
Ada beberapa hal yang enggak perlu di pusingin, cukup dijalani dan dipahami saja.
~Author Gesrek~
Hehe :v
***
Pagi ini Aira bangun kesiangan, ia terlalu lelah matanya enggan untuk dibuka. Matanya masih sembab karena terlalu banyak menangis.
"Kak Aira kok matanya sembab sih? abis nangis nih pastinya." ucap Hana saat Aira baru datang ke meja makan untuk sarapan.
"Enggak, kurang tidur aja. Udah ah diem aja, cerewet banget." jawab Aira langsung memasukkan roti ke dalam mulutnya.
"Astaga dragon cuma nanya doang ih segitunya."
"Bodoamat Zubaedahhh !"
"Aira nanti pulangnya jangan malam lagi loh, kamu sekarang jadi sering pulang malam terus apa pekerjaan mu sangat banyak?" tanya Bu Mira.
"Tidak kok Mah. Aira berangkat dulu ya mah."
"Mau ke rumah sakit dulu?" tanya Pak Andi.
"Iya pah, mau jenguk Ellen bentar."
"Semoga dia cepet dapet donor jantung ya, Mama jadi tidak tega melihatnya." Papa dan Mamanya Aira ikut sedih ketika mendengar Ellen sakit dan membutuhkan donor jantung secepatnya. Mereka juga sudah menganggap Ellen seperti anak mereka walaupun baru kenal.
Mobil Aira sudah terparkir mulus di parkiran rumah sakit. Rumah sakit besar di kota itu, dimana memiliki 20 cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Rumah sakit dengan standar Internasional dan hanya kaum elit yang dirawat di sana. Biayanya yang mahal membuat rakyat jelata bergidik ngeri.
"Hai Ele, selamat pagi." ucap Aira kepada wanita yang tengah duduk bersandar di atas brankar dengan memainkan iPad Pro.
"Selamat pagi Aira, ayo sini."
Aira tersenyum senang, Ellen lebih baik dari kemarin. Ia juga berharap supaya perkataan dokter yang mengatakan jika dalam dua hari nanti tak segera mendapat donor jantung itu salah.
"Apa kau sudah sarapan dan meminum obat mu?"
"Sudah Aira, tadi aku disuapi Keno."
"Keno sudah ke sini pagi- pagi sekali? Atau semalam dia tidur di sini? Ah bodoamat lah." batin Aira.
"Aira lihatlah." seru Ellen menunjukkan foto melalui iPad nya .
Ia menunjukkan foto dirinya dengan Keno yang tampak sangat bahagia. Mereka sangat terlihat cocok.
"Ah andai aku bisa hidup lebih lama, pasti kami akan segera menikah dan menjadi pasangan paling bahagia."
"Iya Ele, kalian sangat cocok. Pasangan yang sempurna." seru Aira. Air matanya menetes seketika.
"Senyumnya, tawanya, perhatiannya, semuanya pasti akan aku rindukan nanti. Dia lelaki baik, perhatian, penyayang, setia, walaupun terkadang menyebalkan hehe." ucap Ellen terkekeh seraya menitikkan air matanya. Ia mendekap foto itu.
"Aku mencintainya, ku harap kami bisa bertemu lagi di alam sana. Walaupun tak bisa menjadi pasangan di dunia bukankah kita bisa menjadi pasangan di akhirat nanti. Iya kan Aira."
"Apa yang kau katakan, kau akan menjadi pasangan di dunia dan akhirat bersamanya. Kau tidak akan pergi Ele, tidak akan."
"Aku tetap akan pergi Aira, bukankah dokter sudah mengatakannya. Waktu ku hanya dua atau tiga hari lagi, jadi ku mohon tetaplah menemaniku sampai Tuhan menjemputku. Aku ingin kau dan Keno tetap di sampingku." tutur Ellen seraya mengusap pipi Aira yang basah.
"Sudahlah Ele jangan berbicara seperti itu lagi, sampai kapan pun aku akan tetap bersamamu. Sekarang kau istirahat ya, aku akan berangkat bekerja."
Ellen menurut, ia meletakkan iPad nya di nakas dan langsung merebahkan tubuhnya.
"Setelah kau pulang bekerja kau akan kemari lagi kan?"
"Tentu saja Ele, istirahatlah. Semoga lekas sembuh." ucap Aira menarik selimut menutupi tubuh Ellen.
***
__ADS_1
"Kak Alfa." seru Aira saat melihat Alfa sedang berbincang- bincang dengan perawat. Aira pun menghampiri Alfa.
"Hey anak manis, kenapa kau ke rumah sakit sepagi ini?" tanya Alfa seraya mengacak- acak rambut Aira.
"Tidak apa- apa kak, memangnya tidak boleh ya?"
"Siapa yang tidak memperbolehkan? Tentu saja boleh, apalagi kalau kau ke sini untuk menemui ku haha." canda Alfa.
"Apasih kak Alfa ini, kepedeannya level dewaaa."
"Maaf dokter, jam praktek akan segera dimulai. Kasihan anak- anak sudah menunggu." ucap perawat yang sedari tadi di samping Alfa.
"Baiklah, ehm Aira aku..."
"Aku akan ikut kak Alfa memeriksa anak- anak. Ayo kak."
"Kau tidak bekerja?"
"Bekerja, tapi siang nanti hehe."
Aira mengikuti Alfa di ruang prakteknya. Ia merasa senang karena bisa melihat anak- anak kecil. Bahkan ia juga diberi kesempatan untuk menggendong bayi- bayi. Mood Aira kembali baik.
"Sepertinya kau suka sekali dengan anak- anak." seru Alfa melihat Aira yang sedang bercanda dengan bayi lelaki berumur 5 bulan.
"Iya aku sangat menyukai anak kecil, mereka menggemaskan ahhh aku ingin menggigit pipinya." ucap Aira gemas seraya mencoel- coel pipi anak itu.
"Jangan terlalu keras, nanti bisa menangis dia."
"Dia tidak akan menangis kak, iya kan baby." ucapnya meminta persetujuan bayi itu. Namun sang bayi malah menangis dibuatnya.
"Tuh kan nangis, kamu sih haha."
"Aduuhhh baby kenapa kau menangis, cup cup cupp." Aira langsung menggendong bayi itu dan menenangkannya karena ibu bayi sedang pergi ke kamar mandi.
Alfa dan Aira sangat dekat, berdiri berhadap- hadapan seraya berceloteh dengan bayi itu.
"Sayang, jangan menangis ya. Lihat itu digendong sama tante cantik, jangan nangis lagi dong." ucap Alfa mengelus kepala bayi yang sedang berada di gendongan Aira.
Alfa ikut tertawa mendengarnya, "Kau pikir dia akan mengerti ucapan mu? Ada- ada saja kau ini."
"Ehem ehem, saya masih di sini loh. Mesra- mesraan aja terus." goda perawat yang ada di ruangan Alfa.
"Apaan sih kau ini."
"Ehh kalian cocok loh jadi orang tua, pasangan yang serasi cepet nikah gih. Biar punya anak sendiri, pasti akan sama menggemaskannya seperti bayi itu." ucap perawat membuat Alfa dan Aira tersipu malu dan wajah mereka merah bak tomat.
"Perawat itu benar sekali kalau bicara, aku dan Aira memang terlihat serasi hihi." batin Alfa.
"Tuan Keno, kenapa Anda di situ? Em silakan masuk Tuan." seru perawat.
Aira dan Alfa pun menoleh ke arah pintu, yang ternyata ada Keno berdiri memandangi mereka dengan tatapan sendu. Aira segera membuang mukanya, ia enggan sekali menatap wajah Keno.
"Apa aku sebegitu menjijikkannya sehingga untuk menatap saja kau tidak mau lagi, Ra." Keno terus bertanya pada dirinya sendiri.
"Untuk apa kau kemari, bukankah ruang perawatan mantan mu bukan di sini." seru Alfa membuat Keno mengepalkan tangannya.
"Untuk apa saya kemari itu bukan urusan Anda Dokter Alfa."
"Memang bukan urusan saya, kalau begitu pergilah dari sini. Kau mengganggu ku bekerja."
"Cihhh bekerja atau apa, kau saja malah bermesraan dengan Aira."
Keno sangat kesal dengan Alfa, ia pun berlalu meninggalkan ruangan anak itu dengan penuh emosi.
"Argghhh, Aira benar- benar kecewa dengan ku. Dia akan meninggalkan ku, hubungan yang baru saja terjalin hancur gara- gara kebodohan ku sendiri." lontar Keno merutuki dirinya sendiri.
***
Sesampainya di kantor, Keno langsung menyibukkan dirinya dengan banyak pekerjaan. Ia sangat lelah memikirkan kejadian akhir- akhir ini.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan. Ini laporan bulan ini." ucap Frido meletakkan berkas di meja Keno.
"Apa sudah ada donor jantung untuk Ellen?"
"Kemarin sudah ada yang menawarkan donor jantung, kurang lebih ada lima orang, Tapi..."
"Seleksi mereka dan segera bawa ke rumah sakit jangan sampai terlambat. Siapkan juga uang yang sudah ku janjikan."
"Aku sudah membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan apakah cocok atau tidak, dan tak ada satu pun diantara mereka yang sesuai dengan Ellen."
Brakkk !!! Keno menggebrak meja. Ia merasa kesal karena tak kunjung mendapat donor jantung untuk Ellen. Ia sudah tidak sanggup melihat orang yang pernah mewarnai hidupnya itu merintih kesakitan.
"Tenanglah, kita pasti akan segera mendapatkannya. Kau tak perlu khawatir."
***
Sore pun tiba...
Sesuai dengan janjinya tadi, Aira pergi ke rumah sakit lagi setelah beristirahat sejenak dan membersihkan tubuhnya.
Saat hendak memasuki ruang VVIP dimana Ellen dirawat, Aira dan Keno berpapasan. Aira tak menghiraukan kehadiran Keno, ia lalu melenggang masuk terlebih dahulu.
"Eh Aira, sini Nak. Akhirnya kamu dateng lagi."
"Hehe iya, Om." jawab Aira seraya mencium tangan Papa Ellen.
"Eh ada Keno juga kebetulan sekali ini, saya mau pamit dulu sebentar ada urusan. Tolong temani putri saya ya."
"Baik, Om."
Tinggalah mereka bertiga di ruangan itu. Aira langsung duduk di kursi samping brankar Ellen. Begitupun dengan Keno, ia duduk di kursi samping Aira. Jarak kursi mereka sangat dekat, Aira pun menggeser sedikit kursinya supaya jauh dari Keno.
"Bagaimana pekerjaan mu tadi, Aira?"
"Menyenangkan."
Aira dan Ellen mengobrol dan tak menggubris Keno sedikitpun. Keno yang merasa Aira mengacuhkannya bahkan menganggap tidak pernah mengenalnya pun sedih. Hatinya terasa sesak, melihat orang yang dicintainya perlahan menghindari dirinya. Ah, Keno tak bisa jika didiamkan Aira terus menerus.
"Aaarrggghhh."
"Aaarrggghh sakiiittt...hikss ini sakit sekali..." Ellen merintih kesakitan meremas dadanya. Aira dan Keno pun panik dibuatnya.
"Keno sakittttt..hiks sakit sekali."
Karena panik, Aira berlari keluar mencari dokter padahal ia bisa menekan tombol yang ada di sampingnya saja.
Dokter spesialis jantung yang merawat Aira pun segera datang dan memeriksa Ellen. Tak lama kemudian, Ellen membaik dan tertidur.
Aira mengikuti langkah dokter spesialis jantung itu keluar dari ruangan Ellen hendak berbicara sesuatu kepadanya.
"Maaf dokter saya ingin berbicara sebentar."
"Oh iya Nona, silakan ingin berbicara apa." ucap Dokter itu sopan.
"Apa tidak ada cara lain selain donor jantung?"
"Satu- satunya cara untuk menyelamatkan Nona Ellen adalah donor jantung. Namun sampai sekarang belum ada pendonor yang sesuai."
"Bisakah dokter mengecek jantung saya? siapa tau cocok dengan Ellen."
"Tapi Nona..."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Like&votenya jgn lupaa kakak- kakak ehe🤗