
Malam hari....
Drrttt...drrrtttt...drrrttt
Ponsel Aira bergetar, ia segera membuka whatsApp yang masuk. Dan ternyata dari nomor tak dikenal dan tak ada foto profilenya, ia pun tidak membalasnya karena pesan itu berisi ucapan selamat malam saja dan selama ini memang banyak yang mengirimkannya seperti itu jadi sudah biasa lah bagi Aira yang jomblo itu haha. Ia pun kembali meletakkan ponselnya di meja lagi, dan melanjutkan untuk menulis novel kembali.
Namun, tak lama kemudian ponselnya kembali berdering dan kali ini bukan pesan namun sebuah panggilan. Aira tidak menerima panggilan itu hingga sepuluh panggilan yang tidak terjawab olehnya.
Aira mengernyitkan dahinya, "Siapa sih nelfon terus, iseng banget." Hingga akhirnya Aira menerima panggilan untuk yang ke sebelas.
"Hallo dengan siapa dimana ini, passwordnya jangan lupa." celetuk Aira.
Sang penelfon tertawa mendengarnya, "Oh maaf, saya salah sambung ternyata. Saya kira ini nomor sesorang tapi ternyata ini kuis ya."
"Dengan siapa ini? Kenapa menelfon ku berkali- kali, kalau kau menelfon ku sekali lagi akan aku pastikan kau mendapat sebuah piring cantik dariku."
Sang penelfon kembali tertawa mendengar celotehan Aira. Ia segera mengalihkan telfonnya menjadi panggilan video. Dan...
"Dokter Alfaaaaa !!! " teriak Aira histeris.
"Kenapa?" tanya Alfa terkekeh.
"Aa tidak hanya terkejut saja, aku kira siapa tadi ternyata dokter Alfa." Aira menghela nafasnya.
"Oh ya, dokter ngapain WA dan nelfon aku. "
"Hanya memastikan kalau ini benar- benar nomor kamu saja."
"Ohh, aku kira tadi dokter juga mau ngantri jadi pacar saya."
"Ngantri? memang banyak yang mau jadi pacar kamu ya?"
"Tentu saja, tentu saja tidak banyak. Bahkan tidak ada hahahaha."
"Kamu ini bisa aja."
Mereka melanjutkan obrolan hingga satu jam lamanya, entah apa yang sedang mereka bicarakan namun yang pasti tidak ada yang penting wkwk. Banyak sekali candaan yang keluar dari mulut mereka dan mereka pun tak henti- hentinya tertawa. Meskipun baru bertemu beberapa kali, namun mereka sudah sangat akrab.
***
Matahari mulai menampakkan wujudnya. Hari baru pun telah tiba. Aira segera bangun dan membereskan tempat tidurnya. Kemudian ia bersiap untuk bekerja. Ia hanya mengenakan kaos serta celana panjang saja, namun tak mengurangi aura kecantikannya.
Setelah siap, ia menuju ke kamar Keno. Membangunkan bayi besar itu dan menyiapkan keperluan.
Aira menggelengkan kepalanya ketika melihat posisi tidur Keno yang telentang dengan kaki melebar memenuhi ranjang.
"Ken, bangun!" seru Aira sembari menarik tangan Keno.
Karena tak kunjung bangun juga ia menggelitik kaki Keno, namun Keno tak bangun juga. Kemudian Aira mencobanya dengan cara lain. Aira mencubit hidung Keno hingga tidak bisa bernafas membuat Aira terkekeh sendiri. Keno pun terbangun dan bersusah payah mencari udara.
"Kau mau membunuhku."
"Lagian kamu itu dibangunin malah tambah pules aja tidurnya." ucap Aira menyilangkan kedua tangan di perutnya.
"Kenapa bangun sekarang sih, masih jam enam. Aku juga udah solat subuh kok, jadi biarin aku tidur dulu." ucap Keno kesal.
"Tidak ini sudah siang, jangan tidur lagi."
"Hanya sebentar saja, hari ini tidak akan ada pertemuan dengan client jadi aku bisa bebas hooaaahhhhmmmm."
"Udah sana mandi, aku udah siapin bajunya. Aku mau bikinin sarapan dulu."
"Mandiin"
Aira melototkan matanya dan menyeret Keno menuju kamar mandi.
"Mandi cepat !!!" bentak Aira dan langsung menutup kamar mandi dengan kasar.
Keno bergidik ngeri melihat Aira yang marah- marah. "Hii ngeri kalau udah marah, lagi pms kali ya." gumam Keno. Keno pun segera mandi dan bersiap. Ia memakai baju yang sudah dipilihkan Aira, karena tidak ada pertemuan dia memakai kaos dilengkapi dengan jas. Ia hanya memakai kemeja dan dasi kalau ada pertemuan- pertemuan atau meeting penting saja.
Setelah selesai bersiap, ia menuju ke meja makan untuk sarapan. Aira sudah menyiapkan sarapan untuknya. Ia pun menarik kursi dan segera menikmati sarapan yang telah dibuat oleh istrinya eh baru calon ehe.
Aira asyik dengan ponselnya dan tersenyum- senyum sendiri saat makan. Keno yang melihatnya pun bertanya- tanya apa yang terjadi padahal tadi saja di kamar Aira tampak galak dan marah- marah, namun sekarang ia tersenyum- senyum sendiri seperti orang gila.
Biasanya Aira dan Keno berdebat kecil saat makan tapi ini tidak, Aira tampak mengacuhkan Keno dan hanya fokus dengan ponselnya.
"Kenapa sih senyum- senyum sama ponsel."
"Engga papa kok, ini lagi chattingan aja haha."
"Lagi chattingan sama siapa? cowok?"
"Iyalah, kenapa emang?." Aira tetap menatap ponselnya.
Keno merasa jengkel ketika mengetahui Aira sedang chattingan dengan lelaki sampai tersenyum- senyum. Selera makannya pun hilang seketika, ia langsung meninggalkan meja makan dan segera menuju ke mobilnya. Aira pun terburu- buru mengikuti langkah Keno, namun ia telat. Keno sudah berangkat duluan meninggalkan Aira.
"Kok aku ditinggal sih tumben- tumbenan. Loh mang Dadang engga ngantar Keno?" tanya Aira ketika melihat mang Dadang masih berada di garasi mobil.
"Iya tadi Tuan Keno bawa mobil sendiri, dia berpesan kalau nak Aira mau berangkat suruh bawa mobil lain."
"Oh gitu, kalau Aira pakai motor saja boleh ngga mang?"
__ADS_1
"Ohh boleh nak."
Aira pun berangkat menggunakan motor. Ia masih kebingungan kenapa sikap Keno seperti itu kepadanya.
***
Sesampainya di ruangan presdir, Keno mendudukkan dirinya dengan kasar. Masih kesal dengan kejadian tadi.
"Kenapa aku kesal sekali ya saat tau Aira berhubungan dengan laki- laki lain. Apa ini rasanya cemburu?" gumam Keno.
"Kau kenapa Tuan?" tanya Frido saat mihat bosnya itu terlihat sedang kesal.
"Duduk lah sini." Keno menyuruh Frido duduk di kursi depannya. Kini mereka saling bertatap- tatapan. Dan terlihat serius.
"Ada apa?"
"Apa kau pernah cemburu? Bagaimana cemburu itu?"
"Cih aku kira kau sedang membicarakan soal perusahaan, ternyata hanya pembicaraan tidak berguna seperti itu."
Keno menggebrak meja dan menatap Frido dengan tatapan menakutkan. Frido menelan salivanya dengan kasar dan segera menjawab pertanyaan Keno.
"Cemburu itu luapan rasa kasih dan sayang kita karena tidak ingin pasangan kita berpaling pada orang lain."
"Cemburu itu meliputi perasaan negatif seperti takut ditinggalkan, sedih, cemas, dan marah ketika kita melihat orang yang kita sayangi dekat dengan orang lain." tambah Frido.
Keno hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi memang benar aku sedang cemburu dengannya." lirih Keno.
"Kau sedang cemburu? Dengan siapa? apa dengan wanita menyebalkan itu?"
"Berhenti mengatai kalau dia itu menyebalkan."
"Ya ya ya. Jadi kenapa kau cemburu?"
"Tadi pagi dia mengacuhkan aku ketika sarapan ini tidak seperti biasanya. Biasanya dia berdebat denganku mempermasalahkan hal kecil namun tadi dia malah asyik dengan ponselnya. Aku kesal dan aku berangkat sendiri meninggalkannya."
Frido tertawa mendengar penjelasan Keno, "Jadi kau cemburu dengan ponsel hingga kau kesal dan berangkat sendiri meninggalkannya?"
"Dia chattingan dengan lelaki. Aira merasa senang saat mendapat pesan itu, ia senyum- senyum sendiri."
"Ohh, seperti itu. Makanya kalau punya perasaan itu segera disampaikan, nanti kalau Aira keburu direbut sama orang lain menyesal kau."
"Sudah pergilah bekerja. Kau tak tau apa- apa tentang masalah seperti ini."
"Aku bahkan lebih tau tentang masalah cinta daripada kau, Tinggal bilang aja sama si Aira apa susahnya. Gengsi kok dipelihara." gerutu Frido berdiri meninggalkan ruangan Keno.
"Aku mendengarnya." seru Keno.
"Baguslah kalau kau mendengarnya." balas Frido ia pun tertawa melihat Keno yang semakin kesal.
***
Siang hari setelah selesai membawakan berita, Aira pergi ke sebuah cafe untuk bertemu dengan Alfa. Mereka berencana untuk makan siang bareng.
Setelah sampai di restoran, Aira segera menghampiri Alfa yang ternyata sudah menunggunya sedari tadi.
"Maaf ya nunggu lama." ucap Aira tersenyum manis.
"Engga kok baru sampe juga."
Mereka pun menikmati makanan yang sudah dipesan Alfa sebelumnya sembari berceloteh.
"Oh ya kamu makan sama aku emang pacar engga marah, Ra?" tanya Alfa.
"Engga ada pacar, yang harusnya tanya gitu itu aku bukan kamu haha."
"Kamu jomblo juga ternyata haha."
"Baru putus." lirih Aira.
"Kenapa putus, engga bener tuh mantan kamu nyia- nyiain orang kaya kamu."
"Dia bakal jadi adek ipar aku, dua minggu lagi dia akan menikah sama adek aku." ucap Aira sembari tersenyum getir.
"Oh maaf ya aku engga tau."
"Berarti ada kesempatan buat aku dong." batin Alfa.
Aira menganggukkan kepalanya dan mengalihkan pembicaraan. "Oh ya kamu udah berapa lama kerja di rumah sakit S?"
"Kalau aku baru sih, cuma kalau papa udah lama banget. Jadi dia di beri kepercayaan untuk mengelola rumah sakit itu sama pemiliknya dan sekarang pemilik rumah sakit itu mempercayakan kepada aku." tutur Alfa.
"Ohh gitu, jadi papa kamu juga dokter dong?"
"Heem, Mama ku juga dokter."
"Apa menjadi dokter sudah menjadi cita- cita mu sejak kecil?"
"Tentu saja, pekerjaan ini sangat mulia. Hm apa menjadi reporter serta wartawan juga menjadi cita- cita mu sejak kecil?"
"Ehm tidak juga, aku hanya menjalankan alur yang diberikan Tuhan saja. Dulu waktu kecil aku cuma pengen punya toko kue seperti yang di impikan nenek ku."
"Lalu apa toko itu bisa kamu wujudkan?"
"Alhamdulillah sekarang merambah menjadi cafe juga, sudah berjalan dua tahun terakhir ini ya walaupun belum terlalu besar hehe."
__ADS_1
"Keren kamu. Dimana lokasinya, kalau ada waktu akan mampir ke sana tapi khusus untuk aku pasti ada diskon dong."
"Haha, dokter seperti mu juga penggemar diskon ya rupanya."
Karena jam istirahat Alfa sudah hampir habis, ia pun segera berpamitan dengan Aira untuk kembali ke rumah sakit lagi. Dan Aira pun meninggalkan cafe menuju ke toko kuenya.
***
Malam hari setelah makan malam Aira memilih untuk menonto televisi sembari melanjutkan novel yang yak kunjung usai itu. Dilihatnya Keno juga sedang menonton televisi di sana, ia pun duduk di sebelah Keno. Namun Keno malah meninggalkan Aira, ia menuju ke kamarnya.
Aira menggerutu kesal dengan sikap Keno yang seakan menghindari dirinya sejak tadi pagi, dan hari ini Keno tampak diam dan jarang bicara.
Aira segera mengikuti Keno, ia pikir Keno akan tidur jadi dia akan menidurkannya. Sesampainya di kamar Keno, Keno berbaring di ranjangnya dan memainkan ponselnya. Saat Aira berjalan menghampirinya, Keno langsung menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya serta membelakangi Aira.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa, pergilah."
Aira semakin bingung dengan tingkah Keno. "Ada apa ceritalah, apa aku mempunyai salah dengan mu sehingga dari tadi pagi kau menghindari aku?"
Bukan hanya cemburu dengan lelaki yang chattingan dengan Aira tadi pagi, namun Keno juga mengetahui kalau tadi siang Aira makan dengan laki- laki. Keno merasa sedih, harapannya untuk memiliki Aira hilang.
"Kau kenapa, jangan seperti ini aku tidak suka." ucap Aira menggoyang- goyangkan tubuh Keno.
Namun Keno tak memperdulikannya, ia tetap membelakangi Aira.
Aira semakin jengkel, ia menarik selimut Keno dan membuangnya ke lantai. Kemudian ia menarik kaki Keno dan menggelitiknya.
"Hei berhenti, ini geli." Aira tak memperdulikannya ia terus menggelitiki Keno hingga tertawa terpingkal- pingkal.
"Bilang dulu kenapa dari tadi mengacuhkan aku."
"Iy- iya iya tapi berhenti dulu." Aira pun menghentikan gelitikannya dan duduk bersila menghadap Keno.
"Sekarang katakan alasan mu."
Menghela nafas, "Kau duluan yang mengacuhkan aku, saat sarapan tadi pagi kau tidak memperdulikan ku, kau hanya fokus dengan ponsel mu. Saat makan malam juga kau asyik dengan ponsel mu."
Aira terkikik mendengarnya, ia tidak menyangka kalau Keno cemburu. "Apa kau cemburu dengan ponsel ku." ledek Aira.
"Bukan dengan ponsel mu."
"Lalu?"
"Tentu saja dengan lelaki mu."
Aira mengernyitkan dahinya, "Siapa lelaki ku?"
"Ah sudahlah, aku sudah mengantuk." Keno kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Katakan siapa lelaki yang kau maksud itu." tanya Aira lagi, Ia memegang kedua pipi Keno dan menyuruh Keno membuka matanya.
"Siapa kalau bukan lelaki yang makan siang dengan mu tadi."
"Kau melihatnya? Apa kau mengikuti ku?"
"Cihh untuk apa mengikuti mu. Aku memang sering makan siang di sana, dan tadi tidak sengaja melihat mu dengan lelaki itu."
Aira tertawa, "Jadi kau cemburu rupanya?"
"Tidak!"
"Lelaki yang tadi siang itu hanya teman baru ku, aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu." jelas Aira.
"Sudahlah bayi besar ku, kau tidak perlu cemburu." Aira mencubit hidung Keno.
"Sudah aku katakan aku tidak cemburu."
"Kalau tidak cemburu kenapa kau merajuk" goda Aira.
"Ah bodoamat."
Aira tersenyum melihat Keno merajuk, ia mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Keno.
"Mimpi indah bayi besar ku." ucap Aira mengusap kepala Keno dengan lembut.
"Kata orang kalau cemburu itu tanda cinta, tapi apa iya Keno cinta sama aku?" Aira bertanya- tanya pada dirinya sendiri.
Sedangkan, Keno merasa lega mengetahui lelaki yang bersama Aira tadi hanya temannya. Dan bisa tidur nyenyak tentunya haha.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca :)
Kalau kalian suka sama ceritanya, jangan lupa like, komen, dan vote juga ya hehe :v
oh ya, buat kalian yang suka dengan novel bergenre action, fantasi dan petualangan jangan lupa mampir juga ya di karyanya SteVlH judulnya "FIGHTER'S POWER" :)
__ADS_1