Hello Presdir

Hello Presdir
Malam Hari


__ADS_3

Malam semakin dingin, AC di kamarnya menambah dinginnya malam itu. Tangan anak kelas tiga SMP itu terulur untuk mematikannya. Ia merasa letih, kelas tiga sangatlah menyibukkan dirinya. Hari- harinya hanya digunakan untuk berlatih soal serta ikut bimbel ke sana kemari. Tapi tak masalah, yang terpenting adalah ia dapat lulus dengan nilai yang memuaskan sehingga bisa masuk SMA favorit.


"Tinggal tiga bulan lagi," gumam Aksa sembari melingkari kalender yang terdapat di meja belajarnya. Ia memang seperti itu, selalu melingkari hari yang telah terlewati.


Ditutuplah buku- bukunya dan menyiapkan buku yang akan dibawa ke sekolah besok. Suara pintu diketuk membuat aktivitasnya terhenti.


"Masuk saja, pintunya tak dikunci," serunya, ia lalu kembali memasukkan buku- buku ke dalam tasnya.


"Tak dikunci bagaimana? Jelas- jelas ini dikunci!" sahut lelaki yang tak lain adalah Papanya sembari mencoba memutar knop pintu.


Aksa menepuk keningnya, ia baru sadar jika tadi mengunci pintunya. Ia pun dengan malasnya membukakan pintu untuk sang papa.


"Hm, ada apa? Ganggu saja," ucap Aksa. Ia hendak kembali ke meja belajarnya tapi tangannya dicekal Keno.


"Sombong sekali dirimu!" Keno melipat tangannya di dada menatap jengkel ke anaknya.


Aksa tersenyum lebar dengan penuh paksaan, "Ada apa Papaku sayang? Apakah kamu memerlukan bantuan dari anakmu yang sangatlah tampan ini?"


"Halah sok- sokan baik! Sudahlah, ayo makan malam. Mama sudah menunggu lama."


"Makanlah dulu, Pah. Aku masih ingin membereskan bukuku."


"Bisa dilanjutkan nanti, sekarang makan dulu jangan sampai sakit sebentar lagi kan ujian."


"Iya, tunggu saja di bawah. Aku akan segera menemui kalian." Aksa mendorong Papanya keluar dari kamarnya dan segera menutup pintunya.


"Aksa!"


"Sebentar, Pah."


Keno menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya, ia lalu turun untuk menemui istrinya. Daripada darahnya semakin naik, lebih baik ia segera turun.


"Loh, Aksa mana sayang? Kok nggak ikut turun?" tanya Aira. Wanita itu tengah sibuk menyiapkan makanan yang akan mereka santap.

__ADS_1


"Nanti akan segera turun katanya, kita lebih baik makan saja dulu," jawab Keno.


"Memangnya Aksa lagi ngapain?"


"Lagi beresin buku- bukunya, aku tadi langsung diusir dari sana. Biarkan saja semaunya, lagipula dia sudah besar tak perlu mengkhawatirkannya lagi," ucap Keno sembari mengecup pipi Aira.


"Tapi..."


"Dia akan segera kemari, ayo makan..."


Aira pun mengangguk, ia segera mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk pauk. Sedikit tak tega dengan Aksa, biasanya mereka selalu makan malam bertiga.


"Bagaimana masakanku hari ini, sayang?" tanya Aira kepada sang suami yang tengah lahap memakan sop tomyam buatannya.


"Seperti biasa, rasanya sangatlah luar biasa," jawab Keno dengan mulut penuh.


"Pelan- pelan saja, jadi belepotan gini kan..." Aira membersihkan sudut bibir suaminya yang belepotan.


"Kamu kok makannya dikit sih? Ayo aku suapin." Keno menyodorkan satu sendok sop tomyam ke mulut istrinya.


"Makan yang banyak, biar nggak kurus," ucap Keno.


"Nanti kalau aku gendut kamu malah tinggalin aku. Kamu pasti bakal cari cewek yang lebih muda dan cantik," sahut Aira sendu.


"Buang pikiran burukmu itu, aku tak akan pernah meninggalkanmu apapun kondisimu. Cuma kamu yang ada di hatiku, tak akan pernah tergantikan."


"Ehemm, bucinnya kumat..." seru Aksa sembari menuruni anak tangga menghampiri Papa dan Mamanya yang sedang berduaan.


"Eh sayang, ayo cepat makan. Mama memasak makanan kesukaanmu loh..." Aira mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Aksa.


"Pah, aku ingin duduk di samping Mama. Pergilah sebentar, makan malammu sudah habis kan?" Aksa berusaha mengusir Keno supaya tak bisa dekat lagi dengan Mamanya.


"Nggak mau, makan di tempat lain sana. Papa mau berduaan sama Mama."

__ADS_1


"Ayolah, Pah..."


Aira menatap suaminya sejenak mengisyaratkan supaya Keno mengalah, lelaki itu pun akhirnya berdiri dan pergi meninggalkan meja makan membiarkan anaknya menikmati waktu bersama sang Mama.


"Ayo makanlah, Mama akan menemanimu." Aira membelai lembut kepala anaknya yang sudah duduk di sampingnya.


*****


Malam telah menunjukkan pukul delapan, ini saatnya keluarga kecil itu berkumpul. Mereka duduk berjejer di sofa depan televisi dengan Aira yang berada di tengah. Jika tak begitu Keno dan Aksa akan saling berebut.


"Sa, bagaimana hasil Try Out mu kemarin?" tanya Keno memecah keheningan. Aira pun ikut menatap anaknya yang tengah menyandarkan kepala di bahunya.


"Tentu saja bagus, hampir sempurna," jawab Aksa tanpa menoleh ke arah kedua orang tuanya, ia asyik menonton drama di layar televisi.


"Belajar yang serius, jangan terlena sama hasil yang kemarin," tutur Keno memperingatkan.


"Pah, aku sudah mau SMA, tapi kenapa Papa nggak ngebolehin aku bawa mobil sendiri?"


Pertanyaan itu tak kunjung mendapat sahutan dari Papa maupun Mamanya, semuanya diam pura- pura tak tahu. Aksa pun bangkit dan berdiri menghalangi televisi supaya orang tuanya itu menghiraukannya.


"Apaan sih, Sa. Minggir sana ganggu orang tua lagi nonton drama thailand saja!"


"Jawab pertanyaanku dulu." Aksa melipat tangannya di dada, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan serius.


Keno dan Aira memutar mata malasnya, sudah berkali- kali Aksa bertanya akan hal itu. Mereka pun bosan menjawabnya.


"Sudah kelima puluh kalinya kamu bertanya seperti itu-"


"Dan kalian hanya menjawab belum cukup umur, masih terlalu dini untuk mengemudikan mobil," potong Aksa.


"Pah, Mah, Aksa itu sudah besar. Aku bisa menjaga diri baik- baik, aku juga tak akan menyalahgunakan jika aku bisa mengendarai mobil sendiri," sambung Aksa dengan ucapan memelas.


"Jangan memikirkan hal ini sayang, suatu saat kami pasti akan mengizinkanmu kok. Yang penting kamu fokus dulu sama Ujian nanti," ujar Aira lembut.

__ADS_1


Aksa hanya mendengus kesal, ia kembali duduk di samping Mamanya dan memeluk wanita itu.


__ADS_2