I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 11


__ADS_3

''Pagi hari yang sangat cerah, Devan berangkat kekantor dengan mengendarai taksi. Setelah sampai kantor ia segera menuju keruangannya. Ia masih fokus pada dokumen-dokumennya.


Tok tok tok


''Masuk,'' ucap Devan.


''Selamat siang pak, saya mau tanya nona Chaca kemana ya pak kok tidak masuk hari ini?'' tanya Nina kepada Devan. Devan yang di tanya merasa bingung.


''Tidak masuk?'' tanya Devan kembali.


''Iya pak, sejak pagi tadi nona Chaca tidak ada di ruangannya. Apa pak Devan tau beliau kemana '' tanya Nina.


''Saya tidak tau Nin,'' ucap Devan. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya kemana Chaca, biasanya selalu ada kabar jika Chaca tidak masuk.


''Padahal hari ini ada meeting penting pak, gimana dong.'' Keluh Nina.


''Sebentar saya telpon Nona Chaca dulu.'' Ucap Devan mengambil hp yang ada di saku celananya dan menekan nomor Chaca. Wajah Devan berubah saat Chaca tidak mengangkat telpon darinya.


''Gimana pak?'' tanya Nina.


''Nona Chaca tidak menjawab telponku,'' ucap Devan.


Devan seharian hanya di buat gelisah saat Chaca tidak ada kabar. Ia berniat kerumah nona Chaca sehabis pulang kerja.


*


''Permisi, apa Chacanya ada di rumah pak?'' tanya Devan pada security yang ada di rumah Chaca.


''Nona Chaca tidak ada Mas, tadi masih subuh sudah pergi,'' ucap security tersebut.


''Pergi? pergi kemana ya pak?'' tanya Devan penasaran.


''Kalau itu saya juga tidak tau Mas, tapi tadi pagi di antar sama pak joko sama bi sumi juga, mungkin mau nyusul nyonya besar ke Lampung,'' ucap security.


''Ke Lampung?'' tanya Devan memastikan.


''Iya mungkin Mas, tapi saya juga tidak tau. Tidak biasanya nona Chaca pergi diantar supir sama art di sini juga ikut,'' ucap Security menjelaskan.


''Terima kasih Pak informasinya, saya permisi,'' ucap Devan lalu menyetop taksi dan masuk kedalam taksi. Di dalam taksi Devan bertanya-tanya kemana perginya Chaca. Jika memang benar ke Lampung kenapa tidak berpamitan kepadanya atau kepada Nina.

__ADS_1


*


*


Hari demi hari berlalu. Devan sangat merindukan sosok Chaca. Sudah 4 hari Chaca tidak ada kabar. Devan selalu menelpon Chaca tapi Chaca tidak pernah mengangkat telponnya.


''Kamu kemana sih Cha, kenapa tidak ada kabar sama sekali.'' Devan mendengus kesal. Setiap harinya ia harus memikirkan alasan jika sedang ada meeting bersama klien karna ketidak hadiran Chaca. Chaca bagai di telan bumi begitu saja.


''Maafin aku Cha. Karna waktu itu aku terlalu emosi, sampai-sampai aku juga tidak bisa mengontrol emosiku. Maafkan perkataanku yang menyakiti hatimu.'' Devan yang berbicara sendiri saat di ruangan Chaca.


*


*


*


''Bi kapan aku boleh pulang?'' tanya seorang wanita yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


''Nona sembuh dulu ya, nanti kalau sudah sembuh Nona pasti di izinin pulang,'' ucap bi sumi asisten rumah tangga.


''Tapi Bi bagaimana kondisi perusahaanku jika aku berlama-lama di sini,'' ucap wanita tersebut.


*


*


''Nin coba kamu telpon Nona Chaca. Mungkin kalau kamu yang telpon, beliau mau angkat!'' perintah Devan. Devan bingung harus bagaimana, dokumen-dokumen penting yang harus di tanda tangani oleh Chaca pun semakin menumpuk. Belum lagi meeting bersama klien. Membuat Devan tambah pusing.


''Baiklah pak,'' Ucap Nina segera mengambil hpnya dan menekan nomor Nona Chaca.


''Coba kamu loudspeker Nin,'' ucap Devan. Devan juga rindu kepada Chaca yang setiap hari mengomelinya.


Tut tut


''Hallo,'' ucap Chaca di seberang telepon dengan lemah.


''Hallo Nona, apa anda baik-baik saja? Kenapa suara anda terdengar sangat lemah.'' Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Nina. Devan yang mendengar suara lemah Chaca langsung khawatir. Ia takut jika Chaca kenapa-kenapa.


''I'm fine Nin, cuma penyakitku kambuh. Jadi harus di rawat beberapa hari ini di rumah sakit. Aku titip perusahaan ya Nin,'' ucap Nona Chaca yang terdengar sangat lemah.

__ADS_1


''Nona di rawat di rumah sakit mana, biar saya nanti kesana,'' ucap Nina.


''Di Rs.Medika, tapi kamu ngak usah kesini Nin, aku udah baik-baik aja kok,'' ucap Nona Chaca.


Devan segera keluar dari ruangan tersebut menuju ruangannya. Ia menyesali perbuatannya yang tidak bisa mengontrol emosinya. Gara-gara Devan, Chaca harus di larikan ke rumah sakit karna perkataan Devan.


''Calon suami macam apa kamu van, di saat calon istrimu sakit hingga berhari-hari kamu bahkan tidak tau,'' ucap Devan mengepalkan tangannya dan memukulnya ke tembok. Tangan Devan mengeluarkan darah, walaupun tangannya berdarah ia tidak merasakan sakit sekalipun.


''Aku harus segera ke rumah sakit,'' ucap Devan lalu segera keluar dari ruangan tersebut. Penampilan Devan terlihat sangat acak-acakkan. Tidak seperti biasanya yang selalu rapi.


Tak lama kemudian mobil taksi yang di tumpangi oleh Devan sampai di Rs.Medika. Devan segera masuk kedalam Rs.Medika dan bertanya ke front office mengenai kamar Chaca. Setelah mendapat informasi keberadaan kamar Chaca, Devan segera mencari kamar tersebut.


''Bener ini kamarnya kan VVIP 003. Coba masuk dulu deh,'' ucap Devan. Ia memutar gagang pintu dan masuk kedalam. Devan melihat ada seseorang yang tidur dengan muka pucat, tubuhnya kelihatan lemah. Tanpa sadar air matanya menetes.


''Chaca.'' Gumam Devan pelan. Devan segera mendekat kearah Chaca yang masih tertidur pulas. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Chaca. Devan menatap Chaca dalam-dalam, ada sakit yang terasa di hatinya, teringat saat Devan berbicara yang tidak pantas kepada Chaca.


''Maafin aku Cha, aku menyesal, waktu itu aku tidak bisa mengontrol emosiku. Maafkan aku,'' ucap Devan terus mengecup tangan Chaca yang lemas dan dingin. Chaca yang merasakan tangannya di sentuh oleh seseorang ia pun segera membuka matanya.


''Devan?'' ucap Chaca lemah.


''Iya Cha ini aku, Maafin aku Cha, gara gara aku kamu jadi sakit kayak gini,'' ucap Devan sedih. Chaca hanya menggelengkan kepalanya.


''Aku udah maafin kok,'' ucap Chaca pelan.


''Makasih sayang. Cup.'' Devan mengecup bibir Chaca sekilas. Membuat Chaca langsung melototkan matanya.


''Hhehe maaf kelepasan. Habisnya kangen banget sih sama bos galak ini,'' ucap Devan sambil mencolek hidung mancung Chaca.


''Berapa hari ngak ketemu udah lebay aja,'' ucap Chaca.


''Efek bucin,'' ucap Devan di sertai tawa.


''Bucin sama cewek murahan?'' tanya Chaca langsung menghentikan tawa Devan.


''Cha kan aku udah minta maaf, jangan sebut itu lagi oke. Dan jangan peluk cowok lain biar aku ngak emosi kayak gitu. Seneng banget sih buat aku cemburu,'' ucap Devan dengan bibir mengerucut.


''Iya iya maafin aku juga,'' ucap Chaca.


*

__ADS_1


*


__ADS_2