
''Apaan sih Ma.'' Ucap Chaca masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya karena lelah. Ia tak menyangka akan menikah dengan asistennya. Bukan Devan tapi dengan Ronald. Ia juga tak menyangka jika selama ini Ronald sudah menaruh hati padanya.
*
*
Ceklek
Pintu di buka dari luar, Chaca hanya mengernyitkan dahinya. Siapa yang berani-beraninya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tampak seorang lelaki tampan dengan senyum di wajahnya.
''Pagi Cha,'' ucap Ronald.
''Kenapa ngak ketuk pintu, ngak sopan banget,'' ucap Chaca kesal.
''Maaf lupa, habisnya udah kangen banget nih,'' ucap Ronald berjalan pelan ke arah Chaca.
''Stop di situ. Mau ngapain sih,'' ucap Chaca saat Ronald semakin mendekat ke arahnya.
''Pengen peluk kamu boleh?'' tanya Ronald tersenyum.
''No. Ini di kantor, jangan mesum deh,'' ucap Chaca.
''Berarti kalau di rumah boleh?'' tanya Ronald menyunggingkan senyumnya. Chaca tak menjawab ucapan Ronald.
''Cha.'' Panggil Ronald mendekat kearah Chaca. Chaca masih fokus pada dokumen-dokumen di depannya.
''Cha,''' ucap Ronald lagi.
''Apa sih Mas Ronald?'' tanya Chaca geram kepada Ronald.
''Aku suka panggilan itu,'' Ucap Ronald tersenyum kepada Chaca.
''Tapi aku ngak suka,'' ucap Chaca dengan wajah yang terlihat kesal.
''Ayolah yank, panggil aku mas kayak tadi,'' ucap Ronald.
''Kamu manggil aku apa tadi?'' tanya Chaca memastikan.
''Yank yank yank yank sayanggggg,'' ucap Ronald berulang-ulang kali membuat wajah Chaca bersemu merah.
''Cie salting,'' ucap Ronald.
''Apaan sih Ro. Sana kembali kerja. Dari tadi gangguin mulu,'' ucap Chaca sebal.
''Ini aku juga lagi kerja yank. Jaga ciptaan tuhan yang paling cantik dan sexy.'' Gombal Ronald.
__ADS_1
''Ronalddddd!!!!'' teriak Chacaaa. Ronald segera berlari keluar dari ruangan tersebut dari pada kena amukan Chaca.
Chaca juga bingung kemana gunung es yang biasanya sulit di ajak bicara itu. Dan sekarang di gantikan oleh pria yang suka mengobral gombalan dan berpikir mesum.
''Apa sebenarnya sifat Ronald seperti itu ya? tapi kenapa selama ini dia selalu dingin kepadaku. Tapi semenjak lamaran kemarin dia suka banget gombalin aku. Bikin jantungku ngak normal aja,'' ucap Chaca.
*
*
*
Plakkk
Suara tamparan Ibu Marwah membekas merah di pipi Devan. Ibu Marwah sangat kecewa kepada Devan, anak yang selama ini ia banggakan ternyata cukup menyakiti hatinya.
''Maafin Devan bu. Devan memang salah,'' ucap Devan berlutut di depan ibunya.
''Kamu memang benar-benar bodoh Devan. Apasih istimewanya jal*ng itu sampai-sampai kamu merelakan berlian hanya demi batu kali. Hah????'' Bentak Ibu Marwah kepada Devan.
''Devan khilaf bu. Devan minta maaf,'' ucap Devan.
''Untuk apa kamu minta maaf sama Ibu. Yang kamu lukai adalah Chaca, dia sudah baik sama kamu tapi kamu tidak tau diri malah menduakannya,'' ucap Ibu Marwah dengan air mata yang tak bisa di bendung.
''Aku memang benar-benar bodoh. Sekarang aku kehilangan Chaca, kehilangan pekerjaan bahkan aku sudah mengecewakan hati orang tuaku. Maafkan aku,'' ucap Devan mengusap rambutnya kasar.
Ting
Bunyi pesan masuk ke handphone Devan.
''Van bisa kita ketemu sekarang?'' pesan masuk dari seseorang. Tapi Devan enggan untuk membalasnya.
Ting
''Van aku udah telat 2 bulan.'' Pesan masuk dari orang yang sama. Devan tidak membalasnya. Ia malah menjambak rambutnya karna frustasi.
''Aaaaa kenapa semua ini terjadi kepadakuuuu,'' ucap Devan emosi.
Devan keluar dari rumahnya. Ia segera melajukan mobilnya ke suatu tempat. Sesampainya di rumah sederhana Devan segera mengetuk pintu dengan kasar.
Tok tok ''Monicaaa.'' Teriak Devan.
Ceklek
''Devan?'' ucap Monica.
__ADS_1
''Kita kerumah sakit sekarang!'' ucap Devan lalu menarik tangan Monica agar masuk kedalam mobilnya.
''Pelan-pelan dong Van. Kamu kenapa sih,'' ucap Monica sebal.
Devan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia akan membuktikan apa Monica memang benar-benar hamil anaknya. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Monica di panggil oleh suster. Monica segera masuk di temani oleh Devan.
''Selamat ya pak, istri anda hamil. Usia kandungannya memasuki 7 minggu,'' ucap Dokter yang memeriksa Monica. Bagai di sambar petir. Devan mengepalkan tangannya erat menahan emosi.
''Ja jadi saya hamil Dok?'' tanya Monica dengan mata berbinar.
''Iya benar ibu hamil. Kandungan ibu masih sangat lemah jadi jangan bekerja terlalu berat ya bu. Dan Jangan lupa minum vitamin dan juga susu,'' ucap Dokter menjelaskan.
''Baik Dok,'' ucap Monica.
Setelah selesai mereka berjalan pulang. Sesampainya di parkiran mobil, Devan menghempaskan tangan Monica dengan kasar.
''Kenapa kamu bisa hamil, haa!!. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu minum pil pencegah kehamilan tapi kenapa semua ini bisa terjadi?'' tanya Devan yang sudah tersulut emosi.
''Van itu kan hanya pil pencegah. Walaupun aku minum pil itu tapi tidak menutup kemungkinan aku tidak hamil,'' ucap Monica.
''Sekarang kamu puas sudah menghancurkan hidupku. Bahkan sekarang aku sudah hancur sehancur-hancurnya,'' ucap Devan emosi.
''Van kenapa kamu selalu menyalahkan aku. Padahal kamu selalu menikmati setiap permainan kita,'' ucap Monica tak kalah emosi.
''Bagaimana aku tidak menyalahkan kamu! yang selama ini menggodaku siapaaa? haaaa?'' Bentak Devan.
''Oke memang aku yang menggodamu, tapi kamu juga menikmatinya kan?. Jadi jangan salahkan aku terus Van,'' ucap Monica. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Devan. Memang selama ini Monica yang menggoda Devan, Tapi Devan dengan mudahnya tergoda dengan keindahan tubuh Monica. Apa ini bisa di sebut hanya salah Monica?.
''Kalau kamu tidak menginginkan anak ini lebih baik aku mati dengan anak ini,'' ucap Monica lari dari hadapan Devan. Entah kemana Monica lari, Devan masih berdiri berperang dengan pikirannya sendiri.
''Siall siall sialllll kenapa nasibku bisa begini,'' ucap Devan meraup wajahnya kasar. Ia segera masuk kedalam mobil dan mencari kemana Monica pergi. Memang ia tak menginginkan anak itu tumbuh di rahim Monica, tapi tak mungkin juga Devan membuang anaknya sendiri.
''Kemana perginya Monica kenapa cepet banget ngilangnya,'' ucap Devan mencari Monica. Setelah beberapa saat Devan melihat Monica yang berdiri di samping jembatan. Di bawah jembatan itu ada sungai besar dan airnya mengalir dengan deras. Devan segera turun dari mobilnya menuju tempat Monica berada. Ia segera menarik tangan Monica agar Monica jauh dari jempatan itu.
''Ngapain kamu disini?'' tanya Monica datar.
''Kamu mau bunuh diri? kamu sudah gila ya?'' ucap Devan kepada Monica.
''Siapa juga yang mau bunuh diri. Aku cuma ingin berdiri di sana. Kamu kira aku sebodoh itu,'' ucap Monica tanpa dosa.
*
*
Jangan pelit like nya dong kakakkkkk
__ADS_1