I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 45


__ADS_3

Ronald melihat istrinya yang sejak tadi pagi melamun. Entah apa yang saat ini di lamunkan oleh istrinya. Sebenarnya ia cukup penasaran, tapi Ronald tidak ingin berakhir pertengkaran.


''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Ronald memberanikan diri bertanya kepada istrinya.


''Ngak papa Mas, hanya sedikit lelah saja,'' ucap Chaca berusaha tersenyum.


Ronald hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia tau jika saat ini istrinya tengah berbohong. Dari raut wajahnya saja ia sudah mengerti jika istrinya sedang banyak fikiran.


''Sayang, kamu ingat ngak kata-katamu dulu. Kalau ada masalah bilang jangan di pendam sendiri, kamu pernah bilang seperti itu kan sama aku,'' ucap Ronald mengingatkan Chaca.


''Hem,'' ucap Chaca hanya berdehen saja.


''Aku ngak papa kok Mas, sekarang Mas tidur gih, istirahat,'' ucap Chaca. Ia berusaha baik-baik saja di depan Ronald. Tapi fikirannya tidak baik-baik saja sejak tadi pagi bertemu dengan Devan.


''Kamu ngak mau tidur di samping Mas?'' tanya Ronald.


''Aku mau ke luar dulu Mas, cari angin,'' ucap Chaca. Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya Chaca keluar dari ruang rawat Ronald. Ronald makin di buat penasaran dengan tingkah Chaca.


''Ada apa sih dengan Chaca, kenapa seharian ini wajahnya terlihat murung. Bahkan hari ini terkesan dingin kepadaku,'' gumam Ronald.


''Apa aku susulin aja ya, aku khawatir sama dia,'' ucap Ronald.


*


Di taman Rumah Sakit, saat ini Chaca sedang duduk sendiri. Menikmati malam yang dingin. Entah kenapa dengan dirinya saat ini, tapi bayang-bayang wajah Devan selalu ada sejak bertemu dengannya tadi pagi. Chaca berkali-kali menghembuskan nafasnya kasar.


''Kenapa aku jadi memikirkannya. Bahkan dia sudah pernah mengkhianatiku. Apa tidak cukup untuk rasa sakit yang kamu terima selama ini,'' gumam Chaca pada diri sendiri.


Di tempat lain Ronald sibuk mencari keberadaan istrinya. Dengan berbaju pasien ia mencari istrinya tiap lorong-lorong Rumah Sakit. Sampai akhirnya ia menemukan istrinya sedang duduk di taman. Tapi nampak dari kejauhan seorang pria sedang memperhatikan istrinya, Ronald tidak begitu jelas dengan wajah pria itu karna tempatnya terlalu jauh. Hingga beberapa saat pria itu mendekat ke arah Chaca dan duduk di sebelah istrinya.


''Dia...'' ucapan Ronald terpotong saat pria itu berusaha menghapus air mata istrinya.

__ADS_1


''Jadi karna dia, Chaca seharian ini dingin kepadaku,'' ucap Ronald mengepalkan tangannya kuat. Ia memilih pergi dari tempat itu dan kembali ke ruang rawatnya.


*


Chaca segera menghempaskan tangan Devan yang sedang menghapus air matanya.


''Kenapa kamu masih menampakkan diri di depanku! apa kamu tuli dengan ucapanku tadi pagi saat aku menyuruhmu untuk tidak lagi menampakkan diri. Apa kamu tuli Van?'' teriak Chaca.


''Cha aku tau aku salah. Tapi kamu jangan membenciku seperti ini Cha. Aku sangat tersiksa Cha,'' ucap Devan lirih. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


''Pergi dari sini, pergi!!!'' bentak Chaca.


Devan akhirnya pergi dari hadapan Chaca. Devan memilih duduk di bangku yang lain dan memperhatikan Chaca dari kejauhan. Saat hari semakin malam Chaca memilih kembali ke ruang rawat Ronald, ia merasa kasihan dengan Ronald karna ia telah meninggalkannya begitu lama.


Ceklek.


Pintu ruangan di buka perlahan, Chaca masuk ke dalam ruangan dan mendekat ke arah tempat tidur Ronald. Nampak Ronald yang tengah tertidur dengan lelap. Entah itu tidur sungguhan atau hanya tidur bohongan.


''Hah ternyata ia lebih memilih tidur di sofa daripada tidur di dekat suaminya,'' batin Ronald kecewa dengan Chaca.


Malam pun begitu cepat berlalu dan kini sudah berganti pagi. Sinar mentari sudah menampakkan diri. Chaca masih betah berada dalam mimpinya, sementara Ronald semalaman tidak bisa tidur, memikirkan perubahan pada istrinya. Ia takut jika suatu saat istrinya meninggalkannya.


Ronald memperhatikan Chaca yang tengah tidur. Ada rasa sakit yang menyelimuti hatinya saat teringat kejadian tadi malam. Saat seseorang menghapus air mata istrinya. Dan dari yang di lihat Ronald, Chaca hanya diam saja tak bergeming sama sekali. Kenapa ia tak kaget jika baru bertemu? atau selama ini Chaca diam-diam di belakangnya menemui mantan kekasihnya? itulah yang ada di fikiran Ronald saat ini.


Saat Chaca mulai menggeliat, Ronald pura-pura menutup matanya kembali.


''Ternyata udah pagi,'' ucap Chaca. Ia segera menuju kamar mandi. Selang beberapa saat Chaca keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Lalu ia menghampiri Ronald yang masih setia menutup matanya.


''Mas, kamu ngak bangun?'' tanya Chaca pelan di dekat Ronald.


''Hem,'' hanya deheman yang keluar dari mulut Ronald. Lebih baik ia menutup matanya dari pada harus menghadapi Chaca yang membuat hatinya sakit.

__ADS_1


Jam pun hampir menunjukkan pukul 8 tapi tak ada tanda-tanda Ronald bangun. Chaca khawatir dengan Ronald.


''Mas, bangun yuk. Udah jam 8,'' ucap Chaca membangunkan Ronald.


Ronald pun membuka matanya. Ia sudah tak tahan ingin pergi ke kamar mandi.


''Aku bantu Mas,'' ucap Chaca ingin meraih tangan Ronald, tapi Ronald malah menghindar begitu saja.


''Aku bisa sendiri,'' ucap Ronald yang terdengar dingin. Ronald segera masuk ke dalam kamar mandi karna sudah tidak betah untuk menahannya.


Selang beberapa saat Ronald keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya sedang duduk di sofa dan sambil memainkan benda pipihnya. Ronald berjalan melewati Chaca begitu saja, lalu ia menuju tempat tidurnya lagi.


''Mas sarapan ya, terus minum obat, aku suapin,'' ucap Chaca meraih bubur yang ada di atas nakas, ia ingin menyuapi suaminya tapi Ronald langsung mengambil bubur yang ada di tangan Chaca.


''Aku bisa sendiri,'' ucap Ronald.


''Dia kenapa?'' batin Chaca bertanya-tanya. Biasanya Ronald sangatlah manja kepada Chaca tapi kali ini Ronald begitu dingin, sifat yang dulu ia miliki kembali lagi.


Ronald segera menghabiskan makanan yang ada di mangkuk tersebut, lalu ia meraih obat yang berada di atas nakas lalu meminumnya, setelah sarapan dan minun obat Ronald kembali berbaring dan saat ini berbaring membelakangi Chaca.


''Mas,'' panggil Chaca pelan tapi tak ada sahutan dari mulut Ronald.


Chaca bingung kenapa Ronald, kenapa menjadi dingin seperti ini padanya. Chaca mengingat tadi malam saja Ronald masih seperti biasanya. Tapi saat bangun dari tidurnya kenapa jadi berubah.


''Mas aku tau kamu ngak tidur. Kalau ada apa-apa di bicarain baik-baik jangan malah menghindar seperti ini,'' ucap Chaca tapi tak membuat Ronald bergeming karna Ronald benar-benar tidur. Entah itu karna pengaruh obat atau karna semalaman berjaga.


''Mas,'' ucap Chaca meninggikan suaranya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2