
"Bisakah dokter mengecek jantung saya? siapa tau cocok dengan Ellen."
"Tapi Nona..."
"Apa maksudmu !" seru Alfa menghampiri Aira dan Dokter spesialis jantung itu.
"Kak Alfa." Aira memeluk tubuh Alfa dan menumpahkan tangisnya lagi. Ia menangis tersedu- sedu membasahi kemeja Alfa.
"Jangan bodoh Aira, jangan donorkan jantung mu. Aku yakin akan ada pendonor lain, jangan korbankan dirimu." Alfa ikut menangis, ia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya.
"Aku tidak sanggup melihatnya kesakitan, dia harus bahagia kak."
"Tapi tidak dengan mengorbankan dirimu sendiri, kau harus ingat keluargamu !"
"Papa sama Mama pasti bangga kak sama Aira. Karena anaknya akan menyelamatkan nyawa orang lain. Keno juga pasti akan senang karena Ellen tetap hidup, mereka akan jadi pasangan yang paling bahagia kak." ucap Aira dengan tatapan kosong.
"Jangan **** ! Aku tidak akan membiarkanmu mendonorkan jantung untuk wanita itu. Banyak yang akan kehilanganmu, pikirkan sebelum bertindak. Kau boleh memikirkan kebahagiaan orang lain tapi kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu terlebih dahulu."
"Untuk apa hidup kalau Aira tidak pernah merasakan kebahagiaan. Aku lelah kak! Aku lelah ! Untuk kedua kalinya aku harus merelakan orang yang aku cintai demi orang lain.
Kalau aku tetap hidup aku akan selalu tersakiti, aku mencintainya aku tidak sanggup melihatnya dengan orang lain. Biarkan aku mati ! Biarkan aku mati ! hu huu huu." Aira menangis seraya memukul dada Alfa.
"Aira tenang ! Kau tidak boleh mendonorkan jantung mu untuk dia. Kau harus hidup, aku akan membahagiakan mu. Aku akan membantumu melupakan Keno." seru Alfa membuat Aira berhenti memukuli dada Alfa.
"Aku mencintai mu. Aku akan berusaha membuatmu melupakan Keno dan membuatmu jatuh cinta kepadaku."
"Kak, biarkan aku mati saja. Aku lelah kak."
"Jangan bicara lagi, berhentilah menangis. Aku akan mengantarmu pulang."
"Kak, biarkan Aira mengecek jantung Aira dulu ya."
"Tidak akan ku biarkan, ayo sekarang kau pulang."
"Hanya memeriksa saja kak, Aira janji tidak akan mendonorkan jantung untuk Ellen. Boleh ya."
"Tapi kau harus janji tidak akan mendonorkannya jika jantungmu benar- benar cocok dengan Ellen."
Aira mengangguk lemah, ia belum tau pasti akan keputusannya nanti. Aira dan Alfa pun mengikuti langkah dokter untuk melakukan pemeriksaan. Alfa setia menemani Aira, walaupun hatinya cemas dan takut jika keputusan Aira berubah.
Berbagai rangkaian pemeriksaan pun telah Aira lakukan.
"Hasilnya akan keluar besok siang Nona. Tapi donor jantung hanya bisa dilakukan ketika sang pendonor telah meninggal. Saya tidak akan meningizinkan orang yang masih hidup mendonorkan jantungnya karena ini menyalahi prosedur."
"Aku tahu itu, Dok. Permisi." jawab Aira lalu bergegas meninggalkan ruangan itu.
Alfa terus mengikuti kemana langkah wanita yang masih terus menangis itu, ia takut jika Aira melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Berikan kunci mobilmu, aku akan mengantarmu pulang."
"Aku harus mati kak biar bisa mendonorkan jantung untuk Ellen."
"Jangan bodoh !!!"
"Dengarkan aku apapun yang akan terjadi aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh itu. Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu."
"Ayoo..." Alfa membuka pintu mobil Aira dan menyuruhnya masuk.
Alfa segera melajukan mobil membelah jalanan ibukota yang masih ramai. Sesekali melirik ke arah Aira yang masih saja meneteskan air matanya. Hatinya sakit melihat orang yang dicintainya menangis.
Tak lama kemudian Aira tertidur, menangis membuatnya mengantuk. Alfa yang melihatnya pun sedikit lebih tenang. Wajah Aira sangat menyejukkan.
"Jangan pergi, Ra. Aku mencintaimu." lirih Alfa seraya mengusap air mata yang masih membasahi pipi Aira.
Mobil Aira telah sampai di halaman rumah pak Andi. Enggan untuk membangunkan Aira, Alfa pun menggendong tubuh wanita itu ala brydal style.
"Malam Om." ucap Alfa saat memasuki rumah Aira.
"Selamat malam nak Alfa."
"Airaa, nak Alfa putriku kenapa?" jerit Bu Mira khawatir saat melihat Aira menutup matanya di gendongan Alfa.
"Aira tertidur Tante, Om. Bolehkah saya ke kamar Aira untuk menidurkannya?"
"Ayo nak Alfa Tante antar."
Bu Mira pun mengantarkan Alfa ke kamar Aira. Alfa langsung merebahkan tubuh Aira ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya.
"Tidurlah yang nyenyak, jangan memikirkan hal konyol seperti tadi." lirih Alfa.
__ADS_1
"Nak Alfa, sebenarnya apa yang telah terjadi. Sepertinya sedang terjadi sesuatu dengan Aira."
"Tidak terjadi apa- apa kok Tante, Aira hanya sedih saja melihat temannya terbaring di rumah sakit."
"Terima kasih sudah mengantar Aira ya, Nak."
"Sama- sama Tante. Sudah malam, Alfa pamit pulang ya, Tan."
Setelah mencium tangan Bu Mira, Alfa pun bergegas meninggalkan kamar Aira dan segera kembali ke rumahnya.
***
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, Aira yang merasa ada sesuatu yang dingin di keningnya pun mulai membuka matanya. Segera melihat apa yang ada di keningnya itu, dan ternyata itu adalah handuk basah. Kepalanya terasa berputar- putar, tubuhnya lemas. Ia melirik ke samping ranjangnya yang ternyata ada Mamanya sedang tertidur pulas.
"Mama..." rintih Aira. Mamanya pun langsung bangun ketika ada yang memanggilnya. Bu Mira pun langsung menyentuh kening anaknya.
"Sayang, kamu masih demam istirahatlah dulu. Jangan bekerja biar lekas sembuh." Aira mengangguk, ia memeluk mamanya. Menenggelamkan wajahnya di dada Bu Mira.
"Tidurlah lagi, Mama akan menemanimu."
"Mah, jika Aira pergi apa mama akan mengikhlaskan Aira?"
"Apa yang kau katakan sayang? Mama tidak akan membiarkan mu pergi sendiri, Mama akan menemanimu. Memangnya kau mau pergi kemana, Sayang?" tanya Bu Mira mengusap kepala anaknya lembut.
"Ellen membutuhkan donor jantung, Mah. Aira harus membantu Ellen."
Bu Mira terkejut dan langsung melepaskan pelukan anaknya seketika, air matanya menetes deras membasahi kedua pipinya.
Bu Mira mencengkram kedua bahu anaknya dan menatapnya lekat, "Jangan bodoh ! Mama tidak akan mengizinkan mu melakukan hal konyol itu ! Mama tidak mau kehilangan kamu ! Jangan bodoh Aira jangan bodoh, huuu huuu huu..." seru Bu Mira terisak.
Pak Andi yang mendengar suara tangisan pun langsung memasuki kamar Aira dengan penuh kepanikan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis?"
"Anak mu bodoh, Pah. Dia mau mendonorkan jantungnya untuk Ellen. Jangan biarkan itu terjadi, pah." ucap Bu Mira membuat Pak Andi mematung.
"Apa kau tidak menyayangi kami sehingga kau tega meninggalkan kami?"
"Dengar Aira ! Kami tidak akan mengizinkanmu melakukan itu. Kami menyayangimu jangan meninggalkan kami." Pak Andi terisak dan langsung memeluk Aira.
Aira semakin tersedu- sedu dibuatnya, ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ia juga harus memikirkan kedua orang tuanya, ia anak saemata wayang jika ia pergi maka Papa dan Mamanya akan sangat kehilangan. Tapi di sisi lain ia juga tidak tega melihat Ellen terbujur dengan berbagai alat bantu di tubuhnya.
***
"Kak Alfa." seru Aira seraya memencet bel rumah.
"Hai Aira, kenapa kau pagi- pagi sudah kemari? Ada apa?"
Alfa keluar dengan bertelanjang dada, roti sobeknya terlihat jelas membuat Aira menelan salivanya.
"Hufftt kakak ini bagaimana sih, mobil kakak kan masih di rumah sakit jadi Aira akan menjemput kak Alfa. Ini Aira juga membawakan sarapan untuk kakak."
Alfa tersenyum mendengarnya, Aira ternyata perhatian dengan dirinya. "Harusnya kau tidak perlu memikirkanku, lihatlah di garasi ku masih ada mobil di sana." ucap Alfa menunjuk mobil- mobil di garasi rumahnya.
"Astaga kak Alfa, kenapa aku tidak kepikiran sih."
"Kau itu lucu sekali, aku akan berangkat dengan mu. Tapi kau masuk dulu ya, aku belum siap- siap soalnya."
"Baiklah." Aira pun mengikuti Alfa masuk ke dalam.
"Kak Alfa tinggal di sini sendiri? Tidak ada asisten rumah tangga?" tanya Aira seraya menyapu seluruh isi rumah, rumahnya besar namun sangat sepi.
"Sebenarnya ada, dia ke sini dua hari sekali hanya untuk membersihkan rumah saja."
"Aku ke atas dulu ya mau ganti baju."
Aira menuju ke meja makan, ia membuka kotak makan dan mengeluarkan makanan yang ia bawa tadi. Menyiapkan semuanya supaya Alfa bisa langsung sarapan.
Setelah sarapan, mereka langsung menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Aira menemui Ellen sebentar.
"Aku akan mengantarmu." ucap Alfa, ia berjalan di samping Aira menuju ruang VVIP dimana Ellen dirawat.
Hati Aira mencelos seketika melihat Ellen semakin lemah dan kesadarannya mulai hilang.
"Hai Ele, aku datang."
"Airaa..." lirih Ellen tersenyum paksa.
Aira menangis melihat Ellen, kondisi Ellen semakin memburuk.
__ADS_1
"Ele, kau yang kuat ya. Semangat melawan sakitmu, aku akan selalu menemani dan mendoakan mu." ucap Aira seraya mengusap air mata sahabatnya itu. Ellen menangis dalam diam, pasti sakit kembali menyerang tubuhnya.
"Permisi." ucap Perawat memasuki ruangan Ellen membawakan beberapa kebutuhan mandi Ellen.
"Ele, biar aku yang membersihkan tubuhmu ya."
"Dengan senang hati, Aira." Ellen tersenyum senang.
Aira mulai mengambil waslap dan mencelupkannya ke dalam air hangat. Kemudian pelan- pelan ia membersihkan wajah dengan lembut, lalu ke tangan dan seluruh badan Ellen.
"Ele, makanlah yang banyak. Baru dua hari dirawat tubuhmu terlihat kurus. Kalau kau kurus, Keno pasti akan sedih."
"Apa kau lupa kalau aku akan segera pergi, jadi apapun yang terjadi dengan tubuhku ini tidak penting lagi." ucap Ellen terkekeh.
"Sudah selesai Ele, kau terlihat lebih segar dan tetap cantik seperti biasanya. Istirahatlah, aku akan kembali lagi nanti." ucap Aira lembut.
"Lekas membaik Nona Ellen, istirahatlah yang cukup." ucap Alfa sebelum meninggalkan ruangan.
Di sisi lain, Keno yang melihat Alfa dan Aira di sebalik pintu hatinya terluka. Ia tidak bisa melihat Aira dekat dengan lelaki lain, namun itu tidak bisa dipungkiri lagi karena Aira telah memilih melepaskan dirinya. Aira sangat menderita karena bersamanya, ia tidak boleh egois.
"Tuan Keno." seru Dokter spesialis jantung menghampiri Keno.
"Tadi saya ingin berbicara dengan Papa Nona Ellen namun tak ada, bisakah saya berbicara dengan Anda saja? Mari ke ruangan saya."
Keno pun mengikuti langkah dokter itu.
"Apa kau sudah mendapat donor jantung untuk Ellen?"
"Belum Tuan, tapi kemarin ada yang meminta saya mengecek jantungnya. Dan ternyata jantungnya itu cocok dengan Nona Ellen."
"Cepat lakukan operasi jantung, jangan sampai terlambat."
"Saya tidak mengizinkan jika pendonor masih hidup, ini menyalahi prosedur."
"Siapa orangnya?"
"Ini, mungkin Anda juga mengenalnya, soalnya saya lihat dia juga sering menemani Nona Ellen." ucap Dokter menyodorkan kertas hasil pemeriksaan jantung.
Hati Keno tercabik- cabik saat melihat nama yang tertera di lembar atas hasil pemeriksaan itu, matanya berkaca- kaca.
"Simpan hasil pemeriksaan ini, jangan sampai Aira mengetahui hasilnya. Jangan biarkan dia mendonorkan jantungnya untuk Ellen." tutur Keno lalu pergi meninggalkan ruangan dokter itu.
Keno duduk di ruang tunggu, menutupi wajah dengan kedua tangannya dan terisak, "Aira kenapa kau bodoh sekali, kau terlalu baik. Jangan lakukan ini, aku tidak sanggup jika kau pergi. Jangan lakukan itu !"
***
"Gimana kondisi Ellen, Ra?" tanya Sandi.
"Ya begitulah, secepatnya harus mendapatkan donor jantung. Tapi sampai sekarang belum ada yang cocok dengannya." saut Aira.
"Kasihan banget sih Ellen, semoga dia cepet dapet donor jantung."
"Kemarin aku udah coba periksa jantung aku."
"Apa yang lo katakan ! Jangan bilang kalau lo mau donorin jantung buat Ellen." seru Mega emosi, dia mencengkram kedua bahu Aira.
"Please deh, Ra. Lo jangan bodoh, lo harus mikirin diri lo sendiri jangan terlalu baik jadi orang." ujar Sandi ikut emosi.
"Kita sayang sama lo, jangan tinggalin kita." seru Mega menangis di pelukan Aira.
Aira hanya diam tak bergeming, ia sendiri juga belum tahu pasti akan keputusannya itu. Tiba- tiba ponselnya berdering, ia segera mengambilnya dari tas pundaknya.
"Halo Om, ada apa?"
"Aira tolong ke rumah sakit sekarang juga, Ellen nak...Ellen..." ucap Papa Ellen seraya menangis tersedu- sedu.
"Apa yang terjadi, Om? Aira akan segera ke sana."
Aira langsung mematikan sambungan telefon dan bergegas menuju ke rumah sakit bersama Sandi dan Mega. Perasaannya tidak tenang, sesuatu pasti telah terjadi dengan Ellen. Mega dan Sandi ikut panik dibuatnya, mereka berusaha menenangkan Aira yang sudah menangis tersedu- sedu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya kakak²š¤mau kasih tips juga boleh hehe