Hello Presdir

Hello Presdir
Menyebalkan


__ADS_3

Seluruh keluarga telah berkumpul untuk menyantap sarapan. Tapi, mereka masih menunggu kedatangan pengantin baru.


"Kemana mereka? Sudah jam 8 kok belum muncul juga tuh anak," seru Maria.


"Mungkin masih tidur, semalam mereka pulang jam satu malam karena menunggu Niken lahiran," jelas Mira.


"Pasti mereka masih melakukan itu. Hufft anak itu..." ucap Bram menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah Bram, biarkan mereka menikmatinya, haha," sahut Andi.


"Biar Sandi dan Mega yang membangunkan mereka, Om, Tante..." ujar Sandi, lalu mengajak Mega dan menuju ke kamar Aira dan Keno.


"Kita sarapan dulu saja, tak perlu menunggu mereka," ajak Nenek Ratih.


"Iya bener, kalau nunggu mereka bisa- bisa jadi makan siang bukan sarapan lagi," ujar Maria dengan tawa yang renyah.


Karena sudah terlalu lama menunggu, akhirnya mereka pun memilih untuk sarapan terlebih dahulu tanpa menunggu Aira dan Keno.


***


Di sisi lain, Aira dan Keno masih asyik dengan mimpi mereka. Mereka terlihat kelelahan setelah pertarungan panjang yang sempat tertunda. Bahkan, mereka baru tertidur pukul enam pagi tadi. Keno benar- benar tak membiarkan istrinya diam sedetik pun.


Terusik dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah kamar hotel, Keno pun mulai membuka matanya. Ia melirik ke arah jam dinding yang telah menunjuk ke angka delapan.


Keno tersenyum tatkala melihat punggung kecil yang masih terlelap membelakanginya. Ia benar- benar masih tak percaya kalau semalam dirinya dan Aira melakukan hal itu.


Ia memastikan sekali lagi kalau ini bukanlah mimpi. Keno mendekap kembali tubuh sang istri, membelai rambutnya dengan lembut. Sungguh, ia segan untuk beranjak dari posisi ini.


Satu kecupan mendarat di pipi Aira, Keno berharap supaya istrinya itu terbangun dan bisa bermesraan lagi. Tapi, ia juga merasa kasihan melihatnya, istrinya pasti sangat lelah dan ngantuk karena baru tertidur dua jam. Ia pun memejamkan matanya kembali ikut masuk ke dalam mimpi bersama Aira.



Baru saja terpejam, ia kembali membuka matanya ketika ada orang yang berteriak tak jelas di depan kamarnya.


"Kenoooo, bangun woyy !" teriak Sandi.


"Hey Aira, kenapa kalian belum keluar juga dari tadi. Ayolah keluar, kalian bisa melanjutkannya lagi nanti," tambah Mega dengan menggedor pintu.


Mendengar suara yang begitu memekakkan telinga, akhirnya Aira mulai mengerjapkan matanya dan menggeliat.


"Aira, Keno ! Kalian lagi ngapain woyy, betah banget sih di kamar," teriak Sandi dan Mega sekali lagi.


"Awww..." ringis Keno saat Aira mendaratkan kakinya di atas perutnya.


"Ah maaf, aku lupa kalau ada orang di sampingku," ucap Aira panik.


"Perutku jadi sakit, tanggung jawab pokoknya !" Keno menajamkan matanya.


"Anak manis, anak baik, jangan marah ya. Aku kan tidak sengaja," goda Aira seraya mencubit kedua pipi Keno.


"Aku tetap akan marah, perutku masih sakit," ucap Keno, padahal ia tak merasakan sakit sedikitpun.


"Sakit? Kalau ini bagaimana?" Aira mencubit perut Keno.


"Sakit, Ra. Kau itu bukannya memberiku morning kiss tapi malah cubitan. Ah menyebalkan !"

__ADS_1


"Tidak ada morning kiss, aku akan mencubitmu setiap pagi, haha," ucap Aira tertawa.


"Airaaaa bangun ! Cepet keluar ! Keno cepetan dong, lama amat sih !" teriak Mega dan Sandi.


"Dua sahabatmu itu juga sama menyebalkannya seperti dirimu. Dari tadi berisik terus. Samperin sana," perintah Keno.


"Airaaa bukaaaa !!!!!"


Dengan malas, ia pun beranjak dari ranjang hendak membukakan pintu untuk sahabatnya itu. Aira merasakan nyeri pada miliknya saat berjalan. Keno malah tersenyum saat melihat langkah Aira yang berbeda.


"Kenapa jalannya gitu sih? Kamu sakit?" tanya Keno pura- pura tak tahu.


"Bodoamat bambang !"


*


"Airaaa !!!!" teriak Mega saat pintu telah terbuka.


"Apa kak Mega? Kenapa teriak- teriak sih." Aira menutupi telinganya karena tak ingin mendengar teriakan Mega lagi.


"Lo itu lama banget dah buka pintunya, kita sampe dimarahin satpam gara- gara berisik," ucap Sandi menoyor kepala Aira.


"Salah sendiri, siapa suruh teriak- teriak di kamar orang. Ganggu orang lagi tidur aja sih kalian itu," jawab Aira tak kalah kesalnya.


"Udah ah, ayok sayang masuk," ajak Sandi.


"Ngapain masuk?"


"Lo nggak liat apa, kita udah bawa makanan buat sarapan." Mega dan Sandi melenggang masuk ke kamar Aira dan Keno. Membuat Aira tambah kesal dibuatnya.


"Siapa yang pergi?" tanya Sandi.


Mendengar suara yang tak asing baginya, Keno pun segera mengampiri. Betapa terkejutnya ia saat melihat kedua pengusik itu di kamarnya.


"Kalian ngapain di sini?"


"Mau sarapan, mata lo nggak liat apa?!" jawab Mega yang tengah menyendokkan makanan ke mulut suaminya.


"Maksudnya, kenapa harus di kamarku sih, kenapa nggak di bawah atau kamar kalian sendiri, ganggu orang aja !"


"Jangan banyak bicara atau akan ku potong lidahmu itu," seru Sandi. Keno semakin geram dengan mereka.


"Kau berani denganku?!" gertak Keno namun tak membuat Sandi takut sedikitpun.


"Berani !" jawab Sandi.


"Aira, nanti malam Keno jangan dikasih jatah ya, dia udah nakal tuh sama kita," teriak Mega kepada Aira yang tengah berada di kamar mandi.


Keno menjadi diam mendengarnya, Mega dan Sandi malah tertawa terbahak- bahak melihat ekspresi Keno.


***


Seusai sarapan, Mereka berempat memutuskan berkunjung ke rumah sakit untuk mengunjungi Niken dan Frido.


"Bayinya Niken cowok apa cewek, Ra?" tanya Mega saat berjalan menuju ke ruang perawatan Niken.

__ADS_1


"Cowok, kemarin aku sudah menggendongnya. Kau pasti akan suka, dia sangat menggemaskan. Ahh, aku jadi tak sabar untuk mencium pipi gembulnya," seru Aira seraya membayangkan bayi Niken.


"Waahhh kau lucu sekali. Syukurlah kau mirip dengan Mama mu, coba kau mirip dengan Papamu pasti kau akan menyebalkan," ucap Sandi saat melihat bayi Niken.


"Kau yang menyebalkan, awas saja kau !" gertak Frido.


"Aira, gantian dong gendongnya," pinta Mega.


"Nanti, aku saja baru menggendong. Tunggulah satu jam lagi."


"Huffttt, lo gila ya nyuruh gue nunggu satu jam. Udah sini sekarang aja, gue kan perlu latihan juga."


Mega dan Aira terus berebut untuk menggendong bayi itu. Dan pada akhirnya sang bayi menangis karena mendengar keributan. Bayi itu menangis kencang karena tidurnya terganggu.


"Sudah ku bilang jangan berebut, kasihan anakku." Frido langsung mengambil bayinya dan menyerahkan ke Niken.


"Kalian tak boleh menggendongnya lagi."


"Dasar pelit !!!" seru Mega dan Aira kepada Frido.


"Siapa nama anakmu?" tanya Keno.


"Devano Satya Nugraha."


"Hayy baby Devano. Kenalin aku Aunty Mega, cantik tiada terkira," tutur Mega seraya mencubit hidung Baby Devano.


"Ihh jadi orang kok percaya diri banget sih," sindir Aira.


Ruangan perawatan Niken yang tadinya sepi dan sunyi sekarang sangat ramai, hingga membuat bayi itu tak bisa tertidur.


***


Karena hari semakin sore, Aira dan Keno pun segera pulang. Begitu juga dengan Mega dan Sandi.


"Kau mau langsung pulang atau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Keno.


"Bagaimana kalau makan es cream di taman?" jawab Aira antusias. Keno pun mengangguk, ia segera melajukan mobilnya menuju ke taman kota.


Mereka duduk di bangku taman yang panjang dan berwarna putih. Dengan satu cone es cream berukuran besar di tangan mereka.


"Mereka sangat lucu ya," ucap Keno menunjuk ke anak- anak yang tengah bermain.


"Iya, tapi lebih lucu aku," jawab Aira terkekeh.


"Dihh, kepedean sekali kau." Keno mencubit hidung Aira. "Aku ingin memiliki Keno junior secepatnya," tambahnya.


"Iya semoga segera ada Keno junior secepatnya."


Plakkkk !


Satu tamparan dari wanita misterius mendarat di pipi Aira.


"Siapa kau? Berani sekali menampar istriku !" teriak Keno kepada wanita yang telah menampar Aira.


"Kau telah menghancurkan kehidupan anakku !" ucap wanita itu menunjuk ke Aira. Keno geram melihatnya, ia hendak mengetahui siapakah wanita itu. Namun, saat ingin membuka cadar yang dipakainya, wanita itu langsung berlari meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2