Hello Presdir

Hello Presdir
Pemberian Mama


__ADS_3

Di meja makan....


"Pagi Ken."


"Hm."


"Ini sarapannya dan ini susu mu. Cepat habiskan." perintah Aira


Keno langsung melahap nasi goreng buatan Aira habis tak tersisa.


"Hari ini aku akan lembur, Ra. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga."


"Hm, aku juga akan pulang malam nanti."


"Oh, kalau begitu ayo berangkat sekarang."


"Aku kira kau akan meninggalkan aku lagi seperti kemarin." ledek Aira.


"Kalau begitu berangkatlah sendiri lagi." ucap Keno meninggalkan Aira.


Aira pun berlari mengejarnya, "Tidak, aku akan ikut dengan mu. Tunggu."


Aira langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Keno. Ia mengatur nafasnya setelah berlari- lari.


Keno pun menertawai Aira, "Kenapa harus lari- larian sih." Aira kesal dan mencubit Keno. Selama perjalanan mereka masih tetap bertengkar hingga mang Dadang dibuat pusing olehnya.


"Aira sudah jangan mencubit, sakit."


"Airaaa."


"Apa"


Aira masih mencubit dan memukul ringan Keno. Keno yang geram pun membalas Aira, ia menggelitiki perut Aira hingga tertawa terpingkal- pingkal.


"Ken, geli udahan dong Hahahaaha."


"Tidak akan ku lepaskan."


"Ampun Ken, udahan. Ini udah mau sampai ke toko ku loh."


Mereka masih bertengkar hingga tak menyadari kalau sudah sampai di toko Aira.


Ciiiiittttt. Mang Dadang sengaja menginjak rem mendadak ketika sudah sampai di toko Aira sehingga membuat Aira dan Keno terpental dan menyudahi pertengkaran mereka.


"Awww, mang Dadang sakit. Kenapa ngerem mendadak sih." pekik Aira.


"Hehe maaf nak Aira, dari tadi bertengkar terus sih. Jadi ya mang Dadang ngerem mendadak biar kaliam berhenti bertengkar."


"Ah mang Dadang ini, sudah lanjutkan perjalanannya keburu siang nanti." seru Keno.


"Loh ini kan sudah sampai di toko kuenya nak Aira, katanya nak Aira mau ke toko."


"Lah, udah sampai ternyata." seru Keno dan Aira.


"Yaudah sana turun. Bisa sakit semua badan ku kalau kamu terus- terusan di sini."


"Hm baiklah, aku turun dulu. Semangat bekerja anak manis ku." ucap Aira sembari mencubit kedua pipi Keno sangat keras.


"Airaaaaaa!!!!" Keno geram namun juga merasa senang dengan tingkah Aira.


Aira terus berlari masuk tokonya meninggalkan Keno yang masih geram dibuatnya sedari tadi.


***


Sanjaya Group


Sesampainya di ruangannya, Keno masih tersenyum- senyum sendiri seperti orang gila.


"Kau kenapa seperti orang gila, Tuan? Mengapa senyum- senyum terus dari tadi?" tanya Frido.


"Ternyata lelaki yang kita lihat di restoran kemarin itu hanya temannya Aira."


"Aku sudah tau itu. Lelaki itu bernama Alfa Danendra. Dia itu dokter sekaligus kepala rumah sakit menggantikan Pak Ibnu di rumah sakit Pak Bram."


"Di rumah sakit Papa?" Frido menganggukkan kepalanya.


"Tunggu, kenapa kau bisa mengetahui semuanya?"


"Kau benar- benar bodoh, kemarin kan kau menyuruh ku untuk menyelidiki lelaki itu. Jadi ya aku tau lah."


"Berhenti mengataiku bodoh, kalau aku bodoh mana mungkin aku memegang perusahaan sebesar ini dan membuat perusahaan semakin maju."


"Iya, kau hanya pintar dalam dunia bisnis saja dan Untuk yang lain, entahlah." lirih Frido.


Keno memukul perut Frido namun Frido tak merasa kesakitan malah nyengir- nyengir, "Ck pergilah, dasar menyebalkan kau. Selalu saja membuat ku marah."


Di sisi lain, Aira berada dalam ruangannya mengecek laporan pengeluaran dan pemasukan bulan ini. Ia tampak senang sekali ketika pendapatan dari toko kue bulan ini lebih banyak dari bulan kemarin. Dan akhir- akhir ini pendapatan semakin meningkat sehingga membuat Aira lebih semangat untuk memajukan usahanya.


"Mba Aira." seru salah satu karyawan dan masuk ke ruangan Aira.


"Eh iya ada apa?"


"Itu ada Mamanya mba Aira menunggu di bawah."


"Mama? Kenapa dia datang ke sini?"


"Saya tidak tau mba, lebih baik mba segera menemuinya sekarang." ucap karyawan itu lalu pergi meninggalkan ruangan Aira.


Aira pun segera mematikan lapotpnya dan turun untuk menemui mamanya.


Wanita yang sudah berumur namun tetap terlihat muda dengan pakaian sederhana namun terlihat mewah serta elegan dan semakin menampakan aura kecantikannya walau sudah berumur. Wanita yang tak lain adalah Mama Mira yang sedari tadi sudah menunggu di salah satu meja.


"Pagi Ma." seru Aira sembari menyalami tangan Mamanya.

__ADS_1


"Pagi juga, kenapa lama sekali turun Mama sudah menunggu lama."


"Hehe maaf mah, emang Mama mau ngapain? Tumben ke sini."


"Jelas- jelas menemui kamu lah, kamu kenapa engga tinggal di rumah aja sih. Kenapa harus tinggal bersama Mega. Toh nanti Mega juga bakalan tinggal sama suaminya, terus kamu mau tinggal sendiri gitu?"


Aira memutar mata malasnya mendengar celotehan mamanya yang tiada henti. "Satu- satu dong mah kalau nanya itu."


"Permisi Tante, mba Aira." ucap karyawan yang mengantarkan minuman serta beberapa kue untuk Mama Aira.


"Makasih." karyawan itu pun segera pergi meninggalkan emak dan anak itu.


Aira pun melanjutkan pembicaraan, "Dua minggu lagi Aira akan tinggal sama Mama."


"Kenapa dua minggu lagi? bukannya Mega akan menikah minggu ini?"


"Iya mega akan menikah minggu ini, tapi aku akan tinggal di apartemen dua minggu lagi hehe." ucap Aira berbohong.


Aira terpaksa membohongi mama Mira, kalau dia mengatakan bahwa selama ini tinggal di rumah Keno pasti akan langsung di bunuh oleh mamanya. Jadi ia berkata akan tinggal di sana dua minggu lagi, karena perjanjian dengan Keno juga akan habis dua minggu lagi.


"Terserah kau saja, hm oh ya bagaimana kabar Keno calon menantu ku itu? Kapan dia akan melamar mu?"


Aira sudah tahu kalau ujung- ujungnya akan ditanyai seperti itu oleh Mama Mira.


"Baik mah, udahlah jangan bahas lamaran." Aira membuang wajahnya dari tatapan Mama Mira dan menyeruput capuccino yang ada di depannya.


"Hei kenapa kau meminum capuccino ku." gertak Mama Mira.


"Ah maaf mah, Aira lupa hehe. Nanti biar di buatin lagi."


Mama Mira menggelengkan kepalanya dan langsung mengambil paper bag yang dibawanya tadi. Ia menyodorkan paper bag itu kepada anaknya.


"Apa ini mah?"


"Itu dress. Mama membuatkan dua dress untuk mu. Dress yang berwarna putih kamu pakai saat pernikahan Hana nanti, dan yang biru kau bisa memakainya saat pernikahan Mega."


Aira langsung membuka paper bag itu, "Wahh bagus sekali mah, apa mama mendesainnya khusus untukku?"


"Hm."


"Terima kasih, Mah. Aira pasti akan tambah cantik kalau memakai dress buatan Mama." ucap Aira kepedean.


"Kepedean kamu itu. Ingat ini tidak gratis."


"Apa?!!! kalau begitu tidak jadi, bawalah pulang lagi mah. Aira tidak membutuhkannya." Aira mendengus kesal lalu menyodorkan papar bag ke mamanya lagi, mendengar ini tidak gratis ia tidak akan menerima dress itu. Karena ia tahu kalau dress- dress buatan Mamanya itu harganya selangit. Karena memang Mamanya designer terkenal dan butiknya juga favorite di kota ini.


Mama Mira terkekeh melihat anaknya yang kesal, "Mama hanya bercanda, sudah jangan cemberut begitu. Nanti tambah cantik."


"Mama, yang ada itu tambah jelek kalau cemberut." sahut Aira.


Mama Mira masih terkekeh sembari menyantap kue yang dibawakan karyawan tadi.


"Oh ya itu paper bag yang satu isinya apa, Mah?" ucap Aira melirik paper bag yang ada di sebelah mamanya.


"Mama buatin juga buat dia?"


"Tentu saja, dia kan calon menantu mama. Nanti pas pernikahan Hana, mama akan kenalkan pada teman- teman mama. Biar mama engga ditanya- tanya tentang menantu mulu saat arisan."


"Mereka pasti akan iri dengan mama karena mendapatkan menantu yang sangat tampan dan pekerja keras itu." ucap Mama Mira serta membayangkannya.


Aira hanya menghela nafasnya, ia kesal mamanya selalu menyebut kalau Keno itu calon menantunya. Padahal Aira dan Keno tidak ada hubungan apa- apa.


"Bagaimana persiapan pernikahan Hana mah?"


"Semua sudah diatur oleh wedding organizer pernikahan akan dilangsungkan di rumah bukan di hotel sesuai dengan permintaan papa kamu."


Aira menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


"Udah siang ini, mama mau kembali ke butik. Kasihan tante kamu jaga sendiri di sana."


"Oh okai mah. Jangan lupa ke kasir dulu."


Mama Mira mengerutkan dahinya, "Untuk apa ke kasir?"


"Tentu saja membayar kue serta minuman yang sudah mama habiskan, lihat banyak sekali yang mama makan."


Mama Mira menjewer telinga Aira, "Dasar kamu ya engga sopan sama orang tua. Bisa- bisanya sama Mama sendiri disuruh bayar."


"Aduhh mah sakit, Aira bercanda kok. Serius Aira bercanda, lepasin dulu." Kedua wanita itu menjadi pusat perhatian para karyawan dan pembeli. Semua tertawa melihat kelucuan Aira serta mamanya itu.


"Udahlah Mama mau pulang sekarang."


"Iya baguslah kalau begitu, cepatlah pulang mah."


"Kamu mengusir mama?"


"Ti- tidak, bukankah mama tadi memang mau pulang."


Mama Mira pun segera meninggalkan Aira, baru beberapa langkah Aira kembali memanggilnya.


"Mahh ada yang ketinggalan" teriak Aira sontak Mama Mira kebingungan meneliti apa yang tertinggal.


"Apanya yang ketinggalan? Sepertinya tidak ada." Dan Aira langsung mengecup pipi Mamanya dengan penuh kasih sayang. Membuat Mama Mira terdiam karena kelakuan anaknya yang tidak biasa itu.


"Itu yang ketinggalan, hehe. Aira sayang mama, hati- hati di jalan mama." ucap Aira melambaikan tangannya.


"Mama juga menyayangi mu Aira. Maafkan mama jika terlalu cuek dengan mu." batin Mama Mira.


Setelah menyelesaikan pekerjaan di toko, Aira langsung berangkat ke kantor. Hari ini dia mendapat jadwal untuk membawakan berita petang nanti.


"Ra, Gue nanti bakal tinggal di apartemen Sandi setelah nikah nanti, lo mau tinggal dimana? Masih di apartemen kita?" tanya Mega.


"Gue mau tinggal di rumah Papa aja, gue bakal tinggal disana terus nanti."

__ADS_1


"Serius lo Ra?" timpal Sandi


"Iya, tapi gue tadi bilang sama mama dua minggu ke depan aku masih di apartemen kita kak Mega. Soalnya perjanjian gue sama Keno kan masih dua minggu lagi. Engga mungkin dong kalau gue bilang selama ini tinggal di rumah Keno jadi gue boongin tuh Mama hahahaa."


"Engga ada akhlaq emang lu Ra. Bohongin orang tua sendiri." Ucap Sandi menggelengkan kepalanya.


"Ya mau gimana, kalau nanti aku bilang pasti langsung dibunuh haha."


"Bener- bener lo. Lebih parah dari gue." sahut Mega.


"Eh terus apartemen kalian mau diapain?" tanya Sandi.


"Di buang ke laut." seru Aira dan Mega membuat Sandi bingung sendiri haha.


"Eh kalian tau ngga sih, kemarin kan aku makan siang sama si Alfa. Lah si Keno itu cemburu coba liat gue sama dia. Aneh ngga tuh."


"Ya ngga aneh lah, wajar itu mah. Dia kan cinta tuh sama lo." ucap Sandi membela Keno.


"Tapi kalau dia emang cinta sama gue, kenapa engga nyatain perasaannya ke gue?"


"Lo sendiri emang gimana? Lo buka hati buat dia kan?" Aira menganggukkan kepalanya.


"Gue yakin kok dia itu cinta sama lo, tapi dia belum berani nyatain perasaannya ke lo." tutur Sandi.


"Ah udahlah jangan ngomongin dia, kasihan dia nanti telinganya pasti panas kita omongin terus haha." ucap Aira menggelakkan tawa kedua sahabatnya. Mereka pun melanjutkan pekerjaannnya.


Malam harinya setelah menyelesaikan pekerjaan kantornya, Keno segera menjemput Aira. Ia menyuruh mang Dadang untuk pulang terlebih dahulu karena Keno yang akan menyetir mobilnya sendiri.


"Eh Ra, ada yang nyariin lo tuh di lobi." ucap salah satu rekan Aira.


"Siapa kak?"


"Lupa gue, pokoknya ganteng banget tuh orang."


Aira pun menghampiri orang yang dimaksud rekannya tadi. Dan ternyata itu adalah Keno.


"Mau apalagi dia." batin Aira.


"Ngapain ke sini Ken?" tanya Aira.


"Jemput kamu lah."


"Aku kan udah bilang nanti bakal pulang sendiri, lagian aku juga masih ada pekerjaan."


"Aku tunggu, cepat selesaikan pekerjaan mu. Aku akan menunggu di mobil saja."


Aira segera kembali ke ruangannya dan menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Ia tidak enak jika membuat Keno menunggu lama. Setengah jam berlalu, dan akhirnya pekerjaan Aira sudah selesai. Ia pun segera berpamitan dengan kedua sahabatnya.


Ia langsung keluar dari kantor dan menuju ke mobil Keno. Aira menggelengkan kepalanya saat melihat Keno tertidur pulas di mobilnya. Ia pun segera mengambil kunci di sakunya Keno dan melajukan mobilnya.


Merasakan kalau mobilnya sedang berjalan, Keno pun mulai membuka matanya.


"Loh, sejak kapan kamu di sini?" ucap Keno seraya mengamati jalanan.


"Kok udah jalan aja sih, kenapa engga bangunin aku?"


"Engga tega, sepertinya kamu lelah. Besok-7 besok kalau kau lelah tidak perlu menjemputku lagi. Aku bisa pulang sendiri."


"Hentikan mobilnya, biar aku yang menyetir."


"Biar aku saja, kau istirahatlah."


Keno pun mengangguk dan diam. Sesekali melirik Aira yang tengah fokus mengemudikan mobil itu.


"Apa ini?" tanya Keno mengambil paper bag di sebelah Aira.


"Itu dress dari mama. Untuk pernikahan Hana nanti."


"Ohh untuk menghadiri pernikahan mantan yang akan menjadi adik ipar mu itu ya." ledek Keno.


"Hm. Oh yaa itu paper bag yang satunya untuk kamu tadi mama menitipkan itu."


"Untukku?"


"Iya, Mama membuatkan jas dan kemeja spesial untuk mu. Katanya untuk calon menantunya itu. Kau harus memakainya dan hadir di pernikahan Hana nanti."


Keno membuka paper bag dan melihat jas yang diberikan calon mama mertuanya itu. "Bagus sekali, aku akan sangat tampan jika memakainya nanti."


"Cihh kepedean sekali dirimu."


Keno terlihat senang sekali dengan pemberian calon mama mertuanya itu.


"Mama mu baik sekali, aku akan mengirimkan hadiah juga untuknya."


"Tidak perlu, kau cukup datang saja saat acara pernikahan nanti. Pasti Papa dan Mama akan senang."


"Tentu saja, mereka pasti akan senang kalau calon menantunya yang tampan ini datang."


"Ya ya ya terserah kau saja, kau, Mama, dan Papa itu sama saja." Keno terkekeh melihat Aira yang jengkel.


.


.


.


.


.


**Terima kasih sudah membaca :)


Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa like, komen, dan vote juga ya hehe :v**

__ADS_1


__ADS_2