Hello Presdir

Hello Presdir
Mengatakan yang Sebenarnya


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi namun Aira belum terbangun juga. Masih tertutup dengan selimut tebal dan memeluk guling. Mungkin mimpinya terlalu indah untuk ditinggalkan jadi ia belum terbangun juga.


Jam weker warna abu muda di nakas samping ranjangnya sudah berdering beberapa kali namun juga tak kunjung membuat Aira terbangun. Dan untuk ke sepulih kalinya berdering, akhirnya jam weker tersebut mampu membangunkan Aira.


"Huh sudah pagi ternyata." Segera ia mematikan alarm dan melirik jarum jam.


"Ya ampun kenapa sudah jam segini. Apa kau sengaja membuatku terbangun jam segini? Iya?!" maki Aira kepada jam weker itu.


Ia segera beranjak menuju kamar mandi dan melempar sembarangan jam weker ke lantai. Jikalau jam weker itu mempunyai nyawa pasti akan membalas makian Aira tadi, mengaduh kesakitan karena dijatuhkan ke lantai dan mungkin akan mencekik leher Aira.


Untung saja Aira sedang mendapat tamu bulanan jadi ia tidak melewatkan subuhnya, jika itu benar- benar terjadi maka ia akan terus menyalahkan jam weker warna abu itu.


Setelah selesai mempersiapkan dirinya sendiri, Aira segera ke kamar Keno. Membangunkan bayi besar itu.


Ceklek. Pintu kamar terbuka. Dilihatnya ada seseorang yang membelakanginya dan sedang merapikan rambutnya menatap cermin.


"Kau baru bangun?" tanya Keno yang masih merapikan rambutnya.


"Kau sudah mandi?"


"Kebiasaan deh kalau ditanya pasti malah nanya balik."


"Hehe, iya maaf. Aku kesiangan bangunnya. Oh ya, tumben kamu bisa bangun sendiri? Biasanya juga masih molor."


"Sebenarnya sebelum kamu masuk ke kamar dan mau membangunkan aku, aku udah bangin duluan. Tapi aku pura- pura masih tidur aja." jelas Keno seraya menggaruk tengkuknya, mungkin mandinya engga bersih jadi masih gatal deh.


"Oh jadi pura- pura ya selama ini." Aira melototkan matanya dan berkacak pinggang.


"Ehm sudah waktunya sarapan ayo kita turun." ajak Keno merangkul Aira supaya ia tidak dimarahi Aira.


"Tapi aku belum menyiapkan sarapan, kan aku kesiangan mana sempat."


"Tidak apa, makan saja yang ada."


"Tapi sepertinya di dapur tidak ada makanan, hanya ada perkakas saja. Bagaimana? kau mau makan pancinya, wajan, kompor, atau yang lainnya?" goda Aira memicingkan matanya.


"Oh hanya ada itu, kalau begitu aku akan memakan mu saja."


"Jangan memakanku. Kau mau papa ku membunuh mu dari dunia ini?"


"Mana mungkin dia akan membunuhku, aku ini calon menantunya dia sangat sayang pada ku."


"Huffftttt...Baiklah dia tidak akan membunuh mu. Kau itu calon menantunya dan sangat disayang papa melebihi anak kandungnya sendiri."


Mereka pun terkekeh. Sesampainya di dapur, Aira langsung mengambil roti tawar dan beberapa selai. Tak lupa membuatkan susu hangat untuk Keno dan membuat teh hijau tanpa gula kesukaannya.


"Kau mau selai apa? Nanas, coklat, strawberry, kacang? Biar aku yang oleskan."


"Ehmmm....selai strawberry saja."


Aira pun mengambil selembar roti tawar dan mengoleskan selai strawberry sesuai permintaan Keno.


"Kenapa senyum- senyum sih?" tanya Keno saat Aira senyum- senyum sendiri ketika mengoleskan selai.


"Tidak hehe."


"Apa?" tanya Keno lagi dan mencoba melirik ke roti yang sedang diolesi selai namun Aira segera menyembunyikannya.


"Sini biar aku lihat, kenapa kau menyembunyikannya."


Setelah perdebatan kecil akhirnya Keno berhasil merebut roti yang Aira pegang. Dilihatnya roti yang sudah teroleskan selai, namun berbentuk hati. Ia pun tersenyum menatap Aira yang sedang malu.


"Kenapa kau malu, terima kasih." seru Keno mengacak- acak rambut Aira.


"Cieee yang lagi kasmaran dari semalem ciyeeee." goda Mang Dadang.


"Apasih mang." sahut Aira.


"Aduhh rotinya pake bentuk love segala lagi, bikin baper aja kalian ini." ucap bi Ijah ikut menimpali.


"Tunggu, saya ambil gambar buat kenang- kenangan hehe." mang Dadang pun mengeluarkan ponselnya dan segera memotret Aira dan Keno yang nampak malu- malu kambing.



"Sepertinya kalian harus mendapatkan penghargaan ini haha." seru bi Ijah menggelakkan tawa.


"Benar- benar pasangan yang serasi." timpal mang Dadang.


***


"Kak, jangan cepet- cepet dong." seru perempuan yang kini tengah kesulitan membawa banyak barang di tangannya dan mengikuti langkah lelaki di depannya.


"Aku tidak punya waktu ! Jangan lambat kalau jalan !" serunya membuat perempuan itu terdiam menahan air mata yang akan keluar.


"Hiks, sampai kapan kak Raka memperlakukan ku seperti ini? Aku lelah kak, aku juga mempunyai perasaan. Jika terus begini lebih baik kita batalkan saja pernikahan kita yang tinggal tiga hari itu." lirihnya dan membuat Raka berhenti melangkahkan kakinya.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihat wanita cengeng." seru Raka dan langsung menarik beberapa belanjaan yang ada di tangan Hana.


"Kenapa masih diam saja." tanya Raka saat Hana masih terpaku di tempatnya.


Dengan kasar, Raka menarik tangan Hana dan mengajaknya untuk berjalan lagi. Karena sudah saatnya makan siang, Raka mengajak untuk makan terlebih dahulu di salah satu restoran.


Restoran yang ia pilih adalah restoran favorit Raka dan Aira selama pacaran. Di sana banyak sekali kenangan yang tertinggal. Raka pun duduk di meja yang sering mereka tempati dulu. Tempat dimana mereka menghabiskan weekend bersama, melepas rindu karena kesibukan masing- masing. Bercanda, memperhatikan apa yang mereka lihat lalu menertawakannya. Hal kecil namun memberikan kesan tersendiri bagi mereka. Sungguh, rasanya ia menginginkan hal itu terulang kembali. Andai saja takdir berpihak pada mereka, mungkin sekarang mereka akan menjadi pasangan terbahagia di dunia.


"Kak Raka, itu bukannya pacarnya kak Aira ya? Ehm Keno iya Keno.." ucap Hana menunjuk seseorang yang tak jauh dari meja yang emreka tempati.


Raka pun menoleh ke arah yang Hana tunjuk, hatinya kembali kesal karena melihat Keno bersama perempuan lain dan terlihat begitu dekat. "Damn it ! Bagaimana bisa Aira menyukai lelaki seperti itu, lelaki yang sering bergonta- ganti pacar. Mereka berpelukan dengan mesranya. Awas saja kalau kau mendekati Aira karena hanya ingin menyakitinya saja. Aku tidak segan- segan untuk bertindak lebih pada mu." batin Raka.


Sementara itu....

__ADS_1


Keno dan Frido sedang menikmati makan siang di restoran yang sama dengan Raka. Dan kebetulan, Ellen juga sedang makan siang di sana.


"Sepertinya besok aku harus datang lebih awal jika akan makan siang di sini, banyak sekali pengunjungnya walaupun masih jam segini." gumam Ellen.


Ia terus melirik dan mencari tempat kosong untuk makan siang. Namun sayang semua meja sudah penuh. Ia pun hendak keluar mencari tempat makan lain. Saat berbalik ia tidak sengaja menabrak tubuh seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Nona Ellen..." seru lelaki itu, yang tak lain adalah Frido yang dulu juga teman dekat Ellen.


"Halo Frido..."


"Senang sekali bertemu dengan kau di sini, bagaimana kabar mu? Lama tidak berjumpa."


"Seperti yang kau lihat aku baik."


"Syukurlah kalau begitu, oh ya apa kau sudah selesai makan?"


"Ehm sebenarnya aku belum makan, aku ingin mencari tempat lain saja. Sudah tidak ada meja kosong di sini hehe."


"Kalau begitu bergabunglah dengan kami, Nona."


"Kami?" Ellen mengernyitkan dahinya.


"Iya, aku dan tuan Keno. Mari ikut saya..." ajak Frido namun Ellen segera menghentikannya.


"Ah itu tidak perlu, aku takut kalau Keno marah pada ku nanti." lirih Ellen ketakutan, ia masih mengingat hal kemarin kalau Keno enggan untuk bertemu dengannya apa lagi ini makan bersama.


Dan Frido pun tetap memaksa Ellen karena rasa kasihan. Frido menarik tangan Ellen agar mengikuti langkahnya. Karena tak bisa berkutik lagi, Ellen pun mengikuti Frido.


"Kenapa lama sekali." seru Keno yang sedang menunduk memainkan ponselnya.


"Duduklah Nona." ucap Frido yang membuat Keno mendongakkan kepalanya melihat siapa yang di maksud Frido itu.


Sontak Keno pun terkejut melihatnya, wanita yang kemarin memeluknya kembali datang menemuinya. Terdiam beribu bahasa karena tak tahu harus bagaimana saat Ellen duduk dihadapannya.


"Maaf Tuan, saya mengajak Nona Ellen bergabung untuk makan siang karena tadi ia kebingungan mencari tempat duduk dan semua meja sudah penuh, saya kasihan padanya." tutur Frido.


"Maaf Keno, tadi aku sudah menolak ajakannya tapi dia tetap memaksa ku. Kalau kau tidak suka aku akan segera pergi mencari tempat makan lain." Ellen berdiri dari tempat duduknya dan ingin pergi.


"Jangan, aku tidak apa- apa. Duduklah kembali." ucap Keno ketus dan tanpa menoleh ke arah Ellen.


Ellen pun kembali duduk. Ia merasa sedikit senang karena Keno memperbolehkan bergabung walaupun Keno tak menoleh ke arahnya sama sekali. Ellen terus memandang wajah Keno, wajah yang selama setahun ini dirindukannya. Rindu akan kehangatan yang dulu ada. Diperlakukan bak seorang ratu olehnya, semua keinginannya dituruti lelaki itu. Namun sekarang lelaki itu bahkan enggan untuk menatapnya.


Ia terus memperhatikan Keno dan mengingat semua kenangan yang tertinggal selama dua tahun berpacaran. Tak terasa air matanya pun menetes.


"Aku merindukan mu, Ken. Aku sangat merindukan mu." batin Ellen.


"Nona apa kau baik- baik saja? Kenapa kau menangis?" tanya Frido.


"Ah aku tidak apa- apa. Kau tidak perlu khawatir." Ellen buru- buru menyeka air matanya.


Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. Mereka segera menikmatinya. Tak ada satu kata pun terucap dari ketiganya, hanya keheningan dan suara dentingan pisau dan garpu yang saling beradu di piring.


"Kami sudah selesai Nona Ellen, kami akan kembali ke kantor. Kami sudah membayar semuanya, permisi." pamit Frido dengan sopan kepada Ellen.


"Tunggu sebentar, ada yang harus aku bicarakan."


"Kami tidak ada waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting, kau pikir kami tidak sibuk apa !" ketus Keno memandang tidak suka kepada Ellen, dan berdiri dari kursinya.


"Berikan aku waktu sebentar saja, hiks hiks." ucap Ellen mulai terisak dan memegang kedua tangan Keno berharap diberi kesempatan olehnya.


Keno menepis tangan Ellen dengan kasar. Namun karena merasa iba, Keno akhirnya duduk kembali.


"Katakan !"


"Maaf Nona, jangan membuat kami menunggu lama. Sudahi tangis mu." ucap Frido menyodorkan kotak tissue kepada Ellen.


"A- aku ingin mengatakan semuanya. Sebenarnya lelaki yang bersama ku di bandara itu bukanlah calon suami ku atau selingkuhan. Aku hanya memintanya untuk berpura- pura saja." jelas Ellen terisak.


"Berpura- pura supaya aku melepas mu pergi untuk mengejar karir mu itu, Hah?!" bentak Keno.


"Iya, tapi..."


"Benar atau tidak itu tidak penting lagi bagi ku."


"Sebenarnya, aku ke Singapura bukan untuk mengejar karir dan menetap di sana."


Mendengarnya Keno semakin penasaran untuk mendapat penjelasan dari Ellen lagi. Ia pun menatap Ellen meminta penjelasan lebih darinya.


"Kau pasti akan sulit mempercayai ini. Tapi apa yang ku katakan ini adalah yang sebenarnya. Aku ke sana karena aku sakit dan keluarga ku meminta untuk melakukan pengobatan di Singapura agar mendapat perawatan yang terbaik."


Deg. Jantung Keno dan Frido seakan berhenti berdetak setelah mendengar penjelasan dari Ellen. Mereka menatap seksama wajah Ellen, mencari suatu kebohongan dari wajah yang sudah basah karena air mata terus mengalir namun yang mereka lihat hanya ada kejujuran.


"Jantung ku bermasalah dan keluarga tidak memperbolehkan ku untuk melakukan pengobatan di sini. Waktu itu aku tidak ada pikiran lain selain akan meninggal."


"Jadi, aku memilih untuk memutus hubungan kita. Aku tidak mau kau terlalu terpukul jika aku meninggal nanti, dan aku berusaha membuat mu untuk membenci ku. Aku pun menyuruh seseorang untuk berpura- pura menjadi calon suami ku agar kau melepas ku pergi." tuturnya seraya tersenyum getir.


Keno diam membisu setelah mendengar semua penuturan Ellen. Hatinya sungguh sakit, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa sangat bersalah akan semuanya. Wajahnya pucat dan hampir menangis.


"Kenapa kau baru bilang sekarang, harusnya aku menemani mu di sana selama pengobatan." ucapnya bergetar.


Ellen tersenyum melihat kekhawatiran dari cintanya itu, "Ini semua bukan salah mu, aku yang bersalah di sini. Harusnya aku tidak membohongi mu jadi kau tidak membenci ku hehe."


Keno langsung berhambur memeluk Ellen. Mendekap tubuh mungil itu dengan erat, sudah lama ia menginginkannya. Keno terisak membayangkan bagaimana Ellen bisa bertahan selama ini sendiri tanpa ia menemani.


Dengan senang hati Ellen membalas pelukan Keno. Menenggelamkan kepalanya di dada Keno menghirup aroma mint dari tubuh yang selama ini ia rindukan.


"Aku bodoh hiks. Harusnya aku menemani mu menjalani semuanya." lirih Keno terisak dalam dekapan Ellen.


"Tidak, jangan menyalahkan dirimu." Ellen ikut menangis.

__ADS_1


"Harusnya aku mencari tau dulu tentangmu, harusnya aku tidak mengabaikan mu, hiks hiks hiks." Keno masih terisak.


"Hm, terserah kau saja kalau begitu. Kau itu seperti anak kecil, lihatlah banyak yang memandang mu. Kau itu presdir Sanjaya Group loh, apa ini tidak memalukan." ledek Ellen yang akhirnya mampu membuat Keno melepas pelukan dan menghentikan tangisnya.


"Lalu apa semuanya sudah baik- baik saja? Kau sudah pulih total kan?"


"Belum sepenuhnya."


"Lalu kenapa kau kembali?"


"Awalnya aku memang tidak diperbolehkan untuk ke Indonesia lagi, tapi karena aku terus memohon dan akhirnya dokter memperbolehkan ku. Aku ingin memberitahu mu, karena aku yakin kau pasti membenci ku. Dan ternyata benar waktu kemarin kita bertemu, kau tidak menginginkan untuk bertemu ku lagi kan." ucap Ellen berkacak pinggang.


"Maafkan kebodohan ku, aku masih kesal jika teringat masa itu." balas Keno menundukkan kepalanya.


"Jangan bersedih, kau tidak boleh seperti ini. Nanti kalau aku pergi kau jangan bersedih ya, berjanjilah." Ellen mengusap air mata yang masih membasahi pipi Keno.


"Apa yang kau katakan !!! Jangan berkata seperti itu, aku tidak suka. Kau tidak akan pergi !!!" bentak Keno.


"Haha, Kau masih seperti dulu ternyata, pemarah."


"Aku tidak akan berubah untuk hal itu."


"Hm, aku tidak tau bagaimana ke depannya. Jantung ku tidak akan bertahan lama lagi, kalau aku ingin hidup lebih lama aku harus melakukan transplantasi jantung. Untuk hal itu aku tidak yakin ada yang mau mendonorkannya untukku."


"Aku akan mencarikan donor jantung untuk mu, apapun akan ku lakukan. Kau akan terus hidup, jangan berkata seperti tadi lagi. Ingat itu."


"Terserah kau saja, tapi kalau sudah waktunya aku tidak bisa berbuat apa- apa lagi. Ingat itu, kita tidak bisa melawan takdir." Keno terdiam.


"Sudahlah, kau mau kemana setelah ini? Aku akan menemani mu."


"Bukankah kau tadi bilang padaku seperti ini, 'Kami tidak ada waktu untuk membicarakan hal penting, kau pikir kami tidak sibuk'. Bukankah begitu pak Presdir?" ucap Ellen menirukan Keno tadi.


Keno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu kan tadi, sekarang tidak, ayo kau mau kemana." Keno menggenggam tangan Ellen keluar dari restoran.


"Aku tidak mau kemana- mana lagi, aku hanya ingin pulang. Kau kembalilah ke kantor, pekerjaan mu pasti banyak."


"Ada Frido yang akan menghandle semuanya, hari ini aku akan menemani mu."


"Kau yakin? Aku tidak mau mengganggu waktu mu, kembalilah saja."


"Aku yakin, sudahlah jangan difikirkan. Sudah ada Frido, untuk apa aku menggajinya kalau tidak bermanfaat."


"Kau masih seperti dulu ternyata ya, membuat susah Frido terus haha." Mereka terkekeh.


Ellen dan Keno pun hendak menghabiskan waktu untuk hari ini. Mereka berjalan mengelilingi mall dan sesekali Ellen bercerita tentang hari- harinya selama di Singapura. Dan tentu saja membuat Keno mengucapkan maaf terus kepada Ellen.


"Ele, apa kau yakin kau tidak apa- apa hari ini?"


"Kenapa memangnya? Aku bahkan lebih baik hari ini." ucap Ellen tersenyum manis.


"Aku hanya takut kau sakit lagi." ucap Keno dengan wajahnya yang sendu.


"Oh ya, kau pasti mau membeli baju, sepatu, tas kan?"


"Kau tidak lihat di tangan ku sudah banyak barang haha."


"Kau juga masih seperti dulu ternyata, suka berbelanja." Keno mencubit hidung Ellen gemas.


"Ken, aku haus. Itu ada stand boba apa kau mau membelikannya untukku?"


"Tentu saja, tunggu sebentar dan duduklah dulu jangan kemana- mana."


Keno pun menuju ke stand boba yang dimaksud. Segera ia memesan dua cup boba untuknya dan Ellen.


"Kak, Boba originalnya dua ya."


"Siap, tunggu sebentar." balas penjualnya.


Beberapa menit berlalu dan pesanan Keno sudah jadi, segera ia membayarnya. Ia pun berjalan menghampiri Ellen. Baru beberapa langkah ia terhenti saat melihat minuman yang dibawanya.


Boba?


"Inikan minuman favorit Aira, astaga kenapa aku bisa melupakan Aira dalam waktu sekejap." batin Keno.


Perasan Keno menjadi tidak karuan. Mendengar penjelasan dari Ellen tadi yang ternyata ia tidak mengkhianati hubungan mereka membuat hati Keno senang. Rasa cintanya untuk Ellen seakan kembali lagi, namun ia juga sudah memberikan hatinya untuk Aira. Bahkan baru kemarin ia menyatakannya. Sungguh ini membuatnya gundah.


"Wahh terima kasih." celetuk Ellen saat Keno menyodorkan boba ke tangannya.


"Sama- sama." Mereka melanjutkan obrolan dan menghabiskan waktu hingga sore menyapa. Dan akhirnya Keno mengantar Ellen pulang.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, dan terima kasih juga telah memberikan waktu mu untukku hari ini." ucap Ellen dengan senyum mengembang.


"Sama- sama. Aku juga senang menemani mu, jaga kesehatan mu jangan sampai sakit lagi. Kalau kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu ku."


"Byee, hati- hati di jalan. Aku menyayangi mu." seru Ellen saat sudah keluar dari mobil Keno. Seperti dua tahun lalu saat berpacaran, setelah Keno mengantarkan Ellen pulang ia selalu mengatakan hal itu kepadanya. Melambaikan tangannya saat mobil Keno menjauh dan memberikan senyum terbaiknya sebagai pengantar kepergian.


.


.


.


.


.


Kalau suka sama ceritanya Jangan lupa like, komen, dan votenya ya wkwk


Terima kasih sudah membaca cerita yang gaje ini haha...

__ADS_1


__ADS_2