
''Mas kenapa kamu berubah kayak gini sama aku. Apa Mas udah ngak cinta sama aku?'' tanya Chaca yang sudah terisak, entah kenapa akhir-akhir ini ia begitu melow jika menyangkut perasaan.
''Kamu ngomong apa sih,'' ucap Ronald melepas pelukan Chaca. Sebenarnya Ronald tak tega melihat Chaca seperti ini, tapi hatinya masih sakit ketika mengingat kejadian semalam.
''Mas, kalau ada masalah bilang, jangan kayak gini, aku ngak mau kamu diemin aku gini,'' ucap Chaca yang terisak. Ronald segera membalikkan tubuhnya lalu memeluk istrinya.
''Maaf,'' 1 kata yang keluar dari mulut Ronald.
''Untuk?'' tanya Chaca mendongakkan kepalanya.
''Karna buat kamu menangis,'' ucap Ronald datar.
''Sebenarnya Mas kenapa sih, kenapa sejak tadi pagi diemin aku. Aku ada salah ya sama Mas?'' tanya Chaca.
''Ngak ada. Aku ngak suka aja milikku di sentuh orang lain,'' ucap Ronald.
''Maksudnya apa Mas?'' Chaca bingung dengan perkataan Ronald.
''Tadi malam kemana aja? apa kamu masih berhubungan dengan masa lalumu? apa itu yang membuatmu bersikap dingin seharian kepadaku? apa kamu belum bisa menerima kenyataan jika kamu sudah menikah denganku?'' tanya Ronald terdengar dingin di telinga Chaca. Chaca segera mengingat kejadian tadi malam saat ia di taman.
''Mas lihat...'' belum selesai berbicara Ronald sudah memotongnya.
''Ya aku melihat semuanya,'' ucap Ronald.
''Kamu salah paham Mas, aku udah ngak ada hubungan apapun dengan dia. Aku tak sengaja bertemu dia di taman tadi malam. Dia yang mendekatiku. Aku sama sekali tidak tau kalau dia ada di sana,'' ucap Chaca menjelaskan.
''Benarkah?'' tanya Ronald dan di angguki oleh Chaca.
''Terus kenapa kamu seharian murung aja kemarin?'' tanya Ronald.
''Hem itu itu...''
''Ngak usah di jawab, Mas udah tau jawabannya,'' ucap Ronald.
''Mas aku minta maaf kalau aku salah dan aku ngak cerita sama Mas. Kemarin pagi aku ketemu dia waktu aku ke kantin. Aku jelas kaget kenapa ia bisa berada di sini. Dan malamnya dia menghampiriku di taman. Aku benar-benar ngak tau kalau dia masih di Rumah Sakit ini. Tapi jujur aku udah ngak ada hubungan apa-apa sama dia Mas. Aku cinta sama Mas Ronald,'' ucap Chaca serius. Ronald yang mendengarkan ucapan Chaca menatap lekad-lekad mata Chaca.
__ADS_1
''Aku jauh lebih cinta sama kamu,'' ucap Ronald lalu memeluk Chaca dengan erat. Ronald tak bisa jika terlalu lama mendiami istrinya.
''Jadi Mas maafin aku kan?'' tanya Chaca.
''Hem iya sayang,'' ucap Ronald tersenyum lalu menempelkan benda kenyalnya kepada benda kenyal milik Chaca.
*
*
Sedangkan di Rumah Sakit, Salsa berusaha untuk memijakkan kakinya di lantai. Ia tidak mau terus-terusan hanya berbaring di ranjang. Saat ini Devan izin kepada Salsa untuk pulang ke kontrakkannya untuk mengganti baju, karna sejak kemarin Devan belum pulang ke kontrakkannya.
''Ishhh, awww,'' Salsa meringis saat kakinya sudah memijak lantai.
Brukk
''Awww,'' teriak Salsa saat kakinya terlalu sakit saat bersentuhan dengan lantai.
Suster dan Dokter yang ingin memeriksa Salsa segera menuju ruangan Salsa, saat mereka mendengar teriakan dari ruangan tersebut.
''Kenapa kaki saya masih terlalu sakit Dok? apa saya benar-benar lumpuh?'' tanya Salsa.
''Kaki anda masih cidera Nona, sebaiknya anda jangan terlalu banyak gerak,'' ucap Dokter muda yang seumuran Salsa.
''Tapi Dok saya ngak mau terus-terusan seperti ini,'' ucap Salsa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
''Anda pasti akan sembuh Nona, saya bisa memastikan itu,'' ucap Dokter.
''Tapi kapan Dok? saya masih muda, saya juga belum menikah, trus kalau kaki saya lumpuh begini emang ada yang mau sama saya!" ucap Salsa curhat.
''Bukankah jodoh, mati dan rezeki sudah ada yang mengatur Nona,'' ucap Dokter itu. Baru kali ini menghadapi pasien yang menurutnya aneh.
''Ya aku juga tau itu. Tapi kalau kaki saya lumpuh itu akan menghambat jodoh saya Dokterrr,'' ucap Salsa. Dokter Malik hanya menghembuskan nafasnya kasar.
''Saya akan memeriksa anda Nona, silahkan berbaring,'' perintah Dokter tersebut mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tidak suka jika berdebat dengan seseorang.
__ADS_1
Salsa menuruti perintah Dokter tersebut. Ia segera berbaring dan Dokter Malik segera memeriksanya.
Selang beberapa saat Dokter Malik sudah selesai memeriksa Salsa. Dan Devan juga sudah kembali lagi ke Rumah Sakit karna akan menemani atasannya yaitu Salsa.
''Mbak Salsa kenapa murung seperti itu?'' tanya Devan.
''Gimana kalau aku ngak bisa jalan Mas Devan, aku ngak mau jadi perawan tua karna ngak ada yang mau nikah sama aku,'' ucap Salsa dengan mata berkaca-kaca.
''Mbak Salsa kenapa ngomong seperti itu. Kan Dokter bilang kalau Mbak Salsa hanya cidera,'' ucap Devan.
''Sementaranya sampai kapan Mas? tadi aku berusaha berdiri saja kakiku rasanya mau patah,'' ucap Salsa.
''Mbak Salsa berusaha berdiri?'' tanya Devan memastikan.
''Ya, tadi aku iseng pengen berdiri sendiri dan ternyata kakiku rasanya sakit sekali, aku ngak kuat berdiri dan akhirnya aku jatuh, untung tak mencium lantai,'' ucap Salsa kesal dengan dirinya sendiri.
''Astaga, gimana kalau kaki Mbak Salsa tambah cidera?'' ucap Devan.
''Aku muak hidup seperti ini Mas,'' ucap Salsa.
*
*
Sedangkan di Rumah sakit yang sama tapi di ruangan berbeda, Dokter Malik sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Wajah Salsa masih tampak menari-nari di pikiran Dokter Malik. Selama ini Dokter Malik tidak pernah tertarik dengan seorang gadis. Ia fokus pada tujuannya menjadi Dokter saat umurnya masih sangat muda.
Saat umurnya masih 23 tahun Dokter Malik sudah mendapatkan gelar Dokter umum. Ia merasa bangga pada pencapaiannya saat itu.
Dan kali ini ia bertemu dengan pasien yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Entah apa yang di rasakannya saat ini karna ini pertama kali ia rasakan dalam hidupnya.
''Akhhhh,, kenapa aku memikirkan gadis aneh tadi. Padahal jelas-jelas gadis tadi, gadis ter aneh yang pernah aku temui selama hidupku. Dan kenapa jantung ini seperti lari maraton saat berdekatan dengannya. Aku rasa aku akan memeriksakan jantungku ini pada Dokter Mirna,'' ucap Dokter Malik yang masih berbicara sendiri di ruangannya.
''Tapi bagaimana kalau aku benar-benar mengalami penyakit jantung?, aku ngak mau mati muda. Ya Tuhan jangan ambil nyawaku secepat ini,'' ucap Dokter Malik lagi. Entah apa yang di pikirkannya saat ini. Apa Dokter Malik tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta atau jatuh hati selama ini? dan jawabannya tentu saja tidak karna Dokter Malik fokus pada pencapaiannya menjadi Dokter dan tak pernah memikirkan yang namanya jatuh cinta.
*
__ADS_1
*