
"Halo?"
"Hai, Ra."
"Kenapa, Raka?"
"Engga papa kok, cuman pengen nelfon aja."
"Oh."
"Gimana kabar kamu?"
"Baik kok, kamu sendiri gimana?"
"Ya gitu haha, oh ya Ra kangen kue kamu nih."
"Yaudah ke toko aja."
"Kamu ke sana?"
"Ehm nanti aku ke sana jam 9."
"Tunggu aku ya aku ke sana nanti."
"Hm, baiklah."
Mereka mengawali pagi dengan menelfon. Ya begitulah hubungan Aira dan Raka, masih tampak terjalin baik setelah semua terjadi. Lambat laun Aira hanya menganggap Raka sebagai teman, untuk perasaan yang dulu pernah ada entah bagaimana hanya Aira yang tahu. Kalau Raka sendiri masih belum bisa merelakan Aira, ia masih menganggap Aira kekasihnya. Ia sangatlah setia jadi bagi Raka melupakan Aira tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Beberapa jam kemudian,
"Ehh anak Mama, tumben senyum- senyum," seru Mama Raka.
"Mood lagi baikan nih, Mah," jawab Raka.
"Nah gini terus dong, Jangan sedih terus. Mama ikutan sedih kalau kamu sedih. Eh, mau kemana emangnya?"
"Raka mau ke toko kue Aira mah, mau ketemu dia juga," ucap Raka sembari menyisir rambutnya.
"Aira?"
"Hm."
"Ternyata hanya Aira yang bisa mengembalikan senyumanmu, Maafin mama nak," batin Mama Raka menangis ketika mengingat beberapa hari yang lalu anaknya murung dan tanpa senyuman, namun untuk kali ini ia kembali melihat senyum itu karena seorang wanita.
"Raka pamit ya, Mah."
"Hati- hati di jalan ya, Nak."
Raka dipenuhi dengan senyuman, ia melajukan mobilnya ke toko kue Aira. Sesampainya di sana, ia langsung duduk dan menunggu Aira di tempat biasanya. Setelah nunggu 15 menit, Aira pun akhirnya datang ke tokonya.
"Airaa."
"Eh hai, Raka," ucap Aira melambaikan tangannya kepada Raka. Ia segera menghampiri Raka dan ikut duduk.
"Loh kok belum pesen minum sih kamu?"
"Sengaja, nunggu yang punya dulu biar di layanin sama dia. Haha," kata Raka.
"Hm yaudah, aku buatin minum dulu ya."
Aira membuatkan capuccino kesukaan Raka dan membawakan red velvet juga.
"Nah, ini silakan Tuan Raka."
"Kamu masih inget aja favorite aku."
"Memangnya aku ini amnesia?"
"Ya, siapa tau gitu hahaha."
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut hingga satu jam, seperti biasa mereka membicarakan hal- hal konyol dan kadang tidak bermutu. Mereka tertawa bersama, bercanda layaknya dulu. Tapi mereka tetap sadar kalau status mereka sekarang bukan seperti dulu lagi.
Tak disangka, Keno dan asistennya itu ke toko Aira. Keno melihat seseorang sedang bersama Aira. Awalnya ia memang mau nongkrong dan bertemu Aira dulu di sana, tapi melihat Aira sedang bersama Raka ia menepiskan niatnya ia hendak kembali ke mobilnya, namun Aira telah mengetahui keberadaannya.
"Hai Keno," tegur Aira dan tersenyum kepada Keno.
"Hai Aira." Keno menghampiri Aira.
"Eh Keno, apa kabar? lama tak jumpa," tanya Raka.
"Kabar baik," ucap Keno datar.
Keno dan Raka adalah teman baik. Mereka satu smp dan sma. Namun karena keduanya disibukkan pekerjaan, mereka jarang bertemu dan nongkrong bareng lagi.
"Oh ya, kamu mau ngapain ke sini?" tanya Aira dan tersenyum.
Melihat Aira yang tersenyum ke arah Keno dan Keno membalas senyuman itu membuat dada Raka sakit. "Dulu kamu hanya nunjukin senyum itu cuma untuk aku, Ra. Tapi sekarang untuk lelaki lain. Apa kalian memiliki hubungan lebih?" batin Raka.
"Mau nongkrong aja kok, pengen makan kue juga di sini," jawab Keno.
"Cih, bohong, padahal bukan hanya sekedar makan atau nongkrong tapi ingin ketemu dengan Aira," sahut Frido dan langsung disikut oleh Keno.
"Sepertinya Keno suka sama kamu, Ra. Dan sepertinya kamu juga ngebuka hatimu buat dia," batin Raka.
"Oh, yaudah kamu mau kue apa sama mau minum apa?"
"Kaya biasanya aja deh."
"Bentar, ya." Aira mengambilkan kue dan minum untuk Keno. Kemudian mereka mengobrol hingga siang hari.
"Aduh udah siang nih, aku pamit duluan ya. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan," pamit Raka.
"Okay, hati- hati di jalan," ucap Keno dan Aira serempak.
Sekarang di meja itu tinggal Keno dan Aira.
"Hm."
"Oh."
"Pasti dia mikir aku masih punya hubungan spesial sama Raka, wajahnya aja langsung gitu," batin Aira.
"Cuma temenan, kita udah janji engga akan musuhan dan tetap menjadi teman baik," tambah Aira.
"Hm, makan siang yuk."
"Boleh."
Mendapat persetujuan Aira, Mereka pun segera ke Mall untuk makan siang bersama. Mereka memilih untuk makan steak.
Sembari menunggu Keno dan Aira ngobrol dan bercanda bersama. Mereka semakin dekat akhir- akhir ini, walaupun keduanya kadang bertengkar.
"Kak Airaaa!!!" teriak wanita yang berjalan menghampiri Aira.
"Hana !"
"Ternyata kak Aira di sini juga."
"Iya, kamu sama Raka mau makan di sini juga?" tanya Aira kepada Hana.
"Iya kak, tadi dipaksa Mama sama Tante," lirih Hana.
"Oh."
"Itu yang sama kakak siapa?"
"Saya Keno," ucap Keno menjulurkan tangannya.
"Aku Hana."
__ADS_1
"Oh jadi ini yang diceritain sama Om, Tante, sama Mama. Ganteng juga ya ternyata, pantesan Kak Aira mau," goda Hana. Keno dan Aira hanya diam.
"Ehh kak Raka, gimana kalau kita gabung di sini?"
"Ngapain harus gabung sih, di sini ada Aira. Aku mau jaga perasaan dia, huh," gumam Raka.
"Terserah," ucap Raka dingin.
"Bolehkan kakak ipar?" tanya Hana kepada Keno.
"Boleh kok, silakan duduk."
Raka, Hana, Aira dan Keno duduk dalam meja makan yang sama. Mereka berbincang- bincang walaupun sedikit canggung.
Tak lama kemudian steak yang mereka pesan sudah sampai. Keno dan Raka langsung memotong- motong steaknya dan menyodorkan ke Aira.
"Ini ra tuker punyaku aja, udah aku potongin," ucap Keno dan Raka bersamaan.
Aira kaget dengan tingkah keduanya, ia langsung melirik Hana yang wajahnya berubah menjadi sedih.
"Apaan sih kak Raka, harusnya dia potongin aku bukan kak Aira," batin Hana kesal.
"Aku ambil punya Keno ya, punya mu tukar sama Hana aja," ucap Aira dan bertukar dengan Keno.
"Selamat makan Aira," ucap Keno lembut dan tersenyum.
"Keno kok di lawan, kalah kan kamu, Raka," batin Keno senang karena Aira lebih memilihnya. Sedangkan, Raka mulai memanas, ternyata Aira lebih memilih Keno dari pada dirinya.
"Kenapa engga ditukar?" tanya Aira.
"Enggak mau," ketus Raka.
"Aku bisa potong sendiri, emang aku anak kecil apa," ucap Hana tak kalah ketusnya.
Mereka menyantap steaknya, entah ada angin apa Keno menyuapi Aira dan Aira tidak menolaknya.
"Gimana, enak kan?" tanya Keno sembari melirik Raka yang mulai kesal.
"Iya enak."
"Aku suapin lagi ya?"
"Boleh, aku suapin kamu juga ya..."
Raka dan Hana iri melihat kedekatan mereka. Tapi di sisi lain Keno sangat senang melihat Raka terbakar api cemburu, ia semakin ingin membuatnya lebih marah lagi.
"Oh ya, setelah ini kalian mau kemana?" tanya Keno.
"Pulang," jawab Hana.
"Ohh aku kira si Raka bakal ngajakin kamu jalan- jalan dulu, ya semacam kencan gitu," goda Keno.
"Habis ini kita mau nonton kok, iya kan sayang," ucap Raka melirik Hana.
Raka udah mulai panggil Hana sayang? Apa dia udah mulai ada rasa sama Hana? Eh tapi bodoamat lah, gumam Aira dalam hatinya.
"Aira, gimana kalau kita juga nonton?" tanya Keno lembut.
"Kau kesambet apa? Kenapa tiba- tiba lembut gini?" tanya Aira dalam hatinya.
"Kau tidak kembali ke kantor?"
"Tidak, aku akan meluangkan waktu untukmu."
"Hm, baiklah."
Raka terus mengumpat dalam hatinya melihat kedua orang itu.
Setelah selesai makan siang, Mereka berempat langsung masuk ke gedung bioskop. Mereka duduk berjejer sembari menikmati pop corn dan minuman dingin. Keno dan Aira sesekali bersuap- suapan, sedangkan Raka dan Hana hanya diam melihat mereka. Sungguh, hari ini Keno dan Aira lebih dari sepasang kekasih.
__ADS_1