Hello Presdir

Hello Presdir
Anehnya Semakin Aneh


__ADS_3

"Hey, kenapa kau mengatai istriku anak tengil."


"Karena dia menyebalkan !"


"Tapi, benar juga sih. Dia sedikit menyebalkan, tapi hanya sedikit tidak banyak," ujar Keno terkikik geli.


"Siapa yang menyebalkan?!" seru wanita yang tiba- tiba memasuki ruangan Keno membuat kedua lelaki itu terkejut.


"Mamah..." Keno menghampiri Maria dan memeluknya erat.


"Siapa yang kalian bicarakan tadi? Cowok kok suka gosip !"


"Tadi Tuan Keno sedang membicarakan istrinya," celetuk Frido. Keno langsung menendang tulang kering asistennya itu.


"Bukan, Mah. Kami tadi membicarakan diri kami sendiri kok bukan Aira." Keno bergidik ngeri ketika mata mamanya melototi dirinya.


"Awas saja kau sampai menjelek- jelekkan menantuku. Akan ku cekik lehermu nanti !" Maria terus saja mengancam anaknya, membuat Keno menunduk takut. Sedangkan Frido, ia menahan tawanya ketika melihat ekspresi Keno yang sangat takut dengan Mamanya itu.


"Kau mau Mamamu kelelahan karena berdiri terus dari tadi?"


"Eh iya lupa, silakan duduk Mamaku yang cantik dan galak."


"Kau itu memuji atau mengataiku?"


"Dua- duanya !" jawab Keno ketus, ia langsung di jewer oleh Maria.


***


Jam makan siang pun tiba, kini ketiga sahabat itu belum juga beranjak dari meja kerja mereka. Semuanya tampak sibuk menatap laptop di depannya, hingga lupa jika sudah saatnya makan siang.


"Eh, makan siang dulu yuk," ajak Sandi namun tak mendapat sahutan dari Aira ataupun Mega.


"Sayang, ayo istirahat dulu. Kasihan dedeknya..." Sandi membujuk istrinya seraya mengusap perut Mega yang mulai membuncit.


"Iya bentar, kita makan ketoprak ya? Aku pengen nih..."


"Aira !!! Ayo keluar cari makan," teriak Mega. Namun, Aira tak menyahutinya karena dia tertidur dengan laptop yang masih menyala di depannya.


"Ish kok malah tidur sih, Ra !!! Airaaa..." Mega dan Sandi mengguncang tubuh Aira supaya bangun.


"Apasih?" Aira bangun sekejap, lalu ia kembali melanjutkan tidurnya.


"Makan dulu Zubaedah, tadi pagi lo juga belum sarapan 'kan." Sandi menarik tangan Aira namun wanita itu tidak mau bangkit juga.


"Aku ngantuk, bungkusin aja buat aku, kak. Jangan lupa beliin jus jeruk. Jangan dikasih gula banyak- banyak," lirih Aira dengan suara parau.


"Ih nyebelin amat sih lo."


***


"Aduhh...Mah..." pekik Keno. Telinganya mulai memerah karena Maria benar- benar menjewer anaknya dengan kuat tapi tak sampai putus.


"Makanya jadi anak itu yang baik, jangan nakal- nakal ya adek manis," ledek Frido, ia tak henti- hentinya menertawakan bosnya itu.

__ADS_1


Suasana kembali hening, karena Keno memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Mamanya duduk memainkan ponsel di ruangannya.


"Ken, kalian tidak mau bulan madu?"


"Nanti kalau aku dan Aira tidak sibuk pasti akan bulan madu." Keno menjawab tanpa menoleh ke arah Mamanya.


"Mama ke sini mau ngapain sih sebenernya?" tanya Keno.


"Mau menjewermu, memangnya kenapa?"


"Bukannya tadi sudah? Lalu kenapa tidak langsung pulang."


"Biarin aja kenapa sih ! Belum juga dua kali jewernya. Nanti malam pulanglah, ajak istrimu kita makan malam bersama."


"Kapan- kapan saja, nanti aku mau mengajak Aira pergi ke dokter. Lidahnya mati rasa, masa iya nasi kuning yang jelas- jelas enak banget tapi dianya malah bilang kalau itu hambar dan nggak enak," jelas Keno panjang lebar.


"Hah? Dia tidak nafsu makan gitu? Jangan- jangan Aira hamil. Dulu Mama pas mengandungmu juga begitu, tidak nafsu makan. Semua makanan rasanya hambar." Maria tampak antusias, ia sudah tak sabar untuk menimang cucu dari anaknya yang nakal itu. Ia sangatlah senang jika apa yang ia katakan itu benar- benar terjadi.


"Belum, Mah. Aira saja sedang datang bulan kok."


Raut wajah Maria yang tadinya berbinar senang langsung menjadi buram. Perasaan kecewa muncul dari wanita yang berumur setengah abad itu. Namun, ia kembali meyakinkan dirinya kalau ia akan segera mendapat cucu, jadi tak perlu bersedih.


***


Sore pun tiba, Mega dan Sandi pulang terlebih dahulu. Sedangkan Aira, ia masih menunggu suaminya menjemput. Ia bisa saja memesan taksi online, tapi jika hal itu dilakukannya Keno pasti akan marah besar dan tak henti- hentinya menceramahi Aira.


Senja mulai menghilang dan akan terganti dengan malam. Sudah satu jam lamanya Aira menunggu kedatangan suaminya, ia mulai bosan. Hingga akhirnya mobil mewah Keno pun sampai, Keno turun dengan tergesa- gesa.


"Sayang, maafkan aku. Tadi jalanannya macet..."


"Ken, kita mampir ke supermarket dulu ya. Ada barang yang harus kubeli," seru Aira. Keno pun menepikan mobilnya di depan supermarket.


"Baiklah, memangnya kau mau membeli apa?"


Aira tak menjawab pertanyaan Keno, wanita itu langsung keluar dari mobil dan masuk ke supermarket. Hanya butuh waktu beberapa menit wanita itu sudah keluar dengan kantung kresek kecil di tangannya.


"Beli apa sih, Kok kecil barangnya?"


"Pengharum mobil," jawab Aira santai. Ia lalu membuka dan menggantungkannya di mobil Keno.


"Aku baru menggantinya kemarin, kenapa diganti lagi?"


"Aku tidak suka wanginya, tidak enak ! Lebih baik yang ini, ehmm...wanginya..." Aira terus menciumi pengharum mobil yang beraroma jeruk segar itu.


"Tapi yang kemarin itu seperti biasanya dan kau menyukainya 'kan?"


"Itu dulu, sekarang kau harus memakai pengharum yang beraroma jeruk di semua mobilmu. Lihat, aku sudah membeli banyak untuk mobil- mobil yang di rumah juga." Aira menunjukkan sepuluh pengharum mobil yang dibelinya tadi.


"Kenapa anehmu semakin aneh?"


"Anehku semakin aneh bagaimana? Memangnya aku aneh? Bukannya kau yang anehnya semakin aneh? Orang aku tidak aneh tapi malah dikatain aneh, dasar orang aneh," celetuk Aira tanpa jeda.


"Kau itu bicara apa?" Keno mengernyitkan dahinya dan masih mencerna perkataan Aira tadi.

__ADS_1


"Entahlah, aku sendiri juga tak paham dengan ucapanku tadi." Aira terkekeh sendiri saat mengingat ucapannya tadi.


"Kenapa kau itu lucu sekali sih ! 'Kan aku jadi tambah sebel."


"Eh maksudnya tambah sayang," ralat Keno saat Aira melototi dirinya.


***


Sesampainya di rumah, mereka mendapati satu mobil asing dan juga ambulance di halaman depan. Tak berpikir panjang, Aira langsung masuk ke rumah tanpa menunggu Keno.


Betapa terkejutnya ia ketika mendapati ada dokter tampan dan tiga perawat yang berjejer di ruang tamu dengan berbagai perlengkapan medis.


"Hello Nyonya Keno..." sapa dokter itu dengan membungkukkan badannya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian di sini? Ini bukan rumah sakit loh," ucap Aira kebingungan.


"Dia akan memeriksamu sayang," sahut Keno.


Dokter dan para perawat itu mempersilakan Aira untuk berbaring di brankar yang mereka siapkan.


"Periksa istriku dengan benar," seru Keno kepada Ilham, dokter yang dipercayakan untuk memeriksa Aira.


Ilham hanya mengangguk. Tanpa disuruh pun ia akan memeriksa Aira dengan baik. Sebelumnya ia sudah diberitahu keluhan yang Aira alami, ia pun sedikit heran. Ilham memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, detak jantung terlebih dahulu.


"Semuanya normal, apa Anda mempunyai keluhan lain, Nyonya?" tanya Ilham sopan.


"Jangan memanggilku Nyonya, panggil saja Aira. Sepertinya kita seumuran."


"Baiklah Nyonya, eh maksudnya Aira." Ilham pun dengan senang hati, ia sangat senang ketika Aira begitu baik dengannya tidak seperti Keno.


"Jangan mengajak istriku bicara terlalu banyak atau aku akan memotong lidahmu," ketus Keno.


"Hey kau itu kenapa, ya wajar dong kalau dokter bertanya kepada pasiennya. Kau cemburu?" Aira merasa Keno cemburu dengannya, apalagi dokter itu seumuran dan tampan walaupun lebih tampan Keno.


"Tutup matamu jangan melihat istriku," pinta Keno kepada Ilham. Sontak saja para perawat yang mendengarnya tertawa.


"Lalu, bagaimana aku memeriksanya?"


"Gunakan mata batinmu," jawab Keno asal- asalan. Para perawat semakin tertawa, sedangkan Aira ia ingin sekali menimpuk Keno dengan alat- alat medis di sampingnya.


"Baru kali ini aku mendapatkan pasien aneh sepertimu. Untung saja kau membayarku mahal, kalau tidak aku sudah menolaknya dari awal," gerutu Ilham dalam hatinya.


"Selain tidak boleh melihatnya, kau juga tidak boleh menyentuh istriku !"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hehehe🄓


__ADS_2