Hello Presdir

Hello Presdir
Dia Pergi


__ADS_3

Keno tengah melakukan rapat besar dengan para pemegang saham. Ia sangatlah antusias dengan rapat ini. Baru berjalan selama tiga puluh menit, tiba- tiba Frido datang dengan nafas terengah.


"Tuan..." bisik Frido.


"Apa- apaan kau ini, kau tidak lihat kalau aku sedang rapat. Keluar sana !"


"Aira, Tuan. Aira..."


"Kenapa istriku? Katakan cepat !"


"Dia kepleset di kamar mandi toko kuenya. Sekarang dia dibawa ke rumah sakit. Kondisinya cukup memprihatinkan."


Perasaan Keno menjadi tak karuan. Wajahnya langsung pucat seakan tak ada aliran darah lagi di sana.


"Mohon maaf, rapat kali ini ditunda dulu, saya ada urusan yang lebih penting. Permisi..." Keno membubarkan rapat dan langsung berlari menuju ke mobilnya. Ia segera menuju ke rumah sakit. Perasaannya sudah tak karuan, ia terus saja mengucap do'a supaya Aira dan bayinya selamat. Karena yang ia tahu kepleset bagi ibu hamil itu bukanlah hal yang sepele, ia sangat takut terjadi apa- apa dengan keduanya.


Sesampainya di rumah sakit Sanjaya, ia langsung berlari menuju ruang UGD. Di sana sudah ada Maria, Mira, Andi, dan Bram dengan tatapan tak bisa diartikan.


Maria dan Mira menangis di dekapan suaminya. Semua terlihat sedih.


"Ba- bagaimana keadaan istriku?" tanya Keno dengan menatap sendu ke pintu UGD.


"Aira..." Mira terisak lebih keras mendengar perkataaan menantunya.


"Aku tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini..." Kini giliran Maria yang meracau dan terus menangis kencang.


"Sabar, Mah...sabar..." Kedua lelaki yang di sampingnya itu berusaha menenangkan istrinya yang menangis.


Keno semakin bingung dengan situasi ini. Semuanya terdiam dan hanya raut wajah kesedihan yang mereka gambarkan. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi dengan istrinya.


"Katakan apa yang terjadi. Kenapa kalian menangis seperti ini? Istriku baik- baik saja, kan?" Keno bertanya dengan suara tercekat. Ia sudah berpikiran yang macam- macam.


Semuanya diam dan akhirnya pintu ruangan UGD terbuka. Keno langsung menghampiri dokter itu dan mencekik kerah kemeja yang dipakai dokter paruh baya itu.


"Katakan kalau istriku baik- baik saja !" teriaknya membuat Dokter itu gemetar hebat dan keringat dingin terus bercucuran menetes dari dahinya.


Kemudian keluarlah Dokter Salsa dari ruangan yang sama, dia menjadi ketakutan melihat temannya dicekik Keno.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Keno setelah melepas dokter lelaki tadi.


"Nona Aira..."

__ADS_1


"Katakan cepat !" bentak Keno. Andai saja Dokter Salsa itu lelaki, pasti ia sudah dihajar habis- habisan dengan anak itu.


"Nona Aira dan bayinya tidak selamat. Nona Aira mengalami pendarahan yang hebat akibat kepleset tadi. Andai saja dia segera dibawa ke rumah sakit, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini," jelas Dokter Salsa ikut sedih.


Jantung Keno seakan berhenti berdetak mendengar perkataan dokter Salsa. Tubuhnya lemas dan merosot ke bawah. Tatapannya kosong dan air matanya mulai menetes.


"Ini tidak mungkin !" Keno meraung di atas lantai dan berderai air mata.


Tangis Mira dan Maria semakin menjadi- jadi. Putri dan menantu kesayangan mereka harus pergi secepat ini.


"Kenapa kau meninggalkanku. Kenapa kau pergi secepat ini."


"Kenapa kau lakukan padaku !"


"Jangan pergi sayang, aku menyanyangimu. Aku mencintaimu !!!"


Tangis Keno semakin menggelegar membuat semua orang yang berlalu lalang memandanginya dengan tatapan kasihan.


"Sudah, Nak. Ikhlaskan istrimu pergi, mungkin Tuhan lebih menyayanginya sehingga menginginkan Aira lebih cepat mengahadap-Nya," tutur Bram mengusap bahu Keno.


"Aira pah...Istriku pergi, dia meninggalkanku sendiri. Aku tidak mau dia pergi, katakan padaku ini cuma mimpi 'kan, Pah?"


Bram menggeleng, membuat Keno semakin sedih. Keno mengamuk, dia meninju dinding hingga tangannya terluka, meluapkan kesedihan mendalam yang ia alami saat ini.


"Mah...dia pergi..."


"Sabar sayang, ayo kita lihat istrimu dulu."


Maria menuntun Keno memasuki ruang UGD. Langkah Keno gontai, tubuhnya seakan tak memiliki nyawa.


Keno kembali merosot ketika melihat sebuah brankar yang terdapat seseorang tengah terbujur kaku. Di sampingnya sudah ada Mira dan Andi yang memeluk jenazah itu dan menangis meraung- raung.


"Airaa, huuu...huu...huu..."


"Jangan pergi, Nak. Jangan pergi...."


Keno mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah brankar. Ia berharap supaya yang tertutup kain putih dan terbujur kaku itu bukanlah istrinya.


Tangannya bergetar hebat saat mulai membuka kain yang menutupi tubuh istrinya. Wajah Aira terlihat pucat, ia kembali merasakan sesak di dadanya. Aira benar- benar sudah tiada.


"Kenapa kau pergi secepat ini..."

__ADS_1


"Apa kau tidak kasihan denganku, Kau dan bayi kita meninggalkanku sendiri. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Bangunlah sayang..." Keno mengecup dahi istrinya yang terasa dingin.


"Ayo kita bawa pulang istrimu dan urus pemakamannya..." ajak Maria.


Beberapa perawat mulai mendorong brankar Aira keluar dari ruangan UGD. Keno tetap setia di samping istrinya itu, ia tak berhenti menatap wajah cantik yang selalu tersenyum ceria itu. Tapi kini, hanya wajah pucat yang bisa ia tatap, tak ada senyum yang tersungging.


Brankar Aira mulai masuk ambulance yang terdapat tulisan jenazah di sana. Keno tidak mempercayai situasi ini, ia tak percaya jika harus menemani istrinya di ambulance jenazah.


Suara sirine menemani perjalanan Keno dan Aira ke rumah duka. Ini seperti mimpi, kemarin ia dengan istrinya masih bermanja- manjaan di kamar. Tapi sekarang, itu tidak akan terjadi lagi. Semuanya telah berakhir.


"Kenapa kau meninggalkanku..."


"Bangunlah, aku tidak akan nakal lagi. Aku tidak akan mengganggumu dan iseng lagi denganmu..."


Keno menghujani wajah istrinya dengan ciuman. Ia memeluk Aira dan enggan melepasnya. Air matanya mulai membasahi wajah Aira.


"Sayang, maafkan aku. Wajahmu ikut basah..." suaranya parau. Ia mengusap air matanya yang menetes di wajah Aira, kemudian mengecupinya lagi.


Perawat yang ikut mendampingi Keno juga ikut merasakan kesedihan yang dialami lelaki itu.


"Bangunlah ! Ajak aku pergi bersamamu, aku tidak bisa hidup tanpamu..."


"Maaf, Tuan, kita sudah sampai, mari kita menurunkan jenazah Nona Aira," ucap perawat ketika ambulance telah sampai di kediaman Keno.


Keno terlalu larut dalam kesedihannya hingga tidak menyadari kalau sudah sampai di rumahnya.


"Sayang, kita sudah sampai di rumah. Bangunlah, ayo aku tuntun untuk masuk ke rumah. Kau bisa bangun, kan? Ayo sayang...." Keno terus meracau, ia tidak bisa menerima jika istrinya itu pergi.


"Sayang bangunlah, hu...huuu...huuu...."


Brankar Aira mulai di dorong memasuki rumah. Keno berjalan terlebih dahulu untuk membuka pintu rumahnya. Ia masih tidak percaya dengan semua ini, air matanya terus bercucuran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading😣


__ADS_2