
Dua tahun berlalu...
Pagi menjelang, Aira tengah disibukkan dengan memandikan dan mengurus semua kebutuhan Aksa. Pagi itu dirinya bangun kesiangan, padahal ia akan ada acara pembukaan cabang toko kue yang baru.
"Sayang, pakein dasiku, dong!" perintah Keno, ia membawa dasi dan menghampiri istrinya.
"Sebentar, Pah. Aksa pakai baju dulu..."
"Biar aku yang memakaikan, kamu yang pakaikan dasiku saja," ucap Keno langsung mengambil alih baju yang dibawa Aira. Ia mendekat dan mencoba memakaikan baju kepada Aksa.
Aira sudah hampir selesai, menyematkan dasi di leher suaminya. Tapi, suaminya itu belum selesai juga memakaikan baju untuk si Aksa.
"Sayang, diamlah dulu. Papa kesulitan memakaikanmu baju!" seru Keno kepada anaknya. Keningnya berkeringat, ia lelah memakaikan baju kepada anaknya karena anaknya itu terus bertingkah, menggeliat ke sama kemari.
"Mama mama..." Aksa tak mau dengan Papanya, ia bangun dan menghampiri Mamanya.
"Mama papa akal..." celetuk Aksa sembari melayangkan tangannya memukul pipi Keno.
"Siapa yang nakal kalau gini? Aksa nggak boleh gitu sama papa, nanti papa nggak beliin susu sama jajan baru tau rasa kamu," ucap Keno menatap lekat wajah anaknya dan melototkan matanya.
Sontak saja si Aksa langsung menangis kencang, ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Mamanya. Sepertinya takut jika mata Keno terlepas dari asalnya.
"Cup...cup...cup sayang, jagoan nggak boleh nangis dong. Nanti kalau Papa nggak mau beliin susu sama jajan buat Aksa kita laporin papa ke penjara ya..." tutur Aira sembari memakaikan baju Aksa.
"Iya Mama..." Semacam tahu saja, Aksa girang dan menepuk tangannya.
"Sekarang kita sarapan dulu ya, ayo Papa kita turun..."
"Iya sayang, biar aku yang menggendong Aksa. Dia sudah besar, kamu pasti capek." Keno mengambil alih Aksa dan mengajaknya turun.
Aira mengambilkan bubur untuk Aksa dan tak lupa menyiapkan sarapan untuk suaminya. "Aksa, ayo makan dulu sayang. Nanti kamu bisa main lagi," ucap Aira kepada anaknya yang tengah duduk di karpet depan televisi asyik dengan mainannya.
"Iya Mama, sebental..." Aksa menunggalkan beberapa mainannya dan berjalan menghampiri Mamanya. Anak itu semakin hari semakin tumbuh menggemaskan. Sudah berlarian kesana kemari, aktif, dan pintar.
__ADS_1
"Makan sendiri, Sa. Biar Mama juga ikut makan," ucap Keno ketika Aira hendak menyuapkan bubur ke mulut Aksa.
"Nggak maoo..." Aksa menggeleng.
"Nanti Papa belikan mobil mainan seperti kemarin lagi kalau kamu mau makan sendiri," bujuk Keno. Selain kasihan dengan istrinya yang selalu makan setelah semuanya selesai, Keno juga ingin melatih anaknya supaya mandiri.
"Jannnjii papaaa..." Aksa mengacungkan jari kelingkingnya membuat Aira gemas dibuatnya.
"Janji." Keno ikut gemas dibuatnya, anak sekecil itu telah mengerti apa itu janji. Sungguh menggemaskan! Keno mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Aksa. Terasa geli karena kelingking anaknya itu sangatlah kecil.
"Mama..."
"Aksa mamam sendili, Aksa mau mobil lagii..." Aksa mengambil sendok dari tangan Mamanya. Ia menyendokkan bubur sedikit demi sedikit ke mulut kecilnya, belepotan. Tapi tak apa, nanti jika sudah terbiasa juga bisa rapi sendiri kalau makan, pikir Aira dan Keno.
"Anak Mama pintar sekali, uwuuu gemes dehh," Aira menghujani wajah Aksa dengan banyak ciuman karena anak itu menghabiskan makanannya meskipun baju dan wajahnya kotor.
"Mobil papa..." Aksa mengulurkan tangannya kepada Keno.
Aksa pun mengangguk antusias. Ia langsung berhambur ke pelukan Keno.
"Pintarnya anak Papa. Let's gooo!!!"
"Let's go papahhh..." sahut Aksa dengan riangnya.
Aira tersenyum melihat keduanya, "Terima kasih sudah mengertiku..." lirihnya dalam hati. Ia lalu mengikuti langkah Keno dan Aksa.
*****
"Papayyy Mama..." ucap Aksa ketika mobil telah sampai di toko kue Aira yang baru. Anak itu mengecup kedua pipi Mamanya sebelum pergi.
"Kamu jangan nakal- nakal ya, nurut sama papa. Okeyyy?"
"Oceee Mama..."
__ADS_1
"Aku titip Aksa ya, nanti kalau aku sudah selesai, aku akan langsung ke kantormu," ucap Aira mengecup kening Keno.
"Kamu itu kaya siapa aja sih, aku itu kan Papanya, jadi sudah wajar jika aku menjaganya." Keno merasa tak suka karena Aira nampak tak enak ketika Aksa ikut dengannya.
"Baiklah, sayang."
Aksa dan Keno melambaikan tangannya kepada Aira ketika mobil mulai melaju meninggalkan toko.
"Semoga Aksa nggak nakal dan semoga Keno tak aneh- aneh dengan anaknya itu," batin Aira. Ia jadi teringat waktu itu Aksa pernah diajak Keno ke kantor, dan anak itu malah diikat Keno dengan selendang di kursi supaya tidak kemana- mana karena Aksa sangatlah aktif dan tak bisa diam, membuat Keno pusing.
*****
Sesampainya di kantor, Keno selalu menjadi pusat perhatian para karyawan wanitanya. Lelaki tampan dengan menuntun anak di sampingnya, membuat kesan tersendiri bagi mereka. Keno adalah lelaki idaman, lelaki penyayang yang sangat diimpikan bagi para wanita.
"Hey Aksa!" sapa Frido dan langsung menggendong Aksa.
"Haoo Om..."
"Tumben sekali kamu ikut Papamu? Ada apa, Nak?"
"Mobil Om..."
"Ohhh, kamu mau dibelikan mobil sama Papamu ya?" tanya Frido yang diangguki Aksa dan tersenyum.
"Mobil mainan atau beneran, nih?"
"Tentu saja mainan, kalaupun aku membelikan mobil beneran sama dia malah berabe urusannya," sahut Keno.
Frido menuntun Aksa ke ruang kerja Keno. Di sana, terdapat ruang main yang khusus dibuat untuk Aksa bila sewaktu- waktu anak itu datang ke kantor.
"Kamu main di sini ya, kalau haus atau lapar bilang sama Om Frido. Papa kerja dulu..." Keno mengusap kepala Aksa sebelum lelaki itu berkutat dengan pekerjaannya.
Aksa pun anteng karena di ruangan itu banyak sekali mainan sama seperti di rumahnya.
__ADS_1