Hello Presdir

Hello Presdir
Jarak Jauh


__ADS_3

Aira sendiri merasa sangatlah senang saat dirinya dinyatakan hamil. Dan benar saja dengan perkataan Sandi dan dokter Ilham jika dirinya bukan menstruasi melainkan pendarahan implantasi.


Pasti Keno juga senang mendengarnya. Tapi dimana anak itu sekarang? Berjam- jam lamanya menunggu tapi Keno tak juga datang, membuat Aira sedikit kesal. Ia pun mencoba menghubungi Keno. Segeralah ia mengambil benda pipih dari dalam tasnya.


Raut wajahnya langsung berubah tatkala membaca pesan dari Keno yang mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di luar kota untuk menangani proyek.


"Kenapa kau malah pergi..."


Aira kembali merebahkan tubuhnya. Ia benar- benar menginginkan Keno di sampingnya, memeluknya erat, dan mengecupi wajahnya dengan penuh cinta.


"Awas saja kalau kau sudah kembali, aku akan menjewer telingamu sampai putus," lirih Aira seraya memandangi foto Keno.


"Ehm, Baby...Terima kasih sudah hadir, Mama sangat menyayangimu. Maafkan papamu ya, papa itu sangatlah nakal. Dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada kita, Mama akan menghukumnya jika Papa sudah pulang," lanjut Aira berbicara seraya mengusap perutnya yang masih datar.


***


Sesampainya di luar kota, Keno langsung menuju ke anak perusahaannya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang cukup penting. Ia baru istirahat malam harinya di hotel yang telah dipersiapkan Frido. Ia berjalan gontai memasuki kamarnya. Anak itu sudah merindukan istrinya.


Ia segera mengambil benda pipih di saku celananya dan menghubungi istrinya.


"Hey, kenapa tadi siang tidak menjawab telponku? Tidak membalas pesanku juga sampai sekarang. Sudah berapa kali aku bilang kalau kau harus selalu mengaktifkan ponselmu." Keno terus saja mengomel, sedangkan Aira hanya diam menatap layar ponsel yang menunjukkan wajah suaminya itu. Ia sudah sangat terbiasa dengan celotehan sang suami.


"Ini jam tujuh kenapa sudah mau tidur? Kenapa selimutnya berbeda dengan selimut yang semalam? Apa kau menggantinya?" Keno heran saat melihat Aira berbaring dan memakai selimut, tapi selimut yang dipakai bukan selimut yang semalam. Keno tidak tahu jika selimut itu adalah selimut rumah sakit.


"Iya aku menggantinya, kenapa kau cerewet sekali," jawab Aira dengan malas.


"Kenapa cemberut? Ayo tersenyumlah, aku tidak suka jika kau cemberut."


"Bagaimana aku tidak cemberut ! Kau pergi begitu saja dan tidak berpamitan secara langsung denganku. Harusnya kau memberitahuku jauh- jauh hari." Kini giliran Aira yang mengomeli lelaki itu.

__ADS_1


"Ini dadakan sayang. Tadi siang tiba- tiba saja Frido mengajak ke sini. Aku sudah menolaknya tapi aku juga sadar kalau proyek ini sangat penting dan Frido tak bisa menanganinya sendiri," jelas Keno membuat Aira semakin marah karena suaminya lebih mementingkan sebuah proyek daripada dirinya.


"Alasan saja ! Kau lebih mementingkan proyek daripada diriku, kau lebih menyayanginya daripada aku. Kau jahat hu...huuu..." ucap Aira tersedu. Wanita itu menangis, ia sendiri juga tak tahu kenapa ia bisa menangis begitu saja, suasana hatinya benar- benar kacau. Mungkin ini faktor kehamilan, pikirnya.


Keno mengernyitkan dahinya, melihat istrinya menangis. Kalau saja mereka dekat, pastilah Keno segera mendekap dan mengusap air mata Aira.


"Sayang, kenapa kau menangis. Maafkan aku, aku janji akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan segera pulang. Lain kali aku juga akan mengajakmu jika harus ke luar kota." Aira semakin menangis mendengarnya.


Keno membiarkan Aira menangis sampai wanita itu berhenti dengan sendirinya. Aira menangis selama tiga puluh menit membuat Keno semakin teriris dan merutuki dirinya kenapa ia memilih pergi ke luar kota.


"Kau cepatlah pulang," seru Aira setelah tangisannya mereda.


"Kau sudah merindukanku, sayang?"


"Tidak ! Aku hanya ingin kau membuatkan aku jus jeruk lagi seperti semalam."


Keno membuang nafasnya kasar, kalau saja Aira ada di dekatnya sudah dipastikan ia akan mencubit kedua pipi wanita itu.


"Jangan membentakku ! Intinya kau harus segera pulang."


"Sayang, aku tidak membentak. Aku berbicara biasa dan lembut."


"Sudahlah, kau tidur saja sudah malam. Kau pasti lelah," ucap Aira.


"Aku yakin tidak bisa tidur karena tidak memelukmu."


"Lebay deh," cebik Aira.


"Bukankah kau juga begitu? Aku jadi teringat saat kau menyuruhku tidur di sofa, lalu kau menyeretku untuk tidur di ranjang," ucap Keno menggoda Aira.

__ADS_1


"Pinggang dan Kakiku sangat sakit saat kau jatuhkan berkali- kali ketika lelah menyeretku," tambah Keno lagi.


Wajah Aira menahan malu mendengarnya, ia memang sudah terbiasa tidur dengan Keno walaupun Keno sering mengigau dan ngorok sedikit, Aira tetap merasa nyaman tidur dengannya.


"Panggilannya jangan dimatikan ya sampai kita tertidur."


"Baiklah sayangku."


Aira menguap dan menutup mulutnya. Keno tak sengaja melihat infus yang terpasang di tangan Aira.


"Sayang, itu tanganmu seperti ada infus? Kau sedang dimana memangnya?" Keno menjadi panik, ia yakin kalau yang ia lihat tadi adalah infus.


Aira jadi kelabakan, ia berencana untuk tidak memberitahukan Keno terlebih dahulu jika ia sedang hamil dan saat ini dirawat di rumah sakit. Aira bermaksud menjadikan kabar bahagia ini kado spesial karena sebentar lagi Keno akan ulang tahun.


"Bu- bukan, mana mungkin aku diinfus." Aira menjawabnya dengan terbata- bata.


"Baiklah, mungkin aku salah lihat. Ayo sekarang tidur saja. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur. Selamat malam istriku, sampai bertemu dua hari ke depan, muachhh...." Keno menempelkan bibirnya di ponselnya, begitu juga Aira.


.


.


.


.


.


Jangan lupa baca juga "young Marriage"

__ADS_1



Nggak kalah seru kok hehe🤗jgn lupa baca ya, terima kasih


__ADS_2