
Sore itu Keno merasa ada yang aneh dengannya, ia terus saja kepikiran Aira dan Ellen. Perasaannya tidak tenang walaupun sudah ada Aira yang akan menjaga Ellen. Ia pun memutuskan untuk pergi ke pantai menemui mereka memastikan semuanya baik- baik saja.
Sesampainya di pantai, Ia merasa terkejut ketika melihat dua orang wanita yang ia kenal. Satu wanita itu tergeletak dan yang satunya menangis berteriak meminta tolong. Tak berpikir panjang Keno pun menghampiri kedua wanita itu.
"Ele, Ele bangun." teriak Keno cemas. Ia langsung menggendong tubuh Ellen yang sangat dingin dan pucat.
"Ele bertahanlah, kita akan segera sampai ke rumah sakit." ucap Aira masih berderai air mata.
"Diam kau !!!" bentak Keno membuat Aira tersentak.
"Kau yang membuatnya seperti ini !!! Kau tidak bisa menjaganya dengan baik ! Bodoh !"
"Awas saja jika terjadi apa- apa dengan Ellen. Aku tidak akan mengampuni mu."
Aira menggelengkan kepala tak percaya kalau Keno membentaknya seperti itu. Badannya lemas seketika, Keno tak mengajak Aira masuk ke mobilnya. Keno meninggalkan Aira di pantai itu.
Tentu saja Aira merasa kecewa dengan kelakuan Keno, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Air matanya terus mengalir deras, ia mengkhawatirkan Ellen. Aira sangat takut jika Ellen kenapa- kenapa.
"Arrrrggghhhh !" Aira terus membanting kemudi mobilnya.
"Bukan aku yang membuatnya seperti itu, huuu huuu."
"Aku menjaganya dengan baik, aku juga sudah memperingatkannya supaya tidak kelelahan. Tapi dia tidak menuruti perkataan ku hiks...hiks...hiks..." racau Aira, ia merasa tidak terima saat Keno berbicara seperti tadi kepadanya.
"Ele semoga kau baik- baik saja. Tuhan selamatkan Ellen." do'a Aira di sela isakannya. Ia tidak bisa membayangkan betapa marahnya Keno jika suatu hal buruk terjadi dengan Ellen.
***
Sesampainya di rumah sakit, Aira langsung berlari. Ia masih menangis tersedu- sedu, tak peduli apa kata orang- orang yang berpapasan dengannya.
Sebelum sampai di UGD langkahnya terhenti ketika melihat Keno mondar mandir tidak jelas di depan UGD. Perasaannya tak tenang dan kekhawatirannya sangat tinggi, sesekali mengintip ke dalam. Aira enggan menghampirinya, namun ia pun memberanikan dirinya menuju ke UGD itu.
"Jangan kemari jika Ellen belum dikatakan baik- baik saja !!!" bentak Keno yang seketika membuat langkah Aira terhenti dan langsung menundukkan wajahnya.
"Ba-Baiklah, aku minta maaf. Tolong maafkan, Aku akan pergi." lirih wanita malang itu. Ia tidak salah sama sekali tapi ia tetap mengucapkan kata maaf kepada Keno. Entah hatinya terbuat dari apa, ia selalu tegar menerima apapun.
Pintu ruangan UGD terbuka, membuat Aira kembali membalikkan tubuhnya dan menatap UGD itu. Senyumnya merekah ketika beberapa dokter dan perawat keluar dari sana. Perawat mendorong brankar Ellen sepertinya memindahkan Ellen ke ruang perawatan.
"Katakan apa dia baik- baik saja !!!" tanya Keno menarik kerah kemeja salah satu dokter paruh baya.
Tubuh dokter itu bergetar hebat tak berani menatap Keno karena tatapannya begitu menakutkan seakan ingin membunuh. Dengan bibir yang bergetar hebat, dokter itu mengatakan kondisi Ellen.
__ADS_1
"D-di-dia baik- baik saja untuk saat ini." ujar dokter itu membuat Keno melepaskan cengkramannya. Nafas lega terhembus dari dokter itu.
"Untuk beberapa hari ke depan kami tidak tahu lagi. Kondisi jantungnya semakin memburuk. Melihat catatan medis Nona Ellen harus segera mendapatkan donor jantung dalam jangka waktu dua atau tiga hari lagi. Jika tidak.."
"Jangan lanjutkan perkataan mu ! Aku akan segera mendapatkan donor jantung yang sesuai dengannya, kau jangan diam saja ! Kau juga harus bertindak."
"Kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin Tuan, tapi memang belum ada donor jantung yang cocok untuk Nona Ellen."
Keno tak menyauti perkataan dokter itu lagi, ia langsung bergegas ke ruangan Ellen. Begitupun dengan Aira, ia terus mengekor mengikuti langkah Keno walaupun dengan jarak yang cukup jauh.
"Elee..." lirih Keno. Ia menangis melihat Ellen terbujur lemah tak berdaya dengan berbagai alat bantu di tubuhnya. Ia menggenggam tangan Ellen dan meletakkan di pipinya.
"Jangan menangis, aku baik- baik saja. Sungguh, aku malah akan sedih jika kau menangisi ku." ucap Ellen tercekat. Ia tetap berusaha tersenyum walaupun merasakan sakit yang sangat luar biasa.
"Dimana Aira? Aku ingin bertemu dengannya. Dia menjagaku dengan baik tadi dan memperingatkan ku supaya tidak kelelahan, tapi aku malah ngeyel tidak menuruti ucapannya."
"Akan aku panggilkan." Keno berpikir kalau Aira mengajak Ellen bersamanya supaya tidak dekat dengan Keno lagi itu salah, karena malah membuat Ellen jatuh sakit. Ia baru sadar, di sini tidak ada yang salah atau dipersalahkan. Bukan Aira yang menyebabkan Ellen sakit, bahkan wanita itu telah menjaga mantan kekasihnya dengan baik. Semua adalah kehendak Tuhan.
Keno hendak memanggil Aira, tapi tenyata Aira sudah berada di pintu mengintip sedari tadi. Berdiri di balik pintu, wajahnya sendu, matanya sembab karena terus menangis.
"Maaf telah membentak mu tadi, aku terlalu panik." Akhirnya kalimat maaf terlontar dari mulut Keno. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap kepada orang yang sudah ia bentak- bentak tadi.
Aira sudah sangat kecewa dengan Keno, ia tak menghiraukan kata maaf dari orang yang dicintainya itu. Hatinya sudah terlanjur sakit atas perlakuan Keno, ia lalu melenggang pergi menghampiri Ellen yang sedang terbaring.
Ellen tersenyum, "Tidak ada yang salah, semuanya sudah di atur oleh Tuhan. Kau jangan menyalahkan dirimu."
"Remas tanganku, cakar aku, pukul aku, biar aku bisa merasakan sakit yang juga kau rasakan walaupun tak akan sebanding." ucap Aira terisak.
"Aira aku sudah terbiasa, aku bisa menahannya. Bukankah kau pernah bilang kalau Tuhan memberikan rasa sakit karena ingin mengetahui seberapa besarnya kesabaran kita dan akan mengurangi dosa- dosa kita? Jadi aku akan menikmatinya, aku selalu menerimanya." tutur Ellen tersendat- sendat.
"Bertahanlah Ele, kau akan segera mendapat donor jantung. Aku yakin itu, aku akan selalu mendo'akan mu Ele."
"Papah.." seru Ellen, Aira pun menoleh seketika ke arah belakangnya. Di sana ada Papa Ellen, ya hanya ada papanya. Mamanya sudah meninggal, Ellen hanya memiliki Papa.
"Hello girl, bagaimana kondisimu? Semuanya akan baik- baik saja, kamu yang kuat ya. Papa hanya memiliki mu, jangan tinggalkan papa sendiri."
"Tidak papa, berhentilah menangis. Ele baik- baik saja. Oh ya, ini kenalkan sahabat Ele, namanya Aira dia yang sering aku ceritakan itu pah."
"Oh jadi ini yang namanya Aira, terima kasih ya nak sudah mau berteman dengan anak saya." ucap Pak Ilham, papa Ellen.
"Sama- sama om."
__ADS_1
***
Aira segera berpamitan kepada Ellen dan Om Ilham karena hari sudah malam. Saat ingin keluar ia mendengar percakapan Keno dengan seseorang melalui telepon.
"Buay pengumuman sekarang juga kalau keluarga Sanjaya membutuhkan donor jantung secepatnya, kami akan memberikan imbalan 5 Milyar."
"..."
Keluarga? Kenapa Keno sudah menganggap Ellen keluarganya? Ellen bukan keluarga Sanjaya ! Sungguh lagi- lagi ini membuat hati Aira sakit.
"Aira." ucap Keno ketika menoleh ke arah pintu ruang perawatan.
Aira tak menggubris Keno !! Ia sakit hati !! Ia sudah terlanjur kecewa !!
"Aira ku mohon tunggu." seru Keno mencekal tangan Aira. Namun sang pemilik segera melepaskannya dengan kasar.
"Jangan menyentuhku sedikitpun !" ucap Aira dengan suara meninggi dan tatapan benci.
"Aku mohon maafkan aku, aku salah Aira. Maaf selalu melukai hati mu. Hukumlah aku semau mu."
Aira tak menghiraukan Keno lagi, ia langsung pergi meninggalkan lelaki yang selalu membuatnya kecewa itu.
"Arrrggghhhh !"
"Arrggghhhh !"
"arrrgghhhhh !
Keno meninju dinding di depannya hingga jari- jari tangannya terluka. Ia menyesal telah berbuat yang tak sepantasnya dengan Aira hingga membuat wanita itu sangat kecewa dan meninggalkannya.
"Aku bodoh ! Aku bodoh !!!!" teriaknya membuat perawat- perawat bergidik ngeri ke arahnya. Cucu pemilik rumah sakit itu meraung- raung menangisi kesalahannya. Ia tahu kesalahannya sangat besar, kali ini Aira sangat kecewa dengannya dan tidak bisa memaafkannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya. Tapi aku engga maksa sih hehe😂