Hello Presdir

Hello Presdir
Nostalgia


__ADS_3

"Senjaaaa, terima kasih telah mengusir kepedihan hatiku. Hanya kau yang mampu membuat hatiku kembali dengan suasana yang baik. Terima kasih." tambah Aira lagi.


Ia mengecek ponselnya melihat jam digital yang tertera di sana. Sudah terlalu lama ia bersama senja dan pantai, suasana hatinya sudah membaik. Aira pun memutuskan untuk pulang.


"Kauuuu..." lirih Aira ketika membalikkan tubuhnya melihat seseorang yang ia kenal.


"Hai." ucap lelaki itu. Lelaki yang dulu pernah menemani dan mewarnai hari- hari Aira selama bertahun- tahun lamanya. Lelaki yang selalu ada untuknya, sedih ataupun senang dia selalu ada. Lelaki yang selalu membuat Aira tertawa, tersenyum, bahagia, dan selalu membuatnya rindu.


"Hai Raka, sejak kapan kau di sini? Apa kau sudah lama berdiri di belakangku?" tanya Aira.


"Hehe, Iya sudah lama sekalian menikmati senja. Aku sangat senang karena akhirnya bisa menikmati senja lagi dengan mu walaupun secara tidak langsung." jawab Raka dengan menunjukkan senyum yang membuat Aira selalu tergila- gila. Bohong jika Aira tidak merindukan senyum itu, senyum manis yang akan selalu ia rindukan walaupun sekarang hanya berstatus teman bukan kekasih ia tetap menyukai senyum itu.


"Oh begitu, a- aku akan pulang duluan. Permisi." pamit Aira ia takut kalau semakin tergila- gila dengan Raka jadi memutuskan untuk pulang, namun tangannya langsung dicekal Raka.


"Aku tahu kau juga merindukan saat- saat kita bersama dulu, kita bisa melakukannya lagi walaupun dengan status yang berbeda. Ayo makan malam dulu." ucap Raka dengan tatapan sendu, ia sangat berharap supaya bisa makan malam berdua bersama Aira lagi.


"Raka, bagaimanapun juga kamu itu sudah resmi jadi suami orang. Kamu harus bisa menjaga pergaulan mu, kamu tidak boleh bersama wanita lain, jangan membuat istrimu terluka." tutur Aira menasihati.


"Aku tahu itu, tapi kita hanya makan malam saja tidak lebih. Kalau kau memang tidak mau tidak apa- apa kok."


Lagi- lagi Raka berucap dengan wajah sendunya membuat Aira merasa tidak enak jika menolak, dan akhirnya Aira pun menerima ajakan tentara manis itu.


Mereka duduk lesehan di restoran ikan dekat pantai, restoran yang juga sering mereka kunjungi setelah puas menikmati senja di tepi pantai.


Menikmati sajian ikan bakar dengan sambal tomat, lalapan, dan es jeruk sebagai penawar rasa pedas dari sambalnya. Seraya bercerita tentang aktivitas mereka selama seharian ini.


Restoran masih terlihat sama seperti dulu tak ada yang berubah, tempat yang mereka duduki pun masih sama seperti dulu. Yang lain tidak ada yang berubah, hanya hubungan mereka saja yang sudah berganti. Sebagai suami dan sebagai kekasih lelaki lain.


"Bagaimana hubungan mu dengan Hana?" tanya Aira memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


"Hubunganku dengannya mulai membaik, aku juga sudah mulai membuka hatiku untuknya. Tapi sepertinya untuk mencintai Hana sepenuhnya tidak bisa, karena aku tetap tidak bisa melupakan cinta kita." jelas Raka tersenyum pilu.


"Raka jangan begitu, bagaimanapun juga kita harus melupakan apa yang telah kita lalui bersama termasuk cinta kita. Kita sekarang adalah keluarga, aku adalah kakak iparmu." tutur Aira dengan terkekeh kecil.


"Kakak ipar yang sangat aku cintai dan akan tetap ku cintai sampai akhir nanti." batin Raka.


"Kita buka lembaran baru, kita tulis kembali kisah yang baru. Kisah yang akan lebih menarik tentunya, bukankah begitu adik ipar." tambah Aira lagi membuat Raka ikut tertawa. Raka senang, Aira tidak pernah berubah, ia selalu periang dan suka bercanda seperti dulu. Selalu bisa mengusir kepedihan hati Raka.


"Kalau kau sendiri bagaimana dengan Keno? Kapan kalian menikah?"


Wajah Aira berubah sendu ketika ditanya Raka. Seharian penuh Aira bersusah payah untuk tidak memikirkan Presdir Sanjaya Group itu, tapi Raka kembali mengingatkannya.


"Aku baik- baik saja. Ya seperti yang kau ketahui dari postingan- postingan instagram kami. Lihatlah, Sangat bahagia bukan?" Aira menunjukkan fotonya dengan Keno di postingan instagram.



"Postingan mu memang terlihat bahagia, tapi kalau itu memang benar kenapa wajahmu jadi sedih saat ku tanya tadi?" batin Raka.


"Aku dulu melihat Keno di restoran dengan wanita lain. Entah siapa, tapi wanita itu sangat dekat dengan Keno bahkan mereka juga bersuap- suapan dan berpelukan."


"Ohh itu mungkin Ellen, mantan kekasihnya hehe."


"Kenapa dia bersama mantannya? Apa dia tidak memikirkan perasaan mu?"


Dan karena terpancing dengan pertanyaan Raka, Aira pun menceritakan semuanya kepada mantan kekasihnya itu. Semuanya tanpa terkecuali, Aira merasa lega karena memiliki tempat bercerita. Untuk masalah kali ini memang ia hanya menceritakannya kepada Raka.


"Shiittt ! Bagaimana aku bisa melepasmu dengan tenang jika Keno terus saja mempermainkan mu. Lelaki brengsek." umpat Raka dalam hatinya.


***


Di sisi lain...

__ADS_1


Setelah mengantarkan Ellen pulang ke rumahnya, Keno pulang ke kediaman keluarga Sanjaya. Entah mengapa hatinya menginginkan untuk bermalam di sana. Ia langsung menuju ke kamarnya, kamar yang tak kalah berbeda dengan kamar di rumahnya sendiri.


"Sayang apa kau sudah makan malam? Jika belum mama akan mengambilkan makan malam untukmu." seru Bu Maria menghampiri Keno yang sedang merebahkan tubuhnya dengan satu tangan ia letakkan di keningnya.


"Sudah Mah."


"Kenapa cemberut, ayo cerita sama Mama." ucap Bu Maria membelai rambut Keno.


Keno meletakkan kepalanya di atas paha Bu Maria, mencari kenyamanan seperti yang sering kali ia lakukan ketika sedang ada masalah.


"Keno mencintai Aira mah, sangat mencintai."


"Iya Mama tahu itu, Aira juga mencintai kamu kok sayang." jawab Bu Maria seraya membelai kepala anaknya.


"Keno jahat mah sama Aira, mungkin dia akan pergi meninggalkan Keno. Dia terlalu baik untuk Keno, Aira tidak pantas untukku yang brengsek ini." ucap Keno, air matanya lolos seketika membasahi celana mamanya. Ia menangis dalam diam.


"Ssssttttt, sudah jangan berbicara lagi dan berhenti menangis."


"Keno tidak menangis !" bentak Keno dan langsung menghapus air matanya.


Bu Maria terkekeh, padahal Keno benar- benar menangis. "Aira tidak akan meninggalkan mu, dia itu juga sangat mencintai dirimu jadi dia tidak akan pergi. Percayalah sama Mama, Mama sangat yakin kalau Aira tidak akan meninggalkan mu." ucap Mama Maria penuh dengan penekanan.


"Bagaimana kalau Aira tidak memberi kesempatan lagi untuk Keno?"


"Hufftt, Mama yakin dia akan memberi kesempatan. Kenapa kau cerewet sekali sih."


"Kalau tidak bagaimana? Keno tidak bisa membayangkan Aira bersama laki- laki lain, Mah. Aira itu milikku, hanya milik Keno Arka Sanjaya titik."


"Kenapa kau sulit sekali kalau dibilangin, kalau ucapan Mama itu benar kau harus membelikan Mama mobil baru loh."


"Selalu saja begitu, baiklah Mama ku sayang. Apapun untukmu, Cup." Keno mengecup pipi Mamanya lembut dan kembali meletakkan kepalanya di pangkuan Mama. Ia merindukan Mamanya, tak lama kemudian Keno pun tertidur karena belaian Mamanya.


***


"Hai Ele, apa kau sudah siap?"


"I'm ready, Let's we go !!!"


Aira dan Ellen akan pergi ke panti asuhan. Ya, akhir- akhir ini Aira akan lebih sering bersama Ellen. Dengan begitu, Ellen akan lebih jarang bersama Keno jadi tidak akan membuat Aira cemburu lagi. Pandai bukan?


Sebelum pergi ke panti asuhan, Aira mengajak Ellen membeli buah tangan untuk anak- anak panti. Mereka banyak sekali membelikan mainan, baju baru, alat- alat sekolah, makanan, dan keperluan- keperluan lainnya.


"Kak Airaaa." seru Fatih, salah satu anak panti yang sangat dekat dengan Aira. Kenapa dekat? Karena Aira juga sering kemari, bahkan sebulan bisa empat sampai lima kali. Anak itu selalu menanti dan menyambut kedatangan Aira tiap minggunya.


"Hai Fatih, bagaimana kabarmu? Bagaimana sekolahmu?"


"Baik kak, Fatih kemarin juga mendapat juara kelas."


"Wahh hebat dong, ayo masuk kita temui teman yang lain." ajak Aira.


"Ele, ayo masuk."



Ellen tampak enggan untuk masuk ke dalam panti. Panti asuhan itu memang tidak terlalu buruk, namun karena ada banyak anak kecil yang bermain jadi panti itu terlihat berantakan dengan mainan yang berserakan di lantai.


Aira tersenyum melihat Ellen. Ia mengerti akan hal itu, Ellen yang sangat elegan dan selalu berada di kawasan orang elit saja jadi mana mau dia masuk ke panti asuhan yang berantakan dan tak sebersih lingkungannya.


"Kalau kau tidak mau masuk tak apa, kau bisa menunggu dan duduk di sini. Aku tidak akan lama kok."


"Aa- aku akan ikut dengan mu saja." ucap Ellen. Ia bergidik ngeri saat Aira menyuruhnya duduk di kursi yang mungkin sebentar lagi akan hancur jika diduduki.

__ADS_1


Walau terlihat risih, akhirnya Ellen mau untuk masuk ke dalam panti. Bahkan ia juga mau duduk di lantai bersama Aira yang tengah asyik bermain dengan anak- anak panti.


"Mbak Aira selamat datang, maaf saya baru menemui Mbak Aira." ucap wanita paruh baya, yang tak lain adalah pengurus panti. Beliau sudah menganggap Aira sebagai anaknya sendiri.


"Tidak apa, Bu. Oh ya, perkenalkan ini Ellen teman saya." Ellen dan Bu Panti pun berkenalan. Karena bu panti masih ada urusan, beliau meninggalkan kami berdua di ruang bermain anak- anak.


Aira terus bermain dengan anak- anak yang memiliki umur berbeda- beda itu. Bermain dengan mainan yang telah ia beli tadi, semuanya tampak senang ketika menerima mainan baru. Bagaimana tidak senang, mainan mereka sudah banyak yang rusak dan bahkan tak layak untuk dimainkan lagi.


Tak ada kebahagiaan lain selain melihat anak- anak tanpa orang tua itu tertawa dan bahagia. Aira terus bermain dengan anak- anak, bahkan ia juga tak jijik mengganti celana anak yang mengompol, membuang ingus anak yang sedang pilek, dan bahkan ia juga mau menjadi kuda- kudaan. Semuanya tampak ceria tertawa lepas, sedangkan Ellen? Ia hanya diam mengamati segala sesuatu yang Aira lakukan.


Jam makan siang pun tiba, Aira dan Ellen membagikan nasi kotak yang mereka bawa tadi kepada anak- anak. Mereka sudah duduk rapi melingkar dengan alas tikar yang tipis.


"Sudah semua kan? Ayo sekarang kita ke restoran untuk makan siang." ajak Ellen.


"Ele, apa kau tidak keberatan jika makan di sini bersama mereka? Lagipula makanannya masih banyak."


Ellen pun mengiyakan Aira. Ia duduk di samping Aira dengan nasi kotak yang sudah berada di hadapannya.


"Kau juga sering makan bersama mereka?" tanya Ellen.


"Iya, aku sangat senang bersama mereka. Kau harus tau, mereka tidak hanya membutuhkan uang ataupun makanan saja. Tapi mereka juga membutuhkan kepedulian kita."


"Kita memang bisa makan di restoran mahal sekalipun, tapi kita hanya merasa kenyang tanpa ada rasa bahagia sedikitpun. Lihatlah mereka sangat lahap memakannya, mereka jarang bisa makan."


"Iya kau benar sekali, maaf ya aku hanya belum terbiasa saja."


Ellen dan Aira segera membuka nasi kotak itu dan mulai memakannya. Suasana baru pun Ellen rasakan, suasana yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia juga merasa senang bisa menyisihkan sebagian rezekinya untuk anak- anak itu.


Ternyata benar jika berbagi itu sangat membahagiakaan. Dan mulai sekarang ia berjanji akan selalu berbagi kepada orang- orang yang tak mampu seperti yang Aira ajarkan.


"Anak- anak kalian masih rajin mengaji kan?" tanya Aira setelah makan siang selesai.


"Masih kak, bahkan kami lebih rajin dari sebelumnya."


"Kalau boleh, Kak Aira minta doanya ya supaya Kak Ellen teman kakak ini segera sembuh dan tidak akan sakit lagi ya."


"Tentu saja kak Aira, kami akan mendoakan Kak Ellen. Kak Ellen semoga cepat sembuh ya." ucap salah satu anak perempuan dan langsung memeluk Ellen. Anak perempuan yang tadi bermain dengan Ellen dan sekarang dekat dengannya.


"Terima kasih sayang, Kakak pulang dulu ya. Kapan- kapan Kakak main ke sini lagi." ucap Ellen, ia terharu melihat semuanya bisa langsung menyayangi dirinya.


Aira dan Ellen segera menuju mobil. Mereka menatap dari jendela mobil, anak- anak panti melambaikan tangannya ke arah mereka.


"Sampai ketemu Kak Aira, Kak Ellen." seru anak- anak panti itu.


Ellen memeluk tubuh Aira yang sedang duduk di sampingnya, "Aira terima kasih telah mengajarkan banyak hal hari ini, aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih." ucap Ellen menitikkan air matanya. Aira juga merasa senang bisa mengajarkan Ellen dengan hal- hal yang tak pernah Ellen lakukan sebelumnya.


"Sama- sama Ellen, tetaplah semangat melawan penyakitmu. Kau harus berjanji padaku kalau kau akan segera sembuh." seru Aira dan mendapatkan anggukan dari Ellen.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca😢


Jangan lupa like, komen, dan votenya. Oh ya, tips juga mau hehe :*

__ADS_1


__ADS_2