
Keno telah tiba di Tokyo sore harinya, ia segera menuju ke hotel dimana Aira menginap. Sesampainya di sana, ia pun terkejut mendapati kamar hotel Aira yang tak ada penghuninya. Segera ia bertanya kepada resepsionis, amarahnya semakin meledak saat mereka memberitahu Keno kalau pemilik kamar itu pergi sejak tadi pagi bersama pemilik kamar di sampingnya, yang tak lain adalah Alfa.
Sedangkan, setelah mengunjungi Istana Kaisar, Ueno dan Asakusa, Alfa dan Aira menuju ke Tokyo Skytree.
Setelah membeli tiket yang kurang lebih harganya 400 ribuan itu, mereka mask lift menuju ke lantai teratas.
"Woaahhh, aku sudah berkali- kali ke sini tapi tetap saja takjub." seru Aira, ia selalu takjub saat masuk ke dalam lift yang mampu membawa pengunjung ke lantai teratas dengan kecepatan 600 meter per menit.
"Kau suka, bocil? Kalau kau suka kita akan sering kemari." ucap Alfa, ia tetap menggandeng Aira hingga lift terbuka.
Tiba di lantai atas, Mereka pun takjub akan panorama Tokyo yang terhampar jelas dari ruang observatori. Kelap- kelip lampu di malam hari membuat Tokyo tampak seperti lautan cahaya.
Aira segera mengarahkan kameranya mengambil panorama yang tak ada duanya itu.
"Aku haus, aku akan mencari minuman dulu ya. Kau tunggu di sini jangan kemana- mana. Okay bocil." ucap Alfa mengacak- acak rambut Aira.
"Kak Alfa, aku itu bukan anak kecil aku bisa menjaga diriku."
"Iya aku tahu, pokoknya jangan pergi kemana- mana, aku takut kamu hilang haha." Alfa pun berlari mencari minuman untuknya dan Aira.
Aira menatap lepas pemandangan Tokyo. Ia teringat dengan Keno, berbagai pertanyaan pun muncul di pikirannya. Ia mengkhawatirkannya.
"Apa kau tidak merindukanku, Ken? Apa kau tidak mencariku hari ini? Sepertinya kau sudah terbiasa akan ketidak hadiranku ya." lirih Aira tersenyum kecut.
Tiba- tiba ada seseorang melingkarkan kedua tangan kekarnya di perut dan menyandarkan kepalanya di bahu Aira. Aira pun terkesiap, ia tahu tangan siapa itu dan wangi parfumnya sangat ia kenali.
Namun, Aira mencoba menepisnya. Ini hanyalah halusinasi saja, tak mungkin kalau Keno yang memeluknya. Mungkin karena terlalu merindukan Keno, halusinasinya menjadi tak karuan.
"Aku merindukanmu," lirih seseorang itu terdengar jelas di telinga Aira.
Aira membalikkan tubuhnya, ia menutup mulutnya tak percaya kalau dia tidak sedang berhalusinasi saja. Keno benar- benar berada di hadapannya.
"Ka- kau kenapa bisa ke sini?" tanya Aira terbata.
"Tidak penting, biarkan aku memelukmu sebentar saja." Keno memeluk Aira lagi, wanita itu ingin menolak tapi hatinya menginginkan itu, ia merindukan pelukan hangat dari Keno.
"Jawab pertanyaanku dulu, siapa yang memberitahumu kalau aku di sini?"
"Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang." jawab Keno acuh.
"Hey, Tunggu. Harusnya aku memarahimu sekarang, kenapa aku malah memelukmu seperti ini." Keno langsung melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Aira, siap menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa?!" gertak Aira dengan suara meninggi dan berkacak pinggang.
"Kenapa kau pergi tidak bilang kepadaku atau mama? Apa kau benar- benar meninggalkanku? Dan apa ini, kau pergi bersama si tengik. Harusnya kau pergi bersamaku." tutur Keno kesal.
"Memangnya kau siapa hingga aku harus mengatakannya kepadamu? Dan siapa si tengik? Aku ke sini dengan kak Alfa bukan si tengik."
__ADS_1
"Itu maksudku, kenapa kau pergi bersama si tengik itu."
"Panggil dia yang benar, kenapa kau suka sekali mengganti nama orang sih."
"Aku akan tetap memanggilnya si tengik." seru Keno melototkan matanya.
Alfa datang dengan dua kaleng minuman, ia pun terkejut saat mendapati Keno bersama Aira.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Alfa memicingkan matanya.
"Ah kau baik sekali, tahu saja kalau aku sedang haus." Keno merebut satu kaleng minuman dari tangan Alfa dan langsung meneguknya tanpa jeda.
"Itu untuk Aira, lancang sekali kau."
"Kenapa memangnya? Aku akan mengganti uangmu, tenang saja."
Alfa menoyor kepala Keno, "Ah, pergi saja kau dari sini. Dasar pengacau."
"Kau yang harus pergi bukan aku, aku kekasihnya Aira jadi aku yang akan menemaninya."
Keno dan Alfa terus beradu mulut hingga Aira pusing mendengarnya. Ia pun meninggalkan kedua lelaki tampan itu dan menuju ke lantai dasar.
Mengetahui kalau Aira pergi, Keno dan Alfa pun segera menyusulnya. Mereka terus mengikuti Aira dari belakang. Sesekali mereka mendorong satu sama lain dengan bahu mereka.
Aira semakin risih dengan tingkah kedua lelaki yang ada di belakangnya, yang sama- sama lupa umur.
"Sudah- sudah jangan seperti ini, dilihat banyak orang nggak malu apa? Ken, aku ke sini bersama dengan kak Alfa, jadi kalau kau mau bergabung bertingkahlah sewajarnya jangan jadi pengacau." seru Aira membuat wajah Keno menjadi sendu, sedangkan Alfa malah senang mendengarnya.
"Awas kau, aku akan memberimu perhitungan. Akan ku pastikan kau segera kembali ke Indonesia dan aku akan berdua saja bersama Aira." ucap Keno dalam hatinya.
Melihat Keno yang langsung kesal, Aira malah senang. Terbesit di pikirannya untuk membuat rencana- rencana baru yang pasti akan membuat Keno semakin cemburu.
Mereka menuju ke salah satu restoran di lantai dasar Tokyo Skytree untuk menikmati makan malam.
"Aira, apa kau mau aku suapi?" tanya Alfa.
"Boleh kak." jawab Aira, Alfa pun segera mengambil satu potong sushi. Namun, Keno segera mencekal tangan Alfa dan memasukkan sushi itu ke mulutnya.
"Terima kasih kak Alfa, suapin lagi dong." seru Keno seraya memberikan senyum devilnya.
Aira menahan tawanya melihat tingkah Keno yang seperti anak kecil itu.
"Tuan Keno, Presdir Sanjaya Group, jangan jadi pengacau ya. Duduklah yang manis dan habiskan sushi mu sekarang juga." Alfa geram, selera makannya hilang seketika karena ulah Keno. Tiba- tiba ponselnya berdering, ia pun segera mengangkatnya.
"Iya halo."
"...."
__ADS_1
"Apa?! Apa kau tidak bisa menyelesaikannya sendiri? Aku masih di Jepang.'
"..."
"Baiklah, aku akan segera kembali secepatnya."
"Ada apa kak?" tanya Aira penasaran karena melihat raut wajah Alfa yang berubah.
"Di Rumah sakit sedang ada kekacauan, aku harus segera kembali malam ini juga." jawab Alfa, ia sedih ketika harus pulang.
Setelah selesai makan, mereka pun segera kembali ke hotel karena Alfa akan melakukan penerbangan dua jam lagi.
"Biar aku yang menempati kamarmu, aku juga yang akan membayarnya." ucap Keno yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur kamar Alfa.
"Ini pasti ulahmu kan, kau pasti telah berbuat yang tidak- tidak supaya aku segera pulang ke Indo dan kau bisa berdua dengan Aira." Alfa menajamkan suaranya, ia sangat yakin kalau ini adalah ulah Keno.
"Tidak, untuk apa aku melakukannya." jawab Keno dengan santainya.
"Ahh shitt, tunggu pembalasanku."
Keno semakin senang karena berhasil membuat Alfa segera pergi, jadi tak akan ada yang mengganggunya lagi.
"Kak Alfa, hati- hati ya. Kalau sudah sampai jangan lupa kabari Aira."
"Iya pasti, jaga dirimu baik- baik ya."
"Sudah jangan lama- lama, nanti kau bisa ketinggalan pesawat." tegur Keno.
"Byeee Alfaa, sampai bertemu di Indonesia ya hahaha." seru Keno saat Alfa mulai memasuki pesawat.
"Sepertinya ada yang aneh denganmu." ucap Aira menyelidik.
"Aneh kenapa memangnya?"
"Pasti kau yang membuat kak Alfa supaya cepat kembali ke Indonesia."
"Kalau iya memangnya kenapa? Aku ingin menghabiskan hari- hari di sini denganmu saja, tidak salah kan?"
"Sudah ku duga, Dasar anak nakal." Aira menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Keno.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komennya ya pembaca setia🤗 Votenya juga jangan lupa hehe, engga maksa sih cuma berharap aja wkwk