Hello Presdir

Hello Presdir
Sangat Marah


__ADS_3

Siang itu Aira tengah menunggu suaminya untuk makan siang. Seperti biasanya, mereka selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama dan Keno selalu menjemput Aira.


Sudah lewat lima belas menit dari biasanya, namun Keno tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


Aira langsung mengecek ponselnya yang ternyata ada notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Keno.


Sayang, maafkan aku ya. Hari ini kita tidak bisa makan siang bersama. Tadi Livka merengek dan mengajakku untuk makan dan saat aku ingin menjemputmu terlebih dahulu, dia rewel dan tak mau menunggu lama lagi. Dan aku pun terpaksa ikut makan dengannya. Ku mohon mengertilah, jangan lupa makan siang, sayangku. Sampai bertemu nanti sore, aku merindukanmu.


"Segitunya sama Livka," lirih Aira tersenyum getir. Ia sudah tak nafsu untuk makan siang, ia kembali ke ruangannya dan memilih melanjutkan pekerjaannya.


"Eh, kok udah balik si? Biasanya juga lama," seru Sandi.


"Tidak jadi makan siang, males !"


"Kenapa sih, Ra? Keno sibuk? Inget loh, di perutmu ada bayi. Makan dulu gih sana, atau mau punyaku ini? Aku tadi beli dua." Mega menyodorkan sterofoam yang berisi gado- gado.


"Anak itu nyebelin, mungkin sekarang Keno akan lebih menyayanginya daripada aku dan bayi ini," ucap Aira dengan nada sendu.


"Anak siapa?" tanya Sandi penasaran. Aira pun bercerita kepada sahabatnya itu.


"Anak itu nggak mau lepas dari Keno." Aira kembali kesal ketika mengingat Livka yang terus bergelayut di tubuh Keno.


"Astauge, sama anak kecil aja cemburu," celetuk Sandi.


"Namanya juga orang hamil, ya wajar dong sayang." Mega mendukung Aira membuat Sandi langsung tutup mulut.


"Tapi, kalau aku jadi kamu sih mungkin juga gitu, bahkan aku akan membunuhnya langsung. Bisa- bisanya suami mentingin anak orang lain !" ucap Mega membuat Aira terkekeh.


"Ya ampun, jiwa psychopatnya kumat nih," celetuk Sandi.


***


Sorenya, Keno sudah berada di depan kantor Aira. Wanita itu pun langsung membuka pintu mobil depan, ia terkejut tatkala melihat Tiara yang memangku Livka duduk di sana seperti pagi tadi.


"Tante, tante duduk di belakang lagi ya. Soalnya aku lebih suka duduk di depan," ucap Livka dengan santainya.


"Aira, aku minta maaf ya..." ucap Tiara enteng. Aira hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia lalu masuk dan duduk di belakang. Aira membanting pintu dengan keras membuat suaminya berjingkat karena kaget.


"Sayang, pelan- pelan. Jantungku hampir copot nih," seru Keno memegang dadanya.


Aira menyilangkan tangannya di dada dan menatap keluar jendela, tak mau menanggapi Keno.


"Haduhh ! Mati aku !" batin Keno saat merasa istrinya itu sedang merajuk.


Seperti yang dilakukan tadi pagi, Livka terus berceloteh dan mengajak Keno bercanda. Begitu juga dengan Tiara. Lagi- lagi Aira hanya menjadi nyamuk di sana.


"Yeyyy sudah sampai !" teriak Livka saat sudah memasuki halaman rumah. Aira terheran- heran kenapa Keno tidak mengantarkan Tiara dan Livka ke rumah Mama Maria saja.


Keno membukakan pintu untuk Aira dan langsung menggandeng tangan wanita itu ke dalam.


"Kenapa mereka masih di sini?" tanya Aira.


"Livka ingin tinggal di sini untuk beberapa hari. Kau tidak keberatan, kan?"


Sontak, Aira langsung melepas tangannya dari genggaman Keno.

__ADS_1


"Tentu saja tidak !" Ia berlalu dan langsung pergi ke kamarnya untuk mandi.


Keno yang mengerti istrinya sedang dalam mood yang tidak baik pun langsung menyusulnya. Ia tau kalau Aira cemburu dengan adanya Livka.


"Sayang ohh sayang !!!" teriak Keno menggedor pintu kamar mandi.


"Apaan !" sahut Aira ikut berteriak juga.


"Bukain dong, aku juga mau mandi nih."


"Mandi aja sama Livka !" ucap Aira setelah membuka pintunya.


Keno mengecup pipi Aira dan tersenyum manis. Ia sangatlah senang jika Aira itu cemburu.


"Hanya dua atau tiga hari saja mereka menginap di sini. Jangan cemburu."


Aira tak memghiraukannya, ia segera masuk ke bath up. Keno pun mengikutinya dan ikut masuk juga membuat Aira tambah kesal. Karena jika Keno ikut, tidak hanya mandi saja yang mereka lakukan.


"Apa kau akan menyayangi anak kita seperti kau menyayangi Livka? Kau terlihat sangat sayang dengannya, aku tidak suka !"


Keno terkekeh gemas, ia mengecupi wajah Aira. "Tentu saja aku lebih menyayangi anak kita, aku hanya menyayangi Livka sebagai keponakan saja tidak lebih."


"Aku cemburu dengan anak kecil itu, hari ini dia benar- benar merebutmu dariku. Aku takut..."


"Hanya anak kecil kau cemburu, astaga sayang kau itu menggemaskan sekali sih." Keno menarik kedua pipi Aira karena gemas.


Tiba- tiba terdengar suara Livka yang mengetuk pintu kamar mandi. Membuat aktivitas mereka terganggu.


"Om Keno !!!! Ayo bermain kuda- kudaan lagi. Buruan dong mandinya..."


"Mau main apa sih, sayang? Om Keno lagi ganti baju tuh," ucap Aira. Ia menyejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu.


"Aku mau main kuda- kudaan sama Om Keno seperti tadi siang," jawab Livka. Anak kecil itu menceritakan hal apa saja yang mereka lakukan tadi siang.


Aira sedih mendengarnya, berarti seharian ini Keno menghabiskan waktunya dengan Livka dan Tiara.


"Ayo sayang, kita bermain lagi." Keno menggendong Livka di pundaknya dan mengajak ke ruang keluarga untuk bermain.


Sedangkan Aira, ia memilih untuk membantu Bi Ijah yang tengah menyiapkan makan malam. Ia tak mau melihat Keno dan Livka yang asyik bermain. Membuat hatinya semakin sakit saja !


***


Usai makan malam, Aira dan Keno langsung ke kamarnya. Namun, lagi- lagi Livka menggedor pintu dan merusak kebersamaan mereka.


"Om Keno, ini Livka. Om sudah tidur belum?" teriaknya membuat Aira mendengus kesal. Ia segera membukakan pintu untuk anak kecil itu. Dilihatnya Livka sedang memeluk boneka kecil dan mengunggingkan senyum untuk Aira.


"Kenapa Livka? Om Keno lelah, dia ingin segera tidur. Kalau mau main besok lagi ya..." ucap Aira lembut.


"Livka tidak mau bermain, Livka hanya ingin tidur ditemani Om Keno. Bolehkah Om Keno tidur di kamar bersama Livka saja?" Anak itu berbicara dengan nada memohon, Aira jadi tak tega jika menolak permintaannya.


"Sayang, ayo kembali ke kamar. Jangan mengganggu Om Keno dan Tante Aira ya..." seru Tiara yang saat itu baru saja kembali dari dapur mengambil air minum.


"Bocil...Kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam loh." Mendengar suara Keno, Livka langsung masuk ke dalam kamar dan memeluk Keno.


"Temani Livka tidur, Om. Livka tidak bisa tidur..." ucapnya manja.

__ADS_1


"Sampai kau tertidur saja ya..." Keno pun menggendong Livka ke kamarnya.


"Aira, maafkan Livka ya. Mungkin dia rindu dengan Papanya, jadi dia meminta perhatian dari Keno. Hanya beberapa hari saja, setelah itu kami akan kembali ke rumah Mama dan Papa," seru Tiara. Aira hanya menanggapinya dengan senyum datar.


***


Seminggu sudah Tiara dan Livka tinggal di rumah Keno. Dan selama itu juga Keno selalu memanjakan Livka, ya walaupun tetap perhatian dengan Aira.


Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam. Keno ketiduran lagi setelah menidurkan Livka. Aira sudah naik pitam, ia benar- benar muak dengan Keno yang selama seminggu ini selalu begitu.


Ia memberanikan diri menuju ke kamar tamu, kamar yang ditempati Tiara dan Livka. Hatinya sangat terluka melihat Keno tertidur dengan nyenyaknya memeluk Livka dan Tiara, dan dalam selimut yang sama.


Suaminya tidur dengan Tiara, walaupun Keno selalu berkata kalau Tiara itu adalah kakaknya, tapi dia bukan kakak kandung, tidak sedarah, dan tidak seharusnya tidur satu ranjang ! Hatinya hancur, tapi ia mencoba tetap tenang demi bayi yang ada di kandungannya.


"Ken, bangun !" teriaknya seraya menggoyangkan bahu Keno dengan kasar. Aira memang sengaja berteriak supaya Tiara terbangun juga.


Keno terbangun dan menggeliat, "Eh sayang, aku ketiduran di sini lagi ya..." ucapnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Membuat hati Aira semakin terluka dan sakit.


"Eh Aira, kok ke sini sih?" tanya Tiara yang ikut terbangun dengan teriakan Aira tadi.


"Kenapa memangnya?! Dia suamiku dan kau masih bertanya kenapa aku kemari !" batin Aira kesal.


Air matanya hampir menetes, ia segera keluar dari sana dan masuk ke kamarnya. Mungkin ini hal sepele bagi Keno dan Tiara, tapi tidak bagi Aira. Dia istrinya tapi semenjak ada Tiara dan Livka, Keno menjadi milik mereka. Raganya dan perhatiannya semuanya dikuasai mereka.


"Aira kau kenapa?" Keno terkejut saat memasuki kamar mendengar isakan tangis istrinya. Ia langsung memeluk tubuh Aira yang tengah duduk di tepi ranjang. Tapi Aira mendorongnya dengan kuat. Ia tak mau lelaki itu memeluknya.


"Kau masih bertanya kenapa?! Dimana hatimu !" Aira berkata dengan intonasi yang tinggi, membuat Keno terkejut karena istrinya selama ini tak pernah berbicara seperti itu.


"Memangnya aku kenapa? Gara- gara ketiduran di kamar Livka tadi? Aku minta maaf sayang, aku lelah jadi aku lebih mudah tertidur."


"Selama seminggu aku tidur sendiri dan kau tidur nyenyak memeluk wanita lain! Bahkan seminggu ini kita seakan jauh walaupun raga di tempat yang sama." Keno tersentak mendengarnya, istrinya benar- benar sakit hati melihat kedekatannya dengan Tiara dan Livka.


"Kau bilang hanya dua atau tiga hari saja, tapi kenapa sampai seminggu! Atau jangan- jangan mereka akan tinggal selamanya di sini ya." Aira menurunkan intonasinya dan melayangkan senyum sinis.


"Aku minta maaf. Dia itu Kakakku bukan wanita lain dan Livka adalah keponakanku. Orang tuanya bercerai, dia merindukan sosok ayah. Ku mohon mengertilah. Besok aku akan berbicara dengan Kak Tiara supaya segera kembali ke rumah Mama." Keno mencoba memeluk Aira dan lagi- lagi wanita itu mendorongnya.


"Aku tidak mau berdebat denganmu lagi!" Aira langsung berbaring dan membelakangi Keno. Air matanya masih berderai.


Keno mengacak- acak rambutnya karena frustasi. Ia tak pernah melihat Aira sangat marah. Ia juga menyadari kalau seminggu ini dirinya sudah kelewatan dan sering mengacuhkan istrinya demi Livka dan Kakak angkatnya itu.


"Sayang, jangan marah- marah lagi, kasihan baby..." Keno mengusap perut Aira dan wanita itu segera menepisnya dengan kasar.


"Baiklah kalau tidak mau disentuh, tidurlah sayang. Lupakan pertengkaran kecil kita tadi." Keno menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya. Tak lupa memberikan kecupan di pipi istrinya.


Aira ingin sekali merobek bibir Keno supaya tak bisa menciuminya lagi. Ia benar- benar kesal dengan suaminya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Rasain tuh Keno😂semoga Aira marahnya lama ya😂🤣


__ADS_2