
Di kamarnya, Keno tampak membolak- balikkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size itu. Ia merasa gelisah, pikirannya kemana- mana, merasa suatu hal buruk terjadi. Terus melirik ponselnya mengharapkan notifikasi pesan muncul dari sana, namun ia tak kunjung mendapatkannya. Keno terus membuka pesan- pesan yang ia kirimkan untuk Aira, namun tandanya masih sama centang satu dan tak kunjung menjadi dua ataupun membiru.
Ia semakin kesal, sudah dari tadi siang ia sulit menghubungi Aira. Karena tak kunjung mendapatkan balasan dari wanita itu, Keno pun mencoba menghubungi pak Andi dan bu Mira. Tapi mereka juga tidak bisa dihubungi sama sekali, tak ada satu pesan pun terbalaskan. Keno mencoba untuk tidak berfikir aneh- aneh. Mereka mungkin sedang sangat sibuk untuk mempersiapkan pernikahan Hana yang akan digelar besok.
"Arrghhh..." Keno melempar ponselnya ke sembarang arah dengan kasar, tak peduli apa yang akan terjadi dengan ponsel yang berharga puluhan juta itu.
"Awas saja kalau kita sudah bertemu, aku tak akan mengampuni mu. Aku juga tak akan membiarkan mu jauh dari ku lagi." gumam Keno.
Ia langsung berdiri mengambil sweater di lemari dan mengambil kunci mobil di atas nakas sebelah ranjangnya. Ia berencana untuk pergi ke rumah Aira langsung. Sudah terlalu lama menunggu wanita itu memberinya kabar.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil BMW berwarna hitam milik Keno terparkir mulus di halaman rumah pak Andi. Segera ia keluar dan berjalan masuk ke rumah yang pintunya tidak tertutup itu. Tampak dari luar para pelayan sedang sibuk kesana- kemari mendekorasi rumah itu.
"Aneh, kenapa mereka masih terllihat sibuk? Bukankah kemarin persiapan pesta sudah 80%? Apa mereka mengganti tema pestanya jadi mendekorasi ulang rumah ini? Dan kenapa ada beberapa kekacauan di sana?" rentetan pertanyaan itu bermunculan di benak Keno. Ia melihat beberapa pelayan ada yang sibuk membersihkan kue yang terjatuh di lantai. Pecahan kaca juga ada di sana, sepertinya pecahan lampu- lampu kristal. Ia semakin yakin kalau telah terjadi sesuatu di rumah ini sehingga ada banyak kekacauan. Apa mungkin tadi ada gempa yang mnengguncang rumah beserta isinya itu. Atau ada angin ****** beliung yang mengacaukan rumah itu.
"Tante Ratna tungguuu..." ucap Keno menghentikan langkah Tante Ratna yang berpapasan dengan dirinya.
"Ada apa?" tanya wanita itu tak ada keramahan sedikitpun.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini? kenapa hiasan- hiasan pesta, kue, kursi, terlihat berantakan dan sangat kacau sekali?"
"Tanyakan saja pada wanita mu itu !" jawab Tante Ratna membentak Keno dan langsung pergi meninggalkan Keno yang nampak semakin bingung itu.
Keno mengelus dadanya, menguatkan hatinya. "Hufftt, sabar- sabar. Mungkin Tante Ratna sedang datang bulan jadi emosian deh."
Lalu Keno berjalan menuju ke ruang tamu, dilihatnya Hana sedang berbincang- bincang dengan seorang wanita yang membawa beberapa gaun pengantin. Ya, sudah bisa dipastikan itu adalah designer. Tapi untuk apa Hana memilih gaun lagi? Bukankah dia sudah menyiapkan gaun beberapa waktu yang lalu.
Setelah Hana selesai berbincang- bincang dengan designer itu, Keno segera menghampiri Hana.
"Hana, dimana Aira? Dari tadi aku mencarinya tapi tak kunjung menemukan batang hidungnya."
"Mana aku tahu !!!" jawab Hana membentak Keno dan melototkan matanya, kemudian pergi meninggalkan Keno.
Dan lagi- lagi, Keno hanya mengelus dadanya berusaha sabar. "Huffttt, sepertinya semua wanita di rumah ini sedang datang bulan berjamaah."
Ia pun bertanya kepada salah satu pelayan akan keberadaan pak Andi dan bu Mira. Untung saja pelayan itu laki- laki dan sangat ramah. Ia menunjukkan keberadaan atasannya itu.
"Halo Pah, Mah." sapa Keno mencium tangan pak Andi dan bu mira secara bergantian. Mereka tampak menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Ada apa kau ke sini? Pernikahannya besok bukan sekarang kenapa kau sudah datang. Bahkan rumah ini belum siap untuk dilaksanakan pernikahan, semua harus dimulai dari nol lagi." ucap bu Mira sedikit emosi dan sangat ketus.
"Apa yang dimaksud dengan dimulai dari nol lagi?" Keno terus bertanya kepada dirinya sendiri.
"Untuk apa kau kemari, kami sedang sibuk jadi tidak akan ada waktu untuk menemani mu." ucap pak Andi tak kalah ketusnya.
"Keno hanya ingin bertemu dengan anak kalian saja pah, mah...Dimana Aira?sejak tadi siang anak itu tidak bisa dihubungi sama sekali."
"Dia tidak ada di sini. Dan dia bukan anak kami, berhentilah berbicara seperti tadi. Kami tidak memiliki anak." seru bu Mira penuh dengan penekanan.
"A- apa maksud ucapan mama tadi? Tolong jelaskan kepada Keno."
"Dia sudah tidak ada di sini, kami sudah mengusirnya. Sudah tidak ada hal penting yang dibicarakan. Sebaiknya kau segera pulang." ujar Pak Andi meninggalkan Keno.
Keno semakin yakin telah terjadi masalah besar di rumah ini. Tapi kenapa Aira tidak dianggap anak oleh pak Andi dan bu Mira bahkan ia diusir orang tua kejam itu. Lalu dimana Aira sekarang? apa dia baik- baik saja saat ini? Keno semakin panik dan khawatir akan sesuatu yang menimpa Aira.
Ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Aira di setiap sudut kota. Ia juga tak bisa tinggal diam, Keno terus menyusuri kota mencari keberadaan Aira namun tak kunjung bertemu. Sudah satu jam berlalu tapi tidak ada hasil dari dirinya sendiri maupun para anak buahnya.
***
Mega dan Sandi langsung membawa Aira menuju ke apartemennya. Segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Aira. Tubuh Aira sangat panas karena luka lebam di sekujur tubuhnya. Dokter memberikan obat dan salep untuk luka di wajah Aira. Ia juga telah menempelkan perban di pelipis Aira yang terluka karena terbentur sudut meja.
Dengan perlahan, Mega membuka baju Aira dan hendak mengganti baju itu. Belum terbuka sepenuhnya, mata Mega terbelalak saat melihat tubuh Aira. Tidak hanya wajahnya saja yang penuh lebam dan luka- luka kecil namun sekujur tubuh Aira memar semua terlihat banyak bekas cambukan di punggung, tangan, dan kakinya. Kulit putih bersihnya berubah jadi merah kebiruan karena saking banyaknya luka memar di sana. Tak bisa dibayangkan betapa sakit yang harus Aira rasakan saat ini. Mega menangis terisak, hatinya sakit melihat kondisi sahabatnya yang sangat memprihatinkan itu.
"Ra, apa yang sebenernya terjadi sama lo. Kenapa tubuh lo memar semua, siapa yang telah melakukannya, Ra..siapa hiks...hiks...hiks..." Mega terus berteriak dan menangis tersedu- sedu di samping Aira yang belum juga membuka matanya dan tersadar.
"Ada apa sayang? Kenapa kau menangis?" tanya Sandi yang baru saja memasuki kamar itu.
"Airaa...Airaaaaa..."
"Dia akan segera bangun, tenanglah dokter juga berkata seperti itu tadi. Aira akan baik- baik saja, sudah jangan menangis."
"Tidak hanya wajahnya saja yang terluka, tapi sekujur tubuhnya juga. Banyak bekas cambukan di sana, tubuhnya memar semua. Pasti Aira merasakan sakit yang luar biasa. Aku tidak tega melihatnya." ucap Mega masih tersedu- sedu.
Sandi yang mendengar penjelasan dari istrinya sangat terkejut. Mereka terus menatap Aira yang tak kunjung mengerjapkan matanya dan tersadar.
"Ken....kau dimana.."
"Keno, aku sangat membutuhkan mu...." Aira terus mengigau. Tampak wajahnya cemas dan ketakutan terlihat jelas di sana.
Sandi dan Mega semakin tidak tega melihat Aira seperti itu, segera mereka menghubungi Keno mengatakan apa yang telah terjadi dengan Aira dan memintanya untuk datang menemui Aira sekarang juga.
***
Tak lama kemudian Keno datang. Ia langsung bersimpuh di samping Aira yang masih terlelap. Mengusap pipi Aira dengan lembut dan mencium keningnya. Mata Keno berkaca- kaca melihat kondisi Aira. Ia tidak sanggup melihat Aira terkulai seperti ini.
"Kenapa kamu bisa begini..." lirih Keno terus menatap Aira dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Apa kau tahu apa yang telah terjadi dengan Aira?" tanya Sandi kepada Keno.
"Aku belum tahu, tapi aku tadi sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidikinya. Dan mereka memberikan rekaman CCTV di rumah Aira. Aku belum melihatnya."
"Apa mungkin orang tua Aira sendiri yang melakukan ini?" tanya Mega.
"Entahlah, sebaiknya kita segera melihat rekaman CCTV rumah Aira." ajak Sandi.
Mereka segera melihat rekaman itu dengan seksama, berawal dari seorang wanita yang berusaha menghancurkan pesta pernikahan Hana. Hingga berkumpulnya semua isi rumah di ruang utama.
Kemudian Aira menghampiri mereka semua, lalu Papanya menampar pipi Aira dengan sangat keras hingga terhempas. Tak hanya papanya, Mama dan Tantenya juga ikut menampar Aira.
"Brengsek !" seru Mega mengepalkan tangannya, ikut emosi saat melihat rekaman itu.
Mereka dengan seksama juga mendengarkan apa yang dibicarakan oleh keluarga itu. Sungguh hati mereka sakit mendengar berbagai lontaran kasar dari para keluarga Aira.
Mega kembali meneteskan air matanya saat melihat Aira dicekik oleh pak Andi hingga tersengal dan hampir kehilangan nafasnya. Bahkan pak Andi juga menendang kepala Aira hingga terjatuh ke lantai dan terbentur sudut meja.
Keno dan Sandi berkaca- kaca saat melihat penganiayaan itu. Dan yang paling parah adalah saat pak Andi mencambuk Aira dengan ikat pinggang yang baru saja ia lepas. Terus merintih kesakitan tapi tak ada satu orang pun yang membantu Aira atau menghentikan tindakan keji itu.
Mereka bertiga tak sanggup melihat Aira mendapatkan cambukan hingga puluhan kali itu. Mereka menangis tersedu- sedu tidak menyangka kalau Aira harus mendapatkan perlakuan seperti itu dari keluarganya sendiri.
Keno tak sanggup melihat rekaman itu lagi, ia langsung berlari menuju Aira dan mendekapnya seerat mungkin. Menangis meronta- ronta, tak sanggup melihat orang yang ia cinta dan sayangi mendapat siksaan yang begitu berat.
"Bagaimana kamu bisa dengan sabar bertahan dari semua derita yang kau alami, bagaimana kamu bisa merelakan kekasih mu untuk adikmu sendiri dan merelakan semuanya untuk kebahagiaan adik yang tak tahu diri itu, bagaimana kamu bisa tegar saat keluarga mu sendiri memperlakukan mu seperti sampah, bagaimana kamu bisa sekuat ini. Sungguh Aira, aku pasti tidak bisa jika harus berada di posisi mu saat ini. Kau wanita hebat, tidak salah jika aku mencintai mu." gumam Keno.
"Ken..." Aira akhirnya membuka matanya saat mendengar ada seseorang yang sedang menangis.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak ada di dekat mu saat itu. Harusnya aku tidak membiarkan mu kembali ke rumah neraka itu." Keno terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Aira. Ia masih menangis memeluk Aira.
"Aku tidak apa- apa, aku baik- baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan aku." Aira kembali terisak dalam pelukan Keno, menangis sejadi- jadinya seraya menggigit bibir bawahnya menahan sakit di kulitnya karena dekapan Keno yang terlalu erat.
"Jangan terlalu erat, ah..." seru Aira meringis kesakitan.
Keno tersentak langsung melepas pelukannya, ia lupa bahwa ada banyak luka di tubuh Aira.
"Kalian kenapa nangis?" tanya Aira kepada Mega dan Sandi yang berdiri di samping ranjang.
"Lo bodoh Ra, bodoh ! Harusnya lo engga balik ke rumah itu." bentak Mega menoyor kepala Aira.
"Kalian udah tahu semuanya?"
"Udahlah, kalau nunggu lo sendiri yang cerita sampe kiamat juga lo nggak bakal cerita." sahut Sandi.
"Bisa- bisanya ya lo masih santai aja, harusnya lo lapor polisi. Walaupun mereka keluarga lo sendiri tapi perbuatan mereka itu sangat menjijikkan." Mega terus berbicara dengan nada tinggi karena kesal dengan Aira yang tampak biasa- biasa aja atas apa yang telah terjadi.
"Ah udahlah kak Mega, kak Sandi jangan marah- marah terus. Mending kalian keluar deh." Aira kembali memeluk Keno mencoba mencari ketenangan.
"Eh buset, ini apartemen gue malah lo seenak jidat lo ngusir gue."
"Ayo sayang jangan ganggu mereka, biarkan mereka berdua dulu." ucap Sandi mengajak Mega keluar.
Hening...
Hening...
Dan hening. Aira terus mendekap tubuh Keno, tubuh yang selama ini selalu memberikan kenyamanan bagi dirinya. Dan sedikit demi sedikit Aira menceritakan hal apa saja yang terjadi kepada dirinya.
"Jadi ponsel mu mati dan karena itu kau tidak mengabari ku?"
"Iya, aku lupa mencharge. Tadi aku ingin sekali menguhubungi kau, kak Mega, atau kak Sandi. Tapi ponselku tak bisa menolong ku. Uang cash yang ada di dompetku juga habis, aku mau menarik lagi tapi sudah terlalu malam. Lalu, aku berniat untuk naik taksi ke apartemen kak Mega ini tapi tak ada satupun taksi yang lewat tadi."
"Aku takut..." lirih Aira semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya ke dada Keno dan kembali terisak.
"Aku akan segera mengurus permasalahan ini, aku akan memberikan pelajaran kepada orang- orang yang telah menyakiti mu. Sekalipun itu Papa dan mama mu sendiri, aku tidak akan segan- segan lagi."
"Jangan, kau jangan pernah membalas perbuatan orang tua ku. Sekejam apapun mereka aku sudah memaafkannya. Aku tidak membenci mereka sedikit pun."
"Tapi mereka harus mendapat balasan yang setimpal, mereka harus merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Sungguh aku tidak akan membiarkan mereka lepas begitu saja."
"Ku mohon jangan lakukan apapun terhadap orang tua ku, aku sangat menyayangi mereka aku tidak mau mereka kenapa- kenapa."
"Sungguh, hati mu sebenarnya terbuat dari apa. Kenapa kau bisa memaafkan kesalahan besar yang telah mereka lakukan pada mu. Harusnya kau membenci mereka, lakukan sesuatu agar mereka bisa merasakan apa yang kau rasakan." Batin Keno.
"Baiklah, aku tidak akan melakukan sesuatu lepada mereka. Tapi jika mereka melakukannya lagi pada mu aku tidak segan- segan untuk melenyapkannya dari dunia ini."
"Terserah kau saja."
Hening kembali menyapa. Keno masih membiarkan tubuhnya untuk dipeluk Aira.
"Ehm Ken, apa kau mau membantu ku?"
"Tentu saja, aku akan selalu ada untuk mu. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Keno mengusap pipi Aira lembut.
"Aku lapar, apa kau mau memesankan aku mekdi." ucap Aira malu- malu.
__ADS_1
Keno terkekeh mendengarnya, ia segera mengambil ponselnya dan memesan makanan yang Aira inginkan. Layaknya anak kecil, Aira merasa girang karna Keno menuruti permintaannya.
"Aku kira tadi kau berubah pikiran dan akan menyuruhku untuk membalas perbuatan orang tua mu itu. Eh ternyata hanya menyuruhku membeli mekdi, kau memang lucu." ucap Keno terkekeh.
"Ehm, apa kau mau membantuku menyelidiki siapa dalang dari semua ini? Aku penasaran sekali siapa yang menyuruh bi Firda melakukannya, dan apa maksud semua ini."
"Aku sudah menyuruh anak buah ku untuk menyelidikinya, tapi belum ada hasil. Semuanya tersusun rapi, sulit untuk dipecahkan."
"Aku hanya sedih saja saat bi Firda memfitnah ku, padahal aku saja tidak pernah berbicara sedikitpun dengan dia."
***
"Siapa yang pesen mekdi !" jerit Mega memasuki kamar hingga membuat Aira dan Keno tersentak kaget dan melepas pelukan mereka.
"Kak Mega, please deh. Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu, jangan bikin orang kaget dong."
"Lah, suka- suka gue lah. Ini kalian yang pesen kan?"
"Hm, kenapa?" tanya Keno.
"Gapapa, gue sama suami gue juga laper kita bagi dua ya." Tanpa mendengar jawaban dari Keno, Mega langsung mengambil beberapa burger dan ayam untuk dirinya dan Sandi.
"Nih, thanks ya." Mega melemparkan plastik yang berisi makanan ke arah Aira dan Keno. Aira hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya yang somplak itu. Aira dan Keno langsung menikmati makan malam yang sudah terlewat.
"Habis makan kita pulang ya, kamu tinggal lagi di rumah aku." ucap Keno dengan mulut yang masih penuh makanan.
"Sebenarnya aku ingin menginap di sini untuk malam ini, dan esoknya aku akan mencari apartemen untuk tempat tinggalku yang baru."
"Kau jangan membeli apartemen, tinggal saja bersama ku. Aku tidak mau kau kenapa- kenapa lagi, harus ada aku di samping mu."
"Huffftttt baiklah yang mulia Raja." seru Aira membuat Keno gemas dan mengacak- acak rambut Aira.
Mereka kembali melanjutkan makan malam. Setelah makanan habis, mereka segera berpamitan dengan sang pemilik apartemen itu.
"Kak Mega, kak Sandi terima kasih ya udah mau bantuin Aira."
"Sama- sama, Ra. Inget ya kalau lo itu punya kita. jadi kalau ada apa- apa harus diceritain sama kita jangan disimpen sendiri." ucap Mega dan langsung memeluk Aira.
"Tolong jaga Aira baik- baik ya, gue engga mau hal buruk terjadi lagi sama Aira." seru Sandi kepada Keno.
"Tanpa kau suruh juga aku bakalan ngejagain Aira kali." Keno memutar bola mata malas.
"Ya kan gue cuma ngingetin aja, hehe." ringis Sandi.
Setelah berpamitan, Keno segera melajukan mobil menuju ke rumahnya. Aira merasa lebih tenang sekarang, setidaknya masih ada orang baik dan sangat menyayanginya. Aira semakin yakin kalau Keno adalah orang yang terbaik untuknya, ia juga tak salah karena telah memberikan cintanya untuk Keno.
Di dalam mobil, Aira mencoba untuk mengaktifkan ponselnya yang sudah ia charge di apartemen Mega tadi. Melihat banyak sekali pesan- pesan dan telefon dari para rekan kerja dan yang lainnya. Dan yang paling banyak adalah pesan dan telefon dari Keno.
"Besok kamu engga boleh lupa ngecharge ponsel, pokoknya jangan dibiarkan baterai ponsel mu habis. Ingat itu."
Aira tersenyum melihat Keno yang sangat mengkhawatirkan dirinya itu. Segera Aira membuka pesan- pesan dari Keno yang sudah mencapai ribuan pesan yang isinya adalah menanyakan keadaan Aira, dan banyak juga umpatan- umpatan karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Aira.
Aira tertawa sendiri saat melihat pesan yang dikirimkan Keno satu persatu. Keno benar- benar mengkhawatirkan Aira.
"Kau merindukan aku? Padahal baru beberapa jam kita tidak bertemu." ledek Aira kepada Keno saat membaca pesan yang bertuliskan "Aku merindukan mu" sebanyak ratusan kali.
"Cihhh siapa yang merindukan mu, itu mungkin ponsel ku rusak. Jadi mengirimkan pesan itu sendiri." jawab Keno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa ini, kau juga mengancam ku?"
Aku akan memberikan mu hukuman jika kau tidak membalas pesan dan mengangkat telefon ku."
Jika kau tidak membalas pesan ini, kau harus mencium ku sebanyak seratus kali. Kau harus memandikan ku, memakaikan baju, menyuapi ku, memelukku, tidur bersama ku, selama- lamanya.
Itulah pesan yang Keno kirimkan kepada Aira.
"Ah itu, ituuu.." Keno menggaruk tengkuknya lagi kebingungan harus menjawab bagaimana.
Aira tersenyum gemas dan mencubit pipi Keno. "Terima kasih telah mengkhawatirkan ku, aku menyayangi mu."
"Aku lebih menyayangi mu."
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan votenya.
Terima Kasih sudah membaca :):):)
__ADS_1