I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 32


__ADS_3

Di perjalanan Ronald tak henti-hentinya tersenyum. Ia masih mengingat ciuman Chaca tadi. Ia juga tak menyangka bahwa istrinya itu berani menciumnya sampai-sampai melu*at bibirnya.


''Rasanya aku semakin mencintaimu Cha,'' ucap Ronald tertawa sendiri.


''Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dalam waktu dekat sayang,'' ucap Ronald lagi.


*


Sedangkan di dalam ruangan CEO Chaca merutuki kebodohannya yang dengan mudah mencium bibir suaminya itu.


''Kenapa aku takut jika gunung es itu kembali aktif lagi. Sampai-sampai aku berani mencium bibirnya. Aduh Cha pasti gunung es itu sekarang sedang menertawakanmu,'' ucap Chaca merutuki kebodohannya.


Waktu begitu cepat berlalu. Dan sekarang hampir jam makan siang. Padahal dari tadi pagi Chaca belum membuka berkas yang ada di depannya. Setengah hari ia hanya memikirkan kejadian tadi pagi.


''Kenapa jam cepat sekali berputarnya. Aku kan belum sempat bekerja. Dan apa ini, ini udah jam makan siang. Omegot gara-gara gunung es aku ngak bisa kerja,'' ucap Chaca.


Sedangkan saat ini Ronald sudah menuju ke Kantor Chaca. Ia akan mengajak istrinya makan siang di luar.


Setelah sampai di perusahaan Bora group Ronald segera naik lift dan menuju lantai 22 tempat ruangan CEO berada.


Tok tok tok.


Ronald mengetuk pintu ruangan Chaca. Ia takut di semprot seperti dulu jika masuk ruangan tanpa mengetuk pintu.


''Masuk,'' ucap Chaca dari dalam ruangan tersebut.


Ceklek.


''Hai sayang,'' ucap Ronald hanya menampakkan mukanya dan sambil tersenyum.


''Oh kamu sudah sampai?'' tanya Chaca. Sebenarnya Chaca sedikit gugup saat berhadapan dengan Ronald saat ini.


''Ayo kita makan siang. Aku udah laper banget nih,'' ucap Ronald berjalan menuju meja Chaca.


''Oke, oke yuk,'' ucap Chaca menutup laporan yang tengah ia baca. Chaca berdiri dari duduknya dan merapikan bajunya.


''Udah cantik. Ayo berangkat,'' ucap Ronald menggandeng tangan Chaca.


''Mau makan di mana?'' tanya Chaca dengan tangan yang masih di gandeng Ronald. Sebenarnya ia cukup deg deg an saat Ronald menggandeng tangannya seperti ini.


''Restoran seafood ya,'' ucap Ronald.


''Oke,'' ucap Chaca menyetujui.


Saat ini mereka berangkat menuju restoran seafood. Tangan mereka masih bertautan, enggan untuk di lepaskan. Setelah beberapa menit mereka telah sampai di restoran tempat biasa mereka makan. Restoran ini juga tak jauh dari kantor Chaca.


''Kamu mau makan apa yank?'' tanya Ronald.

__ADS_1


''Aku seperti biasa aja Ro,'' ucap Chaca. Ronald segera memesan menu kesukaan mereka di restoran tersebut.


''Yank nanti habis makan siang aku mau ajakin kamu ke suatu tempat. Kamu mau kan?'' tanya Ronald.


''Memangnya harus sekarang Ro?'' tanya Chaca.


''Aku pengennya sekarang yank. Cuma bentar kok,'' ucap Ronald. Ia hanya menganggukan kepalanya.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pesanan mereka datang. dan mereka segera menikmati menu yang mereka pesan.


*


''Kita mau kemana sih Ro?'' tanya Chaca.


''Panggil suami kok kayak gitu. Ngak sopan tau.'' Protes Ronald.


''Terus harus panggil apa dong?'' tanya Chaca.


''Panggil mas atau panggil sayang,'' ucap Ronald tersenyum.


''Tapi kan...


''Ngak ada tapi-tapian. Jangan protes,'' ucap Ronald.


''I iya mas.'' Chaca tertunduk malu.


''Sebentar lagi kita sampai,'' ucap Ronald.


''Sebenarnya kita mau kemana sih,'' ucap Chaca penasaran.


''Rahasia dong. Nanti kalau aku kasih tau sekarang namanya bukan surprise dong,'' ucap Ronald.


Mobil yang mereka tumpangi sudah berada di halaman rumah yang sangat besar dan mewah. 2 kali lebih besar dari pada rumah Chaca. Chaca sangat penasaran siapa yang punya rumah tersebut.


''Mas ini rumah siapa?'' tanya Chaca memandangi rumah tersebut dengan takjub.


''Nanti juga tau sendiri. Kita masuk dulu yuk.'' Ronald mengajak Chaca masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah Chaca di buat takjub lagi dengan isi rumah itu.


''Kamu suka?'' tanya Ronald.


''Mas ini rumah siapa?'' tanya Chaca masih penasaran.


''Ini rumah buat kamu yank. Kamu suka ngak?'' tanya Ronald.


''Mas serius ini rumah siapa? Jangan bercanda gini deh,'' ucap Chaca menghentak hentakkan kakinya.


''Ini rumah kamu sayang. Mas membelinya khusus buat kamu,'' ucap Ronald tersenyum.

__ADS_1


''Mas ngak bercanda kan?'' tanya Chaca penuh selidik.


''Ngak sayang beneran ini rumah kamu. Sertifikat rumahnya ada di mobil,bsudah atas nama kamu yank. Nanti kamu lihat sendiri,'' ucap Ronald serius.


''Kamu suka ngak?'' tanya Ronald.


''Suka, suka banget mas. Makasih ya,'' ucap Chaca langsung memeluk suami kecilnya.


''Tapi ini semua ngak gratis yank,'' ucap Ronald tersenyum licik.


''Maksudnya?'' tanya Chaca langsung melepaskan pelukannya.


''Ya ini semua ngak gratis. Kamu harus membayarnya,'' ucap Ronald.


''Kalau ngak ikhlas ngak usah ngasih kalau ujung-ujungnya minta bayaran,'' ucap Chaca ngambek.


''Ckk gitu aja ngambek. Ngak lah yank, mas cuma bercanda. Bayarannya 2 hari lagi malam pertama kita,'' ucap Ronald tersenyum


Muka Chaca langsung memerah seperti kepiting rebus.


''Nanti malam kita nginep sini ya,'' ucap Ronald.


''Tapi harus ijin mama dulu mas,'' ucap Chaca.


''Iya.''


*


*


Sementara di lain kota saat ini seorang pria sedang melakukan ijab kabul. Ya pria itu adalah Devan Alterio dan Monica. Devan terpaksa menikahi Monica karna di dalam perut Monica ada anak Devan. Yang menghadiri acara ijab kabul itu hanya beberapa orang saja. Bahkan keluarga Devan tidak ada yang hadir dalam acara sakral itu.


''Aku melakukan ini hanya demi anakku. Bahkan di hatiku sudah tidak ada nama kamu lagi,'' ucap Devan datar saat sudah berada di kamar kontrakkan mereka.


''Dan aku akan terus berusaha agar kamu bisa mencintaiku lagi Van,'' ucap Monica.


''Jangan harap.'' Devan datar lalu meninggalkan Monica begitu saja.


Devan mengendarai motor maticnya. Mobil yang dulu Devan miliki pun sudah Devan jual karna sampai saat ini Devan belum bekerja. Ia mengendarai motor maticnya tanpa tau ingin kemana.


''Tuhan begitu adil. Setelah aku melakukan dosa besar aku langsung di hukum dengan kehilangan Chaca dan juga keluargaku. Bahkan ibu telah mengusirku dan menganggapku bukan anaknya lagi. Maafkan aku tuhan, maafkan aku bu, pak dan Chaca karna telah mengecewakan kalian begitu dalam. Sampai-sampai aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan sekarang aku telah menikahi ja*ang itu karna anak yang di kandungnya adalah anakku. Aku tidak mau di hukum lebih berat lagi,'' ucap Devan meratapi kesalahannya.


Saat mengetahui Monica hamil, Devan langsung mengajak Monica ke rumahnya untuk meminta restu menikahi Monica. Tapi ibu Marwah langsung mengusir mereka berdua dan tak menganggap Devan anaknya lagi. Ibu Marwah terlalu kecewa kepada Devan yang tak berfikir panjang sebelum berbuat.


*


*

__ADS_1


Tinggalkan jejak di sini kak😊😊😊


__ADS_2