
"Dia membuat anakku sakit hati ! Dia harus merasakan apa yang dirasakan anakku !"
"Mbak, Tolong pergi dari sini..." ucap Vera, Ia dengan susah payah mencekal tubuh Diva supaya tidak menghajar Aira lagi.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan suamimu itu, walaupun keluarga mereka telah berjasa kepada keluargaku !" teriak Diva dan kembali mendorong tubuh Aira hingga tersungkur lagi.
"Maafkan saya, Tante. Selamat sore, saya pamit pulang..." Aira segera masuk ke dalam mobilnya dan keluar meninggalkan rumah itu.
"Ada apa ini? Kenapa tadi aku dengar keributan di sini?" seru Alfa yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kak Alfa sudah bangun..." ucap Vera bergelayut manja di lengan Alfa.
"Lepaskan !" gertak Alfa. Ia sangat tidak suka dengan gadis bernama Vera itu.
"Tidak ada apa- apa kok, sayang. Ayo masuk saja," ucap Diva.
Saat hendak masuk, Alfa melihat ada sebuah paper bag yang tergeletak di depannya. Karena penasaran ia pun mengambil dan membuka isinya yang ternyata ada beberapa cupcake. Dilihatnya box yang bertuliskan brand kue milik Aira.
"Punya siapa ini? Kenapa bisa tergeletak di sini?"
"Apa tadi ada seseorang yang kemari?" tanya Alfa lagi tapi tak mendapat jawaban dari dua wanita yang berada di depannya itu. Alfa semakin yakin kalau Aira datang ke rumahnya.
"Pergi kau dari rumahku ! Jangan pernah kembali lagi," seru Alfa kepada Vera sebelum ia melangkah masuk ke rumahnya.
***
Sesampainya di rumah, Aira langsung memeluk tubuh Keno yang tengah duduk di depan televisi.
"Maaf ya, aku baru pulang. Harusnya aku pulang sebelum kamu sampai di rumah..." lirihnya seraya menggesekkan hidungnya di dada Keno.
"Enggak masalah. Kenapa kau lesu sekali? Capek? Mandilah dulu," ucap Keno menghujani puncak kepala Aira dengan ciuman.
"Tunggu sebentar, aku masih mau memelukmu." Aira memeluk Keno dalam waktu yang cukup lama, ia merasa lebih tenang dan nyaman tatkala memeluk lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Kata Mang Dadang, si tengik itu mabuk, ya?" tanya Keno.
Aira mengangguk, "Jangan membahasnya, aku tidak suka."
"Ehm, kau mau makan malam apa? Biar aku memasakkannya untukmu," tawar Aira.
"Apa saja akan aku makan. Tapi, kalau kau lelah biar Bi Ijah saja yang memasaknya," jawab Keno mencubit hidung Aira.
"Tidak, ini sudah menjadi tugasku. Aku mandi dulu ya, papay..." Aira lalu melepas pelukannya dan segera menuju ke kamarnya.
"Kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku? Kenapa kau menyembunyikannya dan tetap bersikap seolah tak terjadi sesuatu denganmu?" lirih Keno dalam hatinya. Ia sudah tahu apa yang terjadi dengan Aira tadi. Tapi, Keno ingin mendengarnya dari Aira langsung. Keno juga sudah memberi Diva pelajaran dan memberikan pengawalan untuk wanita itu supaya tidak berbuat macam- macam lagi.
***
"Butuh bantuan?" tanya Keno seraya memeluk Aira dari belakang.
"Apa- apaan kau ini, sudah hampir selesai tapi baru datang," jawab Aira terkekeh.
__ADS_1
"Kau itu menggemaskan sekali, aku jadi ingin itu..."
"Ingin apa? Ingin makan? Sebentar lagi siap kok makanannya."
Keno tetap memeluk istrinya dari belakang dan mengikuti kemana pun wanita itu bergerak.
"Mau sampai kapan kau memelukku seperti ini? Ayo lepaskan dulu..."
"Sampai aku tutup usia..." jawab Keno seraya melagukannya.
"Kan ku jaga hatimu, sampai aku tua...."
Aira tersenyum kecil mendengarnya, suaminya begitu menyebalkan. Namun, entah mengapa itulah yang membuat Aira tergila- gila dengan Presdir itu.
"Duduklah yang manis, Tuan Keno. Makan malam Anda sudah tersaji di meja," ledek Aira.
"Baiklah, Nyonya Keno. Apa saja menu makan malamku kali ini?"
"Yang pertama dan yang utama adalah Nasi. Dan ini ada Chicken Katsu dan Sosis Teriyaki kesukaan Tuan Keno. Dan yang terakhir adalah sop ikan. Selamat menikmati, semoga kau suka masakan istrimu ini, Tuan Keno."
"Terima kasih, Nyonya Keno. Aku sangat suka masakanmu," ucap Keno seraya mendaratkan kecupan di pipi Aira.
"Ehm, tapi aku tidak mau makan kalau tidak disuapi Nyonya Keno," lirih Keno manja.
"Astaga, kau masih saja seperti bayi besar. Baiklah- baiklah, aku akan menyuapimu bayi besarku."
Aira pun menyuapi Keno dengan telaten, dan sesekali memasukkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Tidak, perutku sudah penuh. Dan sepertinya mulai sekarang aku harus lebih rajin berolahraga biar tidak gendut. Masakanmu sangatlah enak, tidak cukup jika makan satu piring saja," ujar Keno terkikik.
"Ini minumnya, minum yang banyak, ya babyku." Aira segera membereskan piring- piring dan segera mencucinya. Sedangkan Keno, ia masih setia menunggu Aira mencuci piring dan memeluknya dari belakang.
"Airaa, Keno !!!" jerit Mega menghampiri kedua orang yang tengah bermesraan.
"Loh, kenapa kau ada di sini?" tanya Keno terkejut.
"Kau sendiri saja, kak Mega? Dimana suamimu?" tanya Aira.
"Ada tuh di depan, lagi main PS," jawab Mega.
"Astaga, tuh anak nggak ada sopan- sopannya sama sekali." Keno memijat pelipisnya, ia langsung menemui Sandi yang tengah memainkan PS 5 miliknya.
***
"Nggak ada akhlak !" Keno menoyor kepala Sandi. "Dateng- dateng bukannya nyapa dulu kek, ini malah langsung main," tambahnya lagi.
"Lagian, Lo punya PS 5 tapi nggak bilang gue. Ini kan keluaran terbaru, gue mau coba dulu sebelum beli juga," jawab Sandi enteng.
Sandi dan Keno pun mulai bermain bersama. Mereka terus saja berulah dan bertengkar.
"Kalau aku yang menang, kau harus menggendongku mengelilingi rumah ini ya," tawar Keno.
__ADS_1
"Boleh, siapa takut !" jawab Sandi.
Mereka bermain dan saling senggol menyenggol. Tak hanya itu, mereka juga berteriak- teriak tak jelas. Hingga memekakkan telinga Aira dan Mega yang tengah berbincang- bincang di belakang mereka.
"Yesss !!! Gue menang yuhuuu..." teriak Sandi dan melompat kegirangan.
"Enggak ada, enggak ada ! Tadi kau bermain curang, kita seri nggak ada yang menang," bantah Keno.
"Ah, nggak seru lo ! Pokoknya lo harus gendong gue," ucap Sandi.
"Nggak ada gendong- gendongan !" ucap Keno. Namun, Sandi malah langsung naik ke punggung Keno, karena Keno terkejut dan tak siap mereka pun terjatuh dan saling menindih.
"Sialan ! Turun dari tubuhku, cepat !"
Aira dan Mega tertawa terpingkal- pingkal melihat keduanya.
"Eh, sebenarnya Kak Mega mau ngapain sih ke sini?"
"Aduhh lupa, bentar ya gue ambil dulu." Mega langsung melangkah keluar mengambil sesuatu dari mobilnya.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan 3 box pizza berukuran besar di tangannya.
"Mau buat apa pizzanya?" tanya Aira mengernyitkan dahinya.
"Ehm, itu..."
"Dia lagi ngidam, Ra. Lo bantuin kita ya, dia pengen kalian makan semua pizza itu," seru Sandi menimpali.
"Hah? Apa?! Ngidam?!" pekik Aira dan Keno bersamaan.
"Gue hamil 4 minggu, hehe," jawab Mega mengusap perutnya yang datar.
"Wahhh selamat Kak Mega, semoga sehat sampai lahiran nanti," do'a Aira seraya memeluk perut Mega.
"Amin, kalian buruan dong makan pizzanya, aku yang suapin. Nanti biar Sandi yang ngevideo terus buat story deh." Mega langsung menyodorkan sepotong pizza ke mulut Keno dan Aira.
"Yang bener aja, kita baru selesai makan. Masa iya harus makan pizza, tiga box lagi. Enggah, ah !" ucap Keno.
"Lagi pula, tiga hari yang lalu kita udah makan makanan junk food, nggak mungkin dong hari ini makan lagi," tambah Keno.
"Ayolah sekali ini saja, biar anak gue nggak ileran. Bantuin ya..." Sandi mengatupkan kedua tangannya dan terus memohon kepada Aira dan Keno.
"Janji nggak akan ngidam yang aneh- aneh lagi," tambah Mega, matanya berbinar dan jarinya membentuk huruf V.
Keno dan Aira saling pandang. Mereka enggan sekali memakan pizza itu. Selain kenyang, mereka juga tak ingin memakan makanan junk food lagi karena mereka benar- benar menjaga kesehatan. Mereka juga tak tega melihat pasutri yang terus memohon itu.
"Huffttt, baiklah. Tapi, hanya satu box saja. Yang satu box kalian makan sendiri dan yang satunya berikan saja pada Mang Dadang dan Bi Ijah," jawab Aira.
"Yaudah deh, asalkan aku yang nyuapin kalian ya." Mega menyuapi Keno dan Aira secara bergantian hingga habis satu box.
Aira dan Keno merasa mual, perut mereka sangat penuh. Bahkan, untuk minum saja sudah tak sanggup lagi. Wajah mereka juga penuh dengan saus yang belepotan, karena Mega tak menyuapi mereka dengan benar.
__ADS_1
Malam semakin larut, tapi keempat anak manusia itu masih belum terpejam. Mereka masih bercanda dan tertawa di ruang keluarga, menikmati kebersamaan yang menciptakan kebahagiaan. Mega dan Sandi pun memutuskan untuk menginap lagi di rumah Keno.