
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian sedang sariawan sehingga sulit menjawab pertanyaan ku?" tanya Aira mencoba tenang, sebenarnya ia juga merasa takut akan suasana mencekam ini.
Pak Andi beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Aira dengan wajah yang merah penuh dengan Amarah.
Plakkkkk....
Plakkkkk....
Suara tamparan menggema di ruangan yang besar dan megah itu. Pak Andi menampar pipi Aira dengan penuh kekesalan.
"Arrrggghhhhhh..." ringis Aira.
Tamparan bolak- balik di pipi kanan dan kiri Aira sangatlah keras, bahkan tubuhnya sampai terhempas dan kepalanya terbentur sudut sofa. Kedua sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah karena tamparab yang begitu kerasnya.
Aira merasakan sakit dan perih di wajahnya. Tubuhnya bergemetar hebat saat melihat Papa nya yang sedang tersulut emosi itu. Tangan Aira tak terulur untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Ia hanya bisa tersenyum dan menahan air mata supaya tidak terjatuh.
"Ke- kenapa papa menampar ku?" tanya Aira ketakutan.
"Dasar anak kurang ajar ! Beraninya merusak pesta yang sudah disiapkan secara matang."
Plakkkkk....
Lagi- lagi pak Andi menampar pipi Aira, membuat semua yang menyaksikannya merinding.
Dan untuk kali ini, Aira sudah tak bisa membendung air matanya lagi. Menutup matanya karena tak kuat melihat papanya.
"Tolong katakan apa salah ku? Kenapa semuanya terlihat kesal dengan Aira?" tanya Aira yang tetap menundukkan kepalanya.
"Kau masih tidak menyadari rupanya." Kali ini bu Mira angkat bicara, kemudian ia ikut tersulut emosi. Dan meluapkannya dengan menampar pipi Aira.
"Argghhhh..." ringis Aira lagi, kali ini wajahnya semakin sakit dan merah sekali.
"Tunjukkan rekaman CCTV pada anak brengsek itu !" perintah pak Andi kepada salah satu pelayannya.
Pelayan itu pun dengan sigap menghampiri Aira yang sudah terduduk di lantai dan segera menunjukkan rekaman CCTV.
Aira semakin bingung dengan apa yang terjadi, di rekaman tersebut terlihat Bi Firda, salah satu pelayan rumah itu sedang berusaha menghancurkan pernikahan Hana. Ia mendorong kue pernikahan hingga terjatuh di lantai lalu menginjakknya hingga hancur berserakan dimana- mana. Setelah itu, Bi Firda menghancurkan dekorasi pesta, merubah tatanan meja dan kursi yang semula rapi sekarang menjadi jungkir balik tak beraturan. Lampu- lampu kristal yang menghiasi langit- langit rumah juga ia pecahkan menjadi serpihan- serpihan tak lupa dengan kursi pelaminan juga ia rusak. Dan lebih parahnya lagi, ia merusak dan menggunting gaun penganti Hana yang bernilai ratusan juta itu. Semuanya dihancurkan oleh bi Firda. Persiapan pernikahan yang sudah 95 persen selesai itu hancur seketika. Rumah yang tadinya siap untuk mengadakan pernikahan, kini hanya seperti sebuah kapal pecah. Rumah itu tampak menyedihkan, kekacauan terjadi dimana- mana.
Setelah video selesai, Aira mencoba bertanya apa maksud dari memperlihatkan video itu dengannya.
"La- lalu apa hubungannya dengan Aira?" tanyanya menatap Papa dan Mamanya.
Kali ini Tante Ratna (Mama Hana) berdiri menghampiri Aira yang sedang terkulai di lantai.
Plaaakkkkkk....
Suara tamparan lagi- lagi terdengar kali ini berasal dari tangan Tante Ratna, mamanya Hana.
"Kau telah menyuruh pelayan itu untuk menghancurkan pesta anakku yang akan diadakan besok bukan."
"Kau telah menghancurkan semuanya, Arghhh. Kenapa kau menghancurkannya, untuk apa kau melakukannya." ucap Tante Ratna mencengkram bahu Aira dengan kuat dan menggoyang- goyangkannya.
"Tapi aku tidak tahu apa- apa atas hancurnya pesta ini, a- aku juga tidak menyuruh bi Firda untuk menghancurkannya. Sungguh aku tidak melakukan itu, hiks hiks hiks."
"Masih mengelak kamu ya, dasar anak sialan. Siapa yang mengajari mu untuk berbohong !" bentak pak Andi, ia menendang Aira hingga kepalanya terpentok sudut meja. Pelipisnya mengeluarkan darah segar, Aira menangis dalam diam menahan sakitnya.
Pak Andi mengisyaratkan sesuatu kepada bi Firda, Bi Firda pun angkat bicara.
"Nona Aira, saya mohon katakanlah sejujurnya. Kalau Nona Aira lah yang telah menyuruh saya untuk menghancurkan pesta ini. Tolong jangan persulit saya lagi, Nona." ucap Bi Firda membuat Aira kaget mendengarnya.
"Apa yang kau katakan bi Firda ! Aku tidak pernah menyuruh mu untuk melakukan sesuatu. Bahkan kita juga belum pernah berbicara sebelumnya."
"Bohong, tolong jangan bersandiwara lagi Nona. Kita adalah teman dekat kenapa kau berpura- pura tidak mengenalku, hiks. Jangan berbohong lagi, ini akan semakin menyulitkan kita." sahut Bi Firda dengan isakan.
"Tadi pagi sekali, Kau datang ke kamar saya, Nona. Kau menyuruh saya untuk menghancurkan pesta ini. Bahkan kau memberikan trik untuk saya, kau menyuruh saya melakukannya saat semua orang sedang solat Asar tadi. Dan kau menyuruh saya untuk berpura- pura sedang datang bulan agar saya bisa melaksanakan rencana Nona dengan baik. Nona juga memberikan uang kepada saya, dengan jumlah yang tidak sedikit." Bi Firda mengeluarkan amplop coklat berisi uang dari sakunya.
"Saya benar- benar sudah melakukannya Nona, tapi akhirnya ketahuan juga dan saya tidak mau untuk disalahkan sepenuhnya di masalah kali ini karena Nona juga berpartisipasi untuk hal ini." jelas bi Firda yang semakin membuat emosi Aira memuncak.
"JAGA BICARA MU DAN BERHENTI MEMFITNAH SAYA." Aira berdiri dan langsung menampar pipi Bi Firda.
"Pah, Mah, Tante, Hana...Tolong percaya sama Aira. Aku tidak pernah menyuruhnya apalagi sampai datang ke kamarnya dan memberi dia uang. Sungguh, dia hanya menfitnah ku saja. Omongan dia tidak ada yang benar satu pun." ucap Aira dengan suara yang mulai melemah.
"Sudahlah kak Aira. Dari awal aku juga sudah tau kalau kak Aira memang tidak setuju dengan pernikahan ini dan tidak setuju juga kalau aku menikah dengan kak Raka mantan kekasih mu itu. Selama ini kau hanya berpura- pura saja kan kalau kau sudah mengikhlaskan kak Raka." seru Hana dengan isakan tangisnya.
__ADS_1
"Harusnya kau bilang dari awal kak, jangan berpura- pura terus. Argghhh kenapa kau menghancurkan pernikahan ku." tambah Hana lagi mengacak- acak rambutnya karena frustasi.
"Aku sudah mengikhlaskan Raka untuk mu Hana, percayalah. Aku juga tidak menghancurkan pesta pernikahan mu. Ku mohon percayalah."
Pak Andi menghampiri Aira dan dengan kasar ia mencekik rahang anaknya itu.
"Pah..."
"Jangan bicara omong kosong lagi, kami sudah muak dengan sandiwara yang kau lakukan selama ini."
"Harusnya dulu aku membunuh mu saja saat kau dalam kandungan ku. Dan harusnya aku tidak merawat mu selama ini, anak tak tau diuntung. Menyusahkan orang lain saja." timpal Bu Mira.
"Lalu kenapa mama tidak melakukannya? Aku juga sudah lelah mah, pah. Aku anak kandung kalian, tapi kalian selalu menganak tirikan aku. Kalian lebih menyayangi Hana daripada aku, padahal aku ANAK KANDUNG KALIAN !" ucap Aira penuh dengan penekanan. Ia buru- buru menyeka air matanya yang hampir terjatuh lagi.
"Anak mana yang tidak iri melihat kedekatan orang tuanya dengan anak lain. Siapa yang tidak sedih jika orang tuanya sendiri lebih menyayangi anak orang lain. Sekarang Aira semakin yakin, kalian memang tidak pantas untuk di sebut orang tua."
"BERANINYA KAMU BERKATA SEPERTI ITU KEPADA KAMI !!!"
"Sekarang aku tanya ke papa dan mama. Apa spesialnya Hana di mata kalian hingga kalian lebih menyayangi dia daripada Aira. Apa karena dia anak yatim lalu papa sama mama terus bersimpati dengannya, mencurahkan segala kasih sayang kalian kepada Hana? Hingga mengabaikan anak kandung kalian sendiri?"
Kini pak Andi mencekik leher Aira dan semakin mengencangkannya hingga Aira hanya bisa terengah- engah karena tidak bisa bernafas dan air mata pilu terus mengalir dari sudut matanya.
"Paahhhh..."
Melihat Aira hampir kehilangan kesadarannya, pak Andi pun melepaskan cengkramannya.
"Maaf jika Aira berkata seperti itu, tapi Aira hanya ingin membela diri Aira sendiri Pah, Mah. Aira muak dengan semuanya. Dan untuk masalah kali ini, Aku benar- benar tidak bersalah karena aku bukan dalang dari semua kekacauan ini."
Seketika itu juga, Pak Andi melepas ikat pinggang yang tengah ia pakai dan mulai mencambuk Aira. Ia merasa sangat emosi karena Aira terus saja bersandiwara di hadapannya.
Cttttaaarrrrr.....
Ctttaaarrrr....
Arrrrrrggggghhhhhh
Ctttaaaaarrrr....Ctttaaaarrrrr...
Suara cambukan menggema di ruangan itu, semua pelayan bergidik ngeri mendengar suara itu. Semua semakin takut, membeku di tempatnya, dan tak ada yang berani menolong Aira dari cambukan papanya sendiri.
"Aaarrrggghhhh sakit pah, sakitttt." seru Aira menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
Cttttaaaaaarrrrr.....
"Pahhh...."
Ctttaaaarrrrr....
Aira terus merintih namun pak Andi seakan sudah kehilangan belas kasihnya, ia terus mencambuk punggung, tangan, dan kaki Aira dengan sekuat tenaganya. Semua tubuh Aira tak terlepas dari ikat pinggang yang dipecutkan oleh pak Andi. Aira hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri dan air matanya terus saja berlinang.
Kalau ini yang membuat mereka bahagia aku rela Tuhan. Buatlah aku se-menderita mungkin, kalau perlu jangan hentikan penyiksaan ini. Buat selama mungkin, hingga aku kehilangan kesadaran dan langsung bertemu dengan-Mu. Batin Aira.
Ctttttaaarrrr....ctaaaarrrrr...
Cambukan untuk yang terakhir kalinya membuat Aira terjatuh lemas tak berdaya. Tubuhnya benar- benar sakit semua. Darah juga tak berhenti mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya. Tapi ia tetap menjaga tubuhnya agar tidak pingsan, dia tidak ingin semua menganggapnya lemah. Tapi perbuatan yang dilakukan pak Andi benar- benar membuatnya lemah sekarang.
"Aku tidak akan menganggap mu sebagai anak lagi. Kau bukan anakku dan jangan panggil kami papa dan mama lagi. KAMI TIDAK SUDI MEMILIKI ANAK SEPERTI KAU !!!"
Pak Andi langsung mengambil koper yangs edari tadi berada di depan para karyawannya dan segera melemparkannya ke tubuh Aira. Aira yang tadi sudah mencoba untuk berdiri, dia kembaki terhempas ke lantai lagi karena koper tepat mengenai tubuh yang sudah lemas itu.
"Pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki mu ke rumah ini lagi. Anggap saja kau tidak pernah mengenal kami."
Hati Aira benar- benar hancur sehancur- hancurnya. Tidak ada satu orang pun yang bersimpati sedikit saja dengannya. Bahkan ia sudah diusir oleh orang tuanya sendiri. Pelan, ia mulai berdiri dan segera mengambil koper yang telah pak Andi lemparkan tadi. Tersenyum dan sejenak menatap kedua orang tuanya yang enggan meliriknya sama sekali.
"Aira akan pergi dari sini. Aira pamit dulu Pah, Mah, Tante, dan Hana."
"Ah maaf, maksud saya, Tuan Andi, Nyonya Mira, Nyonya Ratna, dan Nona Hana." Aira membetulkan kalimatnya tadi dan memberikan senyuman kepada empat orang itu.
Dengan langkah terseok- seok, ia berjalan menuju ke pintu keluar. Menahan sakit di punggung, kaki, tangan, dan wajahnya, semua badannya sakit, perih, dan memar.
Sesekali ia menoleh ke belakang, tidak ada yang menatap kepergiannya kecuali Bi Sumi. Ya, bi Sumi adalah pengasuh Aira sejak kecil yang sangatlah dekat dan sekalu menyayangi Aira. Bi Sumi terlihat meneteskan air matanya melihat kepergian Aira. Dia pasti tidak tega melihat penyiksaan pak Andi tadi kepada Aira, namun Bi Sumi tidak bisa berbuat apa- apa ketika Tuan besar sudah bertindak.
Dengan perlahan dan sering meringis kesakitan, akhirnya Aira mampu keluar dari rumah mega yang lebih pantas disebut dengan neraka itu. Sejenak memandang rumah itu dari pagar, menyapu semua bagian rumah itu dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Banyak sekali kenangan manis dan pahit dari rumah ini. Aku tidak percaya kalau hari ini hari terakhir aku memijakkan kaki ku ke tempat ini."
"Terima kasih Mama, setidaknya kau memiliki belas kasihan kepadaku dan akhirnya mau mengandung dan melahirkan anak yang tak tau diuntung ini."
"Terima kasih papa, untuk semua didikan tegas mu yang terkadang membuat aku ketakutan. Tapi percayalah, itu sangat membantuku hingga aku tegar sampai saat ini."
"Aku sangat menyayangi kalian, semoga kebahagiaan selalu menghampiri kalian. Maafkan Aira jika belum bisa menjadi anak yang kalian harapkan selama ini. Tenanglah, Aira tidak akan membenci kalian sedikitpun atas perbuatan yang hari ini telah kalian berikan. Aku juga tetap akan mendoakan kalian di setiap sujudku."
Aira selalu teringat dengan perkataan neneknya, bahwa sejahat dan sekejam apapun mereka dia tetaplah orang tuanya. Dia tidka boleh membencinya sedikitpun dan harus selalu mendoakannya.
Melanjutkan langkahnya seraya menyeret koper di tangan kirinya. Menyusuri jalanan kompleks yang sudah sangat sepi. Jadi tidak ada yang melihat kekacauan pada diri Aira saat ini.
Pikirannya kosong, air matanya terus mengalir dengan derasnya. Ia tak tahu harus kemana malam ini. Mencoba mengambil ponsel di saku celananya, dan mulai menghidupkannya. Ah, sial. Ponselnya mati karena dari tadi siang belum di charge.
Aira berhenti sejenak mendudukkan tubuhnya di halte bis. Membuka koper dan mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa membantu ia malam ini. Syukur, ia menemukan dompetnya. Segera membuka dan mencari beberapa lembar uang untuk membeli makanan dan minuman serta ongkos naik taksi. Tapi sayangnya, di dompet itu hanyalah ada kartu- kartu saja. Ia tidak memiliki uang cash di dompetnya. Ia belum mengambil uang cash untuk minggu ini.
Sungguh, penderitaannya sangat lengkap malam ini. Ia hanya bisa menangis tersedu- sedu, menerka- nerka kenapa Tuhan selalu memberinya cobaan yang begitu berat pada dirinya.
"Ya Tuhan, kenapa kau selalu memberikan aku cobaan yang selalu berat bahkan aku sendiri kewalahan menerimanya."
"Aku ingin tidur selamanya, Tuhan. Aku tidak sanggup lagi. Nenek, ajak aku ke tempat mu nek. Aku hanya ingin bersama mu."
Aira duduk memeluk kedua kakinya, menatap jalanan yang tak ramai hanya ada satu dua kemdaraan yang berlalu lalang. Meratapi nasib yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hanya ada tangisan pilu saat ini, tangisan tanpa air mata lagi. Karena air matanya sudah terkuras habis. Kondisinya sangat buruk dan kacau. Ia tidak bisa berbuat apa- apa saat ini.
Mega dan Sandi? Aira seharusnya bisa meminta tolong kepada mereka, namun untuk saat ini tidak mungkin. Ponselnya saja mati bagaimana mau menelfon dan meminta bantuan.
Keno? Iya, Aira sangat membutuhkan kehadiran Keno saat ini berharap Keno datang dan menjadi pahlawan untuknya. Tapi rumah Keno tidak dekat dengan posisinya saat ini, dia harus naik taksi untuk ke sana. Ia berfikir untuk memberhentikan taksi dan meminta tolong Keno untuk membayar taksinya setelah ia sampai nanti. Tapi, taksi tidak ada yang lewat satu pun. Berjam- jam ia menunggu satu taksi dan tetap tidak ada yang lewat juga. Ia kembali frustasi dan menangis sejadi- jadinya.
"Aaarrrggghhhhh, lengkap sudah penderitaan ku malam ini. Ken, Aku membutuhkan mu saat ini. Aku sangat membutuhkan mu, hiks, hiks, hiks."
"Aaarrrggghhh !!! Arrrgghhhh !!! Arrrgghhh !!!" teriakan putus asa selalu terdengar dari bibir mungilnya.
Terus memandang jalanan dengan tatapan kosongnya. Hingga ia tidak sadar jika ada sebuah mobil berhenti di depannya dan orang yang ada di mobil itu keluar menghampiri Aira.
"Airaa." seru dua orang yang baru saja keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Aira. Membuat Aira tersentak dan menoleh ke dua orang itu.
"Kak Mega, kak Sandi." berdiri dan langsung memeluk kedua orang itu. Menangis sejadi- jadinya, tidak percaya Tuhan memberikan pertolongan untuknya. Melihat Aira menangis, Mega dan Sandi ikut meneteskan air matanya seakam merasakan apa yang sahabatnya rasakan saat ini walaupun belum mendengar ceritanya dari Aira.
"Apa yang terjadi, hiks. Kenapa kepala mu berdarah, bibir mu juga berdarah. Wajahmu lebam, apa yang sebenarnya terjadi, Ra." tanya Mega semakin mengeratkan pelukannya pada Aira.
Sandi juga tampak meneteskan air matanya melihat kondisi Aira yang kacau dengan penuh luka di wajah, ia mengusap punggung Aira berusaha memberikan kekuatan.
"Ceritakan pada kami, Ra. Kita sahabat lo, kita berhak tahu apa yang telah terjadi sama lo."
Aira hanya menggeleng dan tersenyum, setidaknya masih ada orang yang peduli dengannya saat ini.
"Kenapa lo bawa koper segala sih, Ra. Terus kenapa lo di halte ini, kenapa sama lo. Cerita, Ra. Ceritaa." tanya Mega menggoyang- goyangkan tubuh Aira.
"Aku tidak apa- apa kak, aku baik- baik saja. Kalian tidak perlu khawatir ya." ucap Aira berusaha tersenyum.
"Kondisi lo begini, terus lo masih bisa bilang nggak papa ! Kalau lo emang engga papa, kenapa lo nangis !" bentak Sandi yang geram karena Aira tidak mau bercerita.
"Aira hanya senang saja bertemu dengan kak Sandi dan kak Mega. Aku terharu makanya aku nangis." jawab Aira yang lagi- lagi membuat kedua sahabatnya itu semakin kesal.
"Lo anggep kita apa emangnya ! Kita lebih dari sahabat, kita sudah seperti keluarga. Lo keluarga gue, lo saudara gue. Lo cerita sama kita, CERITA AIRA, CERITA. JANGAN DIPENDAM SENDIRI !" seru Mega menggoyang- goyangkan tubuh Aira dengan kuat.
Mata aira berkabut, kepalanya terasa sangat sakit, nyeri di tubuhnya semakin membuat ngilu. Wajahnya sudah pucat pasi, lapar dan haus juga menyeruak menjadi satu.
"Kak..." lirihnya sebelum Aira benar- benar terjatuh dan tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
***JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTENYA. MAAF SEMALAM TIDAK BISA UPLOAD KARENA BARU TERKENAH MUSIBAH HEHE...
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH MEMBACA*** :):):)