
Tok tok tok
''Masukk,'' ucap Chaca
''Nona yang ingin bertemu dengan anda,'' ucap Nina.
''Siapa?'' tanya Chaca.
''Mending kamu lihat aja deh keluar siapa yang datang,'' ucap Nicco tersenyum penuh arti.
''Memangnya siapa yang datang, kenapa aku jadi penasaran,'' ucap Chaca berjalan keluar dari ruangan. Saat Chaca keluar dari ruangan tersebut ada sosok tampan yang tengah tersenyum kearahnya.
''Wilson,'' gumam Chaca pelan. Air matanya luruh begitu saja. Wilson segera berjalan ke arah Chaca dan memeluk Chaca dengan sangat erat.
''Kenapa menangis?'' tanya Wilson, tangannya terulur mengusap lembut rambut Chaca. Adegan itu tak luput dari pandangan seseorang karna sejak tadi Devan keluar dari ruangannya. Devan mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, wajahnya memerah. Devan segera masuk lagi ke dalam ruangan dan menutup pintunya dengan keras.
''Chaca apa aku selama ini salah menilaimu. Apa sifat kamu juga tidak jauh dari Monica. Kenapa saat aku melihatmu di peluk orang lain rasanya aku ingin sekali mematahkan tangannya,'' ucap Devan saat sudah sampai di ruangannya.
*
'' Nicco apa ini yang kamu maksud kejutan untukku?'' tanya Chaca kepada Nicco saat mereka sudah di dalam ruangan Chaca.
'' Iya Cha,'' ucap Nicco.
''Terima kasih kejutannya. Aku sangat senang sekali,'' ucap Chaca.
''Bagaimana kabarmu Cha? kamu sekarang tambah cantik ya,'' ucap Wilson dengan senyum menggoda.
''Kabarku baik. Dan ya, memang aku sudah cantik dari sananya. Tak perlu kamu ucapkan aku sudah tau,'' ucap Chaca dengan tawanya.
''Tapi kenapa kepedeanmu itu ngak menghilang sama sekali,'' ucap Wilson.
Wilson adalah sahabat Chaca Saat SMA dulu. Wilson meneruskan Study di Kuala Lumpur karna memang mama Wilson orang sana. Persahabatan mereka terdiri dari 4 orang, Chaca, Nicco, Wilson dan Salsa yang saat ini menetap di London.
''Gimana kalau besuk malam kita party di rumahku, ajak teman-teman kalian juga biar tambah rame,'' ucap Chaca memberi ide kepada teman-temannya.
''Ide yang tidak buruk,'' ucap Nicco.
''Oke, aku setuju,'' ucap Wilson.
*
Tok tok tok
''Masuk,'' ucap Chaca.
__ADS_1
''Maaf mengganggu waktunya. Meeting akan di mulai 5 menit lagi Nona. Sebaiknya Nona bersiap-siap,'' ucap Nina sekretaris Chaca.
''Nina tolong panggil Devan kesini,'' perintah Chaca tanpa menjawab ucapan Nina tadi.
''Baik nona,'' ucap Nina berjalan keluar dari ruangan tersebut dan mengetuk pintu ruangan Devan.
''Pak Devan anda di minta Nona Chaca untuk keruangannya,'' ucap Nina kepada Devan.
''Baiklah,'' Ucap Devan berdiri dari duduknya dan menuju ruangan Chaca.
Tok tok tok
''Masuk,'' ucap Chaca dari dalam ruangan. Devan segera membuka pintu untuk masuk ke dalam. Tapi hatinya terasa panas saat mengetahui Chaca di apit oleh dua pria yang tampan.
''Ada yang bisa saya bantu nona?'' ucap Devan. Sebenarnya dia malas sekali untuk ke ruangan tersebut, tapi dia juga harus profesional dengan pekerjaannya.
''Tolong kamu pimpin meeting hari ini ya, aku sedang sibuk,'' ucap Chaca
''Baik Nona,'' ucap Devan dengan menatap Chaca dalam-dalam. Chaca yang di tatap oleh Devan seperti itu menelan salivanya susah payah.
''Dia asisten kamu Cha?'' tanya Wilson penasaran, karna sejak tadi Devan menatap Chaca dengan tatapan tidak biasa.
''Iya dia asistenku,'' ucap Chaca.
''Memangnya kenapa? apa salahh,'' ucap Chaca heran kepada kedua sahabatnya.
''Awas nanti kalau kamu jatuh cinta lo,'' ucap Nicco kepada Chaca.
''Apaan sih Nic ngak jelas kamu ini,'' ucap Chaca masih menatap Devan yang berdiri di depannya.
''Kan dia masuk kriteria kamu. Aku masih ingat Cha,'' ucap Wilson.
''Udahlah kalian ini ngomong apa sih. Devan berkasnya ada di atas mejaku,'' ucap Chaca Kepada Devan.
''Baik nona,'' ucap Devan segera mengambil berkas dan keluar dari ruangan tersebut.
''Di depan para pria tadi saja aku seperti orang lain. Huh kenapa hati ini harus sesakit ini,'' ucap Devan dengan menyentuh dadanya.
*
*
Hari menjelang sore Chaca memilih untuk pulang. Chaca mengajak Devan pulang, tapi tidak ada tanggapan dari Devan.
''Van ayo pulang. Kamu ini tuli atau gimana sih,'' ucap Chaca yang sudah uring uringan. karna sejak tadi Devan tidak merespon ucapan Chaca.
__ADS_1
''Silahkan anda pulang sendiri nona, ini kunci mobilnya. Saya masih banyak pekerjaan,'' ucap Devan tanpa menoleh ke arah Chaca, dia masih tetap fokus ke laptopnya.
''Van,'' ucap Chaca tapi tak ada jawaban dari Devan.
''Van!'' ucap Chaca dengan sedikit berteriak. Devan yang mendengar hanya mendongakkan kepalanya sebentar lalu fokus lagi ke laptopnya.
''Silahkan anda pulang dulu Nona, saya masih sibuk,'' ucap Devan halus.
''Aku akan menunggu disini sampai kamu selesai,'' ucap Chaca berjalan ke arah sofa. Chaca terlalu tidak peka terhadap perasaan yang di miliki Devan. Devan masih fokus kepada laptop dan dokumen yang ada di depannya. Setelah beberapa saat Devan mengambil jasnya dan memakainya lalu berjalan melewati Chaca.
''Van kamu mau ninggalin aku,'' ucap Chaca.
''Kita pulang sendiri-sendiri saja Nona, ini kunci anda, saya bisa naik taksi,'' ucap Devan melangkahkan kakinya lagi.
''Maksud kamu apa van,'' Chaca yang sudah terpancing emosi.
''Tidak ada maksud apa-apa Nona,'' ucap Devan.
''Oke aku minta maaf sama kamu kalau aku salah, tapi jangan cuek gini dong van sama aku,'' ucap Chaca yang telah menyadari jika dirinya salah.
''Kenapa anda harus minta maaf?'' tanya Devan yang masih menghadap pintu tanpa mau menoleh kepada Chaca.
''Aku salah karna sudah pelukan dengan pria lain di depan kamu. Tapi kamu harus tau Van kalau mereka sahabatku. Tapi tunggu, kamu marah karna aku pelukan sama mereka berarti kamu cemburu dong sama mereka. Dan itu artinya kamu udah cinta sama aku,'' ucap Chaca tersenyum bahagia.
''Jangan terlalu percaya diri nona. Saya tidak akan mencintai wanita mura*ahan,'' ucap Devan lalu keluar dari ruangan tersebut. Chaca yang mendengar ucapan Devan hanya diam mematung di tempat.
''Apa maksudnya wanita mura*an,'' ucap Chaca hingga tanpa sadar air matanya mengalir di pipi. Tubuhnya lemas seketika.
*
*
Devan sampai loby perusahaan. Taksi yang Devan pesan sudah sampai lebih dulu. Ia segera masuk ke dalam taksi tersebut tanpa ingin menoleh ke belakang.
''Kamu tak ada bedanya dengan Monica Cha, aku kecewa sama kamu,'' ucap Devan pelan.
Di tempat lain Chaca berjalan menuju loby dengan langkah gontai. Perkataan Devan benar-benar membuat hatinya sakit. Jika mengingat kata kata Devan tadi air matanya mengalir begitu saja. Setelah sampai loby ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
''Kamu jahat Van kamu jahat, aku benci sama kamu,'' Chaca terus memukul setir mobilnya.
*
*
*
__ADS_1