
Setelah mengantar Ellen, Keno tak langsung kembali ke kantor, ia berencana untuk langsung pulang ke rumah saja. Tapi ia menjemput Aira terlebih dulu di kantornya.
Mengingat masih jam tiga sore dan pastinya Aira belum selesai dengan pekerjaannya, Keno pun masuk ke dalam. Sebenarnya untuk keluar masuk kantor Aira tidaklah mudah, namun karena papanya Keno adalah teman dekat bos Aira jadi Keno bisa masuk tanpa izin.
"Permisi, apa kau melihat Aira?" tanya Keno kepada lelaki yang berpapasan dengannya.
"Aira Madali? Untuk apa kau mencarinya?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Wildan, orang yang dari dulu menyukai Aira.
"Apa kita sedekat itu sehingga aku harus mengatakannya kepada mu?" balas Keno membuat Wildan kesal.
"Cihhh kau ini ! Tunggu, kau bukankah orang yang beberapa waktu lalu kemari untuk mengajak Aira makan siang kan?"
Keno menganggukkan kepalanya, "Bukan hanya waktu itu saja, tapi aku juga sering ke sini kok. Kau saja yang tidak tahu."
"Untuk apa kau kemari."
"Kenapa bos kantor ini bisa mempekerjakan orang bodoh seperti mu. Tentu saja aku kemari untuk mengantar dan menjemput wanita ku."
"Jadi benar kau itu memiliki hubungan dengan my Baby?"
"Siapa my baby? Aira?" Wildan mengangguk.
"Kau pikir dia bayi mu apa ! Jangan memanggilnya seperti itu, panggil nama saja." seru Keno menoyor kepala Wildan.
"Aww sakit. Aku tidak yakin kalau Aira menyukai orang seperti mu."
"Kalau tidak percaya aku akan segera buktikan, tunggulah undangan pernikahan kami pasti akan segera sampai di tangan mu."
"Hiks hiks hiks." Wildan terisak lebay mendengarnya.
"Kau itu kenapa malah menangis, apa kau juga menyukai Aira?"
"Hu'um, sejak ia bekerja di sini aku sudah menyukainya, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Keno menaikkan satu alisnya.
"Tapi dia tidak menyukai ku, arrgghhh itu sangat menyakitkan."
Keno tertawa terbahak- bahak mendengarnya. "Yang sabar ya boss." ucapnya menepuk pundak Wildan.
"Cihh, jangan menyentuh ku. Baiklah kalau kau yang berjodoh dengannya, aku tidak apa. Walaupun hati ku sedikit sesak menerimanya hiks hiks." ucap Wildan memegang dadanya lebay.
"Ada apa ini? Kenapa kau menangis, Wil?" tanya Aira menghampiri mereka.
"Hati ku sesak, remuk tak berdayaaa, hancur sakiittttt sekali huaaaa." celetuk Wildan membuat Aira dan Keno bergidik ngeri.
"Sudahlah biarkan saja dia, apa kau sudah selesai? kalau sudah selesai mari kita pulang." ajak Keno menggenggam tangan Aira membuat Wildan semakin sesak.
"Wil, aku pulang dulu." pamit Aira.
"Iya baby, berhati- hatilah di jalan. Kalau si tengik ini melukai mu katakan saja padaku aku akan memusnahkannya dari muka bumi ini." Aira terkekeh mendengarnya sedangkan Keno geram dan ingin sekali mentoyor mulut Wildan. Mereka pun segera meninggalkan Wildan yang masih meratapi nasibnya.
"Ini kan baru jam tiga, kenapa kau sudah pulang?"
Deg. Keno bingung menjawabnya, ia tidak mungkin jika mengatakan kalau setelah makan siang tadi ia tidak kembali ke kantor lagi melainkan bertemu dengan Ellen dan menemaninya sebentar.
"Ah itu, pekerjaan ku tidak terlalu banyak jadi aku bisa pulang lebih cepat. Lagi pula kita nanti kan mau makan malam di rumah Mama."
"Astaga aku hampir lupa kalau Tante Maria mengajak kita makan malam bersama. Kalau begitu ayo kita ke toko kue dulu mengambil kue untuk Tante Maria dan Nenek Ratih."
"Di sana sudah banyak makanan, kau tidak perlu membawa apa- apa lagi."
"Tidak enak kalau tidak membawa sesuatu, lagian mereka juga menyukai kue ku kok pasti mereka akan senang jika aku bawakan nanti. Ayolahh ke toko dulu, please." memasang wajah imutnya dan akhirnya Keno mengiyakan.
Setelah mengambil kue untuk buah tangan, mereka langsung mengemudikan mobil menuju ke rumah orang tua Keno.
"Kita langsung ke rumah papa aja yah. Nanti mandi di sana, aku sudah menyuruh mama menyiapkan keperluan mu."
"Baiklah yang mulia Raja." balas Aira membuat Keno terkekeh. Sebenarnya ia enggan sekali untuk menurutinya, tapi daripada berdebat ia pun mengalah.
Mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan elit. Kawasan yang beberapa waktu lalu pernah Aira kunjungi.
Ketika mobil Keno masuk di halaman rumah keluarga Sanjaya, terlihat ada beberapa satpam menundukkan tubuhnya menghormati kedatangan Keno. Saat masuk ke rumah utama, juga banyak sekali pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Berjejer di ambang pintu dan menundukkan tubuhnya.Tentu saja ini membuat Aira risih ia diperlakukan bagai seorang ratu yang kembali ke istananya.
"Airaaa cucu ku sayang." teriak Nenek Ratih menghampiri Keno dan Aira. Seperti Tante Maria, jika melihat Aira ia langsung memeluk dan menghujani wajah Aira dengan ciuman. Bahkan Nenek Ratih lebih parah saat mencium, tapi untungnya dia tidak memakai lipstik jadi tidak meninggalkan bekas di wajah Aira hhaha.
"Aira sayang kau sudah datang, ayo kita masuk. Nenek sangat merindukan mu." merangkul Aira dan mengajaknya ke dalam rumah tak menghiraukan Keno.
"Aira juga merindukan nenek."
"Astaga, sebenarnya aku ini cucunya atau bukan sih. Kenapa aku diabaikan." gumam Keno ditertawakan salah satu pelayan rumahnya.
"Kenapa kau tertawa." bentak Keno kepada salah satu pelayan.
"Ah tidak Tuan muda, maaf."
Keno pun berlalu menghampiri neneknya dan Aira. Merasa kesal karena nenek Ratih tak menganggap kehadirannya. Ia pun memeluk neneknya dari samping.
"Nenek." rengeknya.
"Eh kau rupanya, membuat nenek kaget saja."
"Huh, nenek. Kenapa nenek tidak memperdulikan Keno, sebenarnya Keno cucu nenek bukan sih. Kenapa Aira yang mendapat sambutan dari nenek."
"Ah iya maafkan nenek ya." Nenek Ratih pun segera mencium wajah Keno. Keno yang mendapat serangan dadakan pun memberontak.
"Nenek aku tidak suka dicium, tolong hentikan."
"Ah kau tadi kesal karena nenek menyambut mu, sekarang kau malah memarahi nenek."
"Ah sudahlah nenek, dimana papa sama mama? Kenapa tidak kelihatan batang hidungnya?"
"Mereka sedang berpacaran, di ruang musik. Ingat jangan mengganggu mereka."
Keno semakin ingin menjahili Papa sama Mamanya saat nenek Ratih menegurnya tadi. Keno memang selalu menjahili orang tuanya seakan temannya sendiri hingga membuat orang tuanya jengkel dan lelah dengan sifat jahil sedaru kecil.
__ADS_1
Keno mengajak Aira menuju ruang musik. Ruang di lantai 2, ruangan yang terdapat banyak sekali macam alat musik karena keluarga Sanjaya itu pecinta musik.
Keno dan Aira membuka pintu ruangan secara perlahan agar orangtuanya tidak terganggu karena mereka sedang bermesraan dan papanya Keno melantunkan lagu seraya memainkan piano dengan istrinya memeluk dari samping.
"Itu siapa yang bersama tante Maria?" bisik Aira di ambang pintu.
"Tentu saja papa ku, masa iya tukang kebun di belakang." balas Keno berbisik juga.
"Suara papa mu bagus seperti suara mu ternyata."
"Iya, aku mewarisinya dari papa."
"Dia sangat romantis, tidak seperti kau haha." sindir Aira saat melihat orang tua Keno berpelukan dengan mesra.
"Untuk hal itu aku juga tidak tahu mengapa aku tidak mewarisinya."
Mereka masih mengintip kedua insan yang berpelukan mesra seraya tersenyum satu sama lain.
Inginku berdiri di sebelahmu
Menggenggam erat jari-jarimu
Mendengarkan lagu sheila on 7
Seperti waktu itu
Saat kau di sisiku
Dan tunggulah aku di sana memecahkan celengan rinduku
Berboncengan denganmu mengelilingi kota
Menikmati surya perlahan menghilang
Hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukku
Lalu kita kembali menabung rasa rindu, saling mengirim doa
Sampai nanti sayangku
Lagu pun telah usai dilantunkan oleh Pak Bram, dan tante Maria pun memberikan tepuk tangan serta pujian atas suara suaminya yang merdu itu. Terus mendekap satu sama lain tak menyadari bahwa ada dua pasang mata memandang mereka sedari tadi.
"Ehheemmm." Keno berdehem. Sontak mengejutkan pasutri yang sedang berpelukan dan langsung berbalik mengarah ke pintu.
"Halo papa.."
"Halo tante.."
"Aira !!!" teriak Tante Maria histeris dan langsung berlari memeluk Aira dan menciumnya.
"Se- sejak kapan kalian di sana?" tanya Pak Bram ikut menghampiri istrinya.
"Sudah lama, kami juga melihat kalian bermesraan, berpelukan, dan berciuman juga." seru Keno seraya menunjukkan deretan putih giginya. Tentu saja itu membuat Pak Bram dan Tante Maria malu.
"Hey, kita itu belum terlalu tua ya. Kalau kita sudah tua itu berarti kita sudah punya cucu ini kan belum jadi belum tua- tua banget lah." ucap Pak Bram menoyor kepala Keno.
"Kalau begitu akan aku buatkan cucu untuk kalian, ayo Aira kita ke kamar." ucap Keno membuat Aira terbelalak mendengarnya.
"Dasar anak nakal, tunggu nikah dulu jangan merusak anak orang." seru pak Bram seraya menjewer telinga Keno.
"Papa kenapa sama kaya mama sih, suka banget sama telinga Keno. Huh Keno kan cuma bercanda pah."
"Bercanda- bercanda, sudahlah. Ayo Aira kita keluar dari sini. Kau bersih- bersih dulu ya, tante sudah menyiapkan semua keperluan mu tadi." ajak Tante Maria merangkul pundak Aira.
Sedangkan, Keno dan pak Bram melanjutkan obrolan mereka. Sudah lama mereka tidak mengobrol.
"Ayo Aira masuk." Tante Maria mengajak Aira untuk ke kamar tamu. Kamar yang lebih luas dan mewah dari kamar rumah Keno. Kamar tamunya saja seperti ini apalagi kamar utamanya.
Di sana ada beberapa pelayan yang membawakan beberapa potong baju dan perlengkapan wanita lainnya.
"Aira pilih saja baju mana yang akan kau pakai. Nanti sisanya kamu bawa pulang ya anggap hadiah dari Tante."
"Tante ini banyak sekali, ini terlalu berlebihan." seru Aira saat melihat baju- baju ditangan pelayan.
"Tidak, hanya dua puluh potong baju saja kok. Ini tidak banyak. Mari tante pilihkan baju mana yang akan kamu pakai sekarang."
Aira menyuruh pelayan untuk meninggalkannya, namun mereka bersikeras untuk tetap melayani Aira karena ini sudah perintah dari nyonya rumah. Dan mereka juga sudah tau kalau Aira calon menantu majikannya jadi harus menghormatinya.
Karena mereka terus memaksanya, Aira pun mau tidak mau mengikut pelayanan dari nyonya rumah itu. Semua pelayan melayani Aira seperti di tempat perawatan salon yang sering ia kunjungi. Sungguh ini sangatlah berlebihan untuknya yang saat ini hanya berstatus tamu. Setelah melayani Aira dengan berbagai macam merek kecantikan para pelayan pun meninggalkan Aira di kamar itu sendiri.
Aira merasa sangatlah beruntung karena dipertemukan dengan orang sebaik Tante Maria. Karena bosan di kamar, ia pun hendak menemui Keno namun ia tak tahu kamar Keno dimana. Ia pun berjalan seraya celingak celinguk mencari penghuni rumah.
"Rumah ini terlalu besar dan membingungkan huh, membuat ku lelah saja. Dimana anak itu, kenapa tidak terlihat dari tadi." gumam Aira.
Mencoba menelusuri area ruang tamu hingga beberapa ruang lain di lantai itu. Terus mencari di setiap sudut namun tak kunjung menemukan juga batang hidung penghuni rumah selain pelayan.
"Nona, kenapa nona kemari? Apa ada yang dibutuhkan?" tanya salah satu pelayan membungkukkan badannya.
"Bi, jangan menunduk seperti itu. Aku ini hanya tamu disini, jangan begitu aku tidak suka."
"Maaf, tapi nona calon istrinya Tuan muda jadi kami harus menghormatinya."
"Hufffttt, jangan begitu lagi aku benar- benar tidak suka. Kalau kalian masih begitu aku akan menangis meronta- ronta di sini." rengek Aira seperti anak kecil.
Para pelayan yang mendengarnya pun terpaksa mengiyakan, kalau Aira benar- benar menangis itu akan lebih menyusahkan mereka.
"Aku haus bolehkah aku meminta segelas air putih?"
"Tentu saja nona."
Pelayan paruh baya itu segera mengambilkan air putih dan menyodorkannya ke Aira. Aira meneguknya tanpa jeda, berjalan mencari Keno sedari tadi memang sangat melelahkan.
"Terima kasih bibi."
"Sama- sama. Sepertinya nona terlihat lelah sekali, memang apa yang membuat nona lelah?"
__ADS_1
"Hanya lelah berjalan saja, tadi aku mencari kemana- mana tapi tidak menemukan Keno, Bi."
"Oh Tuan muda sedang ada di kamarnya, kalau mau ke sana mari saya antar nona."
"Bibi, sudah aku bilang kan tadi. Tidak perlu formal kalau di depanku, anggap saja aku anak bibi ya." ucap Aira tersenyum dan merangkul Bi Sofi, Ketua pelayan di kediaman Sanjaya.
"Baiklah, nak Aira." Bi Sofi pun segera mengantar Aira ke kamar Keno.
"Bi Sofi terima kasih sudah mengantar ku."
"Sama- sama Nak Aira. Bibi kembali ke dapur lagi ya.."
Bi Sofi pamit dan Aira langsung membuka pintu kamar Keno. Kamar dengan design yang tak kalah bedanya dengan kamar di rumahnya sendiri. Rapi, bersih, dan seperti jarang dihuni.
"Sepertinya dak ada orang, dimana anak itu." gumam Aira.
"Ken? Kamu dimana?" teriak Aira seraya menyusuri kamar Keno namun tak kunjung menemukannya, ia pun mencoba untuk ke kamar mandinya.
"Tidak ada juga, dimana anak manis itu?" gumamnya lagi. Ia memilih untuk segera keluar dari kamar itu.
"Aaaaarrrrrrggghhhhh !" teriak Aira saat membalikkan tubuhnya dan melihat seseorang. Ia pun segera menutup mata dengan kedua tangannya. Karena melihat Keno telanjang hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Karena Aira berteriak, Keno pun ikut berteriak karena kaget juga.
"Ish kenapa teriak sih, bikin kaget aja." seru Keno.
"Keno !!! Pakai baju dulu kenapa sih. Kamu tadi kemana. Dari tadi dicariin engga ada."
"Hehe, tadi habis mandi terus denger kamu mau masuk ke sini aku ngumpet di belakang pintu. Niatnya mau bikin kaget, eh malah akunya juga kaget. Nyebelin ngga tuh !" seru Keno merajuk dan membuat Aira tertawa.
"Tolong keringkan rambut ku." ucap Keno melempar handuk kecil ke arah Aira seraya meringis.
"Kebiasaan!" Aira mengeringkan rambut Keno yang duduk di kursi dekat jendela.
"Awww kenapa kau menarik rambut ku?"
"Aku hanya ingin saja, hehe." jawab Aira terkekeh.
"Kau boleh melakukan apapun sekarang, kan aku calon suami mu."
"Apa kita memang akan benar- benar menikah?"
Jleb. Pertanyaan itu seakan menusuk hati Keno. Ia sendiri tidak tahu jawabannya, iya atau tidak. Ia memang menginginkan untuk menikah dengan Aira, tapi di satu sisi ia memikirkan Ellen. Ellen sedang sakit untuk saat ini, tidak mungkin kalau Keno mengatakan ini kepada Ellen yang ada itu akan membuatnya semakin drop.
"Tentu saja kita akan menikah. Ayo kita turun, sudah saatnya makan malam." ajak Keno menggandeng tangan Aira.
***
Di meja makan sudah ada pak Bram, tante Maria, dan nenek Ratih di sana. Hidangan juga sudah tertata rapi dengan banyak menu yang menggiurkan tentunya.
"Kalian kenapa lama sekali sih pacarannya, kita udah nunggu lama tau ngga." ucap tante Maria.
"Habis ngapain kalian, jangan macam- macam loh Ken."
"Engga kok pah, cuma satu macam aja." saut Keno santai. Sedangkan pak Bram sudah melototkan matanya dan hendak menjewer telinga Keno.
"Engga- engga. Tadi aku mandinya kelamaan kok, engga ngapa- ngapain."
"Dasar." seru pak Bram mentoyor kepala Keno.
Aira segera duduk di tengah- tengah tante Maria dan nenek Ratih dan masih menyaksikan anak dan ayah itu berdebat kecil.
Tak lama kemudian mereka mulai makan. Tante Maria mulai mengambilkan makanan ke priing suaminya, setelah itu ke piring Nenek Ratih. Karena jarak Aira dengan Keno jauh, Keno pun mengambil makanan sendiri walaupun rasanya berbeda karena sudh terbiasa dengan Aira yang selalu mengambilkan makanan untuknya.
Sedangkan, Tante Maria dan nenek Ratih malah berebut untuk mengambilkan makanan ke piring Aira hingga terjadilah perdebatan kecil.
"Biar aku saja yang mengambilkan untuk Aira." ucap tante Maria.
"Tidak biar aku saja." ucap nenek Ratih yang langsung centong nasi.
"Biar aku saja, Aira ini calon menantu ku. Jadi, biar aku yang melayaninya." seru tante Maria merebut centong nasi dari nenek Ratih.
"Aira ini calon cucu menantu ku, aku juga ingin melayaninya."
"Tidak aku saja."
"Aku saja, jangan melawan orang tua kau ini."
"Aku saja."
Aira memijat pelipisnya, ia semakin bingung melihat keduanya yang terus berebut.
"Tante, nenek ku mohon jangan berebut. Aku akan mengambilnya sendiri." ucap Aira namun tidak didengar oleh keduanya.
"Stop !!! Udah jangan bertengkar." ucap pak Bram akhirnya mampu menghentikan keduanya.
"Mama sama nenek ini apa- apaan sih. Keno aja dari tadi engga ada yang merhatiin itu malah berebut mau ngambilin Aira makanan. Ingat ya kalian wanita- wanita cantik, Aira itu milik Keno Arka Sanjaya seorang saja." ucap Keno dengan penuh penekanan membuat Aira menggelengkan kepalanya.
"BODO AMAT ! " balas tante Maria dan nenek Ratih bersamaan. Pak Bram hanya tersenyum melihat kedua orang yang kesal dengan ucapan Keno.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang. Pelan dan tak terburu- buru. Aira menatap ke arah Keno yang juga sangat elegan tak bersuara sama sekali, padahal biasanya selalu di iringi dengan obrolan kecil. Atau mungkin Keno takut dengan papanya jika berisik. Ah tidak tahu juga..
Setelah selesai makan mereka melanjutkan obrolan di ruang keluarga, tampak kecanggungan dari Aira karena ia masih merasa menjadi orang asing bagi keluarga itu. Setelah mengobrol Aira dan Keno berpamitan untuk pulang, sebenarnya mereka disuruh menginap namun Aira kekeh tidak mau.
.
.
.
.
.
Kalau suka sama ceritanya Jangan lupa like, komen, dan votenya ya wkwk
Terima kasih sudah membaca cerita yang gaje ini haha...
__ADS_1