Hello Presdir

Hello Presdir
Tendangan Si Kecil


__ADS_3

Setiap harinya, Keno selalu membuatkan susu untuk istrinya. Ia memberikan perhatian penuh kepada istri dan anaknya yang masih dalam kandungan.


"Sayang, minumlah susu dulu. Hentikan pekerjaanmu, jangan terlalu lelah." Keno menghampiri istrinya yang tengah berselonjor dan memainkan iPadnya.


"Iya sayang, sebentar lagi."


Keno langsung mengambil iPad dari tangan Aira dan menggantinya dengan segelas susu. Wanita itu pun mendengus kesal, sedangkan Keno malah tersenyum penuh kemenangan. Aira pun meneguk susunya secepat mungkin hingga tandas.


"Sudah, terima kasih..." ucapnya seraya menyodorkan gelas ke suaminya dan mengambil iPad miliknya.


"Itu bersihin dulu bibirmu," pinta Keno.


Aira pun membersihkan sisa susu yang melekat di bibirnya dengan mengusapkannya di lengan baju Keno.


"Ayihh, kebiasaan deh. Nyebelin," seru Keno mencubit hidung Aira dan wanita itu hanya nyengir kuda merasa tak bersalah sedikitpun.


Keno merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Aira. Menciumi perut sang istri yang membulat karena kini sudah menginjak enam bulan. Dan bayi mereka berjenis kelamin laki- laki, tentu saja ini semakin membuat Keno dan keluarga yang lain senang.


"Geli sayang, jangan dicium," ucap Aira terkekeh.


"Dia semakin besar ya, aku jadi tidak sabar untuk menggendongnya."


"Tiga bulan lagi."


"Sayang, apa kau mencintaiku?" tanya Keno.


"Tentu saja, bahkan aku sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu." Aira meletakkan iPadnya dan membelai wajah suaminya.


"Dasar bucin."


"Biarin, wleee..."


Keno tersenyum. "Kalian sangatlah berharga, aku berjanji akan selalu membahagiakan dan melindungi kalian. Aku menyayangi kalian."


"Terima kasih papa, kami juga menyayangimu," ucap Aira menirukan suara anak kecil.


Keno terus saja menciumi dan mengusap perut Aira, ia sangatlah gemas. Hingga pada akhirnya, ia merasakan tendangan dari anaknya itu.


Duugggg!


Aira dan Keno saling menatap karena sama- sama merasakan tendangan sang bayi. Mereka pun tersenyum senang.


"Hey, baby boy. Wahhh...Kau mau ikut mengobrol dengan kami ya." Aira dan Keno tertawa, lelaki itu masih asyik mengusap perut bulat istrinya.


"Dia menendang terus, apa tidak sakit?"


"Tidak, aku malah senang. Itu berarti di sana baby sangatlah sehat dan pasti dia sangat tak sabar bertemu dengan Papanya yang tampan ini," jawab Aira mencubit kedua pipi Keno.


Duggggg!

__ADS_1


"Dia menendang lagi, wahh sepertinya dia memang tak sabar bertemu denganku." Keno senang sekali saat bayinya aktif menendang.


"Iya tidak sabar untuk mengajak Papanya berantem," ucap Aira tergelak.


"Hey baby, benarkah perkataan Mama mu itu? Kalau kau hanya mau mengajak papa tampanmu ini berantem mending kau di sana terus saja, jangan keluar." Keno menatap perut istrinya dan terus mengajak bayinya mengobrol.


Dugggg!


"Wahhh, kencang sekali tendangannya." Aira merasa kaget karena bayinya menendang sangat kencang.


"Hey baby, jangan terlalu kencang kalau menendang. Kasihan Mama jadi kaget 'kan..."


"Jangan dimarahi, nanti dia ngambek loh. Tuh 'kan dia tidak menendang lagi."


"Hehe, maafkan Papa ya sayang. Jangan ngambek dong, sini cium dulu..." Keno kembali mencium perut istrinya.


Dugggg!


"Udah tidak ngambek lagi ya, pintar anak Papa."


"Dia masih ngambek, dia nendang gara- gara tidak mau dicium sama Papanya." Aira tertawa meledek Keno.


"Baby boy, ini sudah siang apa kau tidak lapar? Kita makan siang dulu yuk, biar kamu tambah besar dan sehat di sana," ajak Keno.


Dugggg!


"Wahhh, kau lapar ya. Baiklah, ayo kita makan diluar saja."


***


Baru saja keluar dari rumahnya, Aira dan Keno dihadang dua wanita cantik yang tak lain adalah Mira dan Maria. Mereka datang dengan rantang yang begitu banyak, bisa ditebak jika isinya tentu saja makanan.


"Kalian mau kemana?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Maria.


"Iya nih, kalian mau kemana?" Mira ikut bertanya kepada anak dan menantunya itu.


"Mau makan diluar, kalian ngapain memangnya? Tumben bisa barengan ke sini," ucap Keno.


"Kau tidak melihat? Jelas- jelas Mama membawakan makanan untuk kalian, jangan makan di luar," ketus Maria.


"Ayo sayang kita makan di taman saja, kami sudah menyuruh Bi Ijah untuk menggelar karpet di sana."


Mira menarik tangan anaknya dan mengajaknya berjalan ke taman. Begitu juga dengan Maria, ia ikut menuntun Aira dan meninggalkan Keno yang masih terdiam di tempat.


"Ish, kebiasaan. Pasti aku ditinggal!" cebik Keno. Ia pun mengikuti langkah ketiga wanita itu.


Mereka makan siang di taman rumah Keno dengan menggelar karpet layaknya piknik kecil- kecilan.


"Makanlah yang banyak biar cucuku sehat selalu." Mira menyuapi Aira dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Ingat, ini juga cucuku," ucap Maria mengusap perut Aira. Ia juga bergantian menyuapi ibu hamil itu.


Sedangkan Keno? Jangan ditanyakan lagi, dia tidak ada yang memperhatikan. Lelaki itu sangatlah kesal dengan kedua Mamanya, gara- gara mereka ia tidak bisa berdua- duaan dengan Aira.


"Sayang..." lirih Keno.


"Aku mau disuapin juga." Keno memasang wajah imut dan memelas di depan istrinya. Tapi Aira tak menggubrisnya, ia tengah asyik menikmati makanan dari Mira dan Maria.


"Makanlah sendiri, kalau tidak mau suruh Mang Dadang menyuapimu," ucap Mira membuat Keno semakin kesal.


Tiba- tiba saja, Keno mendapat telepon dari Frido. Ia jadi semakin kesal. Bagaimana tidak, hari ini ia sengaja tidak masuk ke kantor supaya bisa berduaan dengan Aira, tapi Frido malah menyuruhnya ke kantor karena ada clientnya yang dari Jepang.


"Sayang, aku harus ke kantor. Ada urusan mendadak, kau tak apa kan jika aku tinggal?" tanya Keno.


"Iya tak apa, aku bisa jaga diri baik- baik kok."


"Ada Mama, tidak perlu khawatir. Kau pergilah sana."


"Titip Aira, Mah. Keno pamit dulu, papay sayang." Keno mengecup kening dan perut istrinya sebelum pergi.


***


Aira menunggu suaminya pulang di kamarnya. Sudah hampir larut malam tapi Keno tak kunjung pulang juga. Aira pun mencoba menghubungi Keno karena cemas, tapi ponsel lelaki itu tak bisa dihubungi. Karena lelah dan cukup lama menunggu Keno, Aira pun tertidur di sofa kamarnya.


Baru sepuluh menit tidur, Keno sudah pulang dan masuk ke dalam kamarnya. Melihat Aira tidur di atas sofa membuat Keno menghampirinya.


"Pasti nungguin aku sampai ketiduran di sini..." gumam Keno menatap wajah Aira. Ia tak tega melihat istrinya tidur di sana, Keno pun mengangkat tubuh Aira dan memindahkannya ke kasur.


"Euhhmm..." Aira menggeliat, matanya terbuka saat Keno berhasil membaringkannya di kasur.


"Kau sudah pulang rupanya," ucap Aira.


"Iya, maaf ya aku menganggu tidurmu. Aku tidak tega melihatmu tidur di sofa, jadi aku pindah deh."


Aira menggelengkan kepalanya, "Tidak apa. Oh ya, kau sudah makan belum?"


"Aku sudah makan dengan Frido tadi."


"Yahhh, padahal aku tadi menunggumu untuk makan malam bersama. Tapi kau malah sudah makan," ucap Aira lesu.


"Menungguku? Jadi kau belum makan?"


Aira menggeleng.


"Astaga sayang, kenapa harus nungguin aku sih? Yaudah ayok kita makan, aku juga masih lapar kok." Keno terpaksa berbohong pada istrinya, sebenarnya ia sudah kenyang tapi jika dirinya tak menemani Aira pasti istrinya itu tidak mau makan.


Mereka pun segera turun dan makan. Aira mengambilkan nasi dan lauk yang begitu banyak ke piring Keno. Lelaki itu bergidik ngeri melihatnya, entah ia bisa menghabiskannya atau tidak. Pasalnya, tadi dia sudah makan begitu banyak.


"Sayang sedikit saja ya..." ucap Keno mengembalikan lauk ke asalnya.

__ADS_1


"Katanya tadi masih lapar? Jangan dikembalikan lagi, kau harus memakannya."


Keno pun terpaksa memakannya, dalam hatinya ia menggerutu kesal. Dirinya sangatlah menyesal karena telah berbohong tadi.


__ADS_2