Hello Presdir

Hello Presdir
Bentuk Cinta


__ADS_3

Malam ini Aira akan menemui mama dan papanya. Ia sudah merindukan kedua orangtuanya itu.


"Ken, aku mau ke rumah papa. Engga nginep kok, cuma main sebentar."


"Ikut."


"Jangan."


"Masa mau ketemu calon mertua engga boleh."


"Kamu apaan sih, kok jadi ikut- ikutan Papa sama Mama. Yaudah ayoo."


Keno segera mengambil kunci mobilnya dan melajukan mobilnya ke rumah calon mertua, eh maksutnya orang tua Aira.


"Udah engga sabar deh ketemu mereka," goda Keno.


"Apaan sih." Seketika wajah Aira sangat merah seperti udang rebus.


"Wajah kamu kok merah? Kamu demam?" tanya Keno pura- pura tidak tahu.


Aira tidak menjawabnya. Ia hanya bingung dengan sikap Keno akhir- akhir ini, dia sangat memerhatikan Aira, melakukan Aira layaknya kekasihnya, sering ngobrol bareng, bercanda, tertawa, dan lainnya. Sepertinya Aira sudah mulai menaruh rasa dengan Keno namun ia juga tidak tau pasti bagaimana Keno sebenarnya.


"Aira, nak Keno," ucap Pak Andi dan langsung memeluk mereka berdua.


"Papa sehat, kan?"


"Tentu saja, ayo kita masuk," ajak Pak Andi dan tersenyum senang.


"Mamaaaa!!!" teriak Aira dan langsung memeluknya.


"Aira kangen mama. Mama sehat, kan?"


"Sehat, sudah lepasin mama. Mama engga bisa nafas." ucap Bu Mira datar.


Huh mama, masih aja dingin kalau sama Aira. batin Aira.


"Eh nak Keno ke sini lagi ya. Pasti kangen sama Tante."


"Tentu saja, Tante," ucap Keno dan langsung menyalaminya.


"Kita makan malam bareng ya, jarang- jarang lo nak Keno makan sama kita," ajak Pak Andi.


"Tentu saja Om, Tante."


"Jangan panggil Om, Tante. Panggil Mama sama Papa, kaya Aira," ucap Bu Mira.


"Iya, sebentar lagi kan kamu jadi menantu kami. Jadi harus dibiasakan dari sekarang," tambah Pak Andi.


DEG.


DEG.


Aira seperti mati mendengar ucapan orang tuanya, padahal ini hanya bercanda saja tapi Papa Mamanya malah seserius ini.


Yes, yes, yes. Orang tuanya kasih lampu hijau hahaha. batin Keno.


"Okay Om, Tante. Eh, maksudnya Mama sama Papa hehe," ucap Keno yang menggelakkan tawa orang tua Aira. Mereka pun segera menyantap makan malam.


"Mah, biar Keno ambil sendiri saja, Keno bisa kok," ucap Keno.


"Sudah tidak apa, Mama senang sekali kamu makan bareng sama kami," ucap Bu Mira.


"Mama ini kesenengan punya mantu, suaminya di lupain," ucap Pak Andi cemburu.


"Papa ambil sendiri ya, kan papa tiap hari Mama layani. Sekarang giliran mama manjain menantu tampan ini," ucap bu Mira mencubit dagu Keno.


"Mbak mbak, belum jadi menantu aja sudah begini gimana kalau sudah menikah sama Aira," ujar Mama Hana menggelengkan kepalanya.


"Kaya kamu engga aja sama calon menantu mu si Raka itu. Haha."


Aku harus berterima kasih pada Keno, biasanya saat makan tidak ada kehangatan seperti ini yang ada hanyalah dentingan sendok dan keheningan saja. Tapi saat Keno ada, aku merasakan kalau Papa dan Mama sedikit berubah. batin Aira.


Mereka menyantap makan malam dengan suasana yang berbeda saat ini. Benar- benar suasana keluarga yang sesungguhnya. Setelah makan malam selesai Keno dan Aira berpamitan untuk pulang.


"Ken." Aira melirik Keno yang serius menyetir mobil.


"Hm."


"Sorry ya soal mama papa."


"Sorry kenapa?"


"Kamu pasti risih dibilang calon menantu terus, suruh manggil mama papa juga lagi. Nanti aku bilang pelan- pelan sama mereka biar jelas dan engga ada yang ditutup- tutupin."


"Siapa yang risih, aku malah suka kok."


"Tapiii..."


"Nanti mereka malah kecewa, udah biarin aja. Lagi pula kan aku emang calon mantu nya mereka hahahaa," ucap Keno tertawa.


"Ihh, dasar nyebelin." Aira mencubit perut Keno tapi Keno malah semakin tertawa.


"Ra, udah sampe nih engga mau turun?" tanya Keno.


"Lah dia malah udah tidur."


Karena Keno tidak tega membangunkan Aira yang terlelap, ia menggendong Aira hingga ke kamar dan membaringkannya pelan agar tidak terbangun.


Keno tidak segera kembali ke kamarnya, ia memandang wajah Aira dan menyibakkan anak rambut yang menutupinya.


"Cantik," ucap Keno tersenyum.

__ADS_1


"Ra, aku menyayangimu. Mimpi yang indah," bisik Keno dan mencium kening Aira.


Deg. Aira mendengar semua yang dikatakan Keno, sebenarnya ia sudah bangun saat Keno mencoba menggendongnya.


Aira kalut memikirkan Keno. Ahh ternyata dia jatuh cinta beneran sama aku. gumam Aira.


"Tapi bagaimana denganku? Apakah aku juga sama? Saat aku berdekatan dengannya jantungku seakan mau copot dari tempatnya, dan akhir- akhir ini kita dekat sekali dan aku menyukainya."


"Tapi entahlah, mungkin dia bercanda tadi. Dia juga pastinya udah punya pacar, mana ada orang setampan dia tidak punya pacar. Haha, pasti malah lebih dari satu," gumam Aira.


Aira terus saja memikirkan ucapan Keno. Serius atau sedang bercanda? itu yang berada dalam pikirannya sekarang.


Di kamarnya, Keno terus merutuki kebodohan dirinya sendiri yang bisa- bisanya mencium kening Aira dan mengucapkan sesuatu tadi. Ya walaupun Aira sedang tertidur.


"Kayanya aku emang beneran jatuh cinta sama dia, senang banget bisa sedeket itu sama dia. Walaupun aku masih suka ngerjain dia, hahaha," ujar Keno.


"Tapi perasaan dia bagaimana? Apa dia merasakan juga apa yang aku rasakan? Apa dia masih mencintai Raka? Apa dia sudah melupakannya dan bahkan sudah mempunyai pengganti?"


"Ahh bodohnya aku, dia kan cantik, pintar, baik pasti banyak yang berminat dan mana mungkin juga dia suka sama aku," gumam Keno.


"Ah kenapa ini otak isinya Aira Aira Airaaaaa terus," ucap Keno mengacak- acak rambutnya.


***


Pukul 04.00


Pagi ini Aira mendapat jatah membawakan berita pagi hari, jadi ia harus berangkat pukul lima pagi karena akan dimulai jam enam tepat.


Sebelum berangkat ia akan memastikan keperluan Keno dulu, setelah selesai mandi dan bersiap ia menuju kamar Keno.


"Huh masih tidur ternyata," gumam Aira. Ia langsung mengambilkan satu stel pakaian, jam tangan, sepatu, dan aksesoris lainnya. Ia menaruhnya di sofa.


Sejenak memerhatikan Keno, Aira pun mendapat ide untuk mengerjainya. Ia mengambil spidol yang ada di nakas dan mulailah mencoret wajah putih mulus Keno.


"Aduhh kok malah gambar love sih," lirih Aira pelan ketika ia baru sadar karena menggambari wajah Keno bentuk love. Mulai dari kening, hidung, pipi, dan dagu semua digambari love.


"Pffttt, engga papa lah, lucu juga dia," lirih Aira pelan dan memandangi Keno seksama.


Tak lupa ia mengabadikan momen itu, banyak foto yang diambil Aira.


"Tampan, lucu, dan menggemaskan. Ah, andai kau tidak terlalu dingin dan tidak usil, pasti kau akan terlihat lebih sempurna lagi hihi," ucap Aira pelan dan mencubit pipi Keno pelan namun sang pemilik tak bergeming sedikitpun.


Setelah menggambari wajah Keno dan puas memainkan pipinya, Aira menuju dapur untuk membuat sarapan.


"Loh Nak, udah bangun, kok udah rapi juga?" tanya Bi Ijah.


"Iya, Bi. Aira bawain beritanya pagi."


"Ohh gitu ya, Nak."


"Heem, Bi nanti tolong buatin Keno sarapan ya. Baju sama keperluan Keno udah aku siapin kok. Aira pamit dulu ya Bi, Assalamu'alaikum, Bi." pamit Aira.


Aira sedikit terlambat karena ada kecelakaan di jalan jadi macet. Ia tiba di kantor pukul 05.30


"Aira cepet, kenapa jam segini baru datang sih," ujar teman Aira.


"Aduh tadi macet, ini gue bawain berita sama siapa nih."


"Engga tau gue, udah cepet lo ke ruang make up sana."


"Iya, byee," ucap Aira dan berlari menuju ke ruang make up.


"Haii Aira cantik," ucap Wildan.


Wildan adalah orang yang suka sama Aira namun tak pernah dihiraukan. Ia terus menggoda Aira. Wildan memang tampan, tapi ia sebenarnya fake boy. Banyak sekali wanita yang dekat dengannya dan tak pernah serius dianya. Karena itu Aira tidak suka dan lebih baik diam jika jurus fake boy Wildan keluar.


"Gue bawain berita sama lo?" tanya Aira.


"Iya nih, kita berdua kayanya emang ditakdirin jodoh kali, ya."


"Enak aja jodoh, gue engga mau ya sama lo. Udah ah, lo jauh- jauh aja sama gue."


"Kita engga bakal jauh lah, satu sofa duduk berdua bercakap dan membawakan berita."


"Aduh bodoamat, nanti pokoknya lo harus bisa profesional jangan bikin darah gue naik," ketus Aira.


"Kalau naik, ya tinggal diturunin dong cantik."


Aira tak membalas perkataan Wildan karena jika dibalas malah tidak akan ada akhirnya.


Tepat pukul enam, Wildan dan Aira sudah mulai membawakan berita. Mereka duduk di sofa berdua, karena kalau pagi memang yang membawakan berita dua orang, laki- laki dan perempuan.


***


"Airaaaaaaaaaaa!!!" teriak Keno ketika mendapati wajahnya yang penuh dengan coretan tinta. Tak berfikir panjang Keno yakin Aira lah yang menggambari wajahnya. Ia langsung menuju ke kamar Aira namun kosong dan akhirnya ia turun ke dapur.


"Bi, Aira mana?"


"Pfffffftttthh, Nak Aira sudah berangkat jam lima tadi, Tuan. Katanya harus bawain berita pagi," ucap Bibi menahan tawa ketika melihat wajah Keno.


"Awas saja kalau ketemu, akan aku cabik- cabik kau."


"Kata nak Aira, dia sudah menyiapkan semuanya, Tuan."


"Iya sudah, tapi lihat wajahku penuh love love gini," geram Keno.


"Mungkin itu bentuk cintanya Nak Aira, Tuan Hahahahha," ucap bi Ijah tertawa.


Keno langsung berubah, ia mencerna perkataan bi Ijah.


"Ah, bentuk cinta apaan."

__ADS_1


"Itu kan bentuk love, Tuan. Kalau nak Aira memang mau ngerjain Tuan, pasti akan menggambar macam- macam tapi itu bentuk love," tutur bi Ijah.


"Ah sudahlah, Bi. Suruh Mang Dadang menyiapkan mobil, Keno berangkat dengan Mang Dadang saja."


"Baik tuan, saya panggilkan nanti."


Keno kembali ke kamarnya, ia langsung mengambil ponsel dan berselfie kemudian mengirimkannya kepada Aira.


"Hei kau yang telah menggambari wajahku yang tampan ini, jam berapa kau pulang? Aku akan membalasnya. Berani- beraninya kau main- main saat aku tidur."


***


Aira sudah selesai, ia kembali ke ruang istirahat dan memainkan ponselnya. Ia membaca pesan Keno dan tertawa terbahak- bahak.


"Hei anak manis, kau sudah bangun rupanya. Bagaimana kejutan dariku? Manis bukan? Kau terlihat menggemaskan hahaha," pesan Aira.


"Kenapa kau menggambari bentuk love, apa ini ungkapan cintamu?" goda Keno.


"Ya, anggap saja itu bentuk cinta dariku," isi pesan Aira. Namun ia segera menariknya, ia merutuki dirinya karena telah berbicara seperti itu.


"Kenapa ditarik pesannya? Padahal aku sudah membacanya, haha," pesan Keno.


Aira tidak membalasnya lagi karena ia malu. Ia lebih memilih menyiapkan bahan untuk nanti siang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Kantor berita Aira terlihat sangat ramai tak seperti biasanya.


"*Ada malaikat!"


"Ya tuhan tampan sekali."


"Halo ganteng"


"Aaaa bodynya aduhai."


"Bang, godain adek dong*."


Sorak para wanita yang melihat lelaki tampan penuh wibawa datang ke kantor mereka.


"Ada apaan sih, Ra?" tanya Mega


"Entahlah," jawab Aira mengangkat kedua bahunya.


Aira, Sandi, dan Mega yang penasaran dengan suara- suara tersebut keluar dari ruangannya. Mereka mengintip, dan mata mereka terbelalak seketika.


"Ra, itu Keno," bisik Mega.


"Ck, ngapain dia di sini."


"Mana gue tau, samperin sono."


"Gue takut, tadi pagi gue kerjain dia," lirih Aira.


"Kerjain gimana?" tanya Sandi


"Tadi pas dia tidur, gue coret- coret tuh mukanya."


"Wahh bener- bener cari mati lo, Ra," ucap Mega menggelengkan kepalanya.


"Makanya, ya udah yuk ngumpet aja."


"Yaudah kita masuk lagi aja," ajak Sandi. Mereka melangkah pelan masuk ke ruangan lagi.


"Ehheeeem," dehem Keno.


Mendengar suara deheman, ketiga sahabat itu langsung memutar tubuh mereka dan tersenyum getir ke Keno dan asistennya.


"Hai Keno," sapa Sandi dan Mega.


"Hai kak Sandi kak Mega."


"Hehe," ringis Sandi dan Mega.


"Kau tidak menyapaku?" melirik Aira.


"Hai anak manis, kenapa kau di sini hehe," sapa Aira dan mengelus pipi Keno dan berharap dia tidak marah. Tapi Keno malah mencium tangan Aira dan membuat semuanya tercengang.


Benar- benar tak tahu malu sekarang. batin Frido yang sedari tadi di belakang Keno.


"Mari makan siang," ajak Keno dan langsung merangkul Aira mengajaknya keluar untuk makan siang.


"Tapi Mega sama Sandi gimana?"


"Mereka kan bisa makan sendiri," jawab Keno santai.


"Tapiii..."


"Sstt ikut saja, atau kau mau aku hukum atas perlakuanmu tadi pagi?" ancam Keno.


Aira menggeleng, "Ah tidak tidak aku akan mengikuti mu."


Saat mereka berjalan keluar kantor, banyak mata yang memandang dan bersorak tak percaya.


"*Wahh gila tuh Aira."


"Yaampun beruntung banget dia."


"Yahh patah hati deh gue, hiks."


"Ra, bagi tips dong*."


Ucapan mereka sangatlah membuat telinga Aira panas, mereka mengira kalau Keno adalah pacarnya apalagi saat ini dengan santainya Keno merangkul pundak Aira.

__ADS_1


__ADS_2