
Dua hari berlalu, Aira dan Ellen semakin dekat. Mereka selalu bersama kemana pun pergi. Ellen selalu mengekor Aira, ia bahkan ikut Aira bekerja. Aira pun tidak risih dengan kehadiran Ellen karena ia juga senang bisa memiliki teman yang baik seperti Ellen.
"Ele, apa kau tidak bosan di sini terus? Kalau kau bosan kau pergi jalan- jalan saja." seru Aira lembut.
"Aku tidak bosan, aku akan pergi jalan- jalan jika bersamamu. Aku tidak mau sendiri." sahut Ellen yang tengah menggeliatkan tubuhnya di sofa ruangan Aira.
Aira pun melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Ellen rebahan di sofanya. Sudah dua hari ini Aira tidak mengabari Keno dan begitu juga sebaliknya. Tak ada pesan yang masuk dari Keno. Ia mulai merindukan anak manis itu. Tapi ia tidak mengambil pusing akan hal itu.
"Aira, apa kau sudah selesai?" tanya Ellen ketika melihat Aira sedang berbenah memberesi berkas- berkas.
"Sudah Ele, kenapa? Mau jalan?"
"Tidak, aku mau membuat kue untuk Keno. Apa kau mau menemani ku?"
Jantung Aira seakan berhenti berdetak saat Ellen menyebut nama Keno, ternyata anak itu tidak bisa melupakan Keno barang sedetik saja. Namun Aira berusaha untuk tidak cemburu, ia selalu menekankan bahwa ini hanyalah sementara saja.
Aira pun mengajak Ellen ke tempat pembuatan kue di tokonya. Ia menyiapkan segala bahan yang dibutuhkan dan mengarahkan Ellen untuk membuatnya.
Tak mudah memang namun Ellen mampu menyelesaikan kue itu, brownies berdiameter 20 cm ia selesaikan dengan baik. Untuk rasa dapat dipastikan enak karena resepnya sudah terpercaya. Segera Aira menyuruh Ellen untuk mengolesi kue itu dengan Buttercream. Untuk kali ini sedikit berantakan tapi tidak masalah untuk orang yang baru pertama kali membuat kue. Lalu ia menaburkan potongan- potongan coklat dan kacang almond di setiap sisi kue itu. Ia juga memberikan tulisan. Tulisan? Tulisan yang menyesakkan dada Aira. Bagaimana tidak, Ellen menuliskan kalimat "Aku menyayangi mu Keno Arka Sanjaya."
"Aira, bagaimana menurutmu? Apa Keno akan menyukainya?" tanya Ellen dengan cerianya ketika semua sudah selesai.
"Ahh itu sangat cantik, Keno pasti akan menyukainya." jawab Aira.
Ellen sangat senang mendengarnya, ia segera mengeluarkan ponselnya membuka kamera dan memotret kue itu. Mengabadikannya sebagai kenangan terindah.
"Apapun silakan kau lakukan, tapi jika kau sudah sembuh dan membaik ku pastikan aku akan mengatakan semuanya Ele." batin Aira terisak ketika melihat Ellen bahagia memotret kue itu.
"Oh ya, Aku siang ini tidak bisa makan siang dengan mu. Aku sudah berjanji dengan Keno untuk makan siang dengannya, ia mau mengajakku ke tempat spesial katanya." tutur Ellen.
Fix ! Ini lebih menyesakkan daripada tulisan di kue itu. Tempat spesial macam apa yang akan mereka kunjungi, bahkan Keno tidak pernah mengajakknya makan spesial.
"Heyy kenapa kau diam saja Aira? Apa kau sedih karena kita tidak bisa makan siang bersama?" tanya Ellen membuyarkan lamunan Aira.
"Ahh tidak Ele."
"Aku akan menemui mu setelah makan siang, Ra. Bukankah kau sudah berjanji untuk mengajakku ke pantai?"
"Iya Ele kita akan pergi ke pantai sore nanti." jawab Aira tersenyum lembut.
***
Ellen telah sampai di tempat yang Keno maksud. Sudah tampak Keno yang tengah duduk memandang ke arah laut. Keno sengaja memilih restoran yang bertatapan langsung dengan laut lepas.
Meja bundar dengan berbagai makanan yang sudah tersaji di sana. Restoran itu sepi dari pengunjung, mungkin Keno telah membooking restoran itu supaya bisa menikmati makan siang berdua dengan Ellen saja. Lagu- lagu romantis pun terdengar membuat suasana lebih hangat.
"Apa yang kau bawa Ele?" tanya Keno saat Ellen meletakkan sesuatu ke meja.
"Aku membawa kue untukmu, tadi aku membuatnya bersama Aira. Lihatlah, walaupun masih berantakan tapi ini hasil tangan ku sendiri haha."
Keno terdiam seketika saat melihat coklat pipih bertuliskan "Aku menyayangi mu Keno Arka Sanjaya." Hatinya merasa kacau apalagi kue itu dibuat bersama Aira pasti Aira juga mengetahui akan hal itu. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan Aira.
"Kita makan dulu ya, setelah itu baru kita cicipi kue buatan ku." seru Ellen yang langsung diiyakan oleh Keno.
"Bagaimana kuenya? Enak?" tanya Ellen saat Keno mulai menyantap kue buatannya itu.
"Enak kok."
__ADS_1
"Syukurlah, itu resepnya Aira. Aku kira rasanya akan berbeda saat aku yang membuatnya." celetuk Ellen terkekeh.
"Kau akan kemana setelah ini?"
"Aku akan kembali ke tokonya Aira, menunggunya sampai selesai bekerja. Nanti sore kita akan pergi ke pantai."
"Oh begitu, tapi ingat ya kau tidak boleh terlalu lelah."
"Iya, kau itu cerewet sekali seperti Aira. Tapi aku malah senang mempunyai kalian, aku menyayangi kalian." seru Ellen tersenyum bahagia.
***
Entah apa yang ada dipikiran Ellen, ia mengajak Aira ke pantai padahal jam masih menunjukkan pukul empat sore. Akan terlalu lama jika menunggu senja.
"Airaa ayo foto bersama." ajak Ellen.
"Baik Ele."
Mereka pun meminta tolong salah satu pengunjung pantai untuk memotret mereka. Banyak sekali foto yang diambil, berbagai pose dan berbagai ekspresi juga tentunya.
"Makasih pak, ini ada sedikit rezeki." seru Ellen memberikan beberapa lembar uang untuk lelaki yang telah diminta tolong tadi.
"Ini terlalu banyak mbak."
"Tidak apa, pak. Mumpung masih bisa berbagi karena hidup saya sudah tidak lama hehe."
Aira pun terdiam mendengar ucapan Ellen, rasanya ia ingin menangis namun tidak akan ia lakukan di depan Ellen. Ia yakin kalau Ellen akan segera mendapat donor jantung dan akan pulih seperti semula.
"Ele, jangan berbicara seperti itu lagi. Kau akan hidup lebih lama, kita akan selalu bersama Ele." ucap Aira menitikkan air matanya.
"Heyy kenapa kau malah menangis, ayolah kita kemari bukan untuk menangisi takdirku. Kita akan bersenang- senang." seru Ellen menarik tangan Aira dan mengajaknya berlari kecil menyusuri tepi pantai.
"Baiklah- baiklah sahabatku yang cerewet." ledek Ellen.
"Sahabat?"
"Tentu saja, kau sahabatku. Kau mau kan?" tanya Ellen. Aira pun menganggukan kepalanya seraya tersenyum dan langsung memeluk Ellen.
"Sahabat untuk selamanya."
"Tentu."
Ellen dan Aira duduk sejenak di tepian pantai. Mereka membuat istana pasir, dengan meminjam perlengkapan cetakan pasir milik anak kecil di sebelah mereka.
"Lihat punyaku lebih besar." seru Ellen layaknya anak kecil.
"Iya punyamu lebih besar tapi tidak kokoh. Lihatlah." Aira menyentil istana pasir yang dibuat Ellen hingga hancur. "Uppsss maaf ya Ele, aku sengaja." celetuk Aira seraya tertawa lepas.
"Airaaaaa !!! Awas kau yaa, aku akan membalasmu." Ellen mengejar Aira yang sudah berlari meninggalkannya tadi.
Melihat Ellen berlari mengejarnya Aira pun menghentikan larinya ia tidak mau jika Ellen kelelahan. "Baiklah- baiklah aku menyerah, sekarang hukum saja aku."
"Hufft akhirnya menyerah juga, aku tidak akan menghukum mu. Aku hanya ingin memelukmu, apa boleh?"
"Tentu saja." jawab Aira merentangkan tangannya dan memeluk Ellen.
"Thanks you very much, Aira. Aku tidak pernah memiliki teman yang sebaik dirimu, terima kasih sudah mau berteman denganku dan mengajarkan banyak hal baru untukku. Aku sangat bahagia." tutur Ellen semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan jalan- jalan seraya berceloteh. Memunguti kerang- kerang yang memiliki bentuk yang berbeda- beda, sambil menikmati angin sepoi- sepoi yang berhembus menyibakkan rambut mereka yang terurai.
"Ihh kenapa kau menyebalkan sekali sih." seru Ellen saat Aira menyenggolnya hingga kerang- kerang yang ia pegang jatuh semua dan kotor lagi.
"Kau baru tahu kalau aku menyebalkan ya, haha." ucap Aira.
"Iya, jahil sekali." sahut Ellen memanyunkan bibirnya.
"Beginilah cara menikmati hidup Ele."
Ellen terlalu bahagia saat ini, ia terus berlari dan menari- nari seakan melepas semua beban hidupnya.
"Ele, jalan saja jangan berlari dada mu bisa sakit lagi nanti." teriak Aira dan berlari menghampiri Ellen yang mulai menjauh darinya.
"Tidak apa Aira, ini kan juga cara menikmati hidup." teriak Ellen menyauti Aira.
Tiba- tiba Ellen berhenti dan meremas dadanya. Ia kembali merasakan sakit, ia merintih dan terduduk memegang dadanya.
"Ele, kau kenapa?" tanya Aira panik.
"Airaaa..."
"Dadaku sakit sekali."
"Ele, ayo kita ke rumah sakit." Aira langsung memapah Ellen.
"Airaa, rasanya sangat sakit. Arrgghhhh..." ucap Ellen sebelum ia terjatuh tak sadarkan diri.
"Ele!"
"Ele! Bangun Ele." Aira menangis ketakutan, ia terus berteriak meminta tolong namun pantai terlihat sepi tak ada yang menolongnya.
Lalu ada seseorang yang datang juga dengan kepanikan. Ia langsung menepuk pipi Ele berusaha membangunkan wanita itu.
"Ele bangun !" teriaknya dan langsung menggendong tubuh wanita itu.
"Ele bertahanlah, kita akan segera sampai ke rumah sakit." ucap Aira masih berderai air mata. Ia mengekor lelaki yang menolong Ellen yang tak lain adalah Keno.
"Diam kau !!!" bentak Keno membuat Aira tersentak.
"Kau yang membuatnya seperti ini !!! Kau tidak bisa menjaganya dengan baik ! Bodoh !"
"Awas saja jika terjadi apa- apa dengan Ellen. Aku tidak akan mengampuni mu."
Aira menggelengkan kepala tak percaya kalau Keno membentaknya seperti itu. Badannya lemas seketika, Keno tak mengajak Aira masuk ke mobilnya. Keno meninggalkan Aira di pantai itu.
"Ya Tuhan, ku mohon selamatkan Ele." batin Aira.
.
.
.
.
.
__ADS_1
**Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Mau kasih tips koin juga boleh hehe :D
Tunggu episode selanjutnyaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜**