
Sore hari merupakan waktu yang tepat untuk bercerita, mengenang, dan bersyukur atas apa yang dilimpahkan Tuhan hari ini. Banyak yang dapat kita rasakan ketika senja mulai menyapa. Ketika matahari yang selalu terlihat indah harus kembali ke pangkuannya, semua mata tertuju akan keindahannya. Semburat warna merahnya memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap insan, terutama para penikmat senja.
Keno dan Aira masih setia duduk di tepi kolam renang dan menceburkan kaki mereka ke air. Dengan tangan yang tetap menggenggam satu sama lain, menikmati sore seperti biasanya.
"Kau yakin tetap ingin bekerja?" tanya Keno.
Aira mengangguk pelan, "Iya, untuk beberapa bulan lagi. Setelah itu aku akan berhenti bekerja dan akan mengurus toko kue saja."
"Aku takut kau kenapa- kenapa."
"Aku akan baik- baik saja. Kau jangan mengkhawatirkan aku," jawab Aira seraya mendaratkan kecupan di pipi kiri Keno.
"Kau menggodaku?"
"Tidak, siapa juga yang mau menggoda," cebik Aira. Keno langsung menghujani Aira dengan ciuman.
"Kebiasaan deh, kalau aku nyiumnya sekali kamunya malah berkali- kali."
"Udah mau malam nih, masuk yuk." Keno membantu Aira untuk berdiri dengan hati- hati.
"Awas licin pelan- pelan saja." Keno cemas karena Aira berjalan cepat padahal lantainya licin.
Karena takut istrinya terjatuh, ia pun langsung menggendong Aira ala brydal style. Sontak Aira terkejut dengan aksi Keno, terlalu berlebihan, pikirnya.
***
Malam harinya, Keno dan Aira sedang berada di meja makan untuk menyantap makan malam. Keno dengan lahap menyantap makanan yang telah dimasak istrinya bersama Bi Ijah itu. Berbeda dengan Aira, ia sama sekali tidak bernafsu untuk memakan makanan itu walaupun ia sendiri yang memasaknya.
"Kenapa cuma putar- putar sendok sih? Sini aku suapin." Keno menyodorkan sesuap nasi ke mulut Aira. Lelaki itu terus melototi Aira hingga membuat Aira membuka mulutnya dan menerima suapan.
"Anak pintar, makan yang banyak ya, sayang," ucap Keno menepuk- nepuk kepala istrinya.
"Aku sudah kenyang, jangan menyuapiku lagi," seru Aira seraya menyeruput jus jeruk yang telah dibuatkan suaminya tadi.
"Baru juga lima sendok mana kenyang. Ayo makanlah lagi, kasihan baby kalau hanya makan sedikit saja."
Aira terus menggeleng dan menutup mulutnya dengan tangannya saat Keno mencoba menyuapinya lagi.
"Kau mau makan apa biar Bi Ijah buatkan. Kau harus makan yang banyak, jangan seperti anak kecil yang sulit makan seperti ini," ucap Keno dengan nada sedih.
"Aku mau makan makanan ringan saja, aku tidak mau makan nasi."
"Makanlah batu kalau tidak mau makan nasi," celetuk Keno, ia sedikit kesal dengan istrinya yang sulit sekali menerima makanan.
"Masakkan saja, nanti aku makan," balas Aira terkekeh.
"Ish, menggemaskan sekali istriku ini." Keno mengacak- acak rambut Aira dengan gemas.
"Ambil sweatermu, kita pergi jalan- jalan mencari makanan yang bisa kau makan," pinta Keno. Ia segera mengambil kunci mobilnya.
"Pakai sweaternya dengan benar, biar kau tidak terkena angin malam, kalau tidak mau memakainya mending tidak keluar," gerutu Keno seraya membenarkan sweater istrinya.
"Kita mau kemana, sayang?" tanya Aira ketika mobil mulai melaju meninggalkan rumah.
"Ehm, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Tidak ada," ucap Aira menggelengkan kepalanya.
"Aku juga bingung kita mau kemana, kalau begitu pulang saja lah daripada tidak jelas begini," ucap Keno menggoda Aira.
"Tidak mau pulang, baru juga keluar masa iya mau kembali lagi." Aira melipat tangannya di dada dan sedikit merajuk.
"Baiklah- baiklah, kita tidak akan pulang," seru Keno seraya mengacak- acak rambut istrinya dengan tangan kirinya.
"Fokus sama mobilnya, jangan mengacak rambutku terus."
Jalanan mulai macet, banyak sekali para pejalan kaki, kendaraan bermotor, dan mobil yang memadati sebuah area.
__ADS_1
"Kita mau ke sana?" tanya Aira seraya menunjuk ke arah bazar yang sudah dipadati para pengunjung.
"Tidak suka?"
"Sangat suka !" jawab Aira dengan penuh semangat.
Usai menepikan mobilnya sesuai arahan tukang parkir, Aira dan Keno keluar dengan bergandengan tangan.
"Aww..." Aira memekik kesakitan tatkala ada salah satu pemuda yang menyenggol lengannya dengan keras, untung saja Keno segera menopang tubuhnya jadi tidak terjatuh.
"Hey kalau jalan itu pakai mata! Kau akan melukai orang lain nantinya! Kau mau ku cekik lehermu itu !" bentak Keno kepada pemuda itu.
"Ma- maaf pak, saya tidak sengaja, saya buru- buru permisi." Pemuda itu langsung terbirit- birit saat menatap Keno yang tersulut emosi.
"Sayang jangan marah, ini 'kan sudah biasa terjadi kalau di tempat keramaian seperti ini. Sudah ya kita lanjut saja." Aira mengusap dada suaminya berharap suaminya itu tidak marah lagi.
"Masih muda begini dipanggil Pak !" umpat Keno memandang pemuda yang berlari tadi.
"Apa kau lupa kalau sebentar lagi akan menjadi Papa, jadi nggak papa dong dipanggil 'Pak'," ujar Aira terkekeh.
"Iya, tapi aku 'kan Papa muda. Pokoknya aku tidak mau dipanggil Pak."
"Dasar aneh."
Mereka segera berjalan menuju ke pintu masuk bazar. Pengunjung semakin ramai ketika malam, jadi untuk masuk harus mengantri terlebih dahulu. Banyak para pemuda dan pemudi yang menghabiskan waktunya di bazar dadakan yang diadakan pemerintah selama seminggu dan hanya satu bulan sekali.
Di dalam bazar, banyak sekali para penjual yang telah berjajar rapi menjajakan barang dagangan mereka. Seperti makanan, pakaian, pernak- pernik, dan masih banyak lagi. Di sana juga ada beberapa pertunjukan rakyat.
"Mau makan apa? Beli sepuasmu, semuanya juga boleh." Keno menyuruh istrinya untuk memilih makanan apapun.
"Semuanya boleh? Kalau begitu aku ingin abang penjual tteobokki itu sajalah, orangnya mirip dengan anggota BTS, tampan sekali," kata Aira seraya menunjuk penjual makanan beras khas korea itu.
"Jangan membuatku marah, itu hanya orang Korea KW. Bukankah aku lebih tampan darinya." Keno merajuk.
"Iya- iya, ayo kita beli !" Aira menarik tangan Keno menuju ke penjual Tteobokki. Ia segera memesan dua porsi. Setelah menunggu beberapa saat, pesanannya pun sudah jadi.
"Bayarlah sayang, aku sudah mendapatkan makanannya," ucap Aira.
"Ayihh, aku 'kan tidak membawa dompet. Lagipula kau yang mengajakku kemari, jadi kau yang membayarnya."
"Aku hanya bercanda, kau itu lucu sekali," ucap Keno terkekeh.
Usai membayar, mereka melanjutkan berjalan seraya menikmati tteobokki.
"Kenapa tidak kau makan?" tanya Aira ketika melihat punya Keno masih utuh.
"Lidahku tidak cocok untuk makanan KW seperti ini, aku sudah pernah merasakan yang asli," serunya.
"Jiwa Presdirnya kumat !" batin Aira.
"Makanlah sedikit saja, jangan terlalu banyak makan makanan pedas seperti ini."
"Iya sayang."
Mereka berjalan pelan dan terus mengitari area bazar dan sekali- sekali mampir ke stand yang menjajakan streetfood. Tangan Keno sudah mulai penuh dengan kantong plastik berisi makanan yang Aira inginkan. Tapi, Aira belum merasa puas, ia masih saja membeli makanan- makanan lain.
"Kau yakin akan menghabiskannya? Ini sangatlah banyak, apa perutmu muat?" tanya Keno.
"Iya aku akan mencoba menghabiskannya, kalau tidak habis 'kan masih ada kau," jawab Aira enteng.
Usai dirasa puas telah membeli makanan begitu banyak, Keno mengajak Aira duduk di tempat yang disediakan untuk para pengunjung nongkrong dan menikmati makanan.
"Kalau makan nasi tidak mau, tapi makan makanan seperti ini doyannya minta ampun," seru Keno.
"Entahlah, streetfood seperti ini rasanya enak," jawab Aira dengan mulut penuh. Ia memakan beberapa tusuk sate madura.
"Sayang, kau makanlah. Jangan hanya melihatku." Aira menyuruh suaminya untuk makan juga.
__ADS_1
"Aku masih kenyang, tadi 'kan aku makan banyak."
"Ini makanlah," Aira menyodorkan Takoyaki ke mulut Keno. Tidak mau membuat istrinya kecewa, Keno pun memakan makanan khas Jepang tersebut.
Aira juga menyuapi Keno, Kebab, sosis bakar, telur gulung, *c*hurros, corn dog, stik mozzarella, dan makanan lain yang telah ia beli tadi.
"Kenapa jadi aku yang memakan semuanya? Lihat perutku mulai membuncit," keluh Keno seraya menunjukkan perutnya yang memang sedikit buncit.
"Tidak apa, biar dedeknya sehat," seru Aira seraya mengusap perut Keno.
"Kau yang hamil bukan aku, apa- apaan kau ini."
Aira tertawa lepas melihat Keno yang merajuk. Tapi, ia terus saja menyuapi suaminya itu hingga Keno hampir muntah.
"Berikan minumanmu itu, aku haus..."
"Ini minumlah."
"Hey Keno !" seru lelaki yang tiba- tiba duduk di bangku kosong depan Aira dan Keno.
"Eh, Kak Amar. Apa kabar, Bro? Kau di sini juga ternyata." Keno menyalami Amar.
Amar adalah suami dari kakak angkat Keno yang bernama Tiara. Ya, Keno sebenarnya mempunyai Kakak angkat, tapi kakak angkatnya itu tinggal di Jepang bersama suaminya, Amar.
"Iya, tadi kebetulan lewat sini. Mampir sekalian soalnya belum makan juga, hehe," jawab Amar, yang sedari tadi terus saja memperhatikan Aira.
"Bagaimana Kak Tiara dan Livka? Apa mereka ikut ke Indonesia juga?"
"Iya, mereka sedang di rumah Mama Maria."
"Apa kau jadi bercerai dengan Kak Tiara? Bagaimana Livka nantinya, apa kalian tidak memikirkannya?" tanya Keno.
"Entahlah, pernikahanku dengannya sudah tak bisa dipertahankan lagi," jawab Amar tersenyum getir.
"Aku selalu mendo'akan kalian, semoga keputusan kalian ini yang terbaik," kata Keno seraya menepuk bahu Amar.
Usai berbincang- bincang dengan kakak iparnya, Keno pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
"Sayang, siapa lelaki yang berbicara denganmu tadi?" tanya Aira ketika sudah memasuki mobil.
"Itu suaminya Kak Tiara."
"Siapa Kak Tiara?" Aira sangat penasaran, karena memang Keno belum pernah bercerita kepada istrinya.
"Dia kakak angkatku. Dulu Mama, menemukannya di jalanan sedang menangis dan kelaparan. Akhirnya Mama mengadopsi karena kasihan dengannya, dia sudah tak memiliki ayah dan ibu."
Aira mengangguk mendengar penjelasan dari Keno.
"Dia tinggal di Jepang bersama Kak Amar, jadi kau belum pernah bertemu sebelumnya. Saat pernikahan kita mereka juga tak bisa datang."
"Kapan- kapan aku akan mengajakmu ke rumah Mama untuk berkenalan dengannya. Dia pasti akan menyukaimu. Sekarang dia akan tinggal bersama Mama lagi karena sudah bercerai dengan Kak Amar."
"Lalu, Livka itu siapa?" tanya Aira lagi.
"Anaknya Kak Tiara dan Kak Amar. Kasihan dia, masih kecil tapi orang tuanya malah bercerai."
.
.
.
.
.
Hari ini satu episode saja ya guys, maaf lagi kurang enak badan soalnya hehe😂
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Adha🤗
Minal Aidzin wal Faizin teman- teman🙏