
Pagi itu Keno harus terbang ke Jepang karena perusahaan cabang di sana sedang mengalami masalah. Ada orang kepercayaannya yang melakukan korupsi, ia harus memberantasnya sendiri.
"Say, tolong packing baju- bajuku ya. Aku harus pergi ke Jepang," ucap Keno. Lelaki itu terburu- buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap.
"Loh, aku kan juga harus ke Bandung buka cabang toko kue di sana. Terus Aksa gimana sayang? Aku harus menginap kurang lebih tiga hari," seru Aira.
"Kamu tunda dulu saja sayang, kasihan Aksa kalau di rumah sendiri," sahut Keno dari dalan kamar mandi.
Aira pun mendengus kesal, ia sudah merencanakan ini jauh- jauh hari. Impiannya untuk mendirikan toko kue di Bandung pun akhirnya tercapai, tapi sayang sekali peresmiannya akan ditunda untuk beberapa waktu.
"Pergilah, Mah. Aksa tak apa di rumah sendiri," seru Aksa memasuki kamar orang tuanya. Tadinya ia hanya ingin bertanya di manakah Mamanya itu menyimpan sneakers berwarna maroon miliknya.
"Nggak sayang, Mama bisa menundanya kok. Kamu mau apa sayang? Tumben pagi- pagi udah ke sini?" tanya Aira, wanita itu tengah sibuk mengemas segala keperluan suaminya.
"Di mana sneakers maroon ku, Mah? Aku sudah mencarinya di tempat biasa, tapi tak menemukannya."
"Nggak Mama pindah kok, masih di lemari kamu di bagian bawah."
Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan segala keperluan sang suami. Baju dan yang lainnya telah siap dan tertata rapi di koper.
"Ayo Mama carikan, awas saja kalau sampai ketemu di tempat yang sama."
"Aku sudah mencarinya, Mah tapi nggak ada." Aksa dan Aira telah sampai di kamar. Aira langsung menuju ke lemari anaknya, mencari sepatu yang dimaksud Aksa. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat sepatu yang dimaksud berada di tempat biasa dan hanya tertutup dengan sepatu yang lain.
"Nggak ada ya, Sa?" goda Aira.
Aksa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia sudah mencarinya dengan sungguh- sungguh tapi tetap tak ketemu. Tapi kenapa saat Mamanya itu yang mencarinya langsung ketemu. Bukankah ini sangat aneh?
"Hehe, sepatunya tadi mungkin lagi jalan- jalan ya, Mah." Aksa nyengir kuda sembari memakai sepatunya. Anak itu sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
Aira membuka gorden kamar anaknya, membereskan tempat tidurnya sejenak, dan juga meja belajarnya. Saat membereskan meja belajar, tak sengaja ia melihat tumpukan kertas warna warni. Ia mengambilnya, beberapa amplop warna- warni berisikan secarik kertas.
Aira tersenyum jahil mendapatinya, ia tahu betul kalau itu adalah surat cinta. Ia pun membacanya sekilas, surat yang banyak itu ternyata bukan Aksa yang menulisnya. Tapi dari para cewek penggemarnya di sekolah. Aira pikir itu surat yang ditulis Aksa dan akan diberikan kepada ceweknya tapi ternyata tidak.
"Teruntuk Aksa Arion. Tolong ya, kalau senyum jangan berlebih aku takut diabetes."
"Aksa Arion Sanjaya. Aku hanya bisa menatapmu sekilas, mencuri- curi pandang ketika kamu tersenyum lebar. Sungguh, aku jadi teringin untuk menjadi alasan senyummu itu."
"Halo Aksa, apa kamu merupakan titisan Lee Min Ho? Kenapa kamu sungguh tampan sekali? Hm, apa kamu mau menjadi kekasihku? Semoga kamu mau ya, kalau kamu mau aku akan menjadi cewek yang paling beruntung karena bisa memilikimu." Aira terkikik sendiri membacanya. Ternyata anaknya itu salah satu primadona di sekolahan, yang selalu menjadi rebutan tiap cewek.
Aira lalu mendekati anaknya yang sedang bermain iPadnya. Tak lupa ia membawa beberapa surat tadi untuk dijadikan alat menggoda Aksa.
"Ehem...ehem..."
"Kenapa, Mah?" tanya Aksa tanpa menatap Mamanya.
"Mah! Jangan dibaca lagi, itu sangat menjijikkan."
"Papa harus tahu ini, ternyata anaknya benar- benar mewarisi dirinya."
"Mah, kalau Papa sampai tahu aku malah akan semakin diledek. Jangan, Mah." Aksa terus berusaha mengambil surat- surat itu, tapi Aira tak membiarkannya.
"Bilang dulu sama Mama siapa cewek yang kamu pilih dari sekian banyaknya cewek yang mengirimkan surat kepadamu?" tanya Aira mengerlingkan matanya.
"Nggak ada!"
"Bohong!"
"Serius, Mah. Di sekolah itu nggak ada yang cantik, nggak ada yang sebaik Mama. Aku nggak pernah tertarik sedikitpun dengan mereka."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Untuk apa Aksa berbohong?"
"Aksa, kamu itu sudah besar. Kamu sudah menginjak remaja, cinta monyet itu pasti tumbuh. Masa kamu nggak merasakannya?"
Aksa menggeleng, ia memang tak tahu bagaimana cinta monyet itu. Yang ada dipikirannya hanyalah belajar dan belajar. Untuk cinta, ah bodoamat dengan itu.
"Aksa, kalau kamu menginginkan untuk pacaran Mama memperbolehkannya. Jadi jangan takut." Aira malah takut dengan anaknya, anak- anak dari temannya saja sudah banyak yang berpacaran dan mengenal apa itu cinta. Tapi anaknya sendiri? Ah, dia jadi takut jika Aksa memiliki kelainan.
"Nggak mau ngurusin! Ntar aja kalau udah sukses, lagipula aku cuma mau cewek yang kaya Mama. Dan itu susah nyarinya," ujar Aksa bersungguh- sungguh. Ia lalu mengambil surat- surat dari tangan Mamanya dan membuangnya ke tempat sampah setelah dirobek terlebih dahulu.
"Mama setuju, kalau ada apa- apa lagi kamu bisa cerita sama Mama. Okay."
"Siap!"
"Hey, kenapa kalian masih di sini? Dan apa ini?" Keno tak sengaja melihat satu amplop berada di bawah Aksa. Ah, Aksa meninggalkan satu surat cinta itu.
Keno terpingkal- pingkal membacanya, ini sangatlah alay!
"Anakmu ternyata jadi rebutan cewek."
"Ah, jangan membicarakan hal ini. Sangat menjijikkan." Aksa langsung pergi dari sana karena tak mau jadi bahan ledekan Papa dan Mamanya.
"Ah kamu telat sih datangnya, tadi suratnya tuh banyak, sayang. Tapi sudah dirobek dan dibuang ke tempat sampah sama Aksa," tutur Aira.
"Oh ya? Apa isinya alay semua?" tanya Keno terkekeh.
"Biasalah, namanya juga remaja."
__ADS_1