
''Entahlah Mas. Tapi aku udah telat 3 minggu. Tapi aku takut untuk melakukan tes lagi Mas, takut kecewa,'' ucap Chaca tertunduk.
''Kita ke Dokter sekarang ya,'' ajak Ronald.
''Enggak Mas. Aku takut. Aku takut kecewa Mas. Gimana kalau ini hanya kebetulan saja,'' ucap Chaca lirih.
''Kalau gitu kita mampir dulu di apotek, beli alat yang buat tes itu. Oke,'' ucap Ronald, Chaca hanya mengangguk pelan.
Jujur Chaca masih belum bisa jika harus merasakan kecewa untuk kesekian kalinya. Kemarin-kemarin Chaca juga sering telat datang bulan, tapi setelah di cek hasilnya negatif. Dan sekarang ia ragu akan melakukan tes lagi. Ia tak mau membuat suaminya kecewa.
Setelah membeli tespack Chaca dan Ronald pulang ke rumah mereka. Ronald begitu tak sabar ingin segera sampai di rumah.
''Mas bagaimana jika hasilnya mengecewakan?'' tanya Chaca yang masih ragu untuk melakukan tes lagi.
''Jika hasilnya mengecewakan, berarti kita kurang kerja keras sayang,'' ucap Ronald menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman.
Chaca segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia belum siap jika harus menelan kekecewaan yang sudah berpuluh-puluh kali.
''Bismillah,'' Chaca mengangkat tespack tersebut dan membuka matanya.
''Huft,'' ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lesu.
''Gimana sayang?'' tanya Ronald yang sudah tak sabar.
''Garis satu,'' ucap Chaca terdengar lesu. Ronald segera mengambil alat testpack yang ada di tangan Chaca. Ronald langsung melebarkan matanya. Ia lalu memeluk Chaca dengan erat.
''Akhirnya yang kita tunggu-tunggu terkabul juga sayang,'' ucap Ronald masih memeluk tubuh istrinya. Ia tak tahan untuk menahan air matanya, air mata itu lolos begitu saja dari matanya.
''Apa maksud Mas? aku tau Mas pengen sekali punya Baby, tapi jangan begini Mas. Mas membuat hatiku tambah sakit,'' ucap Chaca yang juga meloloskan air matanya.
''Sayang kamu kenapa? apa kamu tidak bahagia dengan kehamilanmu ini?'' tanya Ronald memegang kedua bahu Chaca. Di tatapnya Chaca dengan lembut.
''Kehamilan?'' tanya Chaca bingung.
''Lihat, garis dua sayang,'' ucap Ronald memperlihatkan testpack yang ia pegang.
''Kok bisa?'' tanya Chaca bingung. Tadi saat ia melihat, garisnya hanya satu.
''Ya bisalah sayang. Buktinya sekarang garisnya dua. Dan itu artinya kamu hamil sayang,'' ucap Ronald memeluk tubuh Chaca kembali.
''Mas ngak bohong kan? beneran aku hamil?'' tanya Chaca yang masih bingung.
__ADS_1
''Beneran sayang. Sebaiknya sekarang kita ke Rumah Sakit, agar tau lebih jelasnya,'' ucap Ronald. Sementara Chaca hanya menurut begitu saja.
Sesampainya di Rumah Sakit ia segera masuk ke ruangan Dokter Anggun. Dokter Anggun segera memeriksa Chaca.
''Apa keluhan yang sering ibu alami?'' tanya Dokter Anggun.
''Tidak ada Dok, saya tidak merasakan apa-apa. Tapi nafsu makan saya meningkat 2x lipat Dok,'' ucap Chaca jujur. Dokter Anggun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dokter Anggun juga menanyakan kapan terakhir kali Chaca datang bulan.
''Apa benar istri saya hamil Dok?'' tanya Ronald tak sabaran.
''Betul Pak, istri anda hamil. Kandungannya berusia 4 minggu. Jadi masih sangat lemah ya Bu. Ibu harus sering mengkonsumsi makanan sehat, vitamin dan susu. Dan jangan terlalu kelelahan ya Bu,'' ucap Dokter Anggun menjelaskan.
''Mas aku beneran hamil Mas,'' ucap Chaca tersenyum bahagia hingga sudut matanya berair.
''Iya Sayang,'' ucap Ronald. Ronald melihat wajah Chaca yang sangat bahagia dengan kehadiran anak pertamanya di perut Chaca. Ronald berjanji akan selalu membahagiakan keluarga kecil mereka.
Setelah selesai, Ronald melajukan mobilnya pulang ke rumah.
''Mas pengen rendang,'' rengek Chaca.
''Kita beli sayang,'' ucap Ronald antusias.
''Kenapa harus daging kambing sayang? daging sapi lebih nikmat,'' ucap Ronald yang tidak suka dengan bau daging kambing.
''Kalau ngak mau buatin ya sudah, aku bisa buat sendiri,'' ucap Chaca ketus.
''Ngak gitu sayang---''
''Terserah!!'' ucap Chaca yang masih ketus. Ronald menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak boleh terpancing emosi dengan ibu hamil. Walaupun Chaca terus-terusan menguras emosinya.
''Oke kita beli dagingnya dulu,'' ucap Ronald pasrah.
Setelah membeli daging kambing mereka melanjutkan perjalanan mereka. Hari ini mereka akan ke rumah Mama Reni, untuk memberi tau tentang kehamilan Chaca dan meminta di ajari memasak rendang.
Beberapa puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai.
''Sayang, kalian kesini? kenapa ngak bilang-bilang sama Mama. Kan Mama bisa masakin makanan kesukaan kalian,'' ucap Mama Reni menyambut anak dan menantunya.
''Aku punya kejutan buat Mama,'' ucap Ronald yang terus menerus tersenyum.
''Kejutan apa? jangan ngerjain Mama ya Ro,'' ucap Mama Reni waspada.
__ADS_1
''Sebentar lagi Mama akan punya cucu,'' ucap Ronald semangat.
''Serius? kamu ngak bercanda kan Ro? selamat ya sayang. Bentar lagi di rumah ini akan ada suara tangisan bayi,'' ucap Mama Reni dengan mata berbinar.
''Beneran Ma. Dan sekarang Chaca pengen rendang daging kambing,'' ucap Ronald yang tak bersemangat.
''Biar Mama yang masakin buat cucu Mama,'' ucap Mama Reni semangat.
''Maaf Ma, tapi Chaca pengennya yang masak Mas Ronald Ma,'' ucap Chaca pelan, tak enak hati.
''Oh jadi pengennya yang masak Ronald? good luck Ro. Demi anak biar ngak ileran, haha,'' ucap Mama Reni tertawa.
''Mama apaan sih,'' ucap Ronald kesal.
Saat ini Ronald sudah berada di dapur di temani Mama Reni dan Chaca. Mama Reni hanya membantu Ronald sedikit-sedikit. Sedangkan Chaca duduk manis di meja makan sambil sesekali melihat suaminya memasak.
''Semangat Sayang. Demi anak-anak kita,'' ucap Chaca tersenyum ke arah Ronald.
''Huft. Masih jadi kecebong aja udah nyusahin Daddy. Awas kalau udah besar ngak nurut sama Daddy,'' ucap Ronald menggerutu kesal. Ronald harus menahan rasa mualnya saat memotong daging kambing tersebut. Namun itu bukan jadi masalah besar untuk Ronald. Karna yang terpenting sekarang adalah anak dan istrinya.
''Rendang daging kambing siapp,'' ucap Ronald dengan membawa rendang daging kambing di mangkuk besar.
''Udah ngak sabar pengen cobain Mas,'' ucap Chaca.
Chaca segera mengambil nasi dan rendang. Ronald dan Mama Reni hanya melihat cara makan Chaca.
''Sayang pelan-pelan. Ngak ada yang minta kok,'' ucap Mama Reni.
''Hehe maaf Ma, Chaca udah laper banget,'' ucap Chaca hanya nyengir kuda.
Chaca sudah menghabiskan 2 piring nasi dan rendang. Namun perutnya masih minta di isi.
''Sayang, apa belum kenyang?'' tanya Ronald pelan. Ia takut jika salah bicara lagi.
''Dikit lagi Mas. Ini enak banget,'' ucap Chaca dengan mulut masih penuh.
*
*
Yok kasih bunga dan kopinya di sini๐๐
__ADS_1