele rupanya." tambahnya.


"Kali ini aku merasa kasihan dengan mu, kau sedang dibuat mainan oleh Keno. Dasar Keno, kau itu memang menyebalkan. Kau sangat egois." batin Frido terus mengumpat Keno.


.


.


.


.


.


Jangan lupa likenya hehe...

__ADS_1


__ADS_2